Aku Pelakor?

Aku Pelakor?
Episode 67# Merajuk


__ADS_3

Alea memarkirkan motornya di teras rumahnya. Namun mobil Ardhan belum terlihat di sana. Ia segera membuka kunci rumah dan bebersih.


Kemudian ia duduk di sofa sembari menunggu Ardhan dan Andra. Entah siapa duluan yang akan datang.


Dan ternyata Ardhan lah yang sampai lebih dulu. Ardhan turun dari mobil dan kembali mengunci otomatis mobilnya.


Lalu masuk ke dalam rumah dengan melempar senyuman pada Alea yang duduk cemberut dengan tangan yang menyilang di dadanya.


Melihat itu, Ardhan justru melempar senyuman manis dan ikut duduk di samping istrinya yang seketika membuang muka.


"Kamu kenapa lagi sih, Yank?" tanya Ardhan lembut sambil mengusap lembut rambut belakang kepala Alea.


Alea menghela nafasnya kasar, agar Ardhan tau jika dia tengah merajuk.


"Yaank?" panggil Ardhan lagi.


"Mas! kalau kamu Sentani Group jangan datangi aku dong! kesel tau!"


"Gara - gara perempuan tadi?"


"Siapa?" tanya Alea pura - pura tidak tau.


"Tch!" Ardhan berdecih, tapi senyuman jahil tersungging dari bibirnya. "Jangan pura - pura lah, sayaang." Goda Ardhan mengulurkan tangannya di belakang leher Alea. Lalu menariknya ke dalam dekapan.


"Lepas deh!" titah Alea dengan ekspresi yang bikan lagi ketus ataupun marah seperti sebelum - sebelumnya.


"Nggak! aku gak akan pernah melepas mu, Sayang!"


"Hiiih! pokoknya besok - besok jangan lagi menemui aku atau pun menghampiri aku, kalau kamu datang ke Sentani Group!"


"Padahal mungkin dua atau satu bulan ke depan aku akan sering mendatangi Sentani Group loh, Yank!"


"Untuk apa?"


"Bisnis lah!"


"Kenapa bukan Pak Fikri saja yang datang ke Galaxy Company?"


"Aku yang melarang, karena setelah aku pikir - pikir jadi bisa lihat kamu di sela - sela jam kerja."


"Nggak! gak boleh! gak boleh ke Sentani Group! biar Pak Fikri yang mendatangi kamu!" ucap Alea. "Aku gak mau kamu datangi di kantor!"


"Kenapa? apa kamu mau aku mendatangi perempuan yang tadi!" goda Ardhan tersenyum jahil.


Alea terhenyak dan berdiri dari duduknya, seketika langsung menerjang Ardhan dengan naik ke sofa. Satu kakinya di letakkan di paha Ardhan. Tangan kanannya menarik kuat dasi Ardhan.


Sementara Ardhan reflek memundurkan wajahnya, namun dadanya membusung mengikuti gerakan dasinya yang di tarik Alea. Sedang satu tangannya memegangi pinggang Alea agar istrinya itu tidak terjungkal akibat ulah brutalnya sendiri.


"Lakukan saja kalau kamu berani, Tuan!" desis Alea lirih tapi penuh dengan ancaman. "Ku pastikan bukan hanya kedua matamu yang ku congkel, tapi burung mu juga akan aku hilangkan!" Alea berucap dengan mengeratkan giginya.


"Hahahaha!" Ardhan justru tertawa gemas dengan istrinya. "Ampuni hamba ratu!" ucap Ardhan di buat seolah - olah memohon ampun pada tuan raja yang menodongkan senjata padanya.

__ADS_1


"Tidak ada ampun yang kedua kali untuk mu!" Alea berucap dengan menyebikkan bibirnya. Seolah tengah menghakimi pendusta.


"Hahaha! tidak akan, Yank! cuma kamu yang bisa menguasai hati ku! selamanya" Ardhan menarik pinggang Alea, hingga Alea terduduk di pangkuan Ardhan dengan menghadap Ardhan sepenuhnya.


"Kemarin - kemarin!" hardik Alea menatap Ardhan yang sudah menyusupkan wajahnya di dadanya dengan memeluk erat tubuhnya.


"Khilaf, Yank! semua manusia pasti pernah khilaf. Dan aku sudah membuat itu sebagai pelajaran. Aku janji tidak akan berulah lagi. Apapun itu!" ucap Ardhan serius dan mengakhiri kalimatnya dengan mencium pipi Alea.


"Serius apa bercanda itu?"


"Serius, Yank! Cuma kamu dan Andra yang berhak masuk ke dalam sini" Ardhan meraih tangan Alea yang tadi menarik dasinya, dan meletakkan telapak tangan istrinya di dadanya yang bidang.


"Aku harus percaya atau pura - pura percaya?"


"Setega itu kamu, hanya pura - pura percaya padaku?"


Alea melirik ke atas seolah berfikir. Segampang itukah ia akan memaafkan suaminya. Tidak di pungkiri jika sebenarnya soal Sofia sudah tidak lagi membuatnya emosi.


"Yank?" panggil Ardhan lirih.


"Papa! Mama! ngapain?" suara yang terdengar menggemaskan di telinga membuyarkan adegan romantis yang baru berlangsung beberapa menit itu.


"Eh!" Alea dan Ardhan tampak salah tingkah saat menoleh ke arah pintu dimana terlihat Andra dan Nur berdiri di sana.


Nur tampak mengulum senyum malu melihat majikannya yang selama ini terlibat perang dingin, sekarang nampak mulai akur.


"Say permisi Pak, Buk" ucap Nur melewati Ardhan dan Alea dengan menunduk.


"Hai, anak Papa sudah pulang?" tanya Ardhan mengarahkan kedua tangannya pada Andra yang langsung berlari ke arahnya.


"Papa!" seru Andra memeluk Ardhan dengan masih memakai baju koko nya.


Sedangkan Alea duduk berjarak setengah meter dari Ardhan. Menatap anak dan suaminya bercengkrama dengan malu - malu. Akibat kepergok anak dan ART nya sedang dalam posisi yang tidak seharusnya. Meskipun mungkin saja bagi Nur itu hal lumrah terjadi pada suami istri.


# # # # # #


🍄 Satu minggu kemudian . . .


Alea tengah membersihkan lobby bersama Vania dan Toni. Alea membersihkan meja resepsionis. Dan sialnya, resepsionis yang suka nyinyirin Alea itu bertepatan datang.


Perempuan yang berusia dua tahun di atas Alea itu melenggang dengan congkaknya ke arah meja kerjanya.


"Eh, ini masih ada debu!" ucapnya ketus menunjuk kolong di bawah mejanya.


Alea menunduk dan membersihkan kolong meja resepsionis. Dengan menahan sedikit kesal karena cara perempuan itu menunjukkan kotoran, Alea menglap kolong meja itu menggunakan kanebo lembab, dan di ulang dengan kain kering.


"Kerja yang bener!" sindir perempuan itu sambil menyalakan CPU dan komputernya.


"Sudah bener kok, mbak! emang SOP nya seperti ini!" jawab Alea santai.


"Oh ya?" tanyanya sinis. "Kalau SOP godain manager itu gimana caranya ya? aku juga mau lo di samperin manager saat makan siang!" ucapnya menyindir.

__ADS_1


"Kalau cara untuk menggoda manager saya tidak tau ya, mbak! tapi kalau cara merobek mulut seseorang sepertinya saya tau caranya!" ucap Alea santai namun mencekik.


"Memangnya kamu pernah merobek mulut seseorang?"


"Belum sih! tapi saya sering nonton film tentang mafia, barang kali mbak mau jadi korban pertama saya?" tanya Alea santai.


"Gila kamu!"


"Saya memang gila Mbak, Mbak baru tau yaaa..?" Alea tersenyum penuh kemenangan.


"Dasar genit! di tempat kerja lupa sama suami!"


"Saya ingat kok!" jawab Alea sambil merapikan kembali barang - barang di kolong meja.


"Kalau ingat ngapain kamu godain pak Ardhan?"


"Emang salah godain su....!" hampir saja Alea keceplosan. Lidahnya mendadak tercekat. Otaknya segera mencari solusi.


"Apa!"


"Maksud saya, Emang salah sih kalau godain manager. Tapi kan saya tidak pernah menggoda manager. Saya di sini hanya untuk bekerja. Kalau soal pak Ardhan datang ke warung belakang, bukan kah beliau sudah bilang, kalau beliau penasaran dengan warung yang menurutnya unik itu. Nah, pas beliau datang ada saya dan Vania, jadi ya kebetulan saja kamu bertemu!"


"Haaahh!" perempuan itu jengah mendengar ocehan Alea yang berputar - putar di otaknya. "Alasan saja kamu!"


"Mangkanya mbak, menikah! biar nggak jealous mulu kalau ada pria tampan duduk sama OG!"


"Heh! beraninya kamu bicara seperti itu! aku laporin Pak Fikri kamu ya! biar di pecat!"


"Kalau saya di pecat mah nggak masalah, mbak! suami saya bukan pengangguran! lah kalau mbak yang di pecat? siapa yang beliin skincare?" ejek Alea.


"Pergi kamu!" perempuan itu menghentakkan kakinya kesal.


"Hehehe, dada mbak! jangan suka marah - marah dan jealous, nanti cepat tua!"


"Pergiiii!" ucapnya kesal.


Alea beranjak dari meja itu dengan senyum penuh kemenangan.


Siapa dulu di lawan? si Sopiah saja nyerah, apalagi elu!


Batin Alea.


Dan entahlah, apa yang di pikirkan resepsionis itu. Alea (asli) tidak bisa membaca pikiran orang lain.


.


.


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2