Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Nasehat Dari Pak Ojol


__ADS_3

Saat asik bercerita, tiba-tiba motor milik Pak ojol itu mendadak oleng.


"Sepertinya bocor." Ucap ojol itu pada Aminah.


Ojol itu segera menepi dan Aminah segera turun. Benar saja, ban belakang motor tua itu tampak kempes. Ojol itu menawarkan Aminah untuk memanggil ojek online lain saja, tetapi Aminah menolak.


Dengan senang hati Aminah membantu mendorong motor itu sampai bertemu kios tambal ban.


Sambil menunggu, Aminah mengajak ojol itu minum es kelapa yang berada di samping kios tambal ban.


Awalnya Bapak itu menolak, namun Aminah memaksa. Hingga akhirnya Bapak ojol itu menyerah karena Aminah yang terus memaksanya.


Aminah pun tersenyum setelah Bapak itu menerima tawarannya. Keduanya lalu bicara banyak.


"Melihat kamu kemarin, Bapak langsung ingat anak Bapak yang sudah meninggal. Dia begitu sedih saat ditinggal suaminya yang menikah lagi dengan wanita lain lalu pindah ke provinsi lain. Setelah itu kemudian mereka bercerai. Dia menjadi begitu terpuruk. Sejak saat itu Bapak selalu ada disampingnya. Berusaha menenangkan dia, mencari nafkah untuk menyambung hidup kami berdua, karena Ibu nya juga sudah lama sekali meninggal." Tutur Bapak Ojol yang diketahui Aminah bernama Pak Parman itu.

__ADS_1


Aminah tampak fokus mendengarkan setiap ucapan yang dikatakan Pak Parman.


"Maut dan jodoh itu berdampingan, Nak. Siapa yang lebih dulu datang cuma Allah yang tahu." Lanjut Pak Parman.


"Apa anak bapak sebelumnya gak ada niatan untuk menikah lagi?" Tanya Aminah penasaran.


Kepala yang kini berambut sudah beruban itu menggeleng dengan senyum tipis.


"Katanya dia saat itu masih susah untuk melupakan mantan suaminya. Padahal waktu itu sudah sampai 5 tahun berlalu. Anak Bapak masih saja mencintai mantan suaminya itu." Ucap Pak Parman.


Aminah menghela napas berat, ia jadi teringat kisahnya dan Dani. Bedanya, anak Pak Parman tidak lagi bisa bertemu dengan orang yang dicintainya, karena maut lebih dulu menjemputnya. Sementara Aminah sendiri masih bisa bertemu dengannya meski harus menahan sesak di dada.


Aminah hanya tersenyum tipis, lalu mengaduk es kelapa dengan sedotan.


"Kehilangan cinta itu memang tidak enak Neng. Tapi lebih tidak enak lagi kalau kita kehilangan kesempatan untuk bersyukur." Pak Parman yang duduk di depan Aminah sedikit membenahi letak duduknya. "Akan ada saatnya, manusia harus dipaksa kuat oleh keadaan, dan melepaskan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kita lepaskan dalam hidup. Seperti Bapak yang harus melepaskan istri Bapak lebih dulu, kemudian kembali disusul oleh anak semata wayang Bapak." sambung Pak Parman tersenyum.

__ADS_1


Aminah mendengarkan dengan seksama ucapan Pak Parman..


"Kuncinya cuma satu, yaitu ikhlas. Ikhlas menerima apa yang sudah terjadi dan percaya kalau semua ini memang sudah takdir dari Allah. Coba berdamai dengan masa lalu, sepahit apa pun itu, Neng." Ucap Pak Parman lagi.


"Agak susah, sih Pak. Walau sudah dikit-dikit mencoba berdamai dengan masa lalu, tetap saja nyesek kalau keinget." Ucap Aminah akhirnya bicara.


"Sebelum menyambut masa depan, memang ada baiknya kita selesaikan dulu masa lalu jika belum tuntas, Neng. Kalau kata bahasa anak muda zaman sekarang, move on gitu." Ucap Pak Parman mencoba membuat Aminah tersenyum


Aminah hanya tersenyum tipis.


"Caranya, ya dengan mecoba kuat dan baik-baik saja jika seandainya masa lalu itu datang lagi ke masa sekarang. Hadapi dan buktikan kalau kita ini kuat, sekuat superman atau spiderman. Liat sekarang, meski hidup sebatang kara, Bapak tetap berusaha kuat. Meski jujur cinta dan rasa rindu ini tetap ada di dalam hati. Namun Bapak ya tidak mungkin memaksakan kehendak. Apapun itu, Bapak akan selalu doakan yang terbaik buat kamu." Ucapan Pak Parman.kyp


Aminah tertawa kecil dan membenarkan ucapan Pak Parman.


"Makasih ya Pak." Ucap Aminah.

__ADS_1


Pak Parman mengangguk dengan tersenyum.


Bersambung.....


__ADS_2