Aku Pelakor?

Aku Pelakor?
Episode 65# Makan Siang


__ADS_3

Jam makan siang bagi Office Girl pun tiba, begitu juga dengan Alea. Ia berjalan bersama Vania ke arah kantin belakang untuk makan siang.


Kondisi di kantin itu sudah sepi, hanya ada dua Cleaning Service Outdoor yang tengah makan. Karena karyawan utama sudah menyelesaikan makan siang mereka. Karena jam istirahat karyawan lebih awal di banding OG.


"Bu, nasi rames satu, es teh manis satu!" ucap Vania melalui lubang kotak, seperti biasa.


"Ya, neng!" jawab penjual sambil menyiapkan pesanan Vania dan menyerahkan pada Vania.


"Bu, saya es teh manis saja satu!" ucap Alea.


"Nggak makan siang, neng?" tanya Ibu penjual.


"Nggak laper, Bu!" jawab Alea.


"Oh! ini!" ucap ibu penjual itu sembari menyerahkan segelas es teh manis.


"Kamu nggak makan siang, Alea?" tanya Vania duduk berhadapan dengan Alea.


"Nggak ah, males!" jawab Alea sembari meminum es teh manis miliknya.


"Beneran? aku jadi nggak enak makan sendirian, kamu nggak!"


"Udah, makan aja! aku lagi males makan!"


"Serius?"


"Iya, Vaniaaa!" kekeh Alea.


"Ya udah deh!" Vania pun mulai menyantap makan siangnya.


Sedikit laper sih sebenarnya! tapi aku harus berhemat untuk sementara waktu. Yang penting bisa ngirim uang ayah dan ibu 2,5 juta, sesuai jumlah jatah dari mas Ardhan untuk ayah dan ibu setiap bulannya.


Tinggal mikir, gimana caranya uang 700 ribu ini cukup untuk aku makan sampai aku dan mas Ardhan benar - benar berdamai!


Alea melamun dengan tangan yang sibuk bergerilya di layar ponsel. Agar tak terlihat jika tengah memikirkan sesuatu.


Haaahh! berat juga rasanya kembali menjadi Alea si miskin dan mandiri!


Tapi setidaknya aku punya pekerjaan, bukan pengangguran!


Batin Alea berkecamuk. Memang berat menahan lapar di siang hari seperti ini. Meminum es teh manis, hanya akan mengganjal sebentar saja.


Alea mengambil roti kecil, yang hanya berharga 2 ribu saja. Lalu memakannya sebagai pengganjal nantinya.


Tanpa mereka sadari, sedari tadi sepasang mata mengawasi pergerakan mereka berdua dari belakang gedung yang tak jauh dari mereka duduk.


Apa kamu sedang berhemat, Ma? Sampai harus kamu menahan lapar begitu!


Ada apa dengan mu, Ma? kenapa tidak makan?


Ini bukan kamu, Yank!


Ucap Ardhan dalam hati, menatap sendu pada istrinya yang saat ini terlihat menyedihkan di matanya.


Dengan hati yang bergetar, Ardhan melangkahkan kakinya mendekati meja Alea dan Vania, melalui arah belakang Alea.


Vania yang tengah menyeruput es teh manisnya, di buat membulatkan matanya, saat melihat Ardhan berjalan dengan gagah dan santai ke arah mereka.


"Kamu kenapa, Van?" tanya Alea melihat bingung dan heran pada Vania.


"I... itu!" Vania menunjuk arah belakang Alea dengan gagap tanpa sanggup bicara. Seolah melihat suatu penampakan yang menyeramkan di matanya.


Di meja lain, dua orang CS outdoor yang tengah menyantap makan siang mereka langsung mengangguk menyapa Ardhan saat Ardhan melintasi meja mereka dan menoleh sekilas.

__ADS_1


Aneh dan penasaran dengan sikap Vania, pelan tapi pasti Ale menoleh ke arah belakangnya. Dan sedikit terhenyak saat melihat hanya berjarak kurang dari lima langkah saja darinya.


"Pak Ardhan!" pekik Alea dan Vania bersamaan, sembari berdiri dari duduk mereka saat Ardhan sudah sampai di samping meja mereka.


Ardhan mengangguk dengan senyuman tipis untuk membalas sapaan dua Office Girl itu.


Ngapain sih kesini segala?


Batin Alea mengerucutkan bibir yang hanya di tunjukkan sekilas pada Ardhan.


"Lanjutkan" ucap Ardhan singkat pada Vania yang masih asyik makan.


"Iya, pak!" jawab Vania.


Ardhan menoleh Alea dengan senyum samar. "Boleh saya ikut duduk?" tanya Ardhan melihat Alea dan Vania secara bergantian.


"Boleh, pak!" jawab Vania cepat.


"Kenapa tidak duduk bersama CS di sana, pak?" tanya Alea menunjuk meja dua CS outdoor laki - laki yang seketika menoleh saat mendengar ucapan Alea.


"Heh!" pekik Vania menimpuk lengan Alea, seolah memberi kode sedang bicara dengan tamu perusahaan.


"Apa sih!" jawab Alea menoleh Vania yang menggerakkan wajahnya, memberi kode pada Alea agar bersikap baik.


Ardhan tersenyum tipis melihat interaksi dua OG itu. Yang mana salah satunya adalah istrinya sendiri, yang tak diketahui siapapun di perusahaan itu.


"Tapi sepertinya kursi ini lebih menarik perhatian saya" ucap Ardhan menunjuk kursi panjang di mana Alea duduk.


Seketika Vania tersenyum tipis, mengira Ardhan tertarik dengan Alea.


"Silahkan duduk, Pak!" ucap Vania menunjuk bagian yang kosong dari kursi Alea.


"Kalian juga duduklah! Lanjutkan saja makannya" ucap Ardhan sembari duduk.


"Iya, Pak!" jawab Vania yang langsung duduk.


"Kenapa tidak duduk?" tanya Ardhan sopan dengan sedikit senyum tipis.


Namun dalam hatinya, ia tengah tertawa mengejek dengan menahan gemas. Melihat istrinya seperti kesal dan bingung akibat situasi yang ia ciptakan membuatnya merasa menang dari Alea yang berakting tidak mengenalnya.


Aku juga bisa berakting, sayang!


Sekarang, hanya bagaimana bisa membuatmu mau makan siang!


Ucap Ardhan dalam hati.


Ingin sekali ia menarik istrinya untuk segera duduk di sampingnya. Jika perlu ia akan menarik tangan istrinya hingga duduk di pangkuannya.


Sekalian saja membuat gempar Sentani Group! pikirnya sekilas. Namun niat itu ia urungkan, mengingat ia belum damai 100% dengan istrinya. Ia tidak mau jika jailnya akan berbuntut panjang nantinya.


"Duduk saja, tidak usah sungkan" ucap Ardhan.


"Saya duduk di samping Vania saja!" ucap Alea hendak beranjak dari di tempatnya sekarang.


Namun secepat kilat tangan Ardhan menarik tangan Alea, dan membuatnya duduk di tempatnya semula, tepat di samping Ardhan yang tengah tersenyum dalam hati.


***Bener - bener nih, mas Ardhan ngerjain aku!


Apa kata Vania melihat tangan ku di tarik tamu perusahaan begini***?


Batin Alea bergemuruh.


***Apa yang di lakukan Alea? Sepertinya Pak Ardhan tertarik padanya.

__ADS_1


Bukankah mereka sama - sama sudah berkeluarga***?


Vania membaca gelagat yang tak biasa dari dua manusia di depannya.


Alea duduk dengan posisi tidak nyaman. Ia meminum kembali minumannya, dan meraih rotinya lagi.


"Kamu kok tidak makan?" tanya Ardhan pada Alea.


"Tidak lapar, pak" jawab Alea berusaha tetap sopan.


"Masa sih?" tanya Ardhan tidak percaya dengan ucapan istrinya.


"Iya, pak!" jawab Alea.


Ardhan mengangguk pelan. "Di sini ada menu apa aja?" tanya Ardhan pada Vania yang melanjutkan makannya.


"Hari ini ada rames, rawon dan nasi pecel pak!" jawab Vania sopan.


Ardhan mengangguk paham. Lalu berdiri dan mendekati lubang tempat mereka memesan makanan.


5 menik kemudian Ardhan kembali dengan membawa dua piring nasi rawon.


"Kamu harus makan, jangan cuma lihatin temen kamu makan!" ucap Ardhan menyodorkan satu piring pada Alea. Satu lagi ia letakkan di mejanya.


Vania mendelik dengan apa yang terjadi di depannya.


"Eh, saya nggak lapar, Pak!" jawab Alea menolak.


"Jangan menolak rejeki!" sahut Ardhan kembali mendekati lubang kotak dan mengambil satu gelas es jeruk manis pesanannya.


Ardhan kembali duduk di samping Alea. Dan menatap Alea yang hanya memandangi nasi rawon yang di pesankan Ardhan.


"Ayo, di makan! kerja dalam keadaan lapar bisa bikin kamu sakit loh!" ucap Ardhan.


"Tapi kan saya tidak lapar, pak!"


"Kamu menolak makanan ini, nanti mubazir loh!"


"Makan aja Alea!" suruh Viana.


"Eemm... baiklah pak!" Alea mengangguk pada Ardhan dan mulai menyendok makanan yang di berikan suaminya.


"Kalau kurang kalian tambah aja! nanti semua saya yang bayar!" ucap Ardhan pada Ale dan Vania.


"Iya, Pak! terima kasih!" jawab Vania.


"Kalian juga! kalau mau nambah jangan sungkan! saya yang bayarin!" ucap Ardhan menoleh meja CS outdoor di belakangnya.


"Terima kasih, pak!" ucap mereka serempak.


Apa pak Ardhan benar - benar menyukai Alea?"


Batin Vania.


.


.


🪴🪴🪴


Seperti apa kelanjutan Ardhan dan Alea?


Tunggu up selanjutnya ya kakak 🥰

__ADS_1


Jangan lupa saran dan kritiknya 🤩


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2