Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Akhir


__ADS_3

Aminah dan Rizal sudah memiliki rumah sendiri setelah satu tahun pernikahan mereka dan tak tinggal lagi dengan orang tua mereka. Kini, di rumah mereka yang cukup besar keduanya sudah menjalani kehidupan berumah tangga hanya berdua.


Impian seorang wanita bisa begitu sederhana. Menikah dan menjadi ibu yang seutuhnya. Meski memang ada tanggung jawab dan peran baru di dalamnya, semua itu akan mendatangkan kebahagiaan tersendiri yang penuh berkah.


Dan bagi Aminah, baru setelah 2 tahun lebih menikah ia dikejutkan dengan kabar gembira. Mimpinya akhirnya jadi kenyataan, saat Aminah terbangun pukul 05.00 pagi ia langsung ke kamar mandi dengan membawa alat tes uji kehamilan yang ia beli. Tak disangka hasilnya dua garis merah yang artinya positif hamil. Namun, kabar bahagia itu belum sempat ia katakan kepada sang suami hingga hari ini. Aminah mulai merencanakan sebuah rencana untuk memberitahu suaminya dengan cara yang berbeda.


Di mulai dari pagi ini, saat menata meja makan untuk sarapan pagi. Aminah menambahkan alat-alat makan serba mini. Rizal yang datang ke ruang makan seorang diri hanya bisa heran menatap meja makan yang diatasnya tersaji makanan dengan peralatan makan yang serba mini.


"Kamu lagi suka yang mini-mini ya sayang?" Tanya Rizal memeluk pinggang Aminah yang menyiapkan sarapan untuknya.


Aminah hanya tersenyum.


"Ayo sarapan." Ucap Aminah.


Rizal belum menyadari hal apa yang sebenarnya ingin disampaikan sang istri padanya. Rizal malah terlihat sangat menikmati sarapannya, karena untuk pertama kali setelah satu bulan Aminah mulai bisa terlihat ceria dan bisa menyiapkan sarapan untuknya seperti dulu.


Setelah sarapan, keduanya memilih untuk duduk di ruang keluarga. Menikmati waktu weekend sekedar menonton televisi. Biasanya Aminah akan minta untuk diajak jalan-jalan.


Rizal mulai melihat Aminah dengan tatapan aneh karena ia tengah memakan biskuit untuk bayi.


"Ini, bukannya makanan bayi sayang." Ucap Rizal.


"Iya." Jawab Aminah. "Terus kenapa?" Tanyanya cuek.


"Gak kenapa-kenapa sayang. Cuma heran aja." Balas Rizal.


Aminah tampak cuek dan terus saja mengunyah biskuit bayi itu tanpa menghiraukan tatapan Rizal. Padahal Aminah melakukan semuanya demi memberikan clue kepada Rizal bahwa dirinya tengah hamil. Namun, Rizal belum juga memahaminya.


Siang harinya, Aminah menyibukkan diri di dapur dengan memasak dan membuat camilan. Ia membuat cokelat, dengan bentuk baju bayi, dot dan segala keperluan bayi lainnya. Aminah berharap, suaminya bisa merasakan kalau isi pesan yang ingin Aminah sampaikan jauh lebih manis daripada cokelatnya sendiri.


"Waaahh kayaknya enak nih." Ucap Rizal mulai mencomot satu coklat dengan bentuk baju bayi.


Setelah selesai, Aminah mengajak Rizal untuk duduk di taman samping rumah dekat kolam renang. Disana Aminah sudah menyiapkan suasana ala piknik, dengan menggelar tikar. Terdapat keranjang piknik dengan aneka buah dan cemilan yang tersedia.


"Ceritanya piknik ya sayang?" Tanya Rizal lagi yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Aminah.


Saat Rizal mulai menikmati cemilan yang tersedia, Aminah memberikan Rizal sebuah kotak kado berwarna hitam dengan pita emas.


"Buat aku?" Tanya Rizal.


"Hem." Balas Aminah.


"Aku kan gak ulang tahun sayang." Ucap Rizal.


"Aku ngasih kado kan gak harus saat kamu ulang tahun aja." Balas Aminah.


Rizal terlihat antusias, ia lalu membuka kado yang ternyata diisi Aminah dengan baju, sepatu dan mainan bayi. Wajah Rizal terlihat bingung, ia mengangkat satu persatu isi kado itu lalu menatap Aminah penuh tanya.


"Terus lihat. Masih ada lagi." Titah Aminah.


Rizal mendapat sebuah tes kehamilan yang bertanda positif. Sontak saja Rizal langsung menatap Aminah dengan mata berkaca-kaca.


Aminah hanya bisa tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ini serius?" Tanya Rizal tak percaya.


"Serius. Aku sudah coba memberitahumu sejak tadi pagi. Tapi kamu belum mengerti juga." Jawab Aminah.


Rizal pun mengingat apa saja yang sudah dilakukan Aminah sejak pagi tadi. Mulai dengan sarapan menggunakan alat-alat makan yang kecil, membuat cemilan coklat dengan bentuk aneka peralatan bayi dan memakan biskuit bayi.


"Apa kau tidak membaca tulisan yang ada di baju bayi itu?" Tanya Aminah.


Rizal menggeleng, lalu kembali melihat bahu bayi berwarna abu-abu itu.


'You are going to be a Daddy.'


Sontak saja, Rizal langsung mendekati Aminah dan memeluknya erat. Rizal tak dapat berkata apa-apa, yang ada hanya air mata haru yang mengalir ke pipinya. Untuk pertama kalinya Aminah melihat sosok Rizal yang dikenalnya menangis.


"Terima kasih sayang. Aku sangat bahagia." Ucap Rizal.


Rizal terus memeluk Aminah lalu mencium keningnya lembut.


"Akan seperti apakah dan bagaimanakah nanti diriku sebagai seorang Ayah?" Ucap Rizal.

__ADS_1


"Any man can be a father, but it takes the special someone to be a dad. Pernah dengar quote itu?" Aminah balik bertanya pada Rizal. "Kurang lebihnya berarti bahwa semua pria bisa menjadi Ayah, namun tidak semua bisa menjadi Ayah yang baik untuk anaknya. Dan aku sangat-sangat yakin bahwa kamu akan jadi seorang Ayah yang luar biasa bagi anak kita."


"Sayang, kehadiran bayi di perutmu ini, menjadi sebuah kebanggaan sekaligus bahagiaku juga." Balas Rizal. "Sejak kapan kau mengetahui semua ini?"


"Sudah dari satu bulan yang lalu." Balas Aminah.


"Kenapa kau merahasiakannya?" Tanya Rizal.


"Karena saat itu aku tidak sempat memberitahumu." Balas Aminah.


Rizal lalu menanyakan apa yang diinginkan Aminah. Apakah dia tidak mengidam seperti kebanyakan ibu hamil lainnya. Rizal juga mengingatkan Aminah untuk memberitahu kedua orang tuanya.


"Nanti malam kita pulang ke rumah. Sekalian ngasih kejutan sama Ibu dan Bapak di hari ulang tahun pernikahan mereka." Ucap Aminah.


"Ah, kenapa aku sampai lupa tentang itu. Kalau begitu, kita harus mencari kado yang istimewa buat Bapak sama Ibu." Balas Rizal.


"Tentu." Aminah merangkul leher Rizal lalu mencium bibirnya lembut.


"Aku mencintaimu." Ucap Rizal.


"Aku juga." Balas Aminah.


Bersambung.....


Kehidupan Aminah dan Rizal semakin bahagia setelah kehamilan Aminah. Semua anggota keluarga tak henti-hentinya bersyukur akan kehamilan Aminah. Rizal sendiri semakin berubah menjadi suami yang sangat siaga. Saat memeriksakan kandungan Aminah ke Dokter, ternyata usianya baru menginjak 6 minggu.


Di awal-awal kehamilan itu, tentulah sangat berat bagi Aminah yang pertama kali merasakan kehamilan, apalagi ia sering merasa mual-mual dan muntah hebat hingga tak mau makan. Namun Rizal selalu berusaha untuk membuat Aminah bisa makan.


"Sayang, kalau kamu nya gak makan, nanti baby yang ada disini kelaparan." Ucap Rizal seraya mengelus perut Aminah. "Makan ya, dikit aja." Bujuk Rizal.


"Aku mual, gak suka." Ucap Aminah.


"Terus gimana dong sayang. Masa iya kamu gak makan-makan." Balas Rizal khawatir.


Aminah terdiam.


Rizal kembali berusaha membuat sang isteri agar mau makan walau hanya sedikit. Hal itu terus terjadi hingga bulan ketiga kandungan Aminah.


Di bulan keempat kehamilan Aminah, tiba-tiba Aminah mengalami pendarahan. Aminah pun langsung panik dan memberitahu Rizal. Setelah itu keduanya langsung pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Aminah.


"Kandungan Bu Aminah tidak apa-apa, hanya saja Bu Aminah harus istirahat total dan tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah tangga apapun." Jawab Dokter yang membuat Aminah dan Rizal merasa lega.


Sejak saat itu Rizal tak lagi membolehkan Aminah untuk bekerja, bahkan untuk memasak saja semuanya diserahkan Rizal pada seorang pembantu. Sesekali keduanya mengundang kedua orang tua Aminah untuk menginap di rumah mereka, atau mereka berdua yang akan berkunjung ke rumah orang tua Aminah.


Aminah merasa sangat beruntung karena memiliki suami yang selalu siap menjaga dan membantunya saat ia membutuhkan bantuannya.


...----------------...


Tak terasa kehamilan Aminah menginjak usia 9 bulan, tentu saja saat-saat menegangkan buat Aminah menunggu kelahiran sang calon bayi.


Tibalah hari di mana Aminah siap melahirkan bayinya ke dunia. Diawali dengan ketika ia bangun tidur. Aminah panik karena cairan terus mengalir, langsung saja ia berteriak memanggil Rizal.


"Sayaaaang...." Teriak Aminah.


Rizal yang masih berbaring ditempat tidur, sontak bangun dan berlarian menuju arah suara Aminah yang berada di kamar mandi.


"Ada apa sayang?" Tanya Rizal yang langsung kaget mendapati Aminah yang memegangi perutnya.


"Sepertinya aku akan melahirkan." Ucap Aminah.


Rizal langsung panik, ia berteriak memanggil pelayan yang ada di rumah setelah menggendong tubuh Aminah keluar dari kamar mandi. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Rizal tak lupa menelepon kedua orang tua Aminah dan juga orang tuanya.


Setibanya di rumah sakit Aminah langsung ditangani karena air ketubannya hampir habis padahal ia baru saja pembukaan satu. Dokter lalu memberikan diinduksi agar mempercepat proses kelahiran bayi Aminah. Namun setelah 5 jam berlalu Aminah gagal di pembukaan empat yang artinya tidak maju ke tahap pembukaan berikutnya.


Dokter menyarankan agar Aminah segera dioperasi caesar, Aminah menjadi panik luar biasa karena tidak bisa membayangkan semuanya.


"Sayang, aku takut." Isak Aminah.


"Jangan takut sayang, aku akan selalu ada disamping kamu." Balas Rizal menciumi kening Aminah.


Bu Wati hanya bisa menahan air matanya berusaha menguatkan sang puteri. Ia tahu betul bahwa Aminah sejak kecil sangat tidak menyukai rumah sakit.


Aminah menghela napas panjang, ia hanya bisa berserah diri kepada Tuhan. Yang terpenting ia dan bayinya bisa selamat.

__ADS_1


Saat tiba di meja operasi Aminah semakin merasa sangat ketakutan karena ia hanya dibius setengah badan saja yang artinya ia bisa melihat proses operasi berlangsung. Saat operasi berlangsung Aminah hanya bisa terkulai lemas dan hampir saja putus asa. Takut nyawanya tidak bisa diselamatkan.


Rizal yang setia menemani Aminah terus membisikkan doa ditelinga Aminah dan menyemangatinya.


"Aku mencintaimu sayang, kuatlah. Bertahanlah demi anak kita." Ucap Rizal.


Setelah beberapa saat, semua rasa takut itu sirna ketika Aminah mendengar suara tangisan bayinya. Aminah dan Rizal merasa lega dan bahagia sekali. Namun, Aminah tidak bisa melihat langsung bayinya karena perawat langsung membawa bayinya untuk segera diberi perawatan khusus.


Akhirnya perjuangan Aminah berbuah manis. Operasi berjalan lancar, dan Aminah dibawa keluar ruangan operasi disambut tangis haru orang tua dan mertuanya. Tak lama kemudian perawat membawa bayi Aminah. Semua keluarga yang hadir menyambut bayi laki-laki Aminah itu dengan senyum bahagia.


"Waaahh cucu kita ganteng sekali." Ucap Pak Haris.


Bu Nana dan Pak Deni ikut bergantian menggendong bayi laki-laki yang belum diberi nama itu dengan orang tua Aminah.


"Pak, gak nyangka ya Pak. Kita sudah punya cucu. Ibu sudah jadi nenek-nenek Pak." Ucap Bu Wati.


"Emang dari dulu Ibu sudah kayak nenek-nenek kan." Ledek Pak Haris.


Kedua orang tua Rizal tertawa, mereka sangat bahagia bisa melihat Rizal akhirnya memiliki keturunan.


"Terima kasih atas semua perjuanganmu sayang." Rizal mencium kening Aminah.


Dalam hati, Aminah tak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada Tuhan, yang telah menyelamatkan dirinya dan bayinya. Aminah merasa sedih, karena tidak bisa langsung menyusui bayinya karena ia masih kesulitan untuk bergerak dan belum bisa bangun dari tempat tidur.


Setelah 12 jam berlalu Aminah masih saja kesulitan untuk menyusui karena ia masih kesakitan akibat dari operasi dan belum bisa menggerakkan badannya. Tetapi Aminah tidak pantang menyerah, ia terus berusaha bergerak sedikit demi sedikit dan menyusui bayinya meskipun harus selalu dibantu Rizal atau ibunya.


Aminah merasa begitu bahagia saat pertama kali menyusui bayinya yang tampan, tak bosan ia terus memandangi wajah bayinya seolah tak percaya bahwa ia telah lahir.


...----------------...


Setelah dua hari dirawat, Aminah diperbolehkan pulang. Dari situlah perjalanan Aminah menjadi seorang ibu dimulai. Setelah kondisinya pulih, Aminah bisa merawat bayinya tentu saja dengan masih dibantu keluarganya karena kondisi Aminah masih sangat lemah.


Menjadi Ibu baru tentu sangatlah sulit, merasa stres dan tertekan sering kali menghampiri Aminah. Ia sering menangis sendirian dan emosinya sering tidak stabil. Tetapi beruntung Rizal dan keluarganya selalu ada. Perlahan semua rasa itu menghilang dan mulai terbiasa dengan rutinitasnya sebagai seorang ibu. Apalagi Aminah selalu ditemani malaikat kecilnya yang selalu membuat harinya terasa berwarna.


Bayi kecil Aminah diberi nama Saka. Kehadiran Baby Saka menjadi pelita bagi keluarga kecil Aminah.


Kini, hari-hari Aminah selalu dihiasi oleh tangisan manja dan senyuman dari bibir mungil Saka. Sekarang ia merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia dan menjadi wanita yang seutuhnya yaitu menjadi seorang istri sekaligus menjadi ibu tepat setelah tiga tahun ia menikah.


'Saka adalah kado terindah yang diberikan Tuhan, untukku. Akan ku jaga amanah ini hingga dia besar nanti.'


Menjadi seorang ibu adalah peran seumur hidup yang merupakan pilihan Aminah selain peran-peran lainnya. Menurut Aminah, menjadi seorang ibu adalah peran yang membutuhkan kesiapan mental dan fisik yang prima karena dirinya adalah rumah pertama bagi anaknya di mana harus memiliki fondasi yang cukup kuat untuk dapat menjadi sarana bagi tumbuh kembangnya.


Saka merupakan nama yang Rizal dan Aminah pilih untuk anak laki-laki pertama mereka. Selain menjadi anak pertama, Saka juga adalah cucu pertama di keluarga besar Rizal dan keluarga besar Aminah, betapa ia menjadi kesayangan seluruh keluarga orang tuanya.


Saka adalah penerus keluarga yang pastinya akan mereka persiapkan bagaimana nanti ia menjadi bagian dari keluarga kecil dari kedua orangtuanya, menjadi bagian dari keluarga besar dan nantinya juga menjadi bagian dari masyarakat.


Sebelum menjadi seorang ibu, Aminah adalah pribadi yang cukup individualis dan ketika memutuskan menikah dengan Rizal, Aminah telah memiliki rencana-rencana hanya untuk dirinya dan Rizal. Namun ketika memiliki Saka, pelan-pelan nilai-nilai yang telah Aminah pegang dan pertahankan selama ini berubah. Aminah menjadi lebih terbuka dengan ruang-ruang kompromi, toleransi, tegas, terbuka dan rendah hati. Hal-hal tersebut tentunya tak gampang dan sulit sekali untuk dikelola ditambah dengan keputusan yang Aminah ambil untuk berhenti bekerja dan menjalani peran sebagai full time Mom.


Selalu berada di rumah, mengurus anak, suami dan tetap menjalin tali kekeluargaan dengan keluarga besarnya dan keluarga besar Rizal sebenarnya sama halnya dengan menjalani pekerjaan. Masalah-masalah yang muncul terkadang terlihat sepele namun Aminah belajar untuk menerima bahwa masalah tersebut harus diungkapkan dan harus diselesaikan, karena Aminah percaya dengan prinsip demikian dapat membantu mengantisipasi masalah-masalah yang lebih besar dan hal ini yang akan dipelajari anaknya nanti dalam menghadapi masalah dalam hidupnya.


"Aku masih belum percaya bahwa kita sudah menjadi orang tua." Ucap Aminah saat bersandar di dada bidang Rizal pada malam hari setelah Saka sudah berusia satu bulan lebih.


"Aku bahkan sampai sekarang masih tidak menyangka bahwa aku sudah menikahi kamu." Balas Rizal yang membuat Aminah tersenyum. "Kau tahu, sejak awal bertemu denganmu, aku sudah bertekad untuk menikahi mu."


"Ah, yang benar saja. Saat itu kita pertama kali bertemu di tempat donor darah. Bagaimana mungkin kau bisa berpikiran seperti itu." Ucap Aminah dengan tangan yang melingkar di pinggang Rizal.


"Aku serius. Entah sihir apa yang sudah kau berikan padaku. Hingga sejak saat itu, aku tidak ingin jauh darimu. Aku bahkan rela melakukan apapun, demi bisa berada di dekat kamu." Ucap Rizal.


"Apa memang secinta itu?" Ledek Aminah.


Rizal lalu memegang dagu Aminah dan mengangkatnya agar keduanya bisa bertatapan.


"Jangan pernah tanyakan bagaimana cintaku padamu sayang, karena tidak akan ada yang bisa mengukurnya." Ucap Rizal dengan sorot mata penuh cinta. "Aku sangaaaat mencintaimu sayang." Lanjut Rizal.


Belum sempat Aminah membalas ucapan suaminya itu, Rizal sudah lebih dulu menarik Aminah lebih dekat dan menciumnya.


"Mari, jalani hidup lebih bahagia lagi untuk keluarga kecil kita." Ucap Rizal.


Aminah mengangguk lalu membalas ciuman Rizal.


...----------------...


Keluarga merupakan tempat pertama dari kehidupan seorang anak, Aminah dan Rizal percaya dengan belajar mengatur sebuah keluarga, dapat menjadi landasan untuk dapat mengatur lainnya. Aminah sendiri belajar untuk menerima semua ketidaksempurnaan dan ternyata pilihan saat ini untuk mengurus penuh anaknya dan keluarga sebenarnya merupakan kesempatan Aminah untuk berkembang dan dapat menjadi panutan bagi anaknya, Saka.

__ADS_1


Aminah berharap, Saka akan tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang kuat karena memliki fondasi keluarga yang kuat yang dimulai dari peran kedua orangtuanya.


...TAMAT...


__ADS_2