
Setelah wanita yang mengaku sebagai istri dari Dani itu pergi, Aminah hanya bisa berbaring di depan televisi. Dia tak habis pikir, bagaimana wanita itu bisa mengetahui alamatnya dan bahkan mengetahui tentang dirinya.
'Apa jangan-jangan dia terus mematai ku?' pikir Aminah.
Aminah mulai merasa suntuk tiduran saja di rumah. Ia kemudian memutuskan untuk keluar rumah menuju warung yang tak jauh dari rumahnya.
"Eh, Aminah. Tumben jam segini ada di rumah. Biasanya juga kerja. Mau kemana?" Ucap seorang wanita bernama Bu Luluk, yang sering dipanggil Aminah dengan sebutan Bu Luk itu.
Baru saja Aminah berjalan, langsung merasa jadi pusat perhatian ibu-ibu yang sedang duduk di warung yang tak jauh dari rumahnya.
"Mau ke warung Bu Luk." Jawab Aminah santai sambil berjalan ke arah warung, yang hanya berjarak beberapa meter dari rumahnya.
"Beli apa tuh?" Tanya wanita bernama panjang Bu Sukmawati itu terlihat kepo, namun Aminah lebih sering memanggilnya dengan sebutan Bu Suk.
"Mau jajan Bu Suk." Jawab Aminah lagi.
"Ngomong-ngomong kamu itu cantik Minah, tapi sayang gak ada yang mau." Kali ini giliran Bu Rika, tapi Aminah lebih sering memanggilnya Bu Rik yang berucap.
Setelah berucap seperti itu itu Bu Rik terkekeh bersama dua temannya, yang tak lain adalah tetangga di kompleks tempat tinggal Aminah itu.
Aminah hanya tersenyum tipis, lalu masuk ke warung dan membeli beberapa makanan ringan. Sambil menunggu kembalian, Aminah memainkan kacang tanah kupas yang ada di baskom dan dijual perkilo itu.
"Nih, Minah." Ucap Bu Setyaningsih, wanita yang biasa dipanggil Aminah dengan sebutan Bu Set sang pemilik warung menyodorkan uang kembalian pada Aminah. "Udah, jangan digubris ibu-ibu itu, mereka kerjaannya emang gitu. Suka gibahin orang, Tuyul aja di gibahin apalagi anak perawan kayak kamu." Lanjut Bu Set.
__ADS_1
Aminah tersenyum tipis lalu berpamitan.
"Mari Bu Suk, Bu Luk, Bu Rik." Ucap Aminah tak lupa berpamitan juga pada emak-emak trio rumpi tadi.
Ketiga emak-emak itu tampak manyun setiap kali Aminah menyebut nama mereka seperti itu.
Aminah berjalan cepat dan segera masuk ke dalam rumah. Setelah itu langsung berlarian ke kamar sambil membawa aneka makanan ringan yang dibelinya tadi dan mulai menyalakan laptopnya untuk menonton drakor favoritnya.
Baru saja menatap layar laptopnya yang menampilkan adegan pemain drakor tengah memakan mie pedas. Aminah seketika menekan tombol pause, dan segera berlari kembali menuju warung.
"Belanja lagi, Minah?" Tanya trio rumpi itu pada dirinya.
Aminah menjuluki mereka trio rumpi, karena sering sekali nongkrong di warung itu.
Padahal dalam hatinya ingin bilang 'Iya, kenapa? Iri? Huh? Sini maju, aku mundur!'
"Padahal umur sudah matang, cantik dan baik. Tapi kok belum kawin juga?" Pertanyaan berbau mengejek mulai tercium dengan sempurna.
Setan dalam diri Aminah berbisik,
'Tampol aja Aminah, tapi bayangan malaikat pencabut nyawa terngiang di otak. Takutnya pas lagi nampol, nyawaku dicabut.'
"Mungkin belum ada yang cocok saja. Iya, kan, Minah?" Ucap Bu Set.
__ADS_1
'Bu Set memang selalu adem kalau ngomong, persis kayak kang es krim yang lewat siang-siang.' batin Aminah.
Aminah melihat ada yang monyong tapi bukan bebek.
Setelah membeli sebuah mie pedas cup, Aminah bergegas masuk kedalam rumah. Akhirnya setelah mie di seduh, Aminah memilih masuk saja ke kamar untuk kembali menonton drakor.
...----------------...
Siang harinya Bu Wati kembali ke rumah membawa sekantung belanjaan namun bergegas kembali lagi ke rumah Bu Mila, ibunya Naya yang lagi-lagi disebut dengan nama Bu Mil oleh Aminah. Aminah memang gadis yang periang sejak dulu dan memang suka menyingkat nama orang sembarangan.
Dia wanita yang selalu ceria setiap harinya dan membuat semua orang tertawa dengan tingkah laku dan candaan yang dia buat. Tapi setelah perpisahannya dengan Dani yang terjadi dengan begitu terpaksa, membuatnya menjadi wanita yang berbeda. Dia menjadi wanita yang jauh lebih pendiam, berbanding terbalik dengan dirinya yang dulu.
"Bu, katanya buat rendang? Taruh di mana rendangnya? Aku cari-cari kom nggak ada?" Tanya Aminah di telepon, saat mencari rendang di dapur dan kulkas tapi tak tampak sama sekali.
"Siapa yang bilang buat soto, Nak?" Ucap Bu Wati balik bertanya.
"Bukannya Ibu? Tadi sebelum balik ke rumahnya Bu Mil, Ibu bilang kalau buat rendang." Ucap Aminah.
"Oh, itu Ibu hanya mimpi Nak. Jadi semalem tuh, Ibu mimpi kalau lagi buat rendang yang dagingnya itu dikasih sama Chef Juna, tadi Ibu belum selesai ngomong keburu cepat-cepat jalan ke rumah Bu Mila." Balas Bu Wati.
"Oh Tuhan, begini nikmatnya di-prank emak-emak." Ucap Aminah.
Bu Wati hanya bisa terbahak dari seberang telepon.
__ADS_1
Bersambung....