Aku Pelakor?

Aku Pelakor?
Episode 37# Tampak Nyata


__ADS_3

🍄 Satu tahun kemudian . . .


Bocah laki - laki berusia 3,5 tahun tengah bermain - main dengan membawa pesawat mainan yang terbuat dari gabus/Styrofoam di tangannya.


Menggerakkan pesawat itu seolah - olah benar - benar tengah terbang sendiri. Kemudian menabrakkan moncongnya pada gelembung - gelembung yang keluar dari tembakan gelembung berbentuk ikan lumba - lumba, yang tengah di mainkan oleh sang ibu.


Kaki mungilnya yang di balut sepatu berwarna putih itu berlari ke sana kemari dengan tawa yang tak lepas dari bibirnya.


🌻 Menandakan bocah laki - laki itu sangat bahagia. 🌻


Sementara sang ayah yang berdiri tak jauh dari mereka, tengah memegang ponsel keluaran terbaru miliknya. Dan mengarahkan kamera ponselnya pada sang anak dan istrinya yang tengah asyik bermain.


Dia tersenyum senang melihat anak dan istrinya berbahagia. Meskipun hanya dengan hal sederhana seperti itu. Dia menjadikan vidio itu sebagai histori aplikasi chat miliknya.


Keluarga bahagia itu tengah berada di salah satu taman milik pemerintah kota provinsi. Taman yang cukup luas dan banyak sekali permainan yang bisa di gunakan untuk anak - anak.


"Papa, aku mau tebang!" teriak anak laki - laki itu yang ingin di terbangkan seperti pesawat.


"Ok, jagoan Papa! kita terbang!" ucap sang ayah sembari memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.


Dengan kedua tangan kokohnya itu, dia mengangkat tubuh gembul sang putra dan menerbangkannya seperti pesawat.


Membuat bocah itu tertawa bahagia saat sang ayah mengayunkan tubuhnya dan membawanya berputar - putar.


Semakin cepat ayahnya berputar, semakin renyah tawa sang bocah. Sang ibu sangat senang melihat duo jagoannya berbahagia.


Namun tiba - tiba saja, salah satu kaki sang ayah tersandung kaki lainnya dan membuat keduanya hendak jatuh tersungkur di atas tanah berlapis paving itu.


"Andra" teriak sang ibu berusaha membuat tubuhnya menjadi tempat jatuhnya sang buah hati. Dan berhasil.


Namun sang ayah terpelanting hingga wajahnya benar - benar membentur paving. Membuat pelipis dan hidungnya berdarah.


Pria itu bangkit dari jatuhnya dengan raut muka yang meringis menahan sakit. Darah segar mengalir dari pelipis dan hidungnya.


"Papa!" teriak istrinya di tengah - tengah sang anak yang menangis karena kaget.


"Papa!" teriak Alea dan langsung terduduk dengan nafas yang menggebu dan tersengal.


"Sayang! kamu kenapa?" suara yang tak asing di telinganya tampak ikut terduduk dan mengusap pundaknya.


Nafas Alea masih naik turun, dengan dada yang kembang kempis, seolah baru saja menyelesaikan lari maraton 5 kilometer.


Dia mencoba beradaptasi dengan situasi yang di alami. Sebuah mimpi yang terasa sangat nyata, hingga tam terasa air matanya menetes begitu saja.


Pelan - pelan Alea menoleh suami di sampingnya, dengan nafas yang masih berpacu.


Alea menatap dalam wajah suaminya yang terlihat mencoba membaca apa yang baru saja ia alami.


"Kamu kenapa, Ma?" tanya suaminya lagi.


Alea tidak menjawab, dia masih menatap dalam wajah suami yang sangat dia cintai itu.


Ardhan mengambil air di botol minum di atas meja, dan membuka penutupnya, meminumkan pada sang istri.


Glek! glek! glek!


Tiga tegukan membuat Alea lebih baik dari sebelumnya. Dia kembali menatap wajah suaminya, setelah sang suami mengembalikan botol minum itu.


Alea mengangkat tangan kanannya, dan menyentuh pipi kiri suaminya, yang di balas dengan sebuah kecupan di telapak tangannya.

__ADS_1


Satu tangan lainnya menyentuh lututnya yang terasa tak seperti biasa.


"Ada apa, Ma?" tanya Ardhan sembari mengusap rambut Alea yang berantakan.


"Kamu baik - baik saja, Pa?"


"Iya" Ardhan mengangguk pelan. "Memangnya kenapa dengan ku, Ma?"


"Wajah Papa tidak berdarah?" tanya Alea dengan nafas yang masih sedikit tersengal.


Ardhan tersenyum kecil, "Aku kan tidur, mana mungkin wajahku berdarah, Ma?"


"Tapi tadi Papa terjatuh saat mengayun Andra."


Ardhan kembali tersenyum, "Mama hanya mimpi! mimpi itu hanya bunga tidur, Ma!"


"Mimpi itu terasa nyata, Pa! bahkan lutut ku ikut juga terasa sakit!" ucap Alea dengan wajah serius dan panik.


"Ma, itu hanya mimpi, sudahlah. Tidur lagi ya?" ucap Ardhan.


Alea hanya menarik nafas dan membuangnya pelan, sembari mata yang tidak lepas dari wajah suaminya.


"Apa Papa punya masalah di kantor?" tanya Alea tiba - tiba.


Ardhan mengerutkan keningnya. Mengingat semua yang ia lakukan di kantor.


"Tidak ada, Ma" jawab Ardhan jujur.


"Papa yakin tidak punya masalah dengan orang lain kan?"


"Tidak ada, Ma! tidak pernah."


Ardhan terkekeh, "Ma, aku bekerja dengan jujur di kantor! aku juga enggan mencari masalah dengan siapa pun itu! itu hanya mimpi, Ma."


"Tapi...."


"Sudaah, tidak perlu di pikirkan. Ayo tidur lagi!" titah Ardhan sembari membawa istrinya ke dalam dekapannya.


Sementara Alea masih tertegun, dan pikiran yang menjalar kemana - mana. Tapi dia tetap mengikuti gerakan tangan suaminya yang membawanya untuk kembali tertidur di dekapannya.


"Sudah, tidurlah Sayang" bisik Ardhan menyadari istrinya yang belum menutup mata.


"Hemm" Alea mengangguk pelan.


Tapi tadi benar - benar terasa nyata! Ya Tuhan, lindungi suamiku di mana pun ia berada. Jangan biarkan ia berdarah, walau hanya setetes.


Ucap Alea dalam hati sembari menatap wajah suaminya yang sudah menutup matanya.


Kemudian Alea kembali menutup matanya, dengan mengeratkan tangannya yang melingkar di perut suaminya. Seolah menggambarkan tak ingin yang ia dekap itu hilang.


Sedang baby Andra sepertinya tidak terganggu oleh keributan kedua orang tuanya yang sedang mengalami mimpi buruk. Dia tetap terlelap di tempat tidurnya.


[Kurang lebih, beginilah tempat tidur di kamar mereka]



# # # # # #


Pagi hari, seperti biasa Alea sibuk membuatkan sarapan untuk sang suami. Ya, setiap pagi Alea selalu menyiapkan sarapan khusus untuk sang suami.

__ADS_1


Kali ini ia membuat sarapan simpel, yakni nasi goreng yang di campur dengan telur urak - arik dan irisan sosis. Di tambah saos pedas dan sedikit kecap.


Sepiring nasi goreng sudah siap di atas meja makan. Dan secangkir kopi hitam di sampingnya. Tinggal menunggu sang Tuan masih berganti baju di kamar mereka.


Alea meninggalkan Nur, yang baru datang sepuluh menit yang lalu. Ia sedang menyiapkan sayur untuk menu harian Alea dan Andra.


Alea masuk ke kamar mereka dan mendapati Ardhan yang masih memilih kemeja yang akan dia pakai. Dia baru meletakkan celana kerja dan jas saja di atas tempat tidur mereka.


"Kenapa, Pa?"


"Bingung mau pakai kemeja warna apa?" jawab Ardhan.


Alea ikut nimbrung di depan almari, dan menggeser deretan kemeja yang ada di almari gantung. Sampai akhirnya memilihkan suaminya kemeja berwarna biru langit, dan dasi berwarna navy.


Alea membantu sang suami memakai semua baju kerjanya dengan lengkap. Terakhir jas kerja berwarna hitam dan mengancingkan dua kancing jasnya.


"Sudah!" ucap Alea mengusap dada suaminya dengan kedua tangannya.


"Terima kasih, Yank!" ucap Ardhan mencium kening istrinya.


"Sama - sama! sarapan sudah siap!"


"Ayo!"


"Hemm"


"Pamit Andra dulu!" celetuk Ardhan sembari berbalik dan mendekati tempat tidur anaknya. Ardhan mendaratkan kecupan di pipi bocah itu.


"Papa berangkat dulu!" bisik Ardhan, lalu mencium lengannya yang di penuhi daging itu.


Setelah itu Ardhan dan Alea berjalan keluar, menuju meja makan. Alea dengan setia menemani suaminya sarapan. Sedang Alea sendiri memilih sarapan setelah Ardhan berangkat bekerja.


"Hati - hati di jalan, Pa!" ucap Alea saat Ardhan mengeluarkan mobilnya dari teras rumah mereka.


"Iya, Ma" jawab Ardhan tersenyum manis.


Alea masih menatap mobil suaminya yang mulai menjauh. Tidak di pungkiri jika di benaknya masih ada sisa - sisa mimpi semalam.


Lindungi suami ku dimana pun ia berada, Tuhan. Aku titipkan ia kepada-Mu saat raga ini tak di sampingnya.


Ucap Alea dalam hati sembari menatap langit pagi yang cerah.


.


.


🪴🪴🪴


Hemm... apa arti dari mimpi Alea coba tebak?


Atau mungkin tidak ada artinya dan hanya sekedar bunga tidur seperti ucapan Ardhan? 🤔


Oh ya, Othor mau ngucapin terima kasih banyak pada semua teman - teman yang sudah setia membaca novel Othor.


Dari novel pertama Othor yang berjudul I LOVE YOU DOSEN! kemudian 30 Hari Mengejar Badai, Dan juga Cinta Tuan Casanova yang masih On going juga.


Semoga kita semua di berikan kesehatan, mengingat kita semua kalau terlanjur baca pasti lupa waktu, hehe. 😀


Happy reading 🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2