Aku Pelakor?

Aku Pelakor?
Episode 28# Harapan di Tiga Bulan Kemudian


__ADS_3

Malam pun tiba, semua keluarga dari kampung sudah ke kampung Ardhan dan Alea. Menyisakan Ardhan dan Alea yang tengah membersihkan sisa - sisa keramaian tadi.


Jam menunjukkan pukul 11 malam waktu setempat. Alea menjatuhkan tubuhnya di sofa baru mereka. Sofa sederhana yang mereka beli untuk mengisi ruang tamu yang hanya berukuran 3x4 itu.


Alea mengedarkan pandangannya pada seluruh dinding yang sudah di cat dengan warna yang berbeda pada setiap ruangan.


"Melamun saja?" tanya Ardhan yang baru masuk ke dalam rumah setelah membuang sampah.


"Aku sedang merancang, untuk mendekor rumah ini agar lebih nyaman dan cantik!" jawab Alea sembari mengumbar senyumnya pada sang suami yang ikut mengedarkan pandangan pada dinding - dinding yang belum ada hiasan sama sekali.


"Terserah kamulah, Yank! dekor sesuka hatimu!" jawab Ardhan sembari mengunci pintu utama rumah mereka.


"Beneran sesukaku?" tanya alea berbinar.


"Hemm.. tentu saja! yang penting kamu suka dan nyaman!" jawab Ardhan sembari duduk di samping Alea.


"Yeay! terima kasih, Mas!" ucap Alea yang hanya di balas dengan senyuman oleh Ardhan.


"Sekarang waktunya mengerjakan yang tadi sempat tertunda" ucap Ardhan tersenyum jahil.


"Tertunda?" Alea mengerutkan keningnya. "Apa?" tanya Alea.


"Tch! masa tidak paham?" Ardhan menaik turunkan alisnya beberapa kali.


"Apa sih?" tanya Alea yang belum juga paham maksud suaminya.


"Tch! tidak perlu di ingat! langsung saja!" ucap Ardhan sembari mengangkat tubuh istrinya ala bridal.


"Ah!" pekik Alea saat tubuhnya terhenyak ke atas. "Mas, kamu ini bener - bener ya!" celetuk Alea.


"Yaank, aku harus rajin - rajin mengisinya supaya cepat terisi!" ucap Ardhan sembari membuka pintu kamar yang di jadikan mereka sebagai kamar utama mereka. Karena ukurannya lebih luas dari kamar satunya.


"Iya juga sih, sudah tiga bulan, Alea belum juga ada tanda - tanda hamil!" ucap Alea.


"Sudahlah Yank! jangan dipikirkan tentang hal itu! yang terpenting itu kita rajin membuatnya!" jawab Ardhan sembari meletakkan tubuh Alea di atas tempat tidur mereka. Yakni spons tebal yang mereka beli saat tinggal di kontrakan.


"Rajin membuat doang?" tanya Alea.


"Memangnya apa lagi?" tanya Ardhan yang sudah mulai menggerakkan tangannya nakal di balik kaos yang di pakai Alea. Meraba ke bawah punggung Alea, hingga pengait br* Alea terlepas.


"Maas.." ucap Alea dengan nada yang membuat Ardhan semakin aktif bergerilya di balik br* Alea. Dimana jari jemarinya aktif bermain - main di puncak yang hampir setiap hari tersentuh oleh tangannya itu.


"Apa lagi selain menikmati hal - hal seperti ini, Ayank?" tanya Ardhan dengan bibir yang mulai menciumi leher Alea dan tangan yang meremas dua benda kenyal favoritnya.


Hingga larut malam keduanya masih asyik bergulat di atas tempat tidur. Menyingkirkan hawa dingin yang menerpa tubuh mereka. Menggantinya dengan saling memberi kehangatan.

__ADS_1


# # # # # #


Tiga bulan berlalu . . .


Rumah sederhana Ardhan dan Alea sudah tidak lagi polos. Ada banyak hiasan dinding juga rak rak hiasan di sana. Bahkan beberapa foto pernikahan mereka tertata rapi di dinding.


Dapur tempat Alea berkutat setiap pagi pun kini menjadi lebih segar dan nyaman untuk seorang istri menjalankan tugas mereka. Dengan nuansa hijau yang mendominasi dapur itu.


Sementara kamar mereka pun kini sudah berganti spring bad dengan warna biru yang mendominasi. Dengan dinding yang juga berwarna biru. Dan plafon yang di beri stiker dinding dengan gambar awan.


Spons tempat tidur mereka sebelumnya beralih ke kamar satunya, yang di peruntukkan untuk tamu. Atau akan di rubah menjadi kamar anak, kelak jika mereka sudah memiliki anak.


Pagi ini, di salah satu sisi rumah, tepatnya di bilik berukuran 1,5 x 3 meter, Ardhan dan Alea baru saja menyelesaikan sholat subuh berjamaah dengan rambut mereka yang basah.


Alea melepas mukenanya, sedang Ardhan melepas dan melipat sarung dan pecinya. kemudian meletakkan di rak kecil yang ada di ruang sholat itu. Dan berjalan keluar untuk minum air di meja makan kecil dengan empat kursi itu.


Tiba - tiba saja, Alea yang semula baik - baik saja di serang pusing mendadak. Pandangannya berubah menjadi gelap tanpa permisi. Belum sempat dia menutup rak itu, Alea terjatuh tersungkur dan menatap rak untuk meletakkan perlengkapan sholat dan al qur'an itu.


Seketika Ardhan menyemburkan air yang belum sampai masuk ke tenggorokannya itu. Dengan cepat kembali berlari ke tempat sholat yang jaraknya tidak jauh dari duduknya saat itu.


"Yank!" pekik Ardhan mendapati Alea yang pingsan dengan wajah yang mendadak pucat.


"Yank!" panggil Ardhan panik sembari menepuk - nepuk pipi istrinya.


Ardhan langsung mengangkat tubuh Alea dan membawanya ke kamar. Dengan lembut Ardhan meletakkan tubuh Alea yang lemas tanpa tenaga.


Dengan cepat Ardhan berusaha membuat Alea segera tersadar. Beberapa saat berlalu, Alea berhasil membuka sedikit matanya. Tapi secepat kilat kembali menutupnya. Seolah tidak ada tenaga untuk sekedar membuka matanya.


"Yaank?" panggil Ardhan lembut.


Sejurus kemudian mata Alea berhasil terbuka, tapi sangat lemas.


"Sayang?" panggil Ardhan lagi dengan lembut. "Kamu kenapa?"


"Tiba - tiba pandangan ku kabur dan gelap" jawab Alea lirih.


"Hari ini kami tidak usah bekerja ya?" ujar Ardhan.


"Tapi ..."


"Mas akan menghubungi Supervisor kamu!"


Alea hanya mengangguk pelan. Meskipun ada rasa khawatir, karena dalam pekerjaannya tidak boleh ijin mendadak selain kecelakaan atau keluarga dekat meninggal.


Tapi sungguh Alea tidak mampu membayangkan hal itu lebih jauh. Tubuhnya terasa begitu lemas.

__ADS_1


Ardhan segera menghubungi Supervisor Galaxy store. Meskipun tidak mengenal, tapi Ardhan tau siapa Supervisor Galaxy store.


Setelah beberapa saat Ardhan bernegosiasi dengan cukup alot melalui telepon, akhirnya Alea di ijinkan untuk tidak bekerja. Namun liburnya minggu depan harus dihanguskan.


Berbeda dengan Ardhan di AutoGalaxy, yang cukup mudah untuk meminta ijin tidak bekerja. Apalagi Ardhan juga punya jatah cuti dari perusahaan.


Meskipun dua tempat itu di bawah naungan perusahaan yang sama, tapi peraturan yang berlaku jauh berbeda.


Jam tujuh pagi, Ardhan membawa Alea ke klinik praktek dokter terdekat. Untuk memastikan apa yang membuat Alea pingsan pagi ini.


"Kapan mbak Alea terakhir datang bulan?" tanya dokter itu.


"Terakhir?" Alea tampak berfikir, mengingat kapan terakhir dirinya datang bulan. Tapi sungguh nihil.


"Sudah hampir dua bulan istri saya belum datang bulan, dok!" sahut Ardhan yang mengingat jelas kapan terakhir istrinya itu datang bulan. Karena pada saat itu dia harus menahan diri untuk menekan hawa nafsunya.


"Hihi! Masnya lebih hafal ternyata!"


"Jelaslah dok!" sahut Ardhan pada dokter perempuan itu. Dimana memang sudah hampir dua bulan ini, nafsu Ardhan selalu tersalurkan tanpa halangan apapun.


"Berdasarkan pemeriksaan saya, Mbak Alea ini tengah hamil muda," ucap sang dokter.


"Hamil dok?" tanya keduanya bersamaan dengan mata berbinar penuh harap.


"Iya, semoga! itu berdasarkan denyut nadi Mbak Alea dan juga terakhir menstruasi!" jelas dokter. "Karena saya dokter umum jadi tidak bisa memastikan 100%! alangkah baiknya di bawa ke dokter kandungan, atau bidan yang sudah ahlinya menangani masalah kehamilan!" lanjut dokter itu.


"Baiklah, dok!" jawab Ardhan cepat.


Mereka segera menyelesaikan biaya administrasi. Dan keluar dari klinik itu.


Dengan hati - hati, Ardhan menggandeng tangan Alea yang wajahnya masih terlihat sedikit pucat. Namun dia cukup senang karena kemungkinan besar Alea tengah hamil.


Tidak di pungkiri, kehamilan Alea adalah harapan besar bagi Ardhan. Mengingat usia pernikahan mereka sudah menginjak enam bulan lamanya.


.


.


.


•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√


...Akhirnya hamil kan? 🤩...


...Selamat ya Ardhan dan Alea 🌸...

__ADS_1


...Happy reading 🌹🌹🌹...


...Salam Lovallena....


__ADS_2