
Setelah kesibukannya bersama ponsel sang suami, Alea segera berkutat di dapur. Kali ini dia membuat sarapan seadanya untuk Ardhan yang belum bangun.
Lima belas menit kemudian, suara pintu kamarnya terbuka. Alea menarik nafas lega.
Untung aku sudah mengembalikan ponselnya!
Ucapnya dalam hati sembari menuang air mendidik ke dalam cangkir berisi gula dan kopi.
"Maa.. kenapa aku tidak di bangunkan?" tanya Ardhan sembari memeluk dari belakang istrinya yang tengah mengaduk kopi.
"Aku terlambat bangun, Pa!" jawab Alea seadanya, tentu saja dengan menahan kesal di hatinya.
Entahlah, dia tiba - tiba merasa risih dengan tangan Ardhan yang melingkar di perutnya. Padahal biasanya dia akan sangat senang dan nyaman setiap Ardhan menyentuhnya dan memperlakukannya dengan manja.
"Kok tumben sih?" tanya Ardhan yang bertengger di pundak kanannya sembari menatap kopi yang sudah siap untuk di nikmati.
Sedangkan Alea menutup dalam matanya bersamaan dengan menarik nafas yang dalam. Seolah jengah dengan situasi saat ini.
"Entahlah, Pa" jawab Alea cuek.
"Aku jadi melewatkan subuh dengan mu, Ma"
Alea hanya tersenyum simpul tanpa ketulusan.
Ting!
Sebuah pesan chat masuk ke ponsel yang ternyata ponsel Ardhan yang berada di saku celananya.
Ardhan meraih ponselnya dengan satu tangannya dan membuka layar yang menunjukkan chat daei nama yang seharian kemarin chatting dengannya.
Ardhan segera membukanya dan membaca pesan itu.
SOFIA LARASATI
Selamat pagi Papa Andra? ð
Ardhan tidak langsung membalasnya. Dia beralih pada sang istri yang tengah memindahkan nasi goreng seafood buatannya ke atas piring.
"Kopinya sudah bisa di nikmati kan, sayang?" tanya Ardhan.
"Iya, Pa" jawab Alea setengah cuek.
Ardhan yang sebenarnya cukup peka dengan gelagat istrinya mengerutkan keningnya mendengar jawaban sang istri yang tak biasa.
Tapi keegoisan yang sedang menguasai pikirannya itu membuatnya memilih untuk segera mengambil kopi miliknya dan membawanya ke meja di ruang tamu. Karena ingin segera membalas chat dari Sofia.
Alea yang di tinggalkan di dapur menarik nafasnya dalam, dan menghembuskan nya dengan kasar. Alea memukul pelan meja dapur dengan kedua kepalan tangannya.
Seolah tengah terbakar api, saat ini tubuhnya terasa sangat panas. Bahkan sampai otaknya pun ikut terasa panas dan mendidih.
Dunia menyempit begitu saja. Seolah menekan tubuhnya menjadi kecil, hingga tak lagi terlihat indah di mata suaminya.
Alea tau, itu pasti pesan dari perempuan yang masih berstatus pacar suaminya. Karena tak biasanya suaminya keluar kamar di pagi hari dengan mengantongi ponsel.
***Aku tau aku yang salah. Aku yang memasuki kehidupan suamiku yang memiliki masa lalu belum usai. Kini cinta itu kembali bersemi. Apa yang bisa aku lakukan Tuhan ...
Aku bahkan tidak tau jika cinta mereka serumit itu di masa lalu. Jika aku tau dari dulu, aku tidak akan sebodoh itu mencintai pacar orang.
Yaa Allah, bisa kah aku meminta kembalikan suamiku seutuhnya padaku***?
__ADS_1
Air mata Alea menetes begitu saja.
Yaa Tuhan, semudah ini air mata ku menetes.
Alea mengusap air matanya menggunakan tisu. Menarik nafas, mencoba menormalkan perasaannya.
Lalu sekuat hati membawa piring nasi goreng untuk suaminya ke meja makan.
Dari ruang makan, Alea dapat melihat sedikit suaminya yang tengah asyik dengan ponselnya. Senyum tipis juga terbit dari bibirnya. Membuat Alea semakin terasa panas.
"Mas, mandi!" teriak Alea tiba - tiba. "sudah jam enam!"
"Iya, Maa!" jawab Ardhan.
Ardhan segera beranjak, dan mengambil handuk di jemuran handuk yang ada di depan kamar mandi. Dan menyempatkan mencium pipi Alea yang tengah memasak sayur sup untuk Andra.
Alea yang biasa merespon dengan senyum malu - malu kali ini diam saja. Seolah tidak terjadi apa - apa.
Ardhan masuk ke kamar mandi dengan handuk di pundaknya. Dan melakukan ritual mandi yang terdengar sampai dapur yang letaknya memang bersebelahan.
Alea segera mengambil ponselnya, dan membuka aplikasi yang dia gunakan untuk membajak ponsel suaminya.
SOFIA LARASATI
Selamat pagi Papa Andra ð
^^^Pagi Mamanya Cherly!^^^
Belum berangkat kerja, Dhan?
^^^Belum, baru bangun. Istri terlambat bangun.^^^
^^^Wah! ngerepotin istri orang dong! ð^^^
Nggaklah! kana bangunin pacar ku yang tampan! ðĪ Jadi inget dulu, aku pernah ngajak Lia ke rumah kamu pagi - pagi naik sepeda, buat ngajak kamu jalan - jalan pas hari minggu di CFD taman. Yaa ampun senengnya waktu itu jalan sama kamu. ð
^^^Kamu yang minta beli telur gulung? ð^^^
Hahaha! inget aja! suapan kamu masih terasa ðĪ Dulu sembunyi - sembunyi dari ayah, biar bisa jalan sama kamu.
^^^Mau aku suapi lagi?^^^
Mau banget!
^^^Istriku sudah siapin sarapan buat aku tuh!^^^
Aku bisa buatin sarapan kamu lebih pagi dari istri kamu loh.
^^^Biasanya dia juga bangun jauh lebih pagi dari pagi ini, tapi entahlah pagi ini kenapa dia bisa terlambat ðĪ^^^
Keasyikan kali semalam ð
^^^Apanya?^^^
Ya itu... biasalaah ðĪ
^^^Eh, udah dulu ya! waktunya mandi.^^^
Mau aku mandiin nggak?
__ADS_1
^^^Boleh kalau mau! ððĪĢ haha! canda!^^^
Padahal aku serius ð
^^^Serius?ðģ^^^
Iyalah! buat laki - laki setampan Ardhan, apa yang nggak. xixixixi ðĨ°
^^^Hahah! bisa aja!^^^
Ardhaann! aku serius . . .
Chat terakhir dari Sofia belum sempat terbaca di ponsel Ardhan. Karena Ardhan sudah beranjak untuk mandi.
Bersamaan Alea mengakhiri membaca chat suaminya, Ardhan keluar dari bilik kamar mandi.
"Kamu kenapa, Ma?" tanya Ardhan saat melihat Alea yang duduk di kursi meja makan dengan raut wajah usang yang sulit di artikan oleh Ardhan.
"Tidak apa - apa, Pa!" jawab Alea seadanya sembari berjalan masuk ke kamarnya untuk menyiapkan baju kerja untuk sang suami.
Ardhan mengikuti langkah istrinya dan langsung memakai pakaian dalam, kemeja, celana, jas dan dasi yang dipilihkan istrinya.
Jika biasanya Alea membantu memakaikan satu persatu, maka kali ini Alea memilih keluar dari kamar tanpa membantu sedikitpun.
Ardhan keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Dia menyadari sikap sedikit cuek sang istri. Namun dia menepisnya.
Ardhan duduk di meja makan untuk menyantap sarapannya. Sedang Alea memilih untuk melanjutkan membuat sayur sup untuk Andra.
Ardhan yang asyik makan, sambil sesekali membalas pesan chat di ponselnya. Bahkan Ardhan sempat mengambil gambar nasi goreng seafood buatan istrinya.
Entah untuk di kirim kemana. histori kah? atau dikirim di grup chat? atau pada seseorang secara private?
Alea belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu. Yang jelas mata Alea mengamati diam - diam gerak gerik sang suami yang membuat hatinya terasa panas.
Waktu menunjukkan pukul 06.20 WIB. Ardhan berpamitan pada sang istri untuk berangkat ke kantor.
Seperti biasa Alea akan mengantar sang suami sampai meninggalkan rumah. Ardhan mencium kening istrinya saat Alea mencium tangannya.
Tapi tak ada yang manis dari ekspresi Alea. Hanya sebuah senyuman samar dan tidak berkesan yang terbit dari bibir perempuan 25 tahun itu.
Sekilas Ardhan menyadari sikap istrinya di pagi hari ini. 5 tahun bersama tentu Ardhan paham sifat dan sikap istrinya jika ada perubahan walau sedikit.
Ardhan berangkat dengan menekan kecil klaksonnya, dan Alea hanya mengangguk dengan tatapan kosong padanya.
Keegoisan yang sedang merasuki pikirannya, membuat Ardhan enggan memikirkan perubahan istrinya.
Dia tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sampai ia di parkiran kantor.
.
.
ðŠīðŠīðŠī
**Happy reading ðđðđðđ
Menurut kalian Kelanjutan Ardhan dan Alea bagaimana ya?
Ini kisah nyata lo, Kak. Jadi endingnya entar bakal sesuai dengan kenyataannya sekarang. ð**
__ADS_1