
Dengan sengaja, Ardhan menautkan jari jemari mereka saat berjalan keluar dari lobby. Di ikuti oleh Fikri yang berjalan di samping Ardhan.
Alea melirik ketus pada Almer yang seolah tengah kehabisan nafas. Dan kemudian mengangkat tangannya yang bertaut dengan tangan suaminya. Seolah menunjukkan kemesraan yang tak kan terganti oleh siapa pun.
Almer tak berkutik, ia hanya mampu sebatas menatap Alea tanpa bisa membalas, atau sekedar menyebikkan bibir sekalipun.
Perjalanan Alea dan Ardhan dari lobby hingga parkiran mobilnya, cukup membuat mereka menjadi pusat perhatian.
Selain menemukan fakta baru soal siapa Alea yang sebenarnya, mereka juga di buat iri dengan Ardhan yang terlihat memperlakukan Alea dengan baik. Terlihat dari cara Ardhan yang tidak melepaskan tangan Alea sampai membukakan pintu mobil untuk Alea.
***
"Mas, kenapa kamu tiba - tiba muncul di Sentani Group?" tanya Alea saat Ardhan sudah melajukan mobilnya.
"Aku tau, Yank! kenapa kamu meminta aku suatu hari nanti mengajak mu ke Sentani Group!"
"Oh ya? apa coba?"
Ardhan melirik Alea sekilas, lalu tersenyum simpul dan kembali fokus pada kemudi di tangannya.
"Soalnya kamu mau menunjukkan pada beberapa orang di sana kan, kalau kamu istri ku?" jawab Ardhan.
Seketika Alea mengangkat kedua alisnya dan menelan ludahnya dengan sangat susah. Menahan rasa malu, akibat suaminya yang terlihat sangat peka. Alea membuang muka ke jendela dengan menahan senyum di bibirnya.
"Bulan depan adalah ulang tahun Sentani Group ke 35 tahun. Nanti kita datang bersama ya?"
"Ngajak aku?" tanya Alea.
"Ya iyalah, Yank! ajak siapa lagi?"
"Dulu nggak pernah ajak!" sindir Alea.
"Bukan nggak pernah ajak, tapi dulu kan memang aku tidak pernah datang, sayaang"
"Heheh! iya sih! cuma ulang tahun Galaxy Company aja kamu mau datang!"
"Hemm.. mangkanya, kali ini aku akan datang!" ucap Ardhan mengusap puncak kepala istrinya.
"Beliin aku baju baru, ya?" ucap Alea dengan memasang wajah imut pada suaminya.
Ardhan menoleh Alea yang terlihat menggemaskan, dan terlihat kembali seperti Alea yang dulu.
"Beli apapun yang kamu mau, Yank!" jawab Ardhan dengan senyum manis. "Baju, tas, sepatu dan apapun yang kamu inginkan!"
"Buat Andra juga?"
"Ya iya dong, Yank! masa Mamanya doang!"
__ADS_1
"Hehe! terima kasih, Papa!" ucap Alea mendaratkan kecupan singkat di pipi Ardhan.
Ardhan tersenyum senang, dia kembali merasakan desiran hangat dari sikap istrinya yang beberapa bulan ini terasa sangat dingin.
# # # # # #
🍄 Keesokkan harinya . . .
Ardhan dan Alea pergi ke salah satu rumah sakit di Ibukota, untuk menemui dokter kandungan yang pernah menanganinya saat kehamilan Andra hingga lahir.
"Selamat untuk kehamilan kedua anda, Nyonya"
"Jadi saya benar - benar hamil, dok?" tanya Alea menatap dokternya.
"Iya, Nyonya Ardhan!"
Mata Ardhan dan Alea terlibat saling pandang. Tampak sinar bahagia memancar dari dua pasang mata itu. Rona bahagia tak luput dari wajah cantik Alea dan wajah tampan Ardhan.
Sepertinya misi setan Dasim untuk membuat rumah tangga Ardhan dan Alea bercerai berai telah gagal. Mereka kembali pada kehidupan yang bahagia dan sempurna.
Kehadiran janin yang tumbuh di dalam rahim Alea akan mengawali hari - hari baik selanjutnya.
# # # # # #
🍄 Satu bulan kemudian . . .
Rambut di sanggul dengan rapi, dan sedikit rambut di buat menjuntai curly di samping pelipis kanan dan kiri.
Di tambah sepasang sepatu high heels berwarna light grey dari salah satu brand ternama untuk kelas menengah keatas membalut kaki mulus Alea.
Dan coach berukuran kecil berada di tangan kirinya, untuk menyempurnakan penampilan Nyonya Ardhan di perayaan Sentani Group malam ini.
"Sempurna!" puji Ardhan menatap lekat istri cantiknya yang tersenyum manis di depan cermin.
Sedang Ardhan sendiri memakai tuxedo berwarna senada dengan Alea. Karena dia bagian tamu VIP di malam pesta Sentani Group.
Andra, si bocah kecil pun tak luput dari tuxedo couple dengan sang Papa. Disertai sepatu putih mungil yang siap menemani langkahnya di sepanjang malam ini.
Mereka berangkat dari rumah tepat saat jam menunjukkan pukul tujuh malam. Menuju ballroom hotel bintang lima yang menjadi tempat di adakan nya pesta.
Keluarga kecil itu melangkahkan kaki untuk masuk ke hotel tepat jam 8 malam. Dengan selembar undangan VIP di tangan kanan Alea. Sedangkan Andra ada di lengan kiri sang Papa.
Suasana di luar hotel, tampak masih banyak tamu undangan dari berbagai kalangan yang baru datang. Seperti rekan bisnis, karyawan mungkin juga tamu khusus. Dan semua memakai baju formal yang menawan sesuai selera masing - masing, karena tidak ada dress code untuk acara itu.
Beberapa pasang mata tampak memperhatikan kehadiran Ardhan dan Alea. Yang pasti mereka adalah karyawan Sentani Group, yang mungkin sempat mengenal Alea.
Alea menyerahkan undangannya pada pihak panitia yang bertugas di depan pintu. Seseorang berpakaian batik dengan sebuah kalung bertulis panitia mengarahkan Ardhan untuk menuju meja bundar berukuran besar yang sudah di siapkan untuk tamu dari Galaxy Company.
__ADS_1
Ardhan, Alea dan Andra melewati red karpet yang akan mengantarkan mereka sampai di meja mereka.
"Hai!" sapa Alea menepuk kecil pundak Vania yang duduk bersama beberapa OG di meja belakang.
"Alea!" pekik Vania yang langsung berdiri dari duduknya dan berjabat tangan dengan Alea dan juga Ardhan. Ah! sungguh luar biasa bisa berjabat tangan dengan tamu perusahaan paling di incar.
"Cantik banget kamu, Alea!" puji Vania menatap Alea dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan penuh kekaguman. Terlihat jauh lebih elegan dan berkelas, di banding saat memakai seragam yang sama dengannya.
[Tentu saja, Vania sayang!]
"Biasa aja kali!" jawab Alea santai, "kamu apa kabar, Van?"
"Baik, Al!" jawab Vania. "Kamu?"
"Baik juga, Van!" Alea tersenyum pada Vania. "Eh Van, aku langsung ke sana ya?" pamit Alea.
"Iya, Al!" jawab Vania.
Alea kembali mengikuti langkah Ardhan, dan kemudian melewati meja Almer dan Gita yang membawa suaminya.
"Alea!" sapa Gita dengan senyuman manis.
"Eh, Mbak Gita!" Alea melambaikan tangannya pelan dan tersenyum manis untuk membalas sapaan Gita.
Kemudian beralih melirik Almer yang terlihat seperti mayat hidup. Menatap Alea dengan wajah pucat, dan bercampur salah tingkah.
Alea menaikkan sebelah sudut bibirnya. Dan mengeratkan tangannya yang melingkar di lengan suaminya. Dan kembali berjalan saat Ardhan mengisyaratkan untuk kembali berjalan.
"Buang sifat dengki mu, Mer!" ucap Gita yang masih dapat di dengar oleh Alea.
Kali ini dengan sengaja Alea melakukan gerakan tubuh terbaiknya. Ia tau, jika Almer masih menatapnya daei belakang.
Aku tidak berniat sombong, Tuhan. Aku hanya ingin membungkam mulut salah satu makhluk ciptaan-Mu.
Ucap Alea dalam hati.
Ardhan dan Alea duduk manis di kursinya, salah satu meja VIP, yang mana tak semua tamu undangan bisa menempati deretan itu.
Meja Almer cukup jauh di belakang meja Alea. Namun mata Almer seolah sulit lepas dari pesona Alea malam ini.
Malu, mungkin itulah satu - satunya yang di rasakan Almer saat ini.
.
.
🪴🪴🪴
__ADS_1
Happy reading 🌹🌹🌹