Aku Pelakor?

Aku Pelakor?
Episode 62# Penjelasan


__ADS_3

Ardhan kembali ke kantor dengan membawa nomor ponsel baru. Ia segera mengajukan pergantian nomor baru untuknya.


Entahlah kapan akan di ACC. Yang jelas ia sudah berusaha yang terbaik.


Kini tujuan utamanya adalah mengambil hati sang istri, untuk kembali percaya padanya. Meskipun mungkin akan sedikit sulit.


Seperti memuluskan kembali gelas yang sudah retak. Sangat sulit dan mungkin tidak akan bisa mulus kembali.


Sorry teman - teman, aku harus menghilang dari ******group****** ini!


Ucap Ardhan dalam hati, saat membaca chatting teman - temannya di group chat.


Keluar!


Ardhan dengan penuh pertimbangan menekan tombol itu.


Dan entahlah, obrolan apa yang berlanjut dari group chat yang yang baru saja ia tinggalkan. Group chat membuatnya kembali berkomunikasi dengan seseorang di masa lalu. Sedikit banyak, kemunculan group chat itulah yang menjadi akar rumah tangganya goyah.


Ardhan duduk di singgasana, memandang foto keluarga yang ia jadikan sebagai dekstop wallpaper laptop miliknya. Sungguh ia merindukan momen manis seperti itu.


Ardhan menyelami hari - hari yang berlalu, sungguh ia menyesali kebodohannya. Menanggapi sesuatu yang tidak ada gunanya untuk masa depan. Padahal ia memiliki anak dan istri yang wajib mendapatkan tanggung jawab darinya.


Ardhan memijit keningnya dengan memejamkan matanya dalam. Kata menyesal sepertinya tak akan cukup untuk memohon ampun pada sang istri.


Beberapa saat kemudian, tangan ya terkepal saat mengingat kalimat Fikri. Yang bisa saja dia jatuh cinta pada Alea jika saja masih lajang.


Maafkan aku, Yank! hukum aku sepuas mu, asal kata maaf muncul dari bibir mu untuk suami bodoh mu ini!


Batin Ardhan.


Ardhan membuka matanya, menatap papan nama di atas meja. Papan yang bertuliskan nama dan jabatannya.


***Apa aku pantas mendapat gelar itu, sedangkan aku tak mampu mengendalikan emosi istri ku sendiri?


Bodoh kau Ardhan***!


Umpat Ardhan dalam hati.


# # # # # #


🍄 Malam pun tiba . . .


Dengan tubuh yang lelah, Alea memarkirkan motornya di teras rumah. Mobil Ardhan belum nampak. Namun Ale tak terlalu memikirkan hal itu. Mungkin lembur pikirnya. Alea langsung bergegas untuk membersihkan dirinya. Kondisi rumah sore sepi, karena Nur mulai mengantar Andra untuk belajar mengaji di TPQ.

__ADS_1


Saat keluar dari kamar mandi, bertepatan dengan suara mobil Ardhan yang berhenti di teras rumah. Alea langsung masuk ke kamar tanpa menyambut sang suami.


Meskipun Alea tau hari ini Ardhan memblokir nomor Sofia, dan keluar dari group. Ia ingin suaminya sendiri yang membicarakan hal itu. Untuk saat ini ia masih berakting pura - pura bodoh dan tidak tau apa - apa.


Alea mengganti bajunya, dan saat menghadap cermin untuk menyisir rambutnya, terlihatlah Ardhan membuka pintu kamar mereka.


Alea hanya melirik sekilas, dan masih terlihat cuek. Sedangkan Ardhan menatap punggung istrinya dengan tatapan sendu.


Ardhan berjalan pelan sembari melepas jas kerjanya dan melemparnya di bibir ranjang. Ia terus berjalan mendekati sang istri yang membelakanginya.


Dengan lembut, tangan Ardhan terulur untuk memeluk istrinya dari belakang. Dan langsung menyusupkan wajahnya di tengkuk leher sang istri sebelah kanan.


Ia memejamkan matanya dalam, meresapi dan mencium bau harum istrinya yang masih segar karena baru saja selesai mandi. Bau harum rambut Alea yang belum kelar di sisir pun tak kalah beradu dengan wangi kulit leher Alea.


"Mas!" hardik Alea yang terganggu karena belum menyelesaikan rambutnya.


Namun Ardhan tak menghiraukan, ia justru mempererat pelukan tangannya di perut Alea. Dan juga semakin memperdalam nafasnya untuk mencium wangi tubuh istrinya.


"Mas!" hardik Alea lagi.


"Biarkan begini, Yank! aku mohon!" ucap Ardhan lirih, sangat lirih. Benar - benar lirih, namun terdengar seperti permohonan yang jangan pernah di bantah.


Akhirnya Alea menghentikan aktivitasnya. Ia letakkan sisir di atas meja. Membiarkan rambutnya yang tergerai masih sedikit berantakan. Lagi pula ia tidak akan bisa menyisir karena terhalang oleh tubuh Ardhan yang memeluknya dari belakang.


Nafasnya terdengar nafas malas. Ardhan pun merasakan itu. Tapi sesungguhnya itu adalah helaan nafas yang di buat - buat oleh Alea.


Alea kembali menghela nafas beratnya, "mau kamu apa sih, Mas?" tanya Alea datar.


"Maafkan aku, Yank!" ucap Ardhan lirih dan penuh ketulusan. Itu terasa dari dekapan Ardhan di tubuh Alea. "Please! ampuni suami bodoh mu ini!" ucapnya lagi masih dengan mata yang terpejam di tengkuk leher Alea.


"Maaf?" Alea mengerutkan keningnya, seolah tidak mengerti arah bicara suaminya.


"Aku sudah melepasnya, aku bertekad menuruti mu, Yank! aku ingin kembali pada mu, rumah terbaik yang aku miliki!" jelas Ardhan masih dengan posisi yang sama.


"Melepas siapa?" tanya Alea memastikan, meskipun sebenarnya sudah tau.


"Sofia"


"Kenapa kamu melepasnya, Mas?" tanya Alea. "Bukankah bertahun - tahun kamu menunggunya?"


"Please, Yank! percaya padaku, aku tidak menunggunya!"


"Kamu benar - benar sudah yakin untuk melepasnya?" tanya Alea dingin.

__ADS_1


"Iya," jawab Ardhan serius. "Aku berjanji kepadamu, Yank! aku tidak akan gila seperti ini lagi! please, Yank! maafkan aku!"


"Apa buktinya kalau kamu benar - benar melupakan janda tidak jelas itu, Mas?"


"Aku sudah memblokir nomornya, keluar dari group chat! Dan aku sudah mengajukan nomor baru untuk ku pada perusahaan!"


"Cukup kah dengan itu?"


"Percayalah, Yank! hati ku hanya terisi penuh akan dirimu! aku merindukan cinta, perhatian dan ketulusan kamu selama ini, Yank!"


"Kenapa kamu tiba - tiba bertekad untuk seperti ini?" Alea seperti menginterogasi tersangka atas sebuah kasus.


"Aku tidak sanggup melihat mu bekerja, Yank! melihat mu memegang sapu di Sentani Group membuat hati ku remuk! padahal di rumah saja aku melarang mu menyentuh benda itu di depan mata ku!" jelas Ardhan.


Alea sedikit menyunggingkan senyum, merasa tersentuh akan ucapan Ardhan. Meskipun senyum itu masih di sembunyikan dari Ardhan.


"Hidup mu sudah berat, Yank! mendengar kisah masa kecil mu saja sudah membuat ku menyesal tidak mengenal mu sejak kecil. Dan sekarang melihat mu sakit hati saat bersama ku, aku rasa aku sudah melakukan dosa terbesar dalam hidupku!" jelas Ardhan dengan setetes air mata yang entah dari mana datangnya. "Hukum aku semau mu, Yank! asal kamu memaafkan aku!"


"Aku akan memaafkan kamu, jika nomor mu sudah benar - benar di ACC. Dan nomor ponsel mu yang lama benar - benar tidak kamu pakai!" ucap Alea.


"Tapi bagaimana jika membutuhkan proses lama?" Ardhan menatap Alea dari arah samping.


"Itu berarti kamu harus sabar! atau mungkin karena di lubuk hati nu masih tersisa tempat walau hanya sejumput gula"


"Tidak! sama sekali tidak, Yank!" tegas Ardhan menatap mata Alea.


Alea hanya mengangkat pundaknya Seolah masih ragu. Padahal dalam hati ia merasa senang bukan kepalang. Karena berhasil menang dari si Sofia itu.


"Kita tunggu, Mas!" pungkas Alea. "Sekarang lepaskan aku dulu!" titah Alea.


"Aku akan lepaskan jika kamu bersedia mengundurkan diri dari Sentani Group!" balas Ardhan.


"Hah!" pekik Alea.


.


.


🪴🪴🪴


**Bagaimana reaksi Alea selanjutnya, saat Ardhan memintanya untuk berhenti bekerja? Padahal ia sudah tanda tangan kontrak selama tiga bulan!


Tunggu di next episode ya kakak 🥰🥰

__ADS_1


Happy reading 🌹🌹🌹**


__ADS_2