
Dengan menahan rasa sakit di bagian bawah intinya, Alea keluar dari kamar saat hampir fajar tiba. Alea keluar dari kamarnya dan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah aktivitas semalam.
Maklum, di dalam kamar tidak ada kamar mandi. Di rumah itu hanya ada satu kamar mandi.
Untuk itulah Alea sengaja bangun lebih awal, bahkan saat adzan subuh baru akan berkumandang 20 menit lagi.
Agar tidak ketahuan keluarganya jika dia akan mandi keramas. Maklum pengantin baru, tentu saja masih malu - malu mengakui hal seperti itu.
Setelah selesai mandi, Alea keluar dengan rambut basahnya yang di bungkus handuk bertepatan dengan adzan subuh berkumandang.
Namun sialnya, saat melewati dapur, ternyata sudah ada sang ibu dan istri kakak pertamanya tengah membersihkan sisa - sisa acara acara semalam.
"Aleaaa" goda kakak iparnya dengan senyuman jahil dan kedipan mata beberapa kali.
"Apaan sih, Kak!" jawab Alea malu - malu sembari berlalu dari dapur itu.
Sedang ibu hanya tersenyum menanggapi godaan menantunya pada anak bungsunya.
Buru - buru Alea kembali masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.
"Tuh kan, kakak ipar mah gitu!" gerutu Alea lirih di balik pintu.
Kemudian ia melaksanakan sholat subuh di salah satu sisi kamarnya dengan beralaskan karpet bulu dan sajadah.
Setelah itu, barulah Alea mendekati Ardhan yang masih berselimut dengan mata yang terpejam.
"Mas?" panggil Alea menggoyangkan lengan Ardhan.
"Mas?" panggil Alea lagi karena tidak di hiraukan.
"Mas?"
Happ!
Ardhan justru menarik tubuh Alea ke dalam pelukannya, dan kembali membawanya berbaring di tempat tidur dengan dekapan erat.
"Maas! rambutku basah!" celetuk Alea.
"Biarkan saja" jawab Ardhan dengan suara seraknya, tanpa membuka mata.
"Bantalnya basah dong, Mas"
"Nanti di jemur" jawab Ardhan lagi.
"Mas, sudah pagi! bangun dong, buka matanya!"
"Masih ngantuk, Sayang! kamu lupa semalam kita tidur jam berapa?" jawab Ardhan masih dengan mata terpejam.
"Aku aja udah mandi, padahal Mas tidur lebih dulu dari Alea"
"Tapi kan Mas kerja keras, Sayang. Jadi lebih capek dari kamu"
"Kerja keras bagaimana?" tanya Alea yang melihat muka bantal Ardhan. Meski begitu tetap saja terlihat tampan.
"Sayang, bercocok tanam itu sangat melelahkan untuk kaum laki - laki"
"Masa?" tanya Alea mengerutkan keningnya. "Kalau melelahkan kenapa mau?"
"Tentu saja karena enak!" jawab Ardhan terkekeh kecil sembari membuka matanya sedikit.
__ADS_1
Tatapan mata mereka bertemu. Alea dengan rambut basah dan wajah polosnya. Sedang Ardhan dengan rambut acak - acakan dengan muka bantalnya.
Alea menyebikkan bibirnya, dengan senyum yang di tahan. Sungguh ini kali pertama Alea melihat Ardhan bangun tidur. Dan membuatnya terkagum - kagum dengan ketampanan suaminya.
"Sebenarnya semalam aku mau lagi Sayang," ucap Ardhan. "Tapi aku kasian dengan mu." ucapnya mendaratkan cubitan gemas di pipi Alea.
"Tega banget kamu, Mas! sekali saja sekarang rasanya masih sakit!"
"Sakit?" tanya Ardhan.
"Iya!" jawab Alea memajukan bibirnya membuat Ardhan tergelak.
"Ciyee.. pacar ku sudah tidak perawan!" goda Ardhan.
"Ciyee.. pacar ku sudah tidak perjaka!" balas Alea.
"Hahaha!" tawa keduanya dengan lirih. Karena akan sangat malu jika sampai terdengar dari luar.
"Aku mandi dulu, setelah mandi kita ulangi ya?" tanya Ardhan.
"Eh! ngawur" pekik Alea.
"Sayaang, pegang deh!" Ardhan menarik tangan Alea dan menyentuhkan ke senjata yang terbungkus CD dan boxer itu.
"Ih!" buru - buru Alea menarik tangannya.
"Berdiri dia!" ucap Ardhan terkekeh.
"Tapi kan ini pagi!"
"Justru saat pagi dia akan berdiri tegak, Sayang! apalagi udaranya sedingin ini. Dia ingin masuk sarangnya mencari kehangatan!"
"Sekarang aja, mau ya?" ucap Ardhan.
"Ntar kelewat subuh loh!"
Ardhan menoleh jam dinding, dan memang subuh akan segera berlalu.
"Hemm.. ya sudahlah aku mandi dulu!" Ardhan bangkit dari tempat tidurnya dengan menguap.
"Heheh!" Alea terkekeh melihat laki - laki yang kini telah sah menjadi suaminya itu.
Setelah mandi dan berganti baju Ardhan menyusul Alea yang sedang membantu ibu, kakak iparnya juga Kak Farah yang sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga.
"Perlu bantuan adik ipar tidak, Kak?" tanya Ardhan pada Kak Farah.
Spontan semua yang di dapur menoleh Ardhan yang duduk di kursi meja makan, di mana Farah dan Alea tengah memotong sayuran. Ya, Ardhan memang mudah bergaul dengan siapa saja.
"Emang cowok bisa bantu apa?" tanya Farah melirik Ardhan.
"Emm.. apa ya!" Ardhan tampak berfikir. "Bisa bantu do'a seh kayaknya!"
"Hahaha!" semua yang ada di dapur terkekeh dengan jawaban Ardhan.
"Sudaah.. tunggu aja di depan sana!" titah Farah.
"Kalau aku di depan Kak, aku nggak bisa lihat istriku! Kak Farah lupa aku sudah punya istri!" goda Ardhan pada Alea yang tengah mengupas bawang.
"Memang siapa istrimu?" goda Nadia, Kakak Ipar Alea dan Farah.
__ADS_1
"Lah, kok gitu sih!" celetuk Ardhan. "Emang kemarin Kak Nadia sibuk ngurusin pernikahan siapa?" tanya Ardhan.
"Aku sih sibuk bantuin pernikahan adik ku!" jawab Nadia.
"Adik Kak Nadia nikah sama siapa?"
"Sama pacarnya lah!"
"Lah, pacar adik Kak Nadia itu aku!"
"Oh! jadi kita ipar?" goda Nadia.
"Terserah Kak Nadia deh!" jawab Ardhan pasrah sembari meraih teko air dan menuangnya di gelas lalu meneguknya pelan.
"Hahaha!" semua kembali terkekeh.
# # # # # #
Menjelang siang Ardhan dan Alea duduk di ruang tamu. Sembari melihat para pekerja tenda hajatan membongkar tenda dan memasukkan ke dalam truk.
Ari, kakak ketiga Alea yang belum menikah keluar dari kamarnya dengan rambut acak adul. Ya, kakak ketiga yang di loncati Alea itu memang suka bangun siang. Apalagi semalam dia begadang bersama para tetangga dan Kakak laki - laki yang lain.
"Kak Ari, mandi dulu gih! banyak orang juga! belum mandi keluar!"
"Emang kenapa?" tanya Ari cuek sembari duduk di kursi panjang dekat Alea dan merobohkan kepalanya, menjadi paha Alea sebagai bantal.
"Ish! Kak Ari mah! pergi sana mandi dulu!" celetuk Alea menyingkirkan kepala Ari.
"Kau cemburu kah Dhan?" tanya Ari tanpa melihat Ardhan yang duduk di sebelah Alea.
"Nggaklah, Kak!" jawab Ardhan cuek.
Meskipun Ardhan 3 tahun lebih tua dari Ari, karena susunan keluarga Alea, membuat Ardhan tetap memanggil Kakak. Meski begitu wajah Ardhan sama sekali tak memperlihatkan jika usia dia lebih tua dari Ari.
"Nah, tuh!" jawab Ari.
"Tch! bau tau!" Alea berdecih kesal.
"Ah! cerewet!" Ari bangkit dan kembali masuk ke ruang tengah dan benar saja dia langsung masuk ke kamar mandi.
# # # # # #
Selasa sore, Ardhan dan Alea kembali ke Ibukota. Tentu saja kembali dengan status yang berbeda.
Mereka langsung menuju kontrakan kecil yang sudah di sewa Ardhan selama tiga bulan. Hanya ada satu kamar, satu ruang tamu, satu kamar mandi, dan dapur kecil saja.
Sedangkan barang - barang Ardhan dan Alea sudah ada di sana sejak beberapa hari sebelum mereka cuti. Begitu juga motor Alea, karena Alea pulang kampung di jemput oleh Ari.
.
.
.
•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√
...Happy reading kakak 🌹🌹🌹...
...Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya kakak 🥰...
__ADS_1