Aku Pelakor?

Aku Pelakor?
Episode 72# Last Day part 2


__ADS_3

Ardhan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Fikri.


"Kenapa hanya tersenyum, Pak Ardhan?"


"Sebenarnya ada sesuatu yang sulit untuk saya jelaskan, Pak! yang menjadi alasan kenapa istri saya bisa bekerja di sini," jawabnya kemudian.


"Apa karena ada suatu masalah?" tanya Fikri kepo.


"Yaa begitulah!" jawab Ardhan menghela nafas.


"Yaaa... namanya juga rumah tangga Pak, jadi pasti ada pasang surutnya. Bertengkar, berselisih, salah paham itu sudah biasa. Pasti berlalu dengan sendirinya jika memang masih ada cinta di dalamnya."


Ardhan tersenyum kecut menanggapi kalimat Fikri. Ia kembali mengingat kebodohannya sendiri dua bulan lalu. Yang membuatnya menyesal hingga hari ini. Seharusnya ia tak perlu berpikir dua kali untuk meninggalkan Sofia.


Karena kebodohan yang melintas di otaknya, membuat dirinya hampir kehilangan sebagain dari nyawanya.


Bisa di pastikan ia akan menyesal seumur hidup jika sampai kehilangan Alea. Apalagi jika tak lagi bisa melihat kebahagiaan pada buah hatinya.


"Betul, Pak!" jawab Ardhan lirih. "Dan ini semua adalah salah saya." ucap Ardhan. "Suatu kebodohan yang pada akhirnya membuat saya menyesal dan hampir kehilangan sosok istri."


Fikri mengangguk paham, tidak ingin bertanya terlalu jauh. Melihat dari ekspresi Ardhan, sepertinya ia enggan untuk bercerita lebih jauh.


"Tapi kenapa Pak Ardhan tidak memberi tahu saya, jika istri anda bekerja di sini?"


"Istri saya menolaknya, Pak!" jawab Ardhan. "Dia tau jika saya sering datang ke sini, ia takut orang - orang akan menganggap remeh saya jika tau dia adalah istri saya!"


"Bisa begitunya?" gumam Fikri heran. "Memangnya kalau boleh tau, siapa dan apa posisi istri anda, Pak?" tanya Fikri.


Kembali Ardhan hanya tersenyum simpul, membuang muka dari Fikri. Dia masih belum ingin memberi tahu jika Aleandra Zavanya, OG yang Fikri banggakan adalah istrinya. Takut jika resepsionis bernama Almer itu pingsan di tempat sebelum istrinya datang.


"Nanti Pak Fikri juga akan tau sendiri." jawab Ardhan santai.


"Hahaha! Ya, baiklah! saya akan menunggu sampai istri Pak Ardhan ada di sini!" ucap Fikri dengan sedikit gelak tawa.


Ardhan ikut tergelak kecil tanpa suara. Ia kembali melirik jam di tangannya. Sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Tapi Alea belum terlihat di lobby.


Mata Ardhan menyisir sekitar, hingga mata Ardhan menangkap tatapan mata Almer. Jelas terlihat jika Almer curi - curi pandang padanya.


Padahal obralan Ardhan dan Fikri bisa di bilang cukup keras. Bisa di pastikan jika obrolan mereka sampai di telinga dua resepsionis yang entah tengah mengerjakan apa. Mereka terlihat belum bersiap untuk pulang di jam empat sore. Dimana seharusnya mereka pulang setengah empat sore.


Ardhan membuang muka dengan eskpresi sinis, bersikap acuh pada perempuan yang ia anggap sebagai musuh istrinya itu.


Mulut pertama yang harus di bungkam!

__ADS_1


Batin Ardhan mengangkat sebelah sudut bibirnya. Dengan kedua alis yang terangkat sinis. Ekspresi itu tertuju untuk Almer.


"Memangnya istri Pak Ardhan pulang jam berapa?" tanya Fikri tiba - tiba.


"Biasanya jam empat. Tapi entahlah, ini sudah jam empat belum terlihat"


"Kalau boleh tau, istri Pak Ardhan divisi apa ya?"


Ardhan hanya menjawab dengan senyum menjengkelkan, karena setiap pertanyaan penting yang di lontarkan Fikri hanya di jawab dengan sebuah senyuman aneh setengah menyebalkan.


Terakhir Ardhan menatap Fikri sambil mengangkat sedikit kedua pundaknya.


"Kamu ini selalu bikin penasaran dan pusing!" bisik Fikri lirih, agar tak ada yang mendengar obrolan ala mereka saat sedang bersantai.


"Hihihi!" Ardhan cekikikan sendiri melihat muka masam Fikri yang serasa akan mati penasaran.


Samar - samar telinga Ardhan mendengar suara bisik - bisik antara dua resepsionis lobby, Almer dan Gita.


"Kamu penasaran siapa istrinya Pak Ardhan?" bisik Gita pada Almer yang seolah memasang telinga untuk bisa mendengar nama yang mungkin akan di sebutkan oleh Ardhan.


"Iya! sebaiknya kamu diam, jangan berisik!" Almer mengangkat telunjuknya dan menempelkan pada bibirnya. Seolah memberi tanda tutup mulutmu.


"Wah! bisa mati berdiri kamu nanti kalau tau siapa istri Pak Ardhan!" gumam Gita lirih, namun samar - samar masih terdengar oleh Ardhan.


"Berdo'a lah Mer! supaya kamu tidak pingsan nanti!" Gita terkekeh kecil melihat ekspresi Almer yang terlihat kecut.


"Emang kamu tau siapa istri Pak Ardhan?"


Gita hanya mengangkat kedua pundaknya dan bersikap acuh tak acuh pada kesyirikan Almer.


"Issh! ngeselin kamu nih!"


"Berharap banget sih sama Pak Ardhan?"


"Ya karena manager di sini rata - rata umurnya udah tua dan tampangnya juga standar. Diia doang tamu perusahaan yang tampangnya OK, Indonesia banget gitulah! apalagi masih muda udah jadi manager. Bangga nggak gak tuh yang jadi istrinya?"


"Bangga banget lah, pasti itu!"


"Hemm! mangkanya aku penasaran. Siapa istrinya!"


Ardhan mengangkat sebelah sudut bibirnya sinis, setiap mendengar kalimat - kalimat yang keluar dari mulut Almer. Meskipun samar, tapi tetap masuk ke telinga Ardhan, dan dapat di simpulkan oleh Ardhan sendiri. Obrolan apa yang ada di balik meja resepsionis itu.


***

__ADS_1


🍄 10 menit kemudian . . .


Alea memakai jaket untuk menutupi seragam kerjanya saat meninggalkan kantor. Ia melepas sepatu kerjanya dan mengganti dengan flatshoes miliknya. Kemudian mengambil tas kecil dan meletakkan talinya di pundak kanan.


"Ayo, Van!" ajak Alea pada Vania yang juga tengah melakukan hal yang sama.


"Iya, Al!" Vania berjalan bersamaan dengan Alea ke arah pintu. Bersiap meninggalkan ruang loker.


"Mas Toni, nggak pulang?" tanya Alea melirik Toni yang masih melepas sepatunya.


"Ya iyalah lah, Al!" jawab Toni santai.


"Kita duluan ya, Mas!" sahut Vania.


"Iya, Van!" balas Toni.


Alea membuka pintu dan berjalan beriringan menuju lobby untuk segera meninggalkan Sentani Group.


Berdasarkan janji yang di sepakati tadi pagi, Alea kembali menunggu Ardhan di halte bus, seperti kemarin sore. Ia sama sekali tidak mengetahui keberadaan Ardhan di lobby.


Satu langkah, dua langkah, Almer mulai menyadari kedatangan Alea dan Vania dari belakang.


"Cih! pasti bakalan caper tuh anak!" gerutu Almer yang dapat di dengar oleh Gita dan Ardhan, bahkan mungkin Fikri pun mendengar, namun ia cuek dengan apapun yang keluar dari mulut dua resepsionis itu.


Ardhan segera menatap arah dalam gedung. Satu detik, dua detik, tiga detik dan sepasang mata Ardhan mulai menangkap bidadari surga tercinta. Mata Ardhan mengikuti setiap pergerakan dari istri tercintanya.


Alea dan Vania tampak asyik berceloteh sambil berjalan, untuk mengakhiri hari terakhir mereka menjadi rekan kerja.


Alea meletakkan code name card pada layar kecil untuk membuka pintu pembatas antara lobby dan bagian utama dalam gedung.


Kemudian kembali berjalan tanpa memperhatikan sekitar. Alea hanya melirik sekilas pada Almer yang menatapnya benci.


"Yank!"


Suara yang tak asing di telinga Alea menggema di seluruh lobby. Membuat semua yang tengah berada di lobby menghentikan pergerakan tangan bahkan kakinya. Semua pun seketika menoleh ke arah Ardhan, sebagai sumber suara. Kecuali Alea yang tampak masih menimbang - nimbang suara itu.


.


.


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2