Aku Pelakor?

Aku Pelakor?
Episode 75# Berkeliling


__ADS_3

Acara pesta terus berlangsung, dengan penyerahan penghargaan - penghargaan kepada karyawan berprestasi, juga kepada beberapa anak perusahaan yang berhasil maju dengan pesat.


Acara di lanjutkan dengan penyanyi - penyanyi Ibukota yang silih berganti untuk menyanyikan lagu - lagu andalan mereka di atas panggung.


Andra terlihat sangat menikmati acara itu, sampai matanya melihat spot bermain untuk anak - anak di salah satu titik. Alea dan Ardhan kompak membawa Andra untuk bermain di playground yang sudah di sediakan.


Andra tampak asyik berlari kesana kemari, dan keluar masuk lorong mainan yang cukup panjang.


"Mama, Andrla mau itu!" Andra menunjuk ice cream cone yang di bagikan secara gratis.


"Ok, sayang!"


Dengan gaun elegan yang melekat di tubuhnya, Alea melangkahkan kakinya membawa Andra ke stand ice cream cone.


Ardhan yang duduk di kursi tunggu, menatap anak dan istrinya dengan senyum kebanggan. Kata Alhamdulillah, rasanya tak cukup untuk mengungkapkan rasa syukurnya sekarang. Apa lagi saat menatap perut istrinya yang masih terlihat rata. Meskipun kehamilan Alea sudah berjalan menuju bulan ke tiga.


Dengan sabar Andra rela berbaris untuk mengantri. Dengan sang Mama yang berdiri di sampingnya.


"Kamu Alea bukan?" tanya seseorang yang tiba - tiba menepuk pundak Alea.


"Eh, iya, Bu!" jawab Alea tersenyum pada wanita yang ia kenalnya sebagai HRD di Sentani Group.


"Yaa ampun, ternyata benar rumor yang beredar, kamu istrinya Pak Ardhan!" ucap wanita yang seumuran suaminya atau bahkan lebih, tapi masih terlihat sangat cantik.


"Dari mana Ibu tau?"


"Saya barusan lihat kamu duduk di samping Pak Ardhan!"


"Oh!" Alea tersenyum sopan.


"Lalu kenapa kamu harus sampai jadi OG di Sentani Group, dengan gaji yang bahkan tidak sampai 10% dari gaji Pak Ardhan?"


"Hehe, biasalah Bu! saya hanya ingin bereksperimen!" jawab Alea.


"Hemm.. ada ada aja kamu!" ucapnya, "kalau saya tau kamu istrinya Pak Ardhan saya pasti masukkan kamu ke Divisi lain yang lebih tinggi dengan gaji yang jauh lebih baik dari sekedar OG"


"Hemm.. saya justru ingin pekerjaan yang sesuai dengan ijazah saya, Bu!" jawab Alea. "Bukan karena saya istri siapa, hehe!"


"Hemm... kamu tuh ya!" memukul pelan lengan Alea. "Ya, sudah saya mau nemenin anak saya lagi!"


"Iya, Bu!" jawab Alea mengangguk sopan.


Alea menoleh suaminya yang duduk bersama beberapa pria berpakaian rapi seperti suaminya. Ardhan tampak mengobrol bersama mereka. Membuat Alea menyunggingkan senyuman manis.


Mata Alea pun tak luput dari beberapa pasang mata lentik yang tampak masih setia mengikuti pesta. Alea menatap mereka dengan sendu. Banyak perempuan cantik di mana - mana.


*Ternyata suami ku termasuk dalam orang - orang penting. Dia banyak di kenal orang - orang cantik, tapi sama sekali tak tertarik. Giliran menyimpang sama mantan yang kelakuannya kayak per*x*!


Aku mulai tau suami ku adalah orang sulit melupakan cinta yang sudah tumbuh di hatinya.


Semoga saja kemarin adalah pembelajaran terbaik untuk dirinya dan juga aku.


"Ma! ayo cepat!" seru Andra menarik tangan Alea.

__ADS_1


Seketika lamunan Alea pun buyar dan berakhir.


"Eh, iya sayang!"


Alea segera menyebutkan ice cream cone yang di inginkan putranya pada penjaga stand.


Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Andra berlari menghampiri sang Papa dengan ice cream di tangannya. Spontan Ardhan mengangkat tubuh mungil Andra dan mendudukkan di pangkuannya. Alea pun langsung reflek duduk di samping kiri Ardhan.


"Anaknya baru satu ini, Pak Ardhan?" tanya seorang pria yang duduk di samping kanan Ardhan.


"Iya, Pak. Satu lagi masih di perut!" jawab Ardhan tergelak kecil.


"Wah, semoga yang kedua perempuan ya, Pak? biar lengkap!" imbuhnya.


"Aamiin..." jawab Ardhan sungguh - sungguh.


***


Jam sepuluh malam, Ardhan membawa istri dan anaknya keluar dari gedung pesta. Meninggalkan acara yang masih berlangsung oleh artis - artis Ibukota dan pengundian door prize.


Alea berjalan dengan anggun di samping suaminya. Tentu saja untuk menjaga wibawa sang suami.


Dan saat melewati meja Almer, mata Alea menajam. Perempuan yang sebenarnya berhati lembut itu mendadak menjadi singa betina saat melihat mata Almer yang melirik suaminya.


Namun seketika Almer membuang muka salah tingkah saat tak sengaja menatap mata tajam Alea.


Berani bergerak, mati kau!


Ucap Alea dalam hati.


# # # # # #


"Wen, bagaimana pembangunannya?" tanya Ardhan pada Weni, saat sekretaris itu masuk ke ruangan Ardhan untuk memberikan laporan.


"Sudah dalam tahap finishing, Pak! Seperti pemasangan lampu cristal yang Bapak pilih waktu itu dan sekaligus pemasangan listrik. Di perkirakan dua minggu akan selesai dengan sempurna, Pak!" jawab Weni sopan.


"Baguslah! semoga dua minggu lagi benar - benar tinggal mengisinya!"


"Iya, Pak!" jawab Weni. "Pak, apa kabar Nyonya? sudah berapa bulan kehamilannya?" tanya Weni memberanikan diri.


"Baik, sudah jalan tujuh bulan!" jawab Ardhan santai menanggapi pertanyaan sekretaris terbaiknya itu.


"Alhamdulillah, saya ikut senang!"


"Mangkanya aku ingin pembangunan itu segera di kebut!" ucap Ardhan. "Karena mengisinya juga butuh waktu!"


"Iya, Pak!" Weni mengangguk.


# # # # # #


🍄 Satu minggu kemudian . . .


"Kita mau kemana sih, Pa?" tanya Alea yang duduk di samping kemudi yang di kendalikan Ardhan.

__ADS_1


"Suatu tempat, yang pasti akan menjadi tempat terbaik untuk kita bertiga dan calon anak kedua kita.


"Serius?" Alea membulatkan matanya menatap sang suami.


"Serius, Maa! masa aku bohong!"


"Hehe! memangnya tempat apa sih?" tanya Alea penasaran, "restauran? tempat wisata? atau apa?"


"Kalau aku kasih tau sekarang, maka buka surprise namanya!"


"Ih! tapi aku penasaran, Pa!" rengek Alea.


"Lima belas menit lagi kita akan sampai! di jamin Mama pasti suka!"


"Hemmm... bisa pingsan di sini aku kalau Papa nggak kasih tau sekarang!"


"Pingsan aja! justru Papa akan semakin suka! nanti Mama bangun tiba - tiba di tempat asing yang ......" Ardhan sengaja menggantung kalimatnya. Kemudian melirik istrinya yang menatapnya dengan raut wajah penasaran yang luar biasa.


"Yang apa! cepetan dong, Pa!" hardik Alea.


"Sabar dong, Yank! aku juga harus menjaga situasi supaya kamu nanti benar - benar merasa terkejut!"


"Hadeeh! terserah deh!" jawab Alea, kemudian melirik Andra yang asyik duduk di kursi belakang sambil bermain kumpulan binatang dinosaurus.


Mobil yang di kemudikan Ardhan mulai memasuki jalanan lebar yang nyaris seperti taman bermain. Dimana ada wahana bianglala berukuran sedang di tengah taman itu, yang di sewakan untuk umum.


"Ngapain ke sini, Mas?" tanya Alea, karena sebenarnya Alea sudah beberapa kali melewati taman itu.


"Ada deh!" jawab Ardhan.


"Papa! naik itu ya?" ujar Andra menatap bianglala.


"Kapan - kapan ya, sayang! kita masih ada urusan" jelas Ardhan.


"Ok, Papa!" jawab Andra.


Kemudian Ardhan mengarahkan mobilnya pada jalur masuk yang ada di sana. Melewati bianglala yang sedang berputar pelan.


Mata Alea memandangi sekitar jalanan itu yang terlihat sangat asri. Banyak pepohonan yang sudah tinggi, sehingga membuat jalanan tetap teduh walau sudah sore hari.


Mobil terus berjalan menyusuri aspal hitam yang terlihat sangat mulus tanpa lubang sana - sini.


Samapi akhirnya mobil Ardhan melewati beberapa ruko yang menyediakan banyak perlengkapan kebutuhan umum. Seperti Cafe, minimarket, berbagai restauran, stasionary, dan masih banyak jenisnya lagi.


Mendadak Alea membayangkan tinggal di sana. Udara yang lebih segar dan pemandangan yang lebih indah.


.


.


🪴🪴🪴


Kemana pula mereka itu? 🤔

__ADS_1


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2