
Aminah melihat keterkejutan di wajah orang itu. Sampai akhirnya pertanyaan dari Mbak Nana membuat Aminah tersadar.
"Kenapa? Kalian saling kenal, ya?"
Aminah menatap Mbak Nana sesaat, lalu kembali menatap pria itu dengan dada yang bergemuruh.
"Enggak, Mbak." Ucap Aminah sedikit gugup.
'Ada dua hal yang akan terjadi ketika kita dipisahkan dengan seseorang, bertemu sosok baru sebagai pengganti atau bertemu kembali dengan sosok yang sama tetapi dengan pribadi yang lebih baik,' Ucap Pak Haris malam itu, setelah Dani pergi dari kehidupannya.
Di pangkuan Bu Wati, air mata Aminah tumpah tak terkendali, sementara tangan tua Ibu nya itu membelai kepala Aminah lembut. Aminah tahu hati Bu Wati pun terluka saat melihat putrinya terluka seperti itu, tetapi Aminah tak punya pilihan lain selain menangis saat itu.
"Mungkin ia melakukan itu demi baktinya pada Ibunya, jadi malah membuat kalian berpisah. Maka ikhlaskan, Nak. Sekuat apa pun cinta dua insan, jika tanpa restu orang tua tak akan berkah." Ucap Bu Wati.
Mata Aminah terasa panas dan berat, entah sudah berapa lama ia menangis.
"Ke-napa Dani nggak ce-ri-ta apa-apa Bu, ke-napa, Bu? Di-a jahat, Bu," Ucap Aminah di tengah derasnya tangis.
"Mungkin dia punya alasan sendiri kenapa nggak cerita, Nak. Suatu saat nanti mungkin Dani akan ngejelasin semuanya," Balas Bu Wati dengan lembut.
Aminah menggeleng pelan.
"A-ku nggak a-kan per-nah ma-u ke-te-mu, Bu. Aku ben-ci Dani Bu." Ucap Aminah terus terisak.
"Ya sudah nggak apa. Makan dulu, yuk. Noh Bapak nggak mau makan katanya, kalau kamu juga nggak makan." Ucap Bu Wati kala itu mencoba menghibur putri semata wayangnya itu.
Aminah menggeleng lagi.
__ADS_1
"Minum dulu, ya? Nggak capek emangnya nangis terus?" Bujuk Bu Wati lagi.
Lagi-lagi Aminah menggeleng, dengan air mata yang terus mengalir. Sampai akhirnya matanya benar-benar terasa berat dan perlahan terpejam.
Satu pinta Aminah dulu,
'Jika memang semua yang terjadi padaku adalah nyata, tolong biarkan aku terus berada di alam mimpi, Tuhan.'
Tubuh Aminah menegang.
Lima tahun berlalu, Aminah mengira tak akan lagi merasakan getaran yang aneh, tetapi ternyata ia salah, getaran itu masih ada, meski tak sekuat dulu.
"Kenalan dulu kalau gitu."
Ucapan Mbak Nana membuat Aminah memalingkan muka dari pria berkemeja putih dengan lengan pendek yang ternyata sedari tadi ia tatap.
Kata-kata terakhir, Mbak Nana seperti sengaja ia bisikkan di telinga Aminah.
Aminah hanya tersenyum canggung sambil menganggukkan kepala pelan ke arah Dani seolah-olah sebagai tanda salam kenal. Dunia seakan sedang mengajak Aminah bercanda.
'Sejauh apapun aku berusaha menjauh, jika memang ditakdirkan bertemu, aku bisa apa?' ucap Aminah dalam hati.
Sebuah tangan terulur ke arah Aminah secara tiba-tiba dan membuatnya terkejut.
"Dani Setiawan." Ucapnya.
Aminah meremas kedua tangan yang sudah dingin itu secara bergantian.
__ADS_1
'Bagaimana ini? Jangan sampai dia tahu kalau aku lagi cemas.' ucap Aminah dalam hati.
"Udah nggak usah salaman segala," Ucap Mbak Nana sambil menampik tangan Dani.
'Huffh, lega.' Aminah bernapas lega.
"Eh, minta tolong anterin Aminah balik ke toko dong." Ucap Mbak Nana pada Dani.
Jleb!
'Haduh, nggak jadi lega!' pikir Aminah.
"Eh, nggak usah, Mbak. Aku pesan mobil online aja." Tolak Aminah cepat sambil bersiap-siap membuka aplikasi ojek online.
"Jangan dong. Dani udah jinak, kok, nggak gigit dia. Iya, kan?" Ucap Mbak Nana sambil menatap Dani.
"Ha? Eh, iya. Udah divaksin booster juga," Balas Dani yang terlihat jelas kalau tengah salah tingkah.
Mbak Nana tergelak.
"Nggak apa Mbak, aku pesen–"
"Lama nanti harus nunggu lagi, udah pake yang ada aja, tinggal duduk manis. Katanya kasihan Naya kalau sendirian di toko?" Potong Mbak Nana sambil mendorong Aminah pelan ke arah mobil yang Dani tumpangi tadi.
'Aku harus apa?' pikir Aminah.
Bersambung....
__ADS_1