
"Saya permisi pak!" pamit Alea menunduk hormat pada Fikri, lalu pada Ardhan.
"Apa Pak Fikri menyukai Office girl ini?" Ardhan membalas anggukan Alea dengan pertanyaan pada Fikri. Tapi matanya tetap fokus menatap sang istri.
Alea hanya menghela nafas sembari berjalan meninggalkan meja di mana dua manager itu tengah berunding.
"Hahahah!" Fikri tertawa. "Jika saja saya masih bujang, dan dia belum bersuami, tentu saja saya mau! siapa yang akan menolak perempuan secantik Alea!" lanjut Fikri menatap punggung Alea yang berjalan ke arah pintu.
Tangan Ardhan di bawah meja mengepal erat. Ingin rasanya kepalan itu meninju mulut yang baru saja bersuara.
"Memangnya dia sudah bersuami?" tanya Ardhan dingin.
"Sudah Pak Ardhan! beruntung sekali kan suaminya memiliki istri cantik yang bahkan mau bekerja sebagai Office girl?" ucap Fikri. "Kalau istri saya? mana mau dia susah payah keluar keringat!" menggerutu. "Andai waktu dapat di putar!" gumam Fikri selanjutnya.
Doa istri ku, brengsek!
Batin Ardhan.
Ardhan menarik nafas dalam dan membuangnya pelan. Menahan amarah yang rasanya ingin meledak sekarang juga.
Sedangkan Alea yang tengah membuka knop pintu, menyungging senyuman sinis mendengar ucapan bosnya, Fikri.
Clekk!
Alea meninggalkan ruangan Fikri dengan penuh kemenangan.
Kau dengar kan Mas? rumput mu ini indah di mata orang lain! kenapa kau masih saja tidak mau tegas melepas Sofia?
Ucap Alea dalam hati, sambil terus berjalan ke arah pantry, guna mengembalikan nampan.
***
Dua jam berlalu, meeting Ardhan dan Fikri telah selesai. Ardhan menuruni lift dengan di antar oleh Fikri.
Ting!
Lift terbuka, dan seketika mata Ardhan menajam dan perih. Menatap pada satu arah yang belum di sadari oleh Fikri.
Fikri berjalan keluar lift, Ardha reflek mengikuti langkah Fikri. Tapi matanya masih tertuju pada satu titik di salah satu pojokan lobby.
Istrinya tengah mengepel lantai di sana.
Hati Ardhan terasa begitu perih dan berdarah Seperti baru saja di cambuk oleh cambuk paling kuat di muka bumi ini.
Ingin sekali rasanya, ia berlari memeluk istrinya dan mengatakan pada seluruh penghuni Sentani Group jika Alea adalah istrinya. Dan meminta agar Sentani Group memecatnya.
Perih! sungguh perih hati Ardhan saat ini.
Sedangkan Alea belum juga menyadari suaminya telah berjalan ke arah pintu keluar.
Dan deg!
__ADS_1
Mata Alea menangkap keberadaan Ardhan yang menatapnya dengan tatapan mata yang begitu sendu.
Sakit! mata dan hati Ardhan terasa begitu sakit saat melihat Alea menunduk hormat padanya. Seperti anak buah dan bosnya.
Dengan langkah berat, Ardhan meninggalkan Sentani Group. Ia menutup pintu mobil dengan begitu kencang. Menghela nafas berat di balik kemudi mobilnya.
Ponsel Ardhan kembali bergetar, sedari tadi ponsel itu bergetar, tapi ia sama sekali tidak peduli. Karena itu pesan maupun panggilan dari Sofia. Perempuan yang membuat istrinya berubah.
Dengan kesal dan amarah yang membuncah Ardhan mengambil ponselnya. Menatap layar yang menunjukkan video call masuk ke nomornya.
Ardhan menekan tombol hijau, sebagai tanda di terimanya panggilan itu. Wajah tampan Ardhan terlihat begitu suram dan mengerikan.
"Halo, Ardhan! kemana saja, aku kangen!" ucap Sofia dengan manja di sebrang sana.
Namun seketika ekspresi Sofia berubah, saat melihat Ardhan diam saja dengan raut wajah seperti harimau yang mangsanya di rebut oleh musuhnya.
Membunuh! itulah raut wajah yang tergambar dari wajah tampan seorang Ardhan Bagaskara.
"Ardhan, kamu kenapa?" tanya Sofia lirih dan ragu.
Ardhan tidak menjawab, dia hanya melayangkan tatapan tajam pada Sofia yang terlihat berusaha membuatnya luluh.
"Ardhan?" panggil Sofia.
"Mulai detik ini, berhenti menghubungi ku!" ucap Ardhan dingin dan penuh penekanan. "Kita sudah berakhir, Sofia! kita punya kehidupan masing - masing!" lanjutnya.
Mendengar nada bicara Ardhan yang dingin, sontak Sofia menggelengkan kepalanya pelan dan serasa tak percaya dengan kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Ardhan.
"Tidak Sofia!" jawab Ardhan tegas. "Cinta ku pada mu sudah hilang! namamu sudah tidak memiliki tempat yang berarti di hati ku!"
"Apa yang di katakan Alea padamu, Dhan? kenapa kamu jadi berubah?"
"Tidak ada." jawab Ardhan santai namun terdengar begitu dingin dan serius.
"Aku yakin dia bercerita yang tidak - tidak tentang aku!"
"Sama sekali tidak! istri ku bukan tukang adu domba!"
"Ardhan, please! aku hanya ingin menjalin hubungan baik dengan kamu, Dhan!"
"Tidak bisa, Sof! tidak hubungan yang baik antara aku dan kamu!"
"Ini pasti karena istri mu bicara yang buruk tentang aku, kan?"
"Sekali lagi tidak, Sof!" bentak Ardhan dengan nada tinggi.
Terlihat Sofia terperanjat mendengar bentakan Ardhan yang belum pernah sama sekali ia dengar. Namun Ardhan sama sekali tak terlihat merasa bersalah sudah membentak Sofia. Perempuan yang pernah indah di hatinya.
"Istri ku tidak bicara apapun, dan itu sudah lebih dari suatu penjelasan!"
"Ardhan?" air mata Sofia menetes begitu saja.
__ADS_1
"Cari suami mu! bawa dia pulang! kau bisa menggoda suami orang, kau juga pasti bisa menggoda suami mu kembali bukan?"
"Tidak! aku tidak mau suamiku! aku maunya kamu, Dhan!"
"Berhenti bicara yang tidak masuk akal, Sof!" ucap Ardhan kembali dingin. "Selama ini aku hanya menganggap mu teman lama yang memiliki derajat berbeda di banding teman lainnya. Tap semakin kesini, hidupku semakin hancur dengan kemunculan mu!"
"Stop, Ardhan!" ucap Sofia dengan tegas. "Aku bukan penghancur! aku pacar kamu, Dhan! istri mu yang sudah mengambil kamu dari ku!"
"Berhenti ngelantur, Sof!" bentak Ardhan lagi.
"Itu kenyataan!" jawab Sofia dengan nada tak kalah tinggi.
Ardhan menarik nafasnya dalam, seolah tidak lagi punya kalimat yang tepat untuk membuat Sofia benar - benar menjauh secara natural.
"Jangan menghubungi aku lagi, dan aku tidak akan membalas pesan mu lagi." ucap Ardhan. "Kehilangan suara istri ku jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan dirimu dulu. Jadi berhentilah mengirim pesan padaku." ucap Ardhan lebih serius lagi.
"Oh, jadi ini semua karena istri mu merajuk?"
"Apapun itu bukan urusan mu, Sofia!"
Sofia hanya bisa diam, dalam hatinya serasa ingin meledak. Dan membombardir Alea yang menurutnya sebagai penghalang.
Sialan kau bocah!
Umpat Sofia dalam hati.
"Selamat tinggal!" ucap Ardhan kemudian dan langsung menekan tombol matikan telpon.
Lalu menekan nomor Sofia dan mengarah pada tombol blokir.
Terblokir!
Nomor Sofia masuk dalam daftar blokir di aplikasi chat milik Ardhan. Ia menghapus semua jejak yang berhubungan dengan Sofia. Dan membuat ponselnya seolah tak pernah di sambangi oleh nomor Sofia.
"Sebaiknya aku mengurus pergantian nomor. Kalau hanya sekedar blokir, dia masih mengganti nomor baru untuk menghubungi ku!" gumam Ardhan berfikir.
"Sorry, Sof! ini jalam terbaik untuk ku! semoga suami mu kembali dalam waktu singkat!" lanjutnya bergumam.
***
Sedang jauh di sebrang, Sofia membanting ponselnya ke lantai. Setelah sekian lama Ardhan tak pernah menjawab panggilan telpon, sekali di angkat untuk berpamitan. Sungguh sakit hatinya. Ia mengacak - acak rambutnya frustasi.
"Brengsek kau Alea! ingin rasanya aku menyeret mu keluar dari kehidupan Ardhan!" teriak Sofia.
.
.
🪴🪴🪴
**Sadar Sof, Ardhan bukan jodoh mu...
__ADS_1
Happy reading 🌹🌹🌹**