
Beberapa minggu kemudian . . .
"Mas, sakit!" rintih Alea lirih, memegangi perutnya yang membulat besar. Meringkuk di balik selimut yang sama dengan suaminya.
Namun Ardhan belum menyadari pergerakan dan rintihan Alea. Dia masih terlelap di alam mimpinya.
"Maass" rintih Alea lagi dengan mencengkeram lengan Ardhan yang tidur dengan memeluknya. Sungguh Ardhan tertidur bagai kerbau, akibat seharian menjalani meeting di kantor pusat. Dan baru jam sembilan malam dia sampai di rumah.
"Mass!" Alea mencengkeram lengan Ardhan dengan lebih kuat.
Barulah Ardhan membuka matanya lebar dan reflek ikut memegangi perut Alea.
"Kamu kenapa, Yank!" tanya Ardhan panik.
"Sakit, mas!" jawab Alea lirih.
"Sejak tadi?" tanya Ardhan dengan tatapan panik setengah mengintimidasi.
"Tadi tidak terlalu, tapi sekarang benar - benar semakin sakit!"
"Kita ke rumah sakit! ini sudah mendekati waktu HPL kan!" seru Ardhan yang langsung bangun. Dan segera memesan taksi online yang masih on. Mengingat ini sudah jam dua malam.
Ardhan memakaikan jaket pada Alea yang sedari tadi memegangi perutnya. Beberapa perlengkapan bayi yang sudah di siapkan mereka pun sudah di dalam tas.
Tak lupa Ardhan juga menghubungi orang tua Alea di kampung sambil menunggu taksi datang.
Sebenarnya Ardhan tidak mau mengganggu mereka malam begini. Apalagi Alea sering membagi kisah pilunya di masa kecil.
Tapi mau bagaimana pun mereka di masa lalu, mereka berhak tau jika putri mereka akan melahirkan. Supaya di do'akan lancar dan selamat dua - duanya.
Kedua orang tua Alea pun sepakat akan berangkat ke kota saat menjelang pagi nanti. Karena susah malam tidak mungkin mereka memaksakan kehendak untuk mengendarai kendaraan tengah malam.
Beberapa menit berlalu, taksi online yang di pesan Ardhan sudah datang. Ardhan menggendong tubuh Alea dan memasukkan ke dalam taksi. Kemudian Ardhan mengambil tas besar yang berisi perlengkapan bayi dengan buru - buru.
"Mas.. sakiit!" Alea terus merintih dengan memegangi perutnya.
"Kamu pasti kuat, Sayang!" ucap Ardhan yang sebenarnya dia sendiri ikut merasakan sakit melihat Alea kesakitan.
Tangan kanan Alea mencengkeram tangan Ardhan dengan begitu kuat. Tangan kirinya mengusap perut yang rasanya seperti tulang di patahkan secara paksa.
Cit!
__ADS_1
Taksi yang memacu kecepatan tinggi itu sampai di depan Rumah Sakit Ibu dan Anak tempat Alea biasa memeriksakan kandungannya.
Dengan cepat Ardhan menggendong sang istri. Dan beberapa perawat langsung menghampiri membawa brankar pasien.
Detik berganti menit, menit berganti jam, Ardhan dan Alea sudah bersiap di ruang persalinan.
Jeritan, dan rintihan Alea saat pembukaan semakin banyak membuat Ardhan terpukul. Membayangkan sakit yang di rasakan Alea. Mereka tengah menunggu pembukaan secara sempurna.
"Bagi sakit mu dengan ku, sayang!" bisik Ardhan yang tubuh dan bajunya hampir babak belur karena cengkeraman dan tarikan Alea.
"Mass! sakit!" rintih Alea menggenggam erat tangan suaminya.
"Kamu pasti kuat, sayang!" bisik Ardhan sembari mendaratkan kecupan dalam di kening Alea yang mulai berkeringat.
Ardhan beralih mendekatkan kepalanya pada perut Alea. Mencoba untuk mengajak bicara sang calon buah hati.
"Boy, anak Papa? cepatlah keluar boy! Boy lihat, Mama begitu kesakitan boy! semua ini demi boy! keluarlah sayang! jangan biarkan Mama boy kesakitan seperti ini boy! Papa dan Mama sangat menyayangi boy!" bisik Ardhan sembari mengusap dan mencium perut Alea.
Dan siapa sangka, ucapan Ardhan sangat manjur, pembukaan sempura langsung terjadi saat itu juga.
"Bagus boy!" ucap Ardhan sembari menahan sakit pada tangannya yang di genggam erat oleh sang istri.
Detik demi detik terus berlalu, menit pun silih berganti. Keringat yang bercucuran dari Alea dan Ardhan berakhir dengan suara tangisan seorang bayi mungil yang menggema di ruangan itu.
"Terima kasih, sayang," bisik Ardhan. "Kamu melahirkan putra kita" ucap Ardhan sembari setetes air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Alea hanya mengedipkan matanya beberapa kali untuk merespon ucapan sang suami.
Ardhan mengusap keringat Alea menggunakan tisu. Keringat yang menggambarkan betapa berat perjuangan seorang ibu yang melahirkan anak - anak mereka.
Konon, jika di gambarkan rasa sakitnya. Sama seperti 20 tulang yang di patahkan secara bersamaan. Atau mencapai 57 Del. Padahal manusia hanya mampu menahan sakit hingga 45 Del saja.
Tapi apapun akan di tempuh setiap orang tua demi buah hati. Karena tak memiliki buah hati juga sesuatu yang akan sangat mengganggu telinga mereka kelak. Apalagi cibiran tetangga.
Di luar ruang itu, sudah ada Kakak pertama Alea, Dio dan istrinya, yang mana mereka memang tinggal di kota sebelah. Jadi begitu mendengar kabar Alea akan melahirkan, mereka langsung berangkat.
Dan juga ada Farah dan suaminya, yang mana dia memang tinggal di Ibukota. Suaminya memang berasal dari Ibukota.
Dua jam kemudian, Alea sudah berpindah ke ruang rawat. Bersama bayi mereka yang kini berada di dada Alea. Dengan Ardhan yang mendekap tubuh keduanya.
Kak Farah dan Kak Nadia tampak bahagia melihat adik bungsu mereka kini sudah menjadi seorang ibu, sama seperti mereka.
Keluarga Alea dari kampung, datang satu jam kemudian. Ayah Ibu Alea tampak bahagia menyambut kehadiran cucu mereka. Begitu juga Ariandi yang datang bersama Ayah Ibu.
__ADS_1
"Ale, siapa nama anak kalian?" tanya Ibu pada Alea yang masih terbaring di tempat tidur pasien.
"Andra, Bu!" jawab Alea.
"Nama lengkapnya?" sambung Ayah.
"Andra Deniel Bagaskara!" sahut Ardhan. "Itu nama yang sudah kami siapkan beberapa minggu yang lalu, Yah!"
"Wah, bagus juga!" sahut Ariandi. "Kenapa tidak di panggil Deniel saja?"
"Nama kami kan Ardhan, Alea. Yang mana huruf awalan kami A. Biar keren jadi anaknya juga harus berawalan A!"
"Oh, biar kayak aku juga gitu?" tanya Ari.
"Nggak juga kali!" sahut Alea. "Kalau Kak Ari mau, bikin grup sendiri dong!" lanjut Alea yang di balas dengan Ari yang menyebikkan bibirnya.
"Terus Kak Ariandi kapan punya yang begini?" goda Ardhan menunjuk baby Andra.
"Tunggulah, Dhan! bentar lagi!"
"Ah! kelamaan dia mah!" sahut Nadia.
"Iya tuh!" sambung Farah.
"Jodoh, juga belum datang, masak di kejar!"
"Lah masa jodoh di tungguin dong, kapan datangnya!" sahut Dio.
"Tch!" Ari berdecih. "Seperti tidak ada bahasan yang lain aja!"
"Hahaha!" beberapa orang di ruang rawat itu tertawa mendengar pernyataan Ari yang seolah frustasi jika bicara tentang jodoh dan menikah.
"Aku akan langsung menghadirkan dua nanti!" celetuk Ariandi kemudian.
"Aamiin!" sahut Ardhan dan yang lainnya.
.
.
...•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√...
__ADS_1
...Happy reading 🌹🌹🌹...