
Di rumah sakit Xx
"Pah Gimana ini hiks, keadaan Alea semakin kritis. Kita harus melakukan apa pah? mama gak mau Alea meninggalkan kita pah"
"Tenanglah mah, papa yakin putri kita baik baik saja"
Sejak pagi tadi hingga menjelang sore hari Nyonya Clara terus menangis di pundak suaminya karena keadaan Alea yang kembali kritis setelah beberapa hari lalu wanita yang sedang mengandung itu siuman dan sempat pulang ke rumah
Bian yang juga kalut mengetahui keadaan Alea tak henti hentinya mengatupkan doa untuk wanita yang dicintainya itu
"Tuhan tolong jangan ambil dia dariku, jangan kau ambil kedua nyawaku itu"batinnya yang selalu berdoa meminta Alea dan bayinya selamat
Bian bahkan tak sanggup lagi jika harus turun tangan untuk mengobati kekasihnya, yang ada fokusnya buyar saat mengobati kekasihnya sendiri karena rasa sedih dan khawatir akan kondisi Alea yang semakin hari semakin memburuk
Cklekk
Tiba tiba dokter yang menangani Alea keluar dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di definisikan
"Dok bagaimana dengan kondisi anak saya dok?"tanya Nyonya Clara
"Maaf tuan nyonya"ucap lirih dokter itu dengan pandangan menunduk
Seketika semua orang yang ada di sana membulatkan matanya mendengar ucapan sang dokter yang baru saja menangani Alea
"Apa maksudmu dokter?! kenapa meminta maaf?!"Tanya Bian yang sudah was-was takut yang ada di dalam fikirannya terjadi
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk nona Alea, namun Tuhan lebih sayang dia dan anaknya"
"TIDAK! HAL BODOH APA YANG ANDA UCAPKAN DOKTER!"Teriak Bian emosi
"Maaf dr.Bian kami nyatakan nona Alea meninggal dunia sejak lima menit lalu dan berbarengan dengan itu anaknya pun tidak bisa kami selamatkan mengingat kondisi kandungannya masih memasuki usia lima bulan"
DEG
JEDER!!
Bak di sambar petir di siang bolong, Bian dan kedua orangtua Alea melemas
Bian mundur beberapa langkah karena keterkejutnya mendengar ucapan dokter itu
"Tidak itu tidak mungkin hiks! Alea gak mungkin meninggal!!"
"Maaf tuan Bian, nyonya, tuan"
Jangan tanyakan kondisi Nyonya calara wanita itu sudah terduduk lemas dengan air mata yang tak berhenti jatuh, sedangkan tuan Agra tak kalah sedihnya mendengar putri kesayangannya telah berpulang
"Hikss nggak nggak mungkin, Alea nggak mungkin ningalin Bian kan om"jerit bian.
Lelaki itu segera masuk kedalam ruangan Alea
Ia melihat tubuh Alea yang berbaring di brangkar dengan wajah pucat dan perutnya yang membuncit karena tengah hamil
"Alea sayang ini kakak, bangun sayang bangun kamu masih ingatkan akan melahirkan buah hati kita dan merawatnya bersama sama sampai mereka dewasa?!"
__ADS_1
"Sayang bangun hiks"
Bian tak bisa lagi menahan hatinya, ia sakit mendapatkan Alea dan anaknya berpulang
"Aleaaa hiks, jangan tinggalkan kakak sayang, kakak gak tau kakak akan hidup seperti apa jika kamu meninggalkan kakak hiks"
"Hiks Alea ayo buka matamu kembali sayang, ada anak kita di sini " ucapnya lagi dengan mengusap perut Alea, namun kondisi Alea tetap sama. Wanita itu sudah terbujur kaku
...🥀🥀🥀...
Kabar kematian Alea sudah sampai di telinga Aluna maupun Regan, keduanya benar-benar tidak menyangka akan hal ini. Terakhir mereka dengar kabar kondisi kakaknya itu yang membaik dan bahkan wanita itu sempat sadar dan pulang kerumah, namun tak sampai satu hari dirumah, Alea kembali masuk rumah sakit lagi karena tak sengaja jatuh dikamar mandi dan kepalanya yang terbentur keras membuat kondisinya semakin buruk
"Hiks, Aku gak nyangka kak Alea pergi secepet ini kak." gumam Aluna sedih setelah mendapatkan telepon dari bibi Zhi, sedih dan menyesal yang tengah Aluna rasakan sat ini
"Sayang...."panggil Regan, lelaki itu menatap sendu istri kecilnya yang tengah menangis memeluk foto Alea yang Aluna punya, Sakit, sekali melihat Aluna yang seperti itu, tampilan berantakan dan mata yang membengkak karena terlalu lama menangis.
Regan menghampirinya, menangkup pipi kedua perempuan itu dan mengecup matanya.
"Jangan nangis, kamu jelek kalau nangis." katanya dengan berbisik. Aluna tambah menangis, bukan karena ledekan Regan. Tapi karena sekelebat bayangan dirinya bersama kakak perempuannya beberapa bulan lalu.
"Hiks kenapa kak Alea meningalkan Aluna kak?.. Aluna gak pernah benci kak Alea hiks, aku bohong... Aku gak bisa benci kak alea hiks..."
"Sshhtt udah ya, kakak tau sayang. kakak tau kalau perempuan didepanku ini gak akan pernah memiliki sifat dendam, hatimu terlalu lembut untuk membenci mereka."
Aluna semakin menangis. Semua itu fakta, dia tidak pernah membenci keluarganya, dia hanya memberi jeda dan jarak untuk memisahkan diri dari keluarganya. Dia tidak ingin disakiti lebih jauh, maka dari itu dia ingin melupakan semuanya, ingin menyerah dengan segala permasalahan dan tidak ingin memupuknya menjadi dendam.
"A-aku belum sempat bicara sama kak Alea hiks"
Tidak mungkin Aluna tidak merasa terpukul akan kehilangan saudari perempuannya, apalagi Aluna mendengar jika Alea saat ini ternyata tengah hamil
"Mau ke makam, hmm?" tawar Regan. Aluna mengangguk, tidak masalah nantinya dia akan mendapat kecaman dari keluarganya. Yang penting dia bisa mengantarkan saudarinya beristirahat untuk selamanya, Aluna segera melepas pelukannya pada Regan dan bergegas untuk berganti pakaian serba hitam.
Regan juga demikian, lelaki itu menggunakan jas, kemeja hitam dan celana hitam tidak lupa dengan kacamata hitam yang sudah menggantung disakunya, terakhir dia membantu Aluna memasang penutup kepala sembari mengusap air mata yang sesekali masih turun.
"Jangan nangis terus, ikhlasin, nanti langkah dia berat sayang, dan ingat nanti babby kita juga sedih melihat mommynya menangis terus"
Lalu keduanya pun berangkat, Aluna terus meremas handphonenya yang sejak tadi dia genggam. Sesekali membukanya guna melihat foto kakaknya, kabarnya Alea akan disemayamkan lima belas menit lagi jadi mereka tidak punya waktu banyak, semoga saja jalanan sore ini tidak terlalu padat.
Dan benar adanya, begitu sampai di pemakaman Aluna dan Regan tepat menyaksikan peti milik Alea yang akan dibuka untuk keluarganya, mungkin mereka ingin mengabadikan wajah yang pernah tertawa bersama mereka, Regan menggenggam tangan Aluna memberi kekuatan, mengatakan jika dirinya selalu ada.
Alea cantik sekali, mereka melihat dengan jelas tubuh kaku tersebut, kemudian diturunkan peti putih yang didalamnya ada jasad Alea yang masih mengandung anaknya, Tangisan keluarga terdengar begitu pilu ketika liang kuburan itu mulai ditimbun oleh tanah, mereka benar-benar belum bisa melepaskan Alea terlebih Bian yang merasa terpukul karena gagal menyelamatkan wanita yang ia cintai, Rasanya sangat menyakitkan melepas seseorang yang begitu ia cintai terlebih ada buah hatinya yang masih berada di dalam kandungan
Ia kehilangan keduanya, seseorang yang sudah menjadi nyawanya, ntah Bagaimana hidup Bian setelah ini.
Jikalau bisa memilih mungkin mereka akan memilih melepaskan miliyaran uang mereka daripada harus melepaskan anak kesayangannya. Rasanya Aluna tidak sanggup untuk berdiri, perempuan itu terduduk ditanah dengan tangis yang juga semakin kencang, Regan ikut berjongkok, memeluk Aluna dari belakang ketika perempuan itu hendak mendekat ke arah lubang kubur yang belum tertutup sempurna.
Kaki Aldo bergetar, lelaki itu berdiri kaku sembari memeluk bingkai foto Alea yang tengah tersenyum manis. Pedih sekali, tak menampik kemungkinan orang yang datang turut mengantarkan Alea juga menangis, Aldo sedih, dia benar-benar kehilangan adiknya
Setelah Aluna yang memilih pergi dari Mansion keluarga Mahesa, Alea kini juga pergi, tepatnya Tuhan yang memanggilnya karena waktunya di dunia telah usai, waktunya habis tak tersisa. Tuhan lebih sayang Alea dan anaknya
"Kakak tahu kakak jahat, kakak mau kamu merasakan penderitaan yang sama dengan alun, tapi bukan berarti kakak mau kamu pergi Lea, kakak juga gak ikhlas jika Aluna menyerahkan hidupnya hanya untuk kamu lea, Kaka sudah berjanji akan mencarikan kamu pendonor, kalo perlu kakak akan keliling dunia ini untuk kamu lea"monolognya pada bingkai foto Alea.
Aldo mengusapnya, setetes air mata jatuh tepat di gambar mata Alea.
__ADS_1
"Bahagia sama Tuhan ya lea, semoga langkahmu luas, semoga kamu ditempatkan di sisi terbaiknya bersama anakmu, selamat jalan sayang, selamat jalan adikku, kakak yakin kamu bahagia dengan anakmu sayang." Setelah mengatakan itu Aldo meletakkan foto Alea, mengecup gambar dahi, kemudian menaruh foto tersebut disebelah nisan baru bertuliskan nama "Alea Syahira Mahesa"
Bunga-bunga ditaburkan, dan doa tulus mereka panjatkan, semoga doa tersebut bisa menjadi peringan langkah Alea
"Kak Regan, kak Alea hikss"
"Stttt ikhlaskan sayang kata orang zaman dulu dia ada di sekitaran kita loh, dia sedih ngelihat orang-orang yang dia sayangi nangis"
Aluna mengedarkan pandangannya, kemudian dia tersadar kalau yang suaminya maksud itu adalah rohnya yang sudah terlepas dari raga.
"Maafin Alun kak... Maafin Alun yang gak bisa nolongin kakak lagi hiks.."
"Kak regan aku nggak kuat.." rintih Aluna sebelum tubuhnya benar-benar ambruk, orang yang berada di sekitaran mereka langsung membantu Regan untuk membawa Aluna ke mobil. Mama, papa, nenek, kakek dari Nyonya Clara dan keluarga lainnya menatap punggung Regan yang tengah membawa Aluna dengan tatapan tak bisa di prediksi, kemudian mereka kembali mengalihkan pandangannya kepada kuburan baru yang dipenuhi oleh bunga tabur, Nyonya Clara yang paling parah menangis, beliau sangat-sangat menyayangi Alea, sangat mencintai Alea dan sangat mengasihi Alea putri kesayangannya
"Kenapa kamu ninggalin mama sayang, kenapa nak kenapaa??!!" histerisnya. Clara memeluk bingkai foto Alea erat-erat,
"Putri mama yang cantik, kenapa takdir buruk selalu menghampiri kamu nak, mama pengen Alea bahagia, mama pengen Tuhan kasih keadilan ke Alea, Dan ya, Tuhan adil, adil sekali...." Clara tergugu
"Tuhan adil karena kini anak mama yang cantik terbebas, Alea terbebas dari rasa sakit dan anak Alea juga pergi, calon cucu mama. TAPI BUKAN BERARTI ALEA BOLEH PERGI NAK, NGGAKK!!"
"YA TUHANNNN ANAKKU!! KEMBALIKAN ANAKKU TUHAN, KEMBALIKANNNN!!"Tuan Agra langsung memeluk istrinya yang histeris itu, Aldo sendiri hanya diam tidak memberi respon apapun, ia hanya melihat Bian juga sama terpuruknya bahkan lelaki itu tadi sempat pingsan namun akhirnya sadar, semua usai, tak ada seorangpun yang tersisa karena semua sudah kembali ke rumahnya masing-masing membawa rasa sedih yang amat sangat dalam
...🥀🥀...
"Baguslah kamu meninggal, sehingga tidak akan ada lagi yang menyakiti Aluna dan Seharusnya kamu mati saja sejak dahulu, sehingga saya tidak pelu repot-repot memantau kamu, dan Aluna tidak pernah tersiksa hidup di keluarganya yang memiliki sifat iblis itu" Entah siapa orang itu, dengan santainya berucap tanpa beban, bahkan sebelum pergi pria itu menendang bingkai foto Alea hingga terlempar beberapa meter kemudian menginjaknya
"Ja*ang munafik!!"Setelah itu dia pergi, menutup wajahnya dengan masker dan kacanata hitam. Regan masih di posisi semula, di parkiran tepat didepan makam. Mencoba membangunkan istri kecilnya yang masih pingsan, tiba-tiba jendela mobilnya diketuk oleh seseorang, dan dia sedikit mengernyitkan dahi ketika melihat orang yang mengetuk mobilnya.
"Ngapain kesini?" tanyanya datar. Orang tersebut mengulurkan tangannya, menaruh minyak angin ditelapak tangan Regan.
"Semoga lekas bangun, saya pergi jaga adikku!" Setelah itu punggung lebar itu menjauh, Regan menatap minyank angin yang diberikan oleh Aldo Sedikit merasa bersalah karena dia pun tidak seharusnya bersikap demikian pada lelaki itu, meski kecewa pada Aldo dia akan tetap memaafkannya, toh lelaki itu juga sudah minta maaf dan menyesali perbuatannya.
"Rupanya dia benar-benar menyesal, semoga dia benar-benar berubah dan tulus meminta maaf dengan alun, tapi sebaiknya untuk saat ini Aluna tidak menemui keluarganya" Regan dengan telaten mengusapkan minyak angin itu ke dada dan telapak kaki istri kecilnya, hingga beberapa saat kemudian perempuan itu sadar.
Eunghh...
"Kak Regan, kita dimana?" tanyanya samar.
"Kita masih diparkiran sayang, pulang aja ya? Besok lagi kita kesini." jawab Regan disertai bujukan. Aluna awalnya ingin menolak, tapi tubuhnya benar-benar lemas. Jadi dia mengangguk.
"Ayo pulang kak." Setelah itu Regan mengambil posisi untuk menyetir, selama menyetir Regan dan Aluna sama-sama diam, tepatnya Regan memberikan Aluna waktu untuk menetralkan perasaannya yang sudah pasti sangat kacau.
Aluna sendiri sibuk mengulik kenangannya bersama sang kakak, Aluna memalingkan wajahnya kekiri, dan tepat saat itu matanya menangkap seseorang berpakaian tertutup yang tengah berdiri sibuk dengan ponselnya.
"Siapa lelaki itu?"Gumam Aluna namun ia tak terlalu memikirkannya ia kembali memejamkan matanya yang terasa berat karena tubuhnya lemas
...TBC...
...Bagaimana part ini? ada yang terkejut?😂...
...pelan pelan aku bakal ceritain misteri misteri yang belum terkuak 🤭...
...Maaf kalo banyak typo bertebaran di sini hihi...
__ADS_1