
"Oh gitu, Aminah kasih nomor kamu saja ya." Ucap Bu Aya.
Aminah menatap sekilas Bu Aya, lalu mengangguk patuh.
'Skakmat kamu, Aminah!'
Dani menyodorkan ponsel ke arah Aminah, awalnya ia akan mengetik nomor Naya, tetapi Bu Aya malah menyodorkan brosur toko yang ada nama dan nomornya juga di sana.
"Ini daftar menu toko kami, Nak Dani." Ucap Bu Aya.
'Yah ... percuma kalau bohong.' ucap Aminah dalam hati.
Akhirnya Aminah mengetikkan nomornya di benda pipih milik Dani itu.
"Terima kasih. Nanti aku hubungi kalau mau pesan. Bisa diantar, kan? Deket kok tempatnya," Ucap Dani dengan senyum yang entah apa artinya.
Aminah hanya membalas dengan anggukkan samar.
"Siapa tahu jodoh juga, ya, kan?" Goda Mas Dito yang dibalas dengan tawa Mbak Nana dan juga Bu Aya. "Dia ini memang duda, tapi lihat saja. Dia ini duren, alias duda keren dan dijamin masih orisinil!" Lanjut Mas Dito.
"Sialan." Dani melempar tisu ke arah Mas Dito.
"Belum ada rencana buat cari yang baru, Nak?" Tanya Bu Aya.
"Ada, Bu. Ini juga lagi proses pencarian," jawab Dani yang lagi-lagi membuat Aminah merasa ia tengah memperhatikannya.
"Aminah sendiri, udah ada gandengan belum?" tanya Mas Dito.
__ADS_1
Aminah yang kelabakan dengan pertanyaan itu hanya bisa tersenyum canggung.
"Aminah ini selalu menyibukkan diri dengan kerja, gak pernah tuh saya lihat diantar jemput sama cowok. Ya palingan ojek online." Sahut Bu Aya.
"Wah masih jomblo juga, kebetulan nih. Kayaknya ada yang siap-siap mau PDKT, nih!" Mas Dito memukul tangan Dani pelan.
"Ya gak apa-apa, siapa tahu jodoh, ya, Min. Biar kamu bisa nunjukin itu sama mantanmu, yang udah ngebuat kamu nangis terus dulu. Tunjukkin kalau kamu bisa dapet yang lebih baik dari dia." Ucap Bu Aya.
'Duh, Bu Aya buka kartu!' ucap Aminah dalam hati.
Tepat saat Bu Aya mengucapkan itu, dari ujung mata Aminah menangkap Dani yang tadinya akan menegak minuman soda nya tiba-tiba berhenti, dan tampak pula ia seperti tengah menatap Aminah lagi.
Aminah hanya bisa menelan ludah berat dan pura-pura tersenyum, meski getir.
'Bisa-bisanya gibahin di depan orangnya langsung.' pikir Aminah.
"Tuh, langsung aja datengin orangtuanya, Dan. Cowok itu dilihat dari keseriusannya, bukan cuma janji-janjinya." Kali ini Mas Dito yang berucap.
'Duh, ini kenapa malah jadi bahas ke mana-mana.' ucap Aminah dalam hati.
"Mas Dani, siapa tahu mau nyumbang lagu." Terdengar suara dari arah depan, tepatnya dari band yang sedari tadi menghibur para pengunjung.
Pria di sebelah Aminah yang merasa dipanggil menoleh sejenak, lalu berdiri.
Aminah bergegas mengambil ponsel dan mengirimkan pesan ke Naya.
[Nay, ayo pulang sekarang. Kepalaku pusing!] Tulis Aminah.
__ADS_1
Mereka saling bertatapan setelah Naya membuka pesan dari Aminah. Lantas Naya mengangguk dan bersiap-siap, pun dengan Aminah.
Mereka berpamitan pada Bu Aya serta anak-anak lainnya. Awalnya Bu Aya menahan dan akan mengantarkan sampai rumah nanti, tetapi Aminah menolak dengan alasan sedikit pusing.
'Iya aku pusing gara-gara dekat terus sama mantan!' ucap Aminah dalam hati.
"Nggak nyangka euy ketemu Dani di sini," Ucap Naya saat keduanya berjalan bersisian ke arah pintu keluar.
Namun, tiba-tiba langkah Aminah memelan saat mendengar alunan lagu dengan suara khas dari seseorang.
"Oh mantan kekasihku
Jangan kau lupakan aku
Bila suatu saat nanti
Kau merindukanku
Datang datang padaku..."
Aminah menggeleng kuat-kuat.
'Tidak! Tidak! Jangan lemah hanya gara-gara sebuah lagu, Aminah!' ucapnya dalam hati.
Aminah pun kembali berjalan cepat dengan menggandeng Naya. Namun, langkahnya kembali memelan ketika Dani menyebut namanya.
"Aminah.... izinkan aku memperbaiki semuanya."
__ADS_1
Bersambung.....