Aku Pelakor?

Aku Pelakor?
Episode 69# H-2 Resign


__ADS_3

Suatu siang yang terik, dua hari setelah Alea mengajukan surat pengunduran dirinya yang di buat oleh sang suami.


Pihak HRD akhirnya memberi izin Alea untuk mengundurkan diri di akhir bulan. Alea cukup lega dengan itu. Ia akan kembali fokus menjadi Alea istri Ardhan Bagaskara dan Mama Andra Deniel Bagaskara.


Alea tengah membeli makan siang warung belakang seperti biasa. Bersama Vania dan Toni, rekan satu tim nya.


"Al, kamu sama pak Ardhan sudah lama kenal kah?" tanya Toni tiba - tiba, setelah makanan di piring mereka tandas.


"Hah!" pekik Alea tersentak kaget dengan pertanyaan Toni.


"Pak Ardhan manager Galaxy Company?"


"Iya!" jawab Toni.


Alea hanya diam, menatap kosong ke arah minuman yang sedang dia minum menggunakan sedotan.


"Sebenarnya aku juga penasaran lo, Al!" sahut Vania. "Kamu sama pak Ardhan tuh aneh!"


"Aneh dari mananya sih?" ucap Alea mencoba mengelak.


"Sorry nih ya Al, bukannya aku berniat buruk. Dua hari lalu aku tidak sengaja liat kamu dan Pak Ardhan berinteraksi dengan cara yang di luar batas. Jika hubungan antara Pak Ardhan dan kamu sama seperti hubungan pak Ardhan dengan kami maka menurutku itu tidak wajar."


DEG! Terpompalah jantung Alea.


"Kapan?" tanya Alea pura - pura lupa kejadian dua hari lalu.


"Saat kita habis membuang sampah, waktu aku akan kembali ke kantor, kamu dan Pak Ardhan terlibat percakapan dengan ekspresi yang berbeda. Kamu terlihat kesal dan Pak Ardhan terlihat senyum - senyum berinteraksi dengan kamu. Dan bahkan berani mengusir dan mendorongnya!" jelas Toni.


Sepertinya cepat atau lambat teror ini akan semakin kejam. Haduuh... dua puluh hari kenapa mendadak terasa sangat lama begini sih!


Batin Alea.


"Dan sepertinya pak Ardhan memberimu amplop coklat berukuran besar" tambah Toni semakin membuat Alea sulit mengelak.


"Kamu nggak ngarang cerita, Ton?" tanya Vania.


"Masa iya aku ngarang cerita di depan pelaku utama?" jawab Toni yang membuat Vania nyengir kuda.


"Aku sampai berfikir jika Alea dan Pak Ardhan itu terlibat skandal? atau saudara? atau yang lain?"


"Skandal?" sahut Ale yang tersentak kaget dengan dugaan temannya.


"Iyalah, Al! aku bahkan liat Pak Ardhan noyor kamu, tapi bukan ekspresi marah yang muncul, tapi ekspresi gemas! atau jangan jangan....?" Toni menggantung kalimatnya, menatap Vania begitu juga sebaliknya. Vania menatap mata Toni dengan tatapan yang menunjukkan isi pikiran yang sama.


"Suami kamu!" ucap Vania dan Toni bersamaan dengan nada yang cukup keras.


Sontak beberapa orang di sekitar yang juga sedang makan, menoleh ke meja mereka. Seketika Alea menelan ludahnya dengan sangat susah.


"Jangan bahas pak Ardhan di sini deh, kalau ketahuan resepsionis itu pasti aku bakal di amuk di tempat!" mengalihkan pembicaraan.


"Dia naksir Pak Ardhan itu, mah!" sahut Toni.


"Emang mana ada yang nggak naksir sama Pak Ardhan! ganteng iya, cakep iya! uang banyak iya! masa depan cerah itu pasti" sahut Vania.


Alea kembali menelan ludahnya. Tanpa Vania bicara, dia pun sudah tau, pasti banyak wanita normal yang menginginkan suaminya.


"Eghm!" suara deheman seseorang membuyarkan obrolan mereka di kantin itu.


Sontak semua menoleh ke arah sumber suara. Melihat siapa yang seolah tengah mencoba membuat mereka berhenti bicara.

__ADS_1


"Nona sok cantik, ternyata kau di sini!" bicara mengarah pada Alea.


"Ada apa?" tanya Alea.


"Pak Fikri meminta mu untuk membuatkan kopi untuk beliau dan tamunya!"


"Baik!" jawab singkat Alea, sambil berdiri dari duduknya.


"Tiga cangkir dan jangan caper!" bisik resepsionis itu dengan nada dingin tepat di telinga Alea yang berjalan melewati posisi tubuh berdiri.


Alea sengaja menulikan pendengarannya. Bosan rasanya mendengar ocehan resepsionis itu. Ia berlalu dari warung unik, setelah membayar makan siangnya.


***


"Pasti Mas Ardhan!" gumam Alea sambil mengaduk tiga cangkir kopi di atas nampan.


Alea membawa kopi itu ke ruangan Fikri. Dan meminta sekretaris Fikri untuk membantunya membuka pintu.


"Permisi, pak!" ucap Alea.


"Masuk Alea!" ucap Fikri.


Dan benar saja ada dua laki - laki duduk menghadap Fikri membelakangi Alea. Satu kepala bisa di kenali Alea sebagai suaminya. Satu lagi entah siapa.


Alea masuk dan meletakkan cangkir di meja masing - masing.


"Silahkan, pak!" ucap Alea. "Saya permisi!"


"Ya!" jawab Fikri.


Sedangkan Ardhan hanya mengangguk pelan untuk merespon ucapan istrinya. Kemudian melirik istrinya dengan mengulum senyum. Sementara istrinya menyebikkan sedikit bibirnya.


# # # # # #


Setiap hari Alea mencoba untuk menghindari kejaran teman - temannya yang ingin menggali informasi tentang dirinya.


Tapi ia terus saja membuat resepsionis itu kepanasan, jika sang resepsionis mengganggunya.


"Uuk!" Alea terduduk dari berbaring pada suatu pagi.


"Uuk!" Alea kembali merasa mual.


Alea berfikir ada apa ini? belum sempat menemukan jawaban, Alea kembali ingin muntah.


"Uukk!"


Alea berlari keluar kamar, setelah di rasa semakin parah saja mualnya.


Ardhan yang mendengar Ale membuka pintu dengan kasar, terbangun dan segera menyibak selimutnya. Mengekor pada istrinya yang saat ini tengah memuntahkan isi perutnya.


"Kamu kenapa, Ma?" tanya Ardhan memijit leher belakang Alea.


"Perutku mual! Uuk!" Alea kembali mengeluarkan isi perutnya.


Beberapa saat kemudian, Alea telah selesai dengan aksi pagi yang tak biasa. Wajahnya pucat dan di penuhi keringat. Pertanda betapa menyiksanya saat seseorang mengeluarkan isi perutnya.


Ardhan keluar mengambil tisu, dan segera mengusap keringat istrinya. Dan mendudukkan Alea di kursi meja makan.


"Aku buatkan teh hangat mau?" tawar Ardhan.

__ADS_1


"Hemm!" jawab Alea singkat.


Ardhan segera melakukan apa yang ingin ia lakukan, dan membantu Alea untuk meminumnya.


"Masih mual?"


Alea hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Sebaiknya kamu nggak usah kerja, Ma?"


"Tinggal hari ini dan besok, Pa!" jawab Alea.


"Tapi tubuh kamu seperti ini? apa kamu masuk angin?"


"Entahlah" jawab Alea kembali menyeruput teh hangat.


Tiba - tiba Ardhan teringat sesuatu, "Atau jangan - jangan kamu hamil, Ma?"


"Hamil?" pekik Alea.


"Kamu dulu juga begini, kan?"


Alea tampak memikirkan sesuatu, dan jarinya pun ikut bergerak.


"Ya, Tuhan! aku lupa bulan ini tidak datang bulan, Pa!" ucap Alea dengan ekspresi shocknya.


Ardha langsung tersenyum senang, dugaannya pasti benar.


"Kamu pasti hamil, Ma!" ucap Ardhan mencium kening istrinya.


"Masa sih?"


"Kita ke dokter kandungan, ya?"


"Tapi kan aku harus kerja, Pa?"


"Aku akan bilang ke Fikri untuk membantu kamu resign mulai hari ini."


"Jangan!" Alea menahan tangan Ardhan yang hendak beranjak mengambil ponsel. "Lagi pula hanya tinggal dua hari. Sebaiknya nanti pulang kerja aku beli tes pack, lalu lusa kita ke dokter!"


"Tapi gimana kalau kamu mual - mual lagi di sana, Ma?"


"Tidak mungkin tidak ada yang menolongku, Pa!"


"Baiklah, aku antar saja! kamu tidak boleh naik motor sendirian! kamu ingat kan, Ma? waktu hamil Andra kamu sering pusing, pandangan gelap! bagaimana jika di jalan raya tiba - tiba kamu seperti itu?"


"Hemm!" Alea mengangguk, karena apa yang di ucapkan suaminya ada benarnya. "Tapi cukup sampai depak pagar saja ya? aku tidak mau di antar sampai masuk!"


"Iyaa, sayaang" jawab Ardhan sembari berjongkok.


Ardhan menyingkap baju Alea di bagian perutnya. Mengusap perut rata itu, lalu menciuminya.


"Aku akan selalu menjaga kalian semua!" ucap Ardhan kembali mencium perut rata Alea.


Alea membalas dengan mengusap rambut hitam suaminya. Rasa cintanya kini kembali bersemi. Sepertinya kebahagiaan keluarga kecil akan semakin bertambah, dengan kehadiran buah hati kedua nanti.


.


.

__ADS_1


🪴🪴🪴


...Happy reading 🌹🌹🌹...


__ADS_2