Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Agenda Honeymoon


__ADS_3

Pagi pun datang...


Rizal kini tampil dengan kemeja motif bunga berwarna biru dan celana pendek lengkap dengan kacamata hitam. Aminah juga sudah berganti pakaian, mengenakan dress pendek berwarna putih dipadukan dengan sepatu sneaker dan topi pantai.


Keduanya sarapan di dalam kamar dengan menu roti panggang dan omelette. Setelah itu, keduanya berjalan keluar hotel menuju pantai yang tepat ada didepan hotel.


Pasir putih pantai membelai lembut telapak kaki Aminah. Nyiur pohon kelapa memberikan keduanya naungan dari terik matahari. Aminah masih belum sekuat manusia-manusia berkulit putih yang berjemur di tepi pantai itu. Aminah masih khawatir kulitnya menghitam, meski mereka justru menginginkan kulit Asia yang eksotis seperti kebanyakan penduduk negeri ini.


Di pinggir pantai, bayangan sepasang lelaki dan perempuan yang tengah berlarian dan bercanda memercikkan air ke tubuh pasangannya, memburam kan pandangan mata Aminah. Kemesraan mereka sungguh membuat Aminah iri.


"Ayo ikut aku." Ajak Rizal tiba-tiba menyodorkan tangannya pada Aminah.


"Kemana?" Tanya Aminah.


"Naik perahu." Balas Rizal sambil menunjuk perahu yang terlihat hanya muat untuk dua orang saja.


Keduanya lalu berjalan menuju perahu kecil kemudian mulai mendayungnya menuju ke tengah laut yang terlihat tenang.


"Sayang, kamu suka gak tempat ini?" Tanya Rizal saat keduanya berada di tengah laut.


"Aku suka banget, makasih ya udah bawa aku kesini." Jawab Aminah.


"Kalau kamu mau aku bahkan bisa bawa kamu kemana aja." Balas Rizal. "Paris, London, New York, Swiss, kemana aja." Lanjutnya.


Aminah tersenyum, "Ke bulan bisa gak?"


Raut wajah Rizal seketika berubah.


"Apa sih yang gak buat istriku yang tersayang." Balas Rizal dengan mencubit hidung Aminah.


"Hahahaha, bisa aja kamu. Aku gak jadi mau ke bulan deh. Nantinya bulannya ngambek karena kalah cantik sama aku." Ucap Aminah.


Rizal kemudian tertawa setelah mendengar ucapan Aminah, begitupun Aminah. Keduanya lantas tertawa bersamaan.


Lelah bermain perahu, keduanya lalu makan siang di sebuah restoran.


Aminah masih dapat merasai aroma khas bumbu daerah tersebut yang menemani sepotong bebek bengil, menu favorit semua orang di restoran itu. Rizal yang memilihkan menu itu, padahal seumur-umur belum pernah Aminah memakan daging bebek.


Awalnya Aminah menolak untuk memakannya karena geli. Tetapi Rizal, dengan paksaan nya yang menghipnotis, mampu membuat Aminah mencicipi daging binatang yang hidup berkelompok dan selalu berisik saat berjalan beriringan itu.


Wajah Rizal begitu puas ketika lidah Aminah mau mengecap daging bebek yang lembut itu. Aminah bahkan melupakan program dietnya yang sudah dua bulan ia kulakukan demi memperoleh tubuh langsing.


"Bagiku, kau tetap cantik walau pipimu menggelembung.” Ucap Rizal.


Aminah tersenyum malu-malu, dan tak terasa sudah memasukkan dua piring nasi ke dalam perutnya.


Setelah makan, keduanya kembali melanjutkan agenda bulan madu, melintasi jalan setapak dari depan restoran menuju ke tepi pantai.


Dari depan restoran itu, keduanya dapat melihat ke arah pantai yang berbeda dengan pantai di depan hotel. Mereka menikmati pemandangan pantai yang romantis. Rizal lah yang memilih tempat ini yang sesuai untuk mengabadikan momen pertama penyatuan cinta mereka.


Rizal mengajak Aminah berjalan di tepi pantai, membiarkan deburan ombak yang tenang membelai jemari kaki mereka. Rizal memegang tangan kiri Aminah, ia menautkan jemari tangan kanannya ke jemari tangan kiri Aminah. Getaran serupa setruman listrik segera menjalari tubuh Aminah.


Aminah masih saja merasakan setruman itu, meskipun keduanya sudah menjadi suami istri sejak satu minggu yang lalu. Aminah masih tak menyangka, seorang lelaki yang ia temui saat terlambat datang ke sekolah itu ditakdirkan untuk menjadi suaminya.


...----------------...

__ADS_1


Malam harinya....


Aminah tengah berbaring di kamarnya setelah selesai mandi, dan menunggu kedatangan Rizal yang entah pergi kemana saat dirinya tengah mandi.


Tok! Tok!


Sebuah ketukan di pintu kamar membuat Aminah beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu. Namun tidak ada siapapun di depan pintu. Aminah mengerutkan dahinya.


Akhirnya ia menyadari didepan pintu kamar ada sebuah mobil remote kontrol yang diatasnya terdapat tanda panah yang bertuliskan 'Follow Me'


Aminah celingukan, menatap kanan dan kiri mencoba mencari sosok Rizal, namun tak di temukan nya.


'Apa ini semua ide Rizal?' Tanya Aminah dalam hati.


Mobil remote control itupun mulai berjalan. Aminah menyusulnya di belakang. Melewati beberapa kamar dan terus mencari keberadaan sosok Rizal.


"Iihh kemana sih dia." gerutu Aminah kemudian kembali menyusul mobil remote control itu.


Setelah beberapa lama berjalan Aminah ternyata digiring menuju pantai yang telah dihiasi lampu-lampu cantik. Lampu tumbler di bentuk menyerupai hati dan terdapat dua buah pasang kursi dan meja yang di atasnya terdapat bunga.


Aminah terkesima melihat semua itu. Tiba-tiba tanpa ia sadari seseorang telah menggenggam tangannya dari samping. Aminah yang kaget, refleks hendak melepaskan tangan itu. Namun saat ia melihat bahwa itu Rizal, ia lantas jadi tersenyum.


"Ayo duduk." ajak Rizal menggandeng Aminah.


Mereka berdua lalu duduk berhadapan.


"Kita mau ngapain disini?" Tanya Aminah.


"Mau dinner romantis." Jawab Rizal.


Rizal menepuk tangannya sekali, seketika beberapa pelayan datang membawa menu makanan mereka. Aminah takjub dengan hidangan yang ada di hadapannya.


Sebuah kolam renang besar menjadi latar pemandangan, tetapi saat itu Aminah hanya bisa memandang wajah Rizal yang juga tak lepas memandang wajahnya.


Kini Aminah menyadari betapa kemesraan itu begitu ia rindukan. Baru 10 hari usia pernikahan, tetapi Aminah merasa sudah banyak perubahan yang terjadi kepada dirinya. Rizal telah menghipnotisnya dengan dominasi dirinya. Aminah tersadarkan, bahwa ia telah kehilangan banyak hal dari dirinya. Aminah merasa menjadi seperti bukan dirinya sendiri. Semua itu karena Rizal.


"Kok bengong? Ayo makan." Ucap Rizal yang melihat Aminah hanya memandangi makanan yang ada dihadapannya.


"Aku gak bisa." Balas Aminah.


"Kenapa? Kamu alergi seafood?" Tanya Rizal.


Menu makanan yang tersaji memang berbagai jenis seafood. Mulai dari kepiting, cumi-cumi dan juga lobster.


"Aku gak bisa makan yang enak seperti ini, kalau gak disuapin sama kamu." Balas Aminah manja.


Rizal tertawa, lalu mulai mengambil sushi dan menyuapi sang isteri tercinta. Agenda makan malam romantis mereka berjalan dengan sangat lancar. Angin malam yang berhembus dan terasa dingin di tepi pantai tak menjadi halangan bagi keduanya untuk berjalan di tepi pantai ditemani deburan ombak dan sinar rembulan yang indah.


Aminah belum sempat meredakan emosi bahagianya saat Rizal tiba-tiba menggendongnya dan membawanya ke dalam arus pantai yang tenang. Ini adalah rasa bahagia yang tak dapat diucapkan dengan kata-kata oleh Aminah. Menyatu dengan Rizal dalam pelukan ombak pantai nan indah.


“Kita akan punya anak setelah pulang dari sini,” bisik Rizal dengan senyum jahil.


Keduanya kembali ke dalam kamar dengan penuh semangat dan gairah yang menggelora. Bercumbu mesra dan saling membuka pakaian dengan tanpa sabar. Tangan Aminah dengan cekatan membuka setiap kancing kemeja yang dikenakan Rizal, lalu beralih pada gesper di celananya.


Begitu juga dengan Rizal, ia terlihat sangat buru-buru membuka pakaian yang menutup tubuh Aminah. Saat tak ada lagi penghalang diantara tubuh keduanya, Rizal membaringkan tubuh Aminah diatas tempat tidur dengan lembut dan penuh kemesraan. Mulai menciumi setiap inci tubuh Aminah dengan lembut, membuat Aminah mengeluarkan suara yang selalu dianggapnya menjijikkan.

__ADS_1


Rizal benar-benar memperlakukan Aminah dengan sangat romantis. Perlahan Aminah mulai terbiasa dengan sentuhan yang Rizal lakukan pada tubuhnya. Napas Rizal terdengar memburu saat ia mulai mencium telinga Aminah.


"Bisakah kau mematikan lampu?" Ucap Aminah.


"Kenapa?" Tanya Rizal.


"Aku malu." Balas Aminah.


"Aku justru suka melihat wajahmu yang malu-malu. Dan jika aku mematikan lampu, maka aku tidak bisa melihat ekspresi mu yang menggemaskan ini." Ucap Rizal.


"Tapi..."


Rizal kembali mencium Aminah dengan lembut.


"Untuk apalagi kau malu sayang. Aku suamimu, dan kau bebas mengekpresikan dirimu. Oh ya, jangan menahan suaramu agar tak keluar. Disini tak akan ada yang mendengarkan suaramu. Meski kau berteriak sekalipun." Ucap Rizal lagi. "Satu hal lagi, jangan berpikir bahwa suara yang keluar dari bibirmu itu menjijikkan. Aku justru sangat menyukainya."


'Apa-apaan dia ini? Bagaimana bisa dia mengatakan hal yang semakin membuatku malu.' ucap Aminah dalam hati.


Rizal lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka dan dengan perlahan ia mulai menyatukan tubuh mereka berdua.


Sungguh, Aminah tak dapat mengatakan betapa bahagianya ia selama dua malam ini karena akhirnya bisa menyerahkan seluruh raganya kepada pria yang sangat mencintai dirinya. Air mata Aminah menetes hingga jatuh ke bantal.


Rizal yang melihat Aminah menitikkan air mata, menghentikan aksinya.


"Kenapa menangis? Apa aku terlalu kasar? Kalau kau merasa tidak nyaman, aku hentikan saja." Ucap Rizal.


"Tidak. Bukan begitu, aku hanya begitu bahagia." Balas Aminah.


Rizal tersenyum lalu mencium tepat di mata Aminah.


"Jangan pernah menitikkan air mata lagi." Ucapnya.


Aminah berinisiatif mencium Rizal dan diapun membalas ciuman Aminah. Rizal lalu membenamkan wajahnya di dada Aminah. Hingga akhirnya mereka mencapai puncak kenikmatan. Tubuh Aminah bergetar, Rizal selalu bisa membuatnya merasakan sensasi yang luar biasa. Malam ini Rizal benar-benar membuatnya merasakan kenikmatan itu hingga tubuhnya lemas tak bertenaga.


Setelah beberapa saat, Aminah bangun dan beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu ia mematikan lampu kamar mandi yang dari tadi masih dibiarkan menyala. Lalu mematikan lampu kamar tempat mereka memadu cinta. Aminah berbaring di tempat tidur, menghela napas, menghirup wangi pengharum ruangan di kamar. Ia bersiap memulai pernikahan yang sesungguhnya. Pernikahan seumur hidup bersama pria yang mencintainya dan juga akan ia cintai selamanya.


“Rizal…” Aminah memanggil, seraya mengusap wajah suaminya.


Grook…grooook…


Rizal terdengar mendengkur. Dia tertidur karena kelelahan, membuat Aminah tertawa kecil. Aminah juga merasa mengantuk. Ia kembali mencium pipi suaminya itu, lalu merebahkan kepala di dada lelaki itu sambil memeluknya. Dengkuran dan detak jantung Rizal terdengar sangat jelas.


Dengkuran dan detak jantung ini yang akan didengar Aminah seumur hidup di telinganya. Melodi yang lebih indah dari lagu-lagu yang diputar di bar tadi.


'Dan janji kita pada Tuhan adalah pernikahan yang sesungguhnya.'


"Aku mencintaimu Rizal." Ucap Aminah.


Tanpa disangka, Rizal malah membalas Ucapannya seraya mencium pucuk kepala Aminah.


"Aku juga mencintaimu Aminah." Ucap Rizal dengan mata yang terpejam.


Aminah memeluk Rizal dengan erat, seolah tak ingin melepaskannya.


"Tidurlah sayang. Jika tidak, aku akan melakukannya lagi."

__ADS_1


Aminah tersenyum, lalu memejamkan maTanya dan perlahan tertidur.


Bersambung......


__ADS_2