Aluna My Little Wife

Aluna My Little Wife
Chapter 10


__ADS_3

Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan, tepat pada hari ini adalah dua bulan setelah kejadian di acara ulang tahun caca tempo lalu, Aluna tak pernah menceritakan kejadian naas yang menimpanya bersama sosok laki laki yang menidurinya


Hari ini tepat keberangkatan Regan menuju negara A untuk mengecek proyek raksasa yang berada di negara tersebut, untuk beberapa bulan ia harus berada di sana untuk turun langsung dalam pembangunan proyek raksasa yang di perkirakan menghabiskan dana triliunan


Langkahnya sangat berat ketika ia hendak meningalkan negara I tepatnya kota M, kota di mana ya merenggut kepe*awanan seorang gadis, namun jika kalian menyangka jika Regan akan lepas tangung jawab, kalian salah besar


Setelah ia mengetahui wanita yang ia tiduri ialah Aluna anak bungsu keluarga Mahesa, Regan terus mengawasi Aluna di luaran, karena ia takut apa yang ia takuti akan terjadi dengan wanita itu, sedangkan hatinya hanya untuk bayi kecilnya yang selama ini masih ia cari cari keberadaannya


Awalnya Regan akan bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan dengan Aluna namun, saat pagi itu Regan tak melihat keinginan Aluna agar ia bertanggung jawab atas perbuatannya, jujur saja Regan sedikit lega saat Aluna tidak meminta pertanggung jawabannya tetapi hati kecilnya sangat merasa ganjal ia bingung harus melakukan tindakan apa lagi selain mengawasi Aluna dari jauh


Dengan berat hati regan melangkahkan kakinya menuju jet pribadi yang sebentar lagi akan take off, saat di dalam jet pribadinya wajah Regan ketara dengan kecemasan serta pandangan yang terus melihat keluar jendela, hal itu tak luput dari pandangan asisten pribadinya Reyhan


"Tuan apa anda tidak apa apa?" tanya Reyhan saat melihat wajah tuannya sedikit cemas


"Ah tidak Rey, aku hanya menghawatirkan wanita itu, apa dia baik baik saja Rey?"tanya Regan menatap kosong ke arah jendela pesawat


mendengar hal itu Reyhan mengerutkan keningnya, pasalnya untuk kedua kalinya tuannya sangat khawatir dengan kondisi seseorang selain cinta masa kecilnya yang Samapi saat ini masi ia cari cari keberadaannya


"Tuan tidak perlu khawatir, sesuai perintah tuan saya sudah mengirimkan beberapa orang untuk lebih mengawasi nona itu"


"Ah baiklah Rey, tapi ntah mengapa perasaanku tidak enak Rey"


"Apa tuan ingin membatalkan keberangkatan?"tanya Rey


"Tidak Rey, proyek itu proyek raksasa saya tidak bisa mempercayai siapapun selain kamu dan juga saya ingin melihat langsung pembangunannya"


"Baiklah tuan jika memang seperti itu"


Usai bercakap hal itu, tak berapa lama jet pribadinya take off menju negara A


Dengan memejamkan mata serta menyandarkan tubuhnya di kursi Regan mengingat saat dimana ia melakukan hal itu dengan Aluna, wajah cantik dengan hidung mancung serta bola mata coklat kehitaman kembali teringat dalam benaknya


Ntah ada apa dengan perasaannya ia seperti tak rela melepas Aluna, terlebih tatapan mata Aluna yang seperti menyimpan sejuta rasa sakit dan tatapan mata itu mengingatkan akan sosok bayi kecilnya

__ADS_1


"Ahh mungkin itu hanya perasaanku saja"Gumam pelan Regan yang samar samar terdengar Rey


"Ya ada apa tuan, apa anda baik baik saja?"Saut Rey


"Ah tidak Rey, aku hanya sedikit tidak enak badan saja, aku ingin ke kamar Rey"Ucap Regan, Reyhan menganggukan kepalanya dan regan langsung beranjak dari kursinya menuju kamar pribadi yang berada di dalam jetnya


Di sisi lain Aluna kembali merebahkan tubuhnya di atas kasurnya, selimut ia tarik hingga batas leher. Tubuhnya tiba-tiba panas dan perutnya terasa kembung, Alun takut asam lambungnya tiba-tiba naik dan dia memutuskan untuk tidak bekerja dan karena kebetulan perkuliahannya sedang tidak ada jadwal, dia ingin beristirahat dirumah


Semalam dia juga terus muntah-muntah, tubuhnya benar-benar terasa berat, lemas dan seperti ingin melayang-layang


Alun mencoba mengusir rasa sakit dikepalanya dengan cara memejamkan mata, namun harapannya bisa tidur pupus sudah ketika di benaknya terbayang sesuatu


Alun terduduk dengan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat, ia langsung mencari handphonenya guna mengecek tangal terakhir menstruasinya


Aluna menutup mulutnya, ia terkejut saat melihat tangal menstruasinya sudah lewat dari tangal terlebih ia melupakan hampir dua bulan ia tidak mengalami menstruasi


"**-tidak mungkin, aku pasti hanya kelehan, nggak ini gak mungkin"


"Tenang aluna tenang, ini tidak akan seperti yang kamu takutkan, ini hanya siklusnya tidak lancar karena kelelahan"Ucapnya menyakinkan dirinya sendiri, karena yang ia tahu faktor kelehanpun memengaruhi siklus menstruasinya terlebih bintang pernah bercerita jika ia tidak menstruasi untuk beberapa bulan dan akibatnya karena ia stres menghadapi ujian semester serta tugas kuliah menumpuk namun buktinya saat ini kembali normal


Namun bagi seseorang yang pernah mengalami hal itu ia tak bisa berfikir positif


"Tuhan, kumohon jangan..."Tak terasa butiran bening jatuh membasahi pipi mulusnya, ia terduduk di lantai kamarnya dengan tangan menutup wajahnya


Aluna tidak bisa diam saja, gadis itu segera bangkit dan bersiap untuk pergi keluar. Meski dengan langkah agak terhuyung-huyung gadis itu tetap melangkah kekamar mandi untuk mencuci mukanya, hanya mencuci muka karena tadi dia sudah mandi menggunakan air hangat


Saat ia melewati ruang keluarga suara mamanya terdengar"Mau kemana kamu aluna? bukankah kamu tidak ada jadwal kuliah? malah mau jalan-jalan. Jangan seenaknya kamu, disini kamu itu menumpang, mau jadi apa nanti kamu kedepannya, dasar tidak tahu diri!" Aluna menghentikan langkahnya karena ucapan sang Mama


"Alun mau ke rumah bintang sebentar mah, mau kerja kelompok buat presentasi besok" bohong Aluna dengan jawabnya pelan


(Maafkan aku bintang karena membawamu dalam kebohonganku)batin luna


"Halahhh alasan! kamu pasti mau jual diri kan?! Ngaku kamu!!" sambar bibinya pedas nyonya Clara

__ADS_1


Aluna menggeleng, matanya berkaca-kaca. Demi apapun hatinya sakit mendengar hal itu, dituduh melakukan pekerjaan kotor sangatlah melukai hatinya, dia tahu dirinya sudah tidak suci lagi, dia memang kotor tapi itu bukanlah kemauannya, melainkan sebuah kecelakaan.


"Gausah nangis!! Dasar cengeng, pergi sana! Muak tau gak lihat muka kamu di rumah ini!" ketus nyonya Clara, bertepatan dengan itu sang Tante lebih tepatnya adik dari tuan Agra Mahesa datang, ia melihat Aluna dengan tatapan benci


Aluna menghela napas, kemudian dia kembali melanjutkan langkahnya.


"Mau kemana kau?! Jual diri ya? kalo iya Bilang ya, dapet uang berapa kamu ngejalang. Kalau kurang uangnya saya cariin pria perut buncit dengan uang banyak!" seru Tante aluna yang bernama Liana Mahesa atau kerap di panggil Ana


Ia tertawa mengejek Aluna dan langsung melengang pergi menuju Clara yang tengah duduk di sofa keluarga tak lupa kedua wanita paruh baya yang masih nampak cantik itu berpelukan tanda ucapan salam


Aluna meremas cardigannya kuat-kuat, dia segera berlari karena tidak sanggup mendengarkan hinaan-hinaan yang sudah amat keterlaluan.


Aluna berjalan sampai depan kompleknya setelah itu ia menghentikan ojek untuk mengantatkannya menuju rumah sakit yang tidak di ketahui keluarganya, ia tak mungkin ke rumah sakit Bian yang jelas akan di ketahui oleh keluarganya apa bila ketakutannya terjadi


15 menit kemudian


Aluna melangkahkan kakinya ragu, matanya menatap takut kearah bangunan tinggi yang akan dikunjunginya, bukan masalah lain namun ia sungguh takut jika apa yang masih dia takutkan terjadi


"Jangan takut Luna, kamu pasti tidak apa-apa, dia hanya sekali saja tidak mungkin jadi kan"Ucapnya namun ia pun ragu dengan kata katanya


Pada akhirnya Aluna memberanikan diri dan masuk kedalam rumah sakit, kakinya yang sedikit gemetar itu melangkah menuju ruangan dokter obygn


Aluna segera masuk karena kebetulan sekali hari ini sepi pasien, atau mungkin hanya Alun seorang


"S-selamat pagi dokter," sapa Aluna gugup, ia berusaha tersenyum menyapa sang dokter


"Selamat pagi, silahkan duduk" balas dokter tersebut disertai senyuman ramah


"Ada yang bisa saya bantu?" sambungnya. Kemudian Aluna menceritakan tentang keluhannya selama beberapa hari terakhir dan juga siklus menstruasinya yang sudah terlewat


Dia juga menceritakan hal yang dialaminya ketika dokter bertanya apakah dia sudah menikah, Aluna menunduk disertai air mata yang terjatuh dari pelupuk matanya, dokter cantik itu mengerti dengan apa yang di alami gadis cantik yang menjadi pasiennya itu


Sang dokter menatap Aluna iba, gadis baik didepannya ini tidak seharusnya mengalami hal demikian

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2