Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Malam Pernikahan


__ADS_3

Pagi harinya, keduanya terbangun dengan tubuh yang rileks dan sudah bertenaga. Pagi-pagi sekali Rizal sudah menelepon pihak hotel untuk bertemu dengan sang Manager hotel. Rizal meminta Manager hotel untuk datang ke kamar yang ditempatinya.


"Untuk apa kamu meminta mereka untuk kemari?" Tanya Aminah yang tengah menikmati sarapannya di teras kamar hotel yang langsung menghadap ke sebuah taman itu.


"Aku mau komplain." Balas Rizal seraya menyeruput coklat hangat.


"Apa kamu yakin?" Tanya Aminah lagi. "Nanti kamu sendiri yang akan malu." Lanjut Aminah.


"Kenapa harus malu? Justru mereka yang harus malu karena...."


Belum selesai Rizal berbicara, seorang pria mengenakan setelan jas warna hitam dan dua orang pelayan masing-masing seorang pria dan wanita berdiri dihadapannya.


"Selamat pagi Pak Rizal. Ada yang bisa saya bantu?" Ucap pria yang merupakan Manager hotel itu gugup.


"Masuk lah ke dalam dan lihat sendiri bagaimana bobroknya tempat tidur yang kalian sediakan." Ucap Rizal.


Ketiga orang yang berdiri dihadapan Rizal terlihat bingung. Sekilas mereka melirik ke arah tempat tidur yang terlihat jelas dari teras karena pintu yang terbuka.


'Ada masalah apa sebenarnya? Bukankah tempat tidurnya terlihat baik-baik saja.' pikir Manager hotel.


"Kenapa masih berdiri disini. Segera ganti tempat tidur rusak itu." Ucap Rizal lagi.


"Ma-maaf Pak. Tapi, tempat tidur itu terlihat baik-baik saja. Apa..."


"Baik dari mananya. Tempat tidur itu sudah patah." Ucap Rizal santai. "Segera ganti dengan yang baru." Lanjut Rizal lagi.


Mata ketiga orang yang berdiri dihadapan Rizal itu membulat sempurna saat Rizal menyebutkan kata patah. Sang Manager hotel memerintahkan pelayannya mulai bekerja. Tak lama datang dua orang pelayan yang lainnya. Sementara Rizal dan Aminah hanya duduk di teras fokus menikmati sarapan mereka.


"Maaf atas ketidaknyamanan ini Pak. Saya akan menggantinya dengan yang baru." Ucap Manager hotel kemudian berlalu saat Rizal mengangguk pelan.


Dari dalam kamar, terdengar para pelayan yang berbisik-bisik.


"Waah, malam pertamanya pasti heboh makanya sampai kayu dipan yang terbuat dari jati saja bisa patah." Ucap salah seorang pelayan pria.


"Namanya juga malam pertama. Pasti haus." Balas pelayan pria yang lainnya.


"Huss... Pelan kan suara kalian, nanti di dengar loh." Ucap pelayan wanita.


Wajah Rizal tampak memerah, sementara Aminah terlihat menahan tawa.


"Sudah selesai sarapannya?" Tanya Rizal pada Aminah. "Ayo cepat kita pulang saja." Lanjut Rizal.


Aminah ikut saja, saat Rizal berjalan meninggalkan teras kamar hotel. Keduanya bertemu dengan Manager yang tampak tengah berjalan bersama beberapa pelayan lainnya yang membawa tempat tidur baru.


"Pak Anda...."


"Aku mau pulang." Potong Rizal. "Minta pada pelayanmu untuk mengemas pakaian istriku dan antar ke alamat ini." Lanjut Rizal kemudian menggandeng tangan Aminah pergi.


Manager hotel berdiri mematung dan semakin bingung tentang apa yang tengah terjadi.


...----------------...


Tiba di rumah, Rizal dan Aminah disambut oleh Pak Deni dan juga Bu Nana orang tuanya. Rizal memang membawa Aminah pulang ke rumahnya lebih dulu.

__ADS_1


"Waah pengantin baru sudah pulang saja. Ibu pikir kalian butuh waktu lebih untuk berduaan." Goda Bu Wati.


"Hmmmm...." Balas Rizal singkat kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tamu.


"Ayo sayang, ikut Ibu ke ruang keluarga. Berhubung kalian sudah pulang, malam nanti kita adakan makan malam keluarga besar di rumah ya." Ucap Bu Nana seraya menggandeng tangan Aminah.


"Terserah Ibu saja." Balas Rizal malas.


Bu Nana dan Aminah berjalan menuju ruang keluarga, sementara Rizal, dan Pak Deni memilih duduk berbincang di ruang tamu.


"Bagaimana tadi malam?" Tanya Pak Deni dengan nada menggoda.


"Bagaimana apanya?" Rizal balik bertanya.


"Ya malam pertama." Balas Pak Deni.


"Gak terjadi apa-apa. Karena kelelahan kami milih tidur." Ucap Rizal.


Pak Deni pun terbahak.


"Hahahahaha...."


Rizal tak menghiraukan Pak Deni yang menertawainya. Yang ada dalam pikiran Rizal adalah para pelayan yang tengah membicarakannya.


"Aaarrrgghh..." Teriak Rizal tiba-tiba dengan wajahnya yang memerah kemudian memilih bangun dan berjalan ke kamarnya.


"Ada apa dengannya?" Ucap Pak Deni. "Hah, mungkin kesal karena tidak bisa malam pertama." Lanjut Pak Deni yang kembali tertawa.


...----------------...


Hari masih tidak terlalu malam saat satu persatu anggota keluarga Rizal undur diri. Keluarga yang hanya sedikit semakin mempercepat proses dari ramai menuju sepi. Tapi tidak benar benar sepi. Masih terdengar suara-suara dari arah ruang keluarga. Kadang mereka kompak tertawa bersama.


'Entah apa yang mereka tertawa kan.' Ucap Aminah dalam hati.


Sesekali Rizal mencuri pandang, menyapu wajah Aminah hanya dalam satu kali lirikan. Rizal tahu, Aminah pun melakukan hal yang sama. Ya benar, ini memang waktu yang tepat bagi sepasang pengantin baru untuk diam-diam saling memperhatikan.


Di saat yang lain mengobrol, keduanya saling memandang dan melempar tanya, kemudian menahan tawa. Semakin ditahan semakin membuat bibir keduanya tak kuasa mengeluarkan instrumen, jadinya malah mirip ringkikan seekor kuda.


Bu Nana yang kebetulan sedang melintas spontan bertanya, “Ada apa Nak?.”


Kata kata itu hanya membuat wajah Rizal dan Aminah berubah menjadi merah padam.


“Loh, ayo ini pengantinnya istirahat dulu, kok malah begadang.” Ucap Pak Deni


Rizal mengangguk dan melempar senyum.


“Ayo kita ke kamar.” Ucap Aminah.


Lagi lagi Rizal tersenyum, malam ini Rizal benar-benar murah senyum dan membalas ucapan Aminah.


“Iya sayang, kamu duluan aja, nanti aku menyusul.” Balas Rizal.


Tak lama kemudian Aminah beranjak dan melangkah menuju kamar yang ternyata sudah dihias sedemikian rupa untuk keduanya.

__ADS_1


'Sejak kapan, kamar ini didekorasi?' Tanya Aminah dalam hati.


Sementara Rizal, hanya bisa duduk bersama anggota keluarga lain yang masih belum pulang.


'Ah, seharusnya tadi aku mengikuti saran mu.' batin Rizal.


Dan di sinilah Rizal sekarang, di ruang keluarga. Ada banyak hal yang mereka perbincangkan, tapi dalam otak Rizal begitu sulit meremote dan menggerakkan kedua kaki. Padahal hati kecilnya sudah mengirimkan pesan pada otak.


“Nak, istirahat dulu," kali ini anjuran dari Bu Nana, tidak di sia-siakan Rizal.


Rizal segera bangkit dan menyusul Aminah ke kamar. Butuh keberanian ekstra untuk melangkah, sungguh entah kenapa kali ini Rizal menjadi semakin gugup.


Sesampainya di dalam kamar, Rizal menjumpai dua keindahan. Selain senyum Aminah yang teramat manis, ada juga dia mendapati kain sprei warna ungu muda mengkilat. Perpaduan yang sempurna. Aminah masih tersenyum saat Rizal mendekat. Sayangnya, Rizal tidak bisa berlama lama di dalam kamar. Rizal lebih memilih kembali keluar kamar dan bergabung dengan anggota keluarga yang masih berkumpul di ruang keluarga.


'Ada apa denganku? Bukankah aku yang sejak kemarin ingin berduaan dengannya?' Rizal membatin.


Awalnya gelisah, lama-lama Rizal merasa nyaman ada diantara keluarga.


Pukul dua belas malam.


“Istirahat dulu Nak..” Ucap Bu Nana lagi seraya menepuk pundak Rizal.


"Iya. Sana temani istrimu." Sambung Pak Deni.


Rizal lalu beranjak dan pamit pada anggota keluarga yang masih bertahan begadang. Semuanya tersenyum simpul. Senyum yang aneh, tapi tidak ada waktu bagi Rizal untuk memikirkannya.


'Kali ini aku benar benar merindukan kain sprei warna ungu muda mengkilat itu.' Ucap Rizal dalam hati.


Sesampainya di kamar, Rizal terkejut. Ternyata Aminah masih terjaga. Tidak seperti sebelumnya, bibir Aminah tak lagi membentuk perahu tampak samping. Kali ini Rizal hanya mendapati bibir yang kedua ujungnya melengkung ke bawah.


"Hmmm, ternyata kau menungguku." Ucap Rizal seraya berjalan mendekati Aminah.


Rizal duduk lalu memeluk Aminah dari belakang. Aminah merasakan dadanya semakin berdebar.


"Lepasin aku." Ucap Aminah.


Rizal tak menggubris ucapan Aminah. Ia malah semakin mengeratkan pelukannya, lalu mencium tengkuk Aminah. Aminah menggeliat karena geli.


Rizal kembali menciumi tengkuk Aminah lalu melanjutkan ke lehernya. Kemudian ia membisikkan sebuah kalimat di telinga Aminah.


"Kau milikku malam ini."


Darah Aminah terasa berdesir, ia merasakan tubuhnya panas dingin.


Rizal perlahan memegang dagu Aminah agar bisa memandangnya. Keduanya duduk di pinggir tempat tidur. Aminah memandang ke arah lain, ia tak berani melihat ke arah Rizal. Tingkah Aminah semakin membuat Rizal gemas.


Rizal kemudian dengan perlahan membuka ikatan rambut Aminah. Rambut Aminah yang panjang seketika terurai menutupi punggungnya.


Dengan perlahan Rizal membuka kancing pakaian yang dikenakan Aminah, membuat punggung putih Aminah terlihat jelas. Rizal kemudian menciumi punggung itu lembut.


Dan cicak-cicak di dinding pun berdecak. Seperti sedang turut merayakan kebahagiaan keduanya yang akhirnya bisa menikmati malam pertama di kamar pengantin mereka.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2