Aku Pelakor?

Aku Pelakor?
Episode 51# Hari Pertama Bekerja


__ADS_3

"Alea, untuk selanjutnya jam kerja akan di mulai pukul 06.30 WIB sampai 16.00 WIB. Paling lambat sepuluh menit sebelum jam masuk, kamu harus sudah datang. Dan masuk setiap hari Senin - Jum'at atau selama kantor buka. Toni dan Vania adalah teman satu team mu di lantai satu ini. Mereka akan mengajarimu cara kerja sebagai cleaning service!" ucap kepala divisi saat briefing sebelum mulai bekerja.


"Baik, pak!" jawab Alea mengangguk.


Alea mulai menjalankan tugasnya dengan mengelap dinding kaca lobby yang menghadap luar. sedang Toni tampak mengepel lantai. Dan Vania tengah membersihkan meja resepsionis.


Jam tujuh pagi, satu persatu karyawan mulai berdatangan, dan semua sisi ruangan sudah dalam keadaan bersih.


Jam delapan pagi, setelah membuang sampah bersama Toni, barulah beristirahat untuk sarapan. Karena memang CS harus masuk lebih awal sebelum karyawan datang.


Alea, Toni, dan Vania juga beberapa CS lainnya makan di salah kantin belakang gedung. Lebih tepatnya warung, hanya saja karyawan kantor memiliki akses untuk bis memesan makan di warung itu, berupa lubang kotak berukuran 30x30 cm pada dinding pagar tembok.


"Alea, kenapa kamu mau kerja jadi CS?" tanya Toni, laki - laki berusia 30 tahun.


"Aku hanya ingin membantu perekonomian keluarga saja, Mas! jawab Alea, "sekarang kan semua mahal, sedang kedua orang tua ku di kampung sudah tidak bekerja!"


"Oh, begitu!"


"Suami mu kerja dimana, Al?" tanya Vania.


"Jadi montir di AutoGalaxy!"


"Oh, bengkel besar itu?"


"Iya!" Alea mengangguk.


"Wow! lumayan sih, aku dengar gaji di sana setara dua kali lipat gaji kita!"


"Iya, memang!" jawab Alea.


"Kalau aku dapat suami yang udah kerja di sana, aku nggak akan Al!" ucap Vania. "Bosen kerja begini, capek! nggak ada jabatan, yang ada cuma sebagai penerima gaji terendah!"


"Kamu harus tetap bersyukur, jangan mengandalkan suami. Ingat, godaan suami itu saat mereka kaya! punya gaji besar! kalau kamu nggak pandai - pandai megang, pasti gampang di tikung pelakor!"


"Hah! emang kamu ngalami itu?"


"Nggak juga! cuma aku berfikir lebih baik bekerja, punya penghasilan sendiri. Biar bisa beli apa - apa sendiri!"


"Ooh!" Vania mengangguk.


"Sebelum di sini, kamu kerja di mana Al?" tanya Toni.


"Nggak kerja!"


"Al kamu ini cantik, sangat terlihat kalau kulit mi terawat! ngapain kerja jadi CS?"


"Aku cuma punya ijazah SMK, kalau untuk cari kerja yang bagus mana laku!"


"Iya sih, aku juga begitu!" sahut Vania. "Tunggu deh, brarti sebenarnya suami kamu sanggup dong bayarin perawatan kamu seperti ini?"


"Sanggup lah, tapi tetap saja enak punya penghasilan sendiri!"

__ADS_1


"Kamu sudah punya anak, Al?" tanya Toni.


"Sudah!"


"Umur berapa?"


"3,5 tahun!"


"Sudah sekolah?"


"Baru dua hari sekolah!"


"Dimana?"


"Cambridge School!"


"What!" pekik Toni dan Vania hingga tersedak.


"Eh, minum - minum!" ucap Alea.


Glek glek!


"Eh, Cambridge School bukannya sekolah kalangan menengah ke atas?" ucap Vania.


Alea mengangkat bola matanya melirik langit. "Iya, tapi suami ku ingin anak kami sekolah di sana! jadi biar dia urus sendiri biaya nya!" jawab Alea yang terlanjur keceplosan.


"Berapa biaya awal masuk?"


"SPP nya?" tanya Toni yang juga memiliki ana sekolah Play Group.


"Rp. 1.400.000 untuk kelas full day + makan siang!"


"Wih, ngeri!" seru Toni yang menelan ludahnya dengan sangat susah.


"Sudahlah, jangan di pikirkan!" sahut Alea. "Lagi pula aku hanya berencana menyerahkan di sekolah itu sampai lulus TK. Selanjutkan cukup sekolah favorit untuk kelas menengah saja."


"Kenapa?"


"Tidak baik, untuk keuangan, hehe!"


"Jelaslah!"


Mereka melanjutkan sarapan mereka sembari mengobrol hal yang lain. Alea mecoba untuk membawa mereka agar tidak mengoreksi lebih jauh tentang jati dirinya. Dia takut jika ia keceplosan lebih jauh. Hingga semua tau, jika sebenarnya ia adalah istri seorang manager.


Setelah sarapan itu selesai, mereka kembali bekerja. Mengerjakan tugas masing - masing setiap tim.


Sampai jam istirahat siang pun datang. Karena belum lapar, Alea memilih untuk menghabiskan waktu istirahat keluar perusahaan. Ia meminta izin untuk pergi ke toko emas.


Ya, satu - satunya kalung yang ia beli dari hasil kerja kerasnya dulu, pada akhirnya ia jual.


Untung aku masih menyimpan kalung ini. Aku bisa gunakan uangnya untuk kebutuhan ku selama sebulan ini.

__ADS_1


Ucap Alea dalam hati.


Alea menjual kalung dan liontin yang berat totalnya hanya 4,3 gram itu. Untung emas tua, jadi dia masih mendapatkan uang sekitar 2,5 juta untuk saat ini.


Alea kembali dengan membawa uang hasil jual kalung. Ia akan memanfaatkan dengan baik uang itu sampai ia mendapat gaji.


Sebelum kembali bekerja, ia menyempatkan dirinya untuk melihat chat suaminya dengan Sofia. Alea menyebikkan bibirnya malas, karena Ardhan masih membalas chat Sofia, meski jumlah chat mereka tak sebanyak kemarin - kemarin.


Tapi tetap saja, kata - kata yang di kirimkan Sofia adalah kalimat - kalimat yang sering di ucapkan seorang pelakor. Dan itu membuat Alea jengah dan kesal.


Jam setengah empat sore seluruh karyawan Sentani Group pulang satu persatu. Menyisakan cleaning service, scurity dan karyawan lembur saja.


Jam empat sore, barulah Alea meninggalkan Sentani Group menggunakan motor kesayangannya. Ya, motor yang berjuang bersamanya sejak pertama mali bekerja di Galaxy store.


Alea langsung menjemput Andra di sekolah, saat jam sudah menunjukkan pukul hampir setengah lima sore, karena memang macet Ibukota sulit di hindari.


"Mama kok bayhu datang?" tanya Andra saat naik ke motor Alea.


"Untuk seterusnya Mama akan jemput Andra jam segini ya Sayang."


"Oh, ok!" jawab Andra dengan polosnya.


"Alea membawa Andra pulang, jarak rumah dan sekolah Andra tidak jauh, hany butuh waktu 5 - 10 menit untuk sampai di rumah.


Sungguh tak di sangka, saat Alea sampai di depan rumah, ternyata mobil Ardhan sudah ada di dalam pagar. Namun entah kemana yang punya.


Alea masuk dengan menggandeng tangan Andra. Dan saat itulah ia melihat suaminya tengah duduk di ruang tamu dengan bersila satu kaki di atas lutut sebelahnya.


Ardhan sudah dengan pakaian rumahan khas dirinya. Tatapan Ardhan tampak kosong, bahkan saat sang putra menyapanya. Ardhan tampak setengah cuek dan dingin.


Alea menyadari itu, namun sekuat hati, ia memilih untuk langsung masuk ke ruang tengah dan tidak peduli dangan keberadaan sang suami yang sorot matanya cukup menakutkan bila di lihat.


Alea segera mandi dan langsung mengganti bajunya dengan baju rumahan di dalam kamarnya. Dan bertepatan dengan itu, Ardhan masuk ke kamar.


"Apa yang kamu lakukan seharian ini?" tanya Ardhan dingin.


"Bekerja, Mas." jawab Alea dengan sopan dan lembut, sambil menarik resleting di punggungnya.


Entah apa rencana Alea hingga mood nya sangat sulit di tebak.


.


.


🪴🪴🪴


...NB : Semua nama tokoh, alamat, nama perusahaan, juga nama sekolah di sini, sengaja Othor samarkan ya guys. Biar tidak menimbulkan polemik. Karena ini di angkat dari kisah nyata....


...Happy reading 🌹🌹🌹...


...Salam Lovallena....

__ADS_1


__ADS_2