
"Tapi hanya sedikit yang masih benar - benar perjaka!" ucap Ardhan.
"Hah! kalau Abang!" hardik Alea membulatkan mata dan langsung pada intinya.
"Abang masih perjaka lah, kamu tidak percaya? mau lihat?" tawar Ardhan.
"Cowok perjaka, nggak perjaka nggak ada bedanya Abang!"
"Ada!"
"Apa?" tanya Alea.
"Bedanya mereka tidak tau cara memberi ****** pada pacarnya!"
"Hah?" pekik Alea.
"Boleh nggak Abang coba?"
"Hih! menjijikkan!" ucap Alea begidik ngeri.
"Hahaha! bercanda Sayang!" Ardhan memeluk gemas tubuh Alea dan menggoyangkan tubuhnya. "Lagi pula Abang tidak tau caranya!"
"Beneran Abang masih perjaka?"
"Iyaa, Sayang! di bengkel hanya beberapa saja yang masih perjaka!"
"Lalu yang lain pernah melakukan dengan pacarnya?" tanya Alea.
"Ya begitulah!"
"Ih!" Alea shock mendengar hal seperti itu. "Siapa saja emang?"
"Ya masa Abang kasih tau Alea?" jawab Ardhan. "Nyebarin aib teman dong!"
"Iya juga sih!" Alea mengangguk. "Kalau Abang pernah punya niat nggak buat ambil keperawanan Alea sebelum kita menikah?" tanya Alea.
"Emang kamu masih perawan?" goda Ardhan.
"Abaang!" Alea memukul kesal lengan Ardhan. "Jelaslah!" jawab Alea kesal.
"Hehehe! canda Sayang, Abang juga tau kalau kamu masih perawan!" bisik Ardhan.
"Dari mana Abang tau?"
"Semua laki - laki pasti bisa bedakan mana yang masih perawan dan mana yang tidak!" jawab Ardhan. "Hanya saja kadang cinta membutakan, dan membuat laki - laki tidak peduli kekasihnya perawan atau tidak!"
"Abang belum jawab pertanyaan Alea!"
"Hahaha! kalau pernah punya niat sih nggak, karena Abang sangat menghargai kamu. Tapi kalau di kasih sih nggak nolak!" lanjut Ardhan terkekeh.
"Di kasih?" Alea mengerutkan keningnya. "Ih! jangan mimpi ya!" seru Alea menepuk pipi Ardhan kesal dengan kalimat Ardhan.
Sedang Ardhan yang di pukul justru terkekeh geli dengan godaannya sendiri pada Alea.
"Abang jangan macem - macem ya!" ucap Alea.
"Nggaklah! lagian tidak sampai dua bulan lagi, kita akan menikah!" ucap Ardhan sembari mencium puncak kepala Alea. Menghirup bau wangi rambutnya. "Malam itu akan jauh lebih indah dan mendebarkan dari pada di ambil terlebih dahulu!"
"Abang serius akan menikahi Alea kan?" tanya Alea serius menatap dalam wajah Ardhan.
"Emangnya Abang kelihatan main - main?" tanya Ardhan tak kalah serius.
__ADS_1
"Ya enggak!" jawab Alea kembali menatap deburan ombak di bawah birunya langit. "Tapi Alea takut aja!"
"Takut kenapa?" tanya Ardhan.
"Takut tidak bisa membuat Abang bahagia bersama Alea!" jawab Alea tanpa melihat Ardhan.
"Sayang, kalau Abang tidak bahagia sama kamu, mana mungkin Abang melamar mu!"
"Kali aja, Abang hanya pura - pura bahagia!"
"Jangan berfikiran yang aneh - aneh!" ucap Ardhan melingkarkan tangannya erat di perut Alea dan menyusupkan kepalanya di ceruk leher Alea. Mencium leher jenjang Alea yang terlihat putih dan mulus.
"Alea hanya takut, jika kelak Alea akan kehilangan Abang, saat Alea benar - benar mencintai Abang! Apalagi kalau sudah ada anak!" lanjut Alea dengan nada yang terdengar begitu sendu.
"Mana mungkin Abang meninggalkan anak dan istri Abang, Yank! ada - ada aja pikirannya!" ucap Ardhan menunjuk - nunjuk gemas pelipis Alea.
"Namanya juga cewek mau di nikahin ya gitu, Abang!" seru Alea.
"Abang janji, kita akan bersama selamanya!" ucap Ardhan.
"Janji?" Alea menyodorkan jari kelingkingnya.
"Janji!" jawab Ardhan meraih kelingking Alea dengan kelingkingnya. "Kalau sampai kamu lepas, bisa - bisa di ambil Fahry!" celetuk Ardhan terkekeh kembali.
"Hehehe!"
"Dah yuk! ganti baju!" ucap Ardhan. "Kita pindah ke wisata kebun teh!"
"Ayok!" jawab Alea sembari berdiri dari duduknya.
Mereka meninggalkan area pantai, setelah mengganti baju mereka yang basah dengan baju yang kering. Mereka memang sengaja membawa baju untuk ganti.
Ardhan memarkirkan motornya, sedang Alea sudah terpanah dengan hamparan kebun teh yang terlihat begitu hijau dan luas.
"Ya Tuhan, indah sekali!" seru Alea.
"Suka?"
"Banget, Abang!"
Mereka berjalan di antara dedaunan teh yang begitu hijau. Dimana masih banyak pengunjung yang tengah asyik berfoto.
Tentu saja Alea juga tidak melewatkan momen berfoto itu. Mengingat ini kali pertama Alea berwisata di kebun teh.
Alea dengan bahagia memposting hasil liburan mereka hari ini di sosial media miliknya. Dengan men tag nama Ardhan di sana.
'Holiday bersama calon suamiku @Ardhan****17 🥰'
Menjelang sore keduanya meninggalkan area kebun teh, dan memilih langsung kembali ke Ibukota. Dengan membawa lelah dan ngantuk di mata mereka. Namun Ardhan tetap harus hati - hati mengemudikan motornya.
# # # # # #
Hari - hari berlalu, hari ini adalah di mana undangan pernikahan Ardhan dan Alea di sebarkan. Pernikahan itu akan berlangsung satu minggu lagi. Dimana keduanya sudah mengajukan untuk cuti menikah.
Fahry menggoyangkan undangan itu di tangannya. Dia tengah berbaring sendirian di kamar mess nya. Karena Dimas teman sekamarnya keluar bersama teman - temannya yang lain.
Fahry membaca nama dan tanggal pernikahan yang dia ketahui sebagai tanggal lahir Alea.
"Harusnya namaku! bukan Ardhan!" gumam Fahry.
Bicara tentang Fahry, hubungan Fahry dan Echa tidak berlanjut sampai tahap lebih serius. Hanya dua minggu benar - benar berpacaran.
__ADS_1
Karena Echa memilih menjauh, setelah merasa ternyata Fahry begitu mengekangnya. Dan membuatnya sulit bergerak meskipun mereka sedang berjauhan.
Kini Fahry kembali menjomblo akibat kebodohannya yang tidak bisa membuat perempuan berada nyaman bersamanya.
Tapi percayalah, jika memang berjodoh apapun yang terjadi dan sifatnya, semua akan terasa nyaman dan tepat pada tempatnya.
Fahry hanya belum mendapatkan gadis yang cocok dengan sifatnya. Dan mungkin dia harus sedikit menahan egonya.
"Semoga kalian bahagia!" ucap Fahry kemudian.
# # # # # #
Di sisi lain Ibukota, Alea dan Ardhan tengah menyantap makan malam di salah satu warung nasi padang, di mana mereka pernah bertemu saat Alea belum mengenal nama Ardhan.
"Bang, apa nggak kebanyakan Abang ngasih uang ke orang tua Alea?" tanya Alea.
"Nggaklah, kan memang acara pernikahan kita hanya akan di adakan rumah kamu. Justru menurutku uang itu terlalu sedikit!" ucap Ardhan.
"Dua puluh lima juta sedikit?" tanya Alea menatap dalam wajah Ardhan.
"Iya, itu juga nanti kan buat bayar pelaminan, hiburan dan lain - lain! jadi menurutku itu terlalu sedikit!" ucap Ardhan sambil menyendok makanannya. "Sebenarnya aku mau ngasih lebih, tapi lebih baik uangnya kita gunakan untuk DP rumah di sini. Biar kita bisa punya rumah di sini! tidak perlu kost!"
"Tapi itu di kampung sudah banyak, Abang!" ucap Alea. "Jarang - jarang calon suami nyumbang sebanyak itu untuk acara pernikahan. Ibu ku sampai bilang, kenapa banyak sekali? karena suami Kak Farah dulu hanya ngasih lima juta!"
"Sudahlah, jangan di bahas!" ucap Ardhan.
"Emang Abang uang dari mana?" tanya Alea.
"Itu uang tabungan Abang sejak lulus kuliah!"
"Abang pinter menabung ya?" ucap Alea.
"Separuh gaji Abang, selalu Abang tabung di rekening khusus!"
"Separuh? setara gaji Alea dong!"
"Ya begitulah!"
"Pantes tabungannya banyak!" ucap Alea. "Pintar juga ternyata!"
"Setelah kita menikah kamu yang harus mengatur keuangan!"
"Apa Alea tetap boleh bekerja?"
"Boleh! tapi kalau hamil, sebaiknya kamu resign!" ucap Ardhan tegas.
"Siap, Abang!" jawab Alea.
.
.
.
•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√
...Spesial dua BAB untuk menikmati menjelang pernikahan Ardhan dan Alea 🥰🥰...
...Buat kakak - kakak yang baca, jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya 🙏😘😘...
...Happy reading 🌹🌹🌹...
__ADS_1