Aku Pelakor?

Aku Pelakor?
Episode 48# Pelepasan


__ADS_3

Ardhan berdiri dan meraih tangan Alea, menariknya pelan. Mengisyaratkan agar berdiri dan mengikutinya. Alea pun berdiri dan mengikuti langkah Ardhan.


Ardhan membawa Alea untuk masuk ke kamar mereka. Meninggalkan Andra bersama Nur.


Ardhan membuka jas nya, dan meletakkannya di bibir ranjang. Sementara Alea langsung duduk di tepi ranjang sambil menatap suaminya yang tengah membuka kedua kancing di lengan kemejanya.


"Ma, apa yang membuat mu seperti ini?" tanya Ardhan.


"Seperti apa maksudmu, Mas?" tanya Alea sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur.


"Kamu mendiamkan suamimu berhari - hari. Meninggalkan kamar ini begitu Andra tertidur. Dan tak biasanya kamu tak mengambil uang belanja."


"Karena aku tidak melayani mu dengan baik, Mas! jadi aku merasa tidak pantas menggunakan uang mu."


"Kalau itu alasan kamu, kenapa kamu tidak melayani suami mu dengan baik?"


"Bukan aku tidak mau, tapi aku merasa suami ku sudah membutuhkan pelayanan ku!" jawab Alea tanpa melihat suaminya. Dia tetap asyik dengan ponselnya.


"Apa maksud mu, Ma?" tanya Ardhan mengerutkan keningnya, menatap Alea penuh dengan tatapan mengintimidasi. "Mana ada suami tidak membutuhkan pelayanan istrinya. Alasan kamu ini nggak masuk akal, Ma!" lanjut Ardhan menahan kesal.


"Buktinya kamu lebih suka dengan dunia mu di dunia maya dari pada dengan ku!" jawab Alea membalas tatapan Ardhan.


"Tch!" Ardhan berdecih. "Aku tidak paham maksud mu, Ma!"


"Sama! aku juga tidak paham maksud mu menikahi ku, Mas!" balas Alea cuek.


Ardhan semakin membulatkan matanya, dengan nafas yang naik turun. Hatinya tercubit dengan pernyataan Alea.


"Tentu saja karena aku mencintai mu, Ma!" ucap Ardhan tegas.


"Cinta?" tanya Alea mengulang dengan menatap mata Ardhan. "Siapa yang kau cintai, Mas?" tanya Alea memperjelas. "Tanyakan pada hati kecil mu ini, Mas!" Alea menunjuk dada Ardhan dengan ujung jarinya. "Siapa yang kamu cintai?" tanya Alea menatap mata suaminya.


"Apa maksud kamu, Ma?" Ardhan mengerutkan keningnya. "Yang aku nikahi kamu, itu artinya kamu yang aku cintai!" tegas Ardhan.


"Kau menikahi ku, karena kau kehilangan cinta dari seseorang! tapi cinta mu pada orang itu tidak pernah berkurang! Dan aku adalah tumbal dari perasaan mu!"


"Ma! kamu sadar tidak dengan apa yang kamu ucapkan?"


"Aku 100% sadar, Mas! dan sekarang aku semakin sadar, jika aku hanya bagian terkecil dari hati seorang Ardhan Bagaskara!" seru Alea.

__ADS_1


"Tutup mulut mu, Ma! hentikan omong kosong seperti itu!"


"Tidak usah mengelak, Mas! aku hanya butuh waktu untuk membuat pikiran ku tenang. Agar tidak ada hal bodoh yang aku lakukan!" ucap Alea sembari bangkit dari duduknya yang bersandar pada sandaran tempat tidur.


"Memangnya hal bodoh apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Ardhan menahan pergelangan tangan Alea.


"Mungkin berpisah dengan mu!" jawab Alea dengan entengnya.


Sontak Ardhan menarik nafas dalam, tubuhnya terbakar begitu saja. Tak pernah terpikir di benaknya jik sang istri bisa mengucapkan hal seperti itu. Padahal dia sendiri tidak pernah berniat melakukan hal seperti itu.


"Jangan bodoh kamu!" ucap Ardhan tegas. "Apa kamu tidak memikirkan Andra? kamu tidak memikirkan aku?"


"Andra selalu aku utamakan, Mas! tapi kamu? dulu aku akan tunduk kepada mu, Mas! tapi jika harus seperti ini, aku tidak mau, aku tidak sanggup, Mas!" ucap Alea dengan mata yang seolah mengatakan kebenaran dari ucapannya.


"Apa yang membuat mu tidak sanggup bersama ku, Yank?" tanya Ardhan.


"Sudahlah, Mas! untuk selanjutnya kamu cukup transfer uang untuk kebutuhan Andra, rumah dan mbak Nur saja. Aku tidak akan menggunakan uang mu. Karena aku bukan istri yang baik untukmu. Aku bukan perempuan yang pantas bersanding dengan mu! aku hanya obat bodoh yang datang pada hati yang terluka. Setelah hati itu sembuh, maka obat bodoh tidak lagi di butuhkan." ucap Alea sembari melangkahkan kaki hendak keluar dari kamar yang mulai terasa gerah itu.


Selangkah Alea meninggalkan Ardhan, namun Ardhan yang di penuhi emosi menarik kembali lengan Alea dengan kuat. Hingga Alea menghadapnya dengan rasa sakit di lengannya akibat cengkeraman kuat Ardhan.


"Hentikan omong kosong mu, Aleandra Zavanya! apapun yang kau ucapkan saat ini, aku tetaplah suami mu! Dan tidak akan ada yang bisa mengubah itu!" ucap Ardhan tegas dengan gigi yang mengerat kuat.


Namun lagi - lagi Ardhan menarik lengannya dengan kuat. Dan langsung meraih tubuh Alea dan memeluknya dengan satu tangan. Satu tangan lagi merengkuh leher Alea, hingga Alea kesulitan untuk memberontak.


"Aku suami mu! ingat itu!" ucap Ardhan lirih tapi dengan nada yang tegas.


Tanpa permisi Ardhan langsung mencium bibir Alea dengan kasar. Seolah tengah lupa diri, Ardhan *******, menghisap bibir Alea dengan kasar.


Sekuat tenaga, Alea memberontak. Namun apalah daya, tubuhnya tak sebanding dengan tubuh kekar Ardhan.


"Umh!"


Setetes air mata Alea membasahi pelipisnya. Tapi Ardhan seolah tengah kerasukan setan. Dia tidak peduli dengan air mata Alea yang menetes.


Tangan yang mendekap tubuh Alea, berpindah ke bagian perut Alea. Satu persatu kancing baju Alea di buka oleh Ardhan secara paksa. Alea memberontak tapi tetap saja kalah.


"Aku seorang suami, Alea! aku juga butuh pelepasan!" ucap Ardhan lirih dengan nada penuh penekanan.


Akhirnya Alea yang sebenarnya merasa jijik dengan tubuh suaminya, hanya bisa pasrah. Bagaimanapun saat ini Ardhan memang suaminya.

__ADS_1


Dari pada harus mendengar atau bahkan melihat sendiri suaminya berzina dengan pelac*r lebih baik dia menyerahkan tubuhnya. Meskipun dalam hati dia tengah tidak ingin melihat sang suami yang belum menyadari kesalahannya.


Tanpa di sadari kini tubuh Alea telah polos karena pakaiannya di lucuti oleh Ardhan dengan paksa. Ardhan sendiri tengah membuka celana nya. Ia bahkan belum mandi sepulang kerja.


Ardhan kembali merangkak naik ke atas tempat tidur. Dan mengungkung tubuh istrinya. Dan kembali melakukan apa yang dia inginkan.


Ardhan bahkan terlihat lebih gila dari biasanya. Dia meninggalkan banyak sekali tanda di tubuh Alea. Mulai dari leher, dada, pundak bahkan kedua buah dada Alea tak luput dari tanpa merah itu.


Alea yang menahan risih hanya bisa memejamkan matanya saat adegan bercocok tanam itu berlangsung.


Menahan bibirnya agar tidak sampai mendes*. Namun apalah daya, desah*n adalah suara alamiah yang tidak bisa di ganggu gugat.


Sampai akhirnya, Ardhan yang biasanya menyemburkan bisanya di luar atau menggunakan pengaman, kini dengan sengaja dia menumpahkan semua itu di rahim istrinya.


Ya, Ale memang tidak KB. Dari awal mereka sepakat untuk tidak melakukan KB. Mereka atur sendiri siklus hubungan mereka. Dengan cara tembak luar atau menggunakan pengaman.


Semoga dia tumbuh! dengan begitu kau tidak akan mudah lepas dari ku, Aleandra Zavanya!


ucap Ardhan dalam hati menatap wajah istrinya yang memejamkan mata akibat kelelahan. Karena kali ini Ardhan melakukannya seperti serigala yang kelaparan.


Ardhan menarik senjatanya. Kemudian perlahan mendekati wajah istrinya. mencium keningnya dengan dalam.


"Jangan berfikiran bodoh, Yank! aku mohon!" ucap Ardhan lirih sembari mengusap puncak kepala Alea dan kembali menciumi wajah Alea.


Tapi Alea tak bergeming, Alea bingung harus berbuat apa. Dia merasa seperti terjebak oleh cinta Ardhan Bagaskara. Dia mendadak risih saat Ardhan melepas benihnya di rahimnya.


Ardhan menarik selimut dan menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri. Memeluk tubuh polos istrinya. Menatap wajah Alea yang seolah enggan untuk membuka mata untuk melihat dirinya.


Tapi hati Ardhan teriris saat melihat cairan bening menetes di pelipis Alea yang masih memejamkan matanya.


"Maafkan aku, Sayaang!" bisik Ardhan lirih sembari mengusap air mata itu.


Ardhan meraih tubuh Alea dan memeluknya. Sementara Alea yang masih lemas hanya bisa mengikuti pergerakan tubuhnya yang di gerakkan suaminya.


.


.


🪴🪴🪴

__ADS_1


...Happy reading 🌹🌹🌹...


__ADS_2