
Jam delapan pagi setelah memandikan Andra, Alea membuka ponselnya. Untuk membaca chat suaminya yang dia bajak.
Padahal baru satu jam lebih perkiraan Ardhan sampai di kantor, tapi chat Ardhan dan Sofia sudah cukup banyak. Sepertinya suaminya itu selalu menyempatkan diri untuk membalas pesan chat dari Sofia.
Udah sampai, Dhan?
^^^Baru saja sampai kantor.^^^
[Sebuah foto meja kerjanya tersemat dalam balasan itu]
Wow! bos mah ruang kerjanya bagus ya, Dhan?
^^^Sewajarnya aja sih! tapi aku bukan bos kok. Hanya seorang Manager saja.^^^
Itu sudah sangat bagus lo, Dhan! kasih aku kerjaan yang bagus di sana dong, Dhan ðĪ Biar bisa deket sama kamu pujaan hati ku sejak berpuluh - puluh tahun yang lalu.
^^^Haha, lebay deh!^^^
Serius, Dhan! kasih aku job di sana.
^^^Pengen kerja jadi apa emang?^^^
Jadi Ibu Rumah Tangga di rumah kamu aja, Dhan ðĨ°
Hehe! canda, Dhan.
^^^Rumah kedua? ðĪ^^^
Terserah deh rumah ke berapa, yang penting bisa nungguin kamu pulang!
^^^Haha! bercanda mulu sukanya!^^^
Padahal serius lo, Dhan! kalau nggak mau jadiin aku rumah kedua, kasih kerjaan apa gitu. Yang penting satu kantor sama kamu. Biar aku bisa berbangga punya pacar seorang Manager. Hahaha.
^^^Nggak mungkin sih bisa gitu! semua orang di sini tau, siapa istri ku.^^^
Tinggal bilang, istri di rumah dan di kantor beda orang! selesai urusan ð
^^^Hahaha, takut karma aku.^^^
Ya udah deh, istri simpanan saja! jemput aku ke kota mu ya, Dhan! please! rindu berat aku sama kamu.
^^^Mana mungkin bisa begitu, Sofia.^^^
^^^Aku sudah menikah, mana mungkin jemput istri orang.^^^
Jemput pacar kamu, bukan istri orang!
^^^Sama aja itu mah!^^^
Dhan, kamu nggak inget dulu kita pernah janji akan bersama sampai tua. Waktu kamu kasih aku bunga yang kamu petik di belakang sekolah. Tapi aku sedih karena harus kehilangan jejak kamu bertahun - tahun. Dan kita kembali bertemu dalam keadaan seperti ini ð
^^^Aku ingat semua itu. Aku bahkan ingat kalimat yang pernah kamu ucapkan.^^^
^^^Don't look back! you're not going that way! Itu artinya kita tidak perlu menoleh masa lalu.^^^
Iya, aku ingat aku pernah bilang itu. Tapi maksud ku waktu itu, melarang kamu menoleh masa lalu mu, Naya!
^^^Naya? ðĪ^^^
Kamu pernah suka Naya kan dulu? dan aku benci! cemburu!
^^^Tidak! dari awal yang aku suka itu kamu, bukan Naya!^^^
Hah, serius? ðą
^^^Iya!^^^
Aaahh.. kenapa aku tidak tau dari dulu. Berarti cinta pertama kamu aku kan? bukan Naya?
__ADS_1
^^^Iya, you're my first love! ð^^^
[Dengan percaya dirinya, Sofia mengirim sebuah foto dirinya yang saat ini tengah berada di balik meja kerjanya.
Sebuah foto dengan tang top ketat berwarna kuning yang di tutupi blazer hitam. Rambut hitam tergerai kebelakang. Dengan sengaja dia membuka kancing blazer hanya agar dadanya terlihat menonjol.]
^^^Cantik!ðĪĐ^^^
Perempuan itu merindukan mu!
^^^Masa?^^^
Iya! dia rindu belaian juga!
^^^Sini aku balai! mau atas dulu atau langsung bawah?^^^
Atas dulu lah, biar afdol! ð
ð[Alea benar - benar jijik membaca chat seperti itu. Sungguh merasa sangat tidak di hargai oleh sang suami. Jika di gambarkan, bagai di lempar kotoran sapi oleh sang suami.
Bagaimana tidak jijik membaca chat kotor seperti itu. Atara suaminya dan pacarnya di masa kecil. Yang bahkan masih di akui sampai saat ini.
Tunggu pembalasan ku! dasar dua - duanya ular berkepala manusia!
Ucap Alea dalam hati meremas ponselnya.
"Mbak Nur, saya sedikit pusing. Tolong Andra di jaga ya? saya mau istirahat di kamar!"
"Iya, Bu!"
Alea pergi kamarnya, dan langsung mengunci pintu supaya Andra tidak masuk dan melihat ibunya yang sedang rapuh.
Alea menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. Dan seketika itu air matanya menetes. Membayangkan hubungan rumah tangganya kedepannya akan seperti apa.
Melihat Ardhan yang mendadak gila seperti itu membuatnya jijik melihat suaminya sendiri.
^^^Wah, kesukaan ku itu!^^^
Dua - dua nya?
^^^Ya iyalah! kalau satu nggak afdol!^^^
Kok bisa kalau satu nggak afdol?
^^^Ya iya dong Neng! yang afdol kan kalau satu di hisap satunya di remas! ðĪĪ^^^
ð[Muntah! itulah yang di inginkan Alea sekarang. Jijik sungguh jijik membaca chat menjijikkan seperti itu.
Air mata Alea semakin menetes deras. Rasa kecewa bercampur dengan rasa dibodohi menggerogoti pikirannya.]ð
*A*h! itu emang nikm*t banget, Dhan! rasanya nendang sampai ke otak!
^^^Jadi pengen pulang!^^^
Kenapa?
^^^***** istriku!^^^
Heemm.. kan udah ada foto aku! mau vicall? aku buka deh di toilet!
^^^Jangan! itu bukan milik ku!^^^
Bodo! lagian gratis buat kamu, Dhan! nggak percaya ada cowok nolak yang gratisan.
^^^Lagian cuma bisa di lihat!^^^
Lumayan kan buat solo.
^^^Aahh! sering solo nih kayaknya! ðĪðĪĢ^^^
__ADS_1
Ya mau gimana lagi, laki kabur sama cewek lain! di ajak cerai nggak mau! aku juga nggak mau kalau sama gig*l*.
^^^Jangan sampai main sama yang begituan! bekas banyak orang! nggak bagus buat kesehatan.^^^
ð["Tau kesehatan juga rupanya!" gerutu Alea.]ð
Iya, mangkanya sama kamu aja!
^^^Aku maunya sama yang halal.^^^
Kamu ternyata masih punya otak ya, Dhan! kalau laki - laki lainnya di tawarin gitu pasti langsung tancap gas.
^^^Ya iyalah! aku masih selalu mengingat istri ku yang cantik di rumah!^^^
ð["Ternyata dia masih punya pikiran!" gumam Alea sembari menahan sesak di dadanya.]ð
Iya deh, istri mu yang paling cantik di dunia! ð
^^^Eh, udah dulu ya! mau meeting. ^^^
Okay, bye bye Papanya Andra ð selamat meeting!
Pesan terakhir itu sudah tak terbalas oleh Ardhan. Kini Alea masih menangis di dalam kamar kedap suara itu.
Tersedu - sedu, membayangkan kemungkinan - kemungkinan yang akan terjadi ke depannya. Jika saat ini saja dia sudah merasa jijik pada suaminya. Apalagi jika sampai chat itu menjadi kenyataan. Alea pasti turun tangan untuk menuntut cerai.
Bagaimana jika pada akhirnya mas Ardhan memilih menceraikan aku, dan memilih perempuan durjana itu?
Dia bahkan tak mengirim satu pesan pun padaku! Sementara chatting nya dengan perempuan itu sampai tak terhitung!
Apa suatu saat mas Ardhan akan lebih memilih perempuan itu di banding aku dan Andra?
Aku harus mencari kerja sebelum itu terjadi. Aku harus punya penghasilan sendiri, sebelum aku benar - benar di buang olehnya.
Kenapa aku sekarang jadi jijik dengan semua yang berhubungan dengan suamiku?
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu membuat Alea menghapus air matanya yang sudah membanjiri pipinya.
Alea membuka pintu dan terlihat Andra di depan pintu bersama Nur yang menemaninya.
"Ada apa, nak?"
"Mama Andha mau beli es cim!" ucap Andra.
"Beli sama mbak Nur ya?"
"Iya, ma!"
Alea mengambil dompet yang ada di almarinya. Dan membuka dompet itu, tiba - tiba saja air matanya meleleh begitu saja. Mengingat itu adalah uang dari Ardhan. Uang hasil kerja suaminya, yang juga di bagi pada perempuan selain dirinya.
Aku bahkan mulai jijik menggunakan uang ini untuk kebutuhan ku!
"Mama?" panggil Andra membuyarkan lamunan Alea.
"Ya nak! ini!" Alea menyerahkan uang 50 ribu pada Andra.
Andra pergi ke minimarket bersama Nur menggunakan motor. Meninggalkan Alea yang semakin menangis sesenggukan di kamar nya.
"Aku akan bekerja, Mas! aku akan mencari uang sendiri! aku enggan menggunakan uang menjijikkan ini!"
.
.
ðŠīðŠīðŠī
...Happy reading ðđðđðđ...
__ADS_1