
Ting!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Alea. Alea yang mendengar dan teringat sesuatu segera membuka matanya dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Hah! jam sepuluh!" pekik Alea.
Alea bergerak hendak menyingkap selimut dan mencari ponselnya. Namun ia merasa tubuhnya yang terasa sangat tidak nyaman.
Alea membuka selimut dan baru menyadari jika dia masih dalam keadaan telanj*ng.
"Akh!" pekik Alea yang teringat tadi sempat tertidur setelah di gempur sang suami secara paksa.
Alea menoleh ranjang Andra yang tampak kosong. Alea juga tak melihat Ardhan di kamar itu.
Tanpa pikir panjang, Alea memunguti bajunya dan memakainya. Alea segera mencari ponselnya dan membuka beberapa pesan yang masuk di sana.
✉️ +62 85 678 067 xxx
Selamat malam, saya perwakilan dari PT Sentani Group, menginformasikan kepada :
nama : Aleandra Zavanya
alamat : Jl. Manggis no. 307 RT. 08 RW. 02 Perum Gayama Regency.
Bahwa yang bersangkutan di terima sebagai Cleaning Service yang di tempatkan di gedung Sentani Group. Dan masuk dalam team GC. Dan dalam masa Training, terhitung mulai besok.
Diharapkan kehadirannya besok pukul 06.00 pagi, dengan memakai baju yang sopan dan bersepatu.
Demikian informasi ini saya sampaikan, jika yang bersangkutan siap hadir dan bekerja silahkan balas pesan ini dengan kata : Siap! saya hadir!
Jika tidak bisa atau menolak, silahkan balas : Tidak berminat!
NB : Batas waktu sampai pukul 23.00 WIB.
"Haa! untung aku bangun!" Alea tersentak kaget, karena pesan itu sudah di kirim sebanyak tiga kali dalam bentang waktu per satu jam.
Cepat - cepat Ale membalas pesan itu.
^^^📨 Aleandra Zavanya^^^
^^^Siap! saya hadir!^^^
✉️ +62 85 678 067 xxx
Terima kasih responnya! kami tunggu kehadirannya besok pagi!
^^^📨Aleandra Zavanya^^^
^^^Siap! terima kasih!^^^
✉️ +62 85 678 067 xxx
Sama - sama!
Alea merasa lega mendapat balasan itu. Untung tidak terlambat, batinnya.
Alhamdulillah jalan ku di mudahkan dalam sehari ini.
Ucap Alea dalam hati.
__ADS_1
Sekarang fokus Alea beralih pada Andra, dimana anak itu jam sepuluh malam belum ada di tempat tidurnya.
Alea keluar dari kamarnya, ruang tengah dan dapur terlihat sangat sepi. Alea membuka pintu kamar yang beberapa malam ini ia tempati, dan kosong.
Kemana mereka?
Tanya Alea dalam hati.
Alea berjalan ke ruang tamu, terlihat mainan Andra masih berantakan di sana. Mata Alea teralihkan ke arah luar.
Pintu masih terbuka, dan memperlihatkan Ardhan yang berdiri di luar pagar, dengan menggendong Andra yang tertidur di pundaknya.
Alea menatap nanar pemandangan itu. Hatinya serasa hanyut oleh Andra yang memang sangat dekat dengan Papanya.
Ardhan memang selalu berusaha menjadi ayah yang sempurna untuk sang putra. Apapun akan ia lakukan untuk kebahagiaan Andra.
Alea kembali ke ruang tengah, dan menyadarkan punggungnya pada dinding ruang tengah.
Jika sampai perpisahan benar terjadi di antara kami, apa aku sanggup menjalani semua ini Yaa Tuhan. Menjauhkan putra ku dari ayah kandungnya.
Kebahagiaan putra ku menjadi taruhan keegoisan kami. Padahal dia hadir di dunia ini karena keinginan kami.
Tapi aku tak sanggup jika harus bertahan dan terus saja menyaksikan kebohongan suamiku seperti ini.
Apa yang harus aku lakukan? aku pun tidak ingin gegabah dalam hal serumit ini.
Air mata Alea menetes begitu saja.
Alea mendengar suara pintu pagar yang di geser, sehingga ia langsung menghapus air mata yang menetes beberapa kali di pipi mulusnya.
Alea segera ke ruang tamu berpura - pura merapikan mainan Andra yang berantakan. Tampak Ardhan mulai memasuki pintu, namun Alea terlihat cuek.
Ardhan segera keluar dari kamarnya, sebelum Alea memutuskan untuk masuk ke kamar tamu dan mengunci pintu seperti biasa.
Terlihat Alea tengah berjalan masuk setelah mengunci pintu pagar. Ardhan duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan. Tampak Ale tengah mengunci pintu. Kemudian masuk ke ruang tengah dan mematikan lampu.
Tatapan mata mereka sempat bertemu sekilas, namun Alea tampak cuek. Ale melewati Ardhan begitu saja saat masuk ke kamar mandi.
Setelah ritual di kamar mandi selesai, Alea keluar, dan Ardhan tampak masih setia menunggunya di sana.
Dugaan Ardhan benar, Alea melangkah menuju kamar tamu. Sebelum berhasil masuk ke kamar itu. Tangan Ardhan lebih gesit dari kaki Alea.
Ardhan menari tangan Alea dengan kuat, hingga Mama muda itu terjatuh di pangkuan Ardhan.
"Ish!" seru Alea berusaha melepas tangan Ardhan yang membelit perutnya. "Lepas!" titah Alea kesal.
"Aku tidak akan melepas mu, Aleandra!" bisik Ardhan dengan nada yang dingin.
"Mau mu apa sih, Mas!"
"Mau ku, kamu di sini, dan tetap bersama aku dan Andra!" jawab Ardhan tegas.
"Tetap di sini bersama dengan seorang suami yang hanya membutuhkan istrinya untuk mengasuh anaknya?" tanya Alea menyindir.
"Apa maksud perkataan mu, Ma?" tanya Ardhan. "Jangan berfikiran yang aneh - aneh dong, Yank!"
"Mana ada istri yang tidak berfikiran aneh - aneh saat sang suami sudah mulai berubah?"
"Berubah bagaimana? aku tetap Ardhan suami kamu!" tegas Ardhan.
__ADS_1
"Itu hanya nama dan status yang sama! tapi hatimu?" Alea menoleh dan menatap tajam mata Ardhan.
"Aku tetap mencintai mu! apapun yang kamu tuduhkan tidak akan pernah benar adanya!" tegas Ardhan membalas tatapan Alea tak kalah tajam. Seolah menegaskan apa yang di ucapkan benar adanya.
"Kamu memang pandai, Mas!" ucap Alea.
"Sudahlah, Yank! hentikan perang dingin yang tidak jelas ini!" ucap Ardhan. "Katakan padaku, apa yang membuat kamu tiba - tiba tidak lagi sanggup hidup dengan ku?" tanya Ardhan pelan dengan nada serius.
"Kamu seorang manager, Mas! kamu berpendidikan, kamu punya gelar! isi kepalamu lebih cerdas dari aku yang tidak berpendidikan ini. Tapi kenapa isi kepalamu terlalu egois pada istri mu!" ucap Alea.
"Apa ada hubungannya dengan Sofia?" tanya Ardhan.
"Menurut mu?" tanya balik Alea.
"Yank, istri ku itu kamu bukan dia! kalau aku mencintai dia, aku pasti mengejarnya! tapi aku diam di sini, bersama mu! itu artinya kamu lebih dari segalanya!"
"Itu karena ada Andra!" jawab Ale.
"Yank! bisa tidak jangan berfikiran bodoh?" tanya Ardhan. "Ada atau tidak adanya Andra di antara kita, aku akan tetap mempertahankan kamu! Aku yang memiliki mu pertama kali! mana mungkin aku memilih perempuan yang pernah di miliki orang!" tegas Ardhan.
Nafas Alea kembang kempis, menatap dalam wajah Ardhan. Seolah mencari kebenaran dan kejujuran sang suami.
Tiba - tiba ingatan Alea kembali pada uang yang di kirim Ardhan untuk perempuan itu.
"Berikan aku waktu untuk membuktikan ucapan mu, Mas!" jawab Alea.
"Apa maksud mu, Ma?"
"Aku tidak akan menggunakan uang mu sama sekali, karena aku juga tidak melayani mu dnegan baik. Perasaan ini terlalu rumit untuk ku, Mas!"
"Yank, aku bekerja untuk kamu, untuk Andra! jika kamu tidak mau menggunakan uang ku, untuk apa aku bekerja keras?"
Kenapa perempuan itu tidak kau masukkan dalam hitungan, Mas!
Batin Alea.
"Jika kamu tidak mau menggunakan uang ku sama sekali, dari mana kamu memenuhi kebutuhan mu, Ma? aku tidak ingin kamu kelelahan akibat bekerja di luar sana!"
Alea menggeleng, "aku akan bekerja dan berusaha sendiri, sampai aku bisa mengembalikan perasaan ku pada mu, Mas!"
"Tidak! kamu tidak boleh bekerja!" tegas Ardhan.
"Kali kamu tidak bisa mengaturku, Mas! aku tidak mau kamu bodohi seperti ini!"
Bagaimana jika ucapan mu tidak bisa aku percayai, Mas! dan ujung - ujungnya kau meninggalkan aku!
Ucap Alea dalam hati.
"Aku tidak akan mungkin membodohi kamu, Ma!" bentak Ardhan lirih. "Sudahlah Ma, please!" nada bicara Ardhan kembali melembut. "Kita tidur bersama ya?" tawar Ardhan.
Ale membuang muka dari tatapan Ardhan. Tak perlu persetujuan Alea, Ardhan langsung mengangkat tubuh Ale yang masih di pangkuannya dan membawanya ke kamar.
Alea memberontak sebisa mungkin, namun tetap saja kalah oleh Ardhan. Akhirnya mau tidak mau kali ini Ale menurut. Karena Ardhan mengunci pintu dan memasukkan kunci itu ke dalam saku celananya.
.
.
🪴🪴🪴
__ADS_1
...Happy reading 🌹🌹🌹...