Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Dilamar


__ADS_3

Pernikahan Naya dan Anto pun berlangsung setelah ada begitu banyak drama yang terjadi.


Aminah turut bahagia melihat kebahagiaan di wajah sahabatnya itu. Dia bahkan tak sanggup menahan air maTanya agar tak jatuh saat melihat ijab qabul yang diUcapkan Anto.


Semua tamu yang hadir bahkan ikut meneteskan air mata karena Naya yang sebenarnya sangat berharap bisa dinikahkan oleh Bapak kandungnya. Tapi apalah daya karena Bapak kandungnya sudah meninggal sejak lama.


Saat resepsi pernikahan berlangsung, semua sahabat kerabat turut hadir. Bu Aya datang bersama putranya Rendi yang juga turut membawa kekasihnya Sherly. Sementara Dani datang seorang diri.


Aminah sendiri menggandeng Rizal. Awalnya ia berhubungan dengan Rizal hanya untuk membuat Dani menjauh darinya dan Maya, mantan istri Dani juga percaya bahwa dia sudah tak lagi ingin kembali pada Dani.


Namun seiring berjalannya waktu, hubungan keduanya semakin dekat bahkan terkesan lebih serius.


Aminah sudah tak keberatan lagi saat Rizal memanggilnya dengan sebutan sayang di depan siapapun. Keduanya juga sering jalan bersama, sekedar untuk mencari makan di warung angkringan pinggir jalan.


Dani sendiri, saat melihat hubungan Aminah dan Rizal yang cukup dekat awalnya ia begitu cemburu dan tak rela melepaskan Aminah begitu saja. Tapi setelah melihat senyuman yang selalu ada dibibir Aminah setiap kali ia bersama Rizal, perlahan Dani mulai ingin merelakan Aminah untuk orang lain jika memang hal itu yang bisa membuat Aminah bahagia.


...----------------...


Hari ini, Aminah tengah menemani Bu Wati pergi ke pasar untuk berbelanja.


"Bu, kenapa sih harus ngajak aku ke pasar segala. Biasanya juga sendiri kan." Ucap Aminah sembari mengendarai motor maticnya melaju ke pasar.


"Ya, sekali-kali kamu harus keluar rumah dong di hari libur kayak gini? Masa mau diem bae. Apalagi sekarang kamu kan lagi gak ada kerjaan. Lebih baik ikut ibu, nyapa ikan-ikan sama ayam yang ada di pasar " Balas Bu Wati.


"Serah ibu aja." Ucap Aminah.


Motor Aminah tiba-tiba berhenti karena lampu merah. Seorang anak kecil kemudian mendekati Aminah dan memberikannya setangkai mawar dan sebuah kertas.


"Berapa Dek?" Tanya Aminah.


"Gak dijual Kak, ini khusus buat Kakak." Ucap bocah perempuan yang mengenakan kaos berwarna pink itu.


Aminah lalu membaca isi kertas yang diberikan bocah tersebut.


'LIHAT PAPAN REKLAME'


Dahi Aminah mengernyit, ia kemudian melihat ke arah papan reklame besar yang ada di seberang jalan di hadapannya.


Terdapat gambar Aminah yang tersenyum mengenakan gaun warna putih. Di bawah gambar Aminah terdapat tulisan, 'I Love You Aminah.... Datanglah ke Taman Bermain'


"Orang iseng pasti nih, atau itu bukan ditujukan padaku melainkan orang lain yang kebetulan aja namanya juga Aminah." Ucap Aminah.


"Kenapa Nak?" Tanya Bu Wati pura-pura tak tahu.


"Noh Bu, lihat papan reklame di depan sana, ada namaku." Jawab Aminah.


"Ya udah ayo kita ke Taman Bermain, siapa tau ada door prize buat kamu." Bujuk Bu Wati


"Door prize bagaimana? Orang aku gak ngelakuin apa-apa. Salah orang kali Bu." Ucap Aminah lagi.


"Udah, kesana aja. Siapa tau rezeki kamu. Kalaupun salah orang, kenapa anak itu ngasihnya ke kamu coba?" Tanya Bu Wati lagi.


"Iya sih, tapi kan....."

__ADS_1


"Udah buruan, kita gak tau ada apa disana. Toh gak disuruh ke kuburan kan, ngapain takut." Ucap Bu Wati, lagi-lagi berusaha membujuk Aminah.


"Bukannya ibu mau ke pasar?" Tanya Aminah.


"Urusan pasar bisa belakangan. Kita harus ke Taman Bermain dulu, siapa tau dapat durian runtuh." Jawab Bu Wati


"Kalau dapat durian runtuh, sakit dong Bu." Kelakar Aminah.


"Udah, udah, jalan cepetan. Noh lampunya udah ijo. Sehijau daun pisang di kebun Pak Ali." Celetuk Bu Wati


Aminah menggeleng-geleng, namun tetap menuruti keinginan Ibu nya meski sebenarnya ia merasa malas.


...----------------...


Tiba di pintu masuk Taman Bermain, Aminah disambut iring-iringan badut berukuran besar. Aminah memarkirkan motornya, kemudian berjalan masuk bersama ibunya setelah di kawal dua orang wanita berpakaian peri.


"Ini sebenarnya ada apa ya Bu?" Tanya Aminah.


"Gak tau." Jawab Bu Wati berusaha menahan tawa.


Ada banyak pengunjung yang datang berjalan lalu lalang. Saat Aminah berada di tengah kerumunan orang, tiba-tiba beberapa orang berpakaian ala kerajaan menari dihadapan Aminah.


Seorang perempuan memegang tangan Aminah dan memintanya duduk disebuah kursi singgasana yang tiba-tiba sudah ada di tengah kerumunan orang.


Aminah duduk dan diberi mahkota, lalu datang seorang anak kecil kembali memberikan Aminah buket bunga mawar merah berukuran besar dan balon berbentuk hati.


Lagu Bruno Mars 'Marry You' terdengar lantang di putar.


Semua orang yang berpakaian kerajaan menari sesuai dengan iringan lagu yang terdengar. Para pengunjung menatap Aminah yang terlihat kebingungan.


Ditengah kebingungan, mata Aminah menangkap sosok bapaknya, Pak Haris dan ibunya Bu Wati, berjalan beriringan masing-masing membawa setangkai bunga mawar dan balon hati bertuliskan nama Aminah.


Kedua orang tuanya mendekati Aminah dan memberikan bunga serta balon, seraya mencium pipi Aminah.


"Bapak, Ibu ada apa ini?" Tanya Aminah. "Aku kan lagi gak ulang tahun."


"Tunggu dan lihatlah sayang." Jawab Bu Wati.


Dua orang kembali berjalan ke arah Aminah. Kali ini Naya dan Anto, melakukan hal yang sama dengan Pak Haris dan Bu Wati. Keduanya juga membawa balon dan bunga mawar merah, kemudian memberikannya kepada Aminah lagi.


Hal yang membuat Aminah semakin tak percaya adalah sosok orang tua Rizal yang hanya pernah dilihat Aminah melalui video call saja saat pertama kali Rizal memperkenalkan Aminah dengan kedua orang tuanya. Kedua orang tua Rizal juga ikut berjalan beriringan membawa bunga mawar dan balon lalu memberikannya kepada Aminah.


Pipi Aminah memerah, ia sudah mulai bisa menebak siapa dibalik semua kehebohan ini.


'Tapi dimana Rizal?' Tanya Aminah dalam hati.


Lagu Bruno Mars terhenti, kini yang terdengar musik dansa. Beberapa orang lelaki yang berperawakan sama mengenakan topeng menghampiri Aminah. Mereka bergantian menghampiri Aminah. Satu persatu lelaki itu memberikan Aminah sebuah memo.


'Apa mungkin satu diantara mereka adalah Rizal?' gumam Aminah.


Aminah membaca memo itu satu persatu.


'Aminah, aku mencintaimu.'

__ADS_1


'Sejak pertama kali bertemu, aku sudah menyukaimu.'


'Aku tidak bisa berpisah lagi denganmu.'


'Aku mau mendampingi dirimu.'


'Aku mau cintai kekuranganmu.'


'Kamu mau kan menerima kekuranganku.'


'Mau menerima aku jika nantinya kentut didepan kamu kan?'


Aminah yang awalnya serius membaca memo itu seketika tersenyum membaca memo terakhir. Aminah tak menyadari bahwa seseorang sudah berlutut dihadapannya dengan memegang boneka Winnie The Pooh berukuran besar.


Boneka tersebut memegang sebuah hati bertuliskan, 'will you marry me?'


Air mata Aminah tumpah saat melihat sosok lelaki yang berada di balik boneka itu adalah lelaki yang akhir-akhir ini sering menjahilinya, membuatnya tertawa, dan juga menggodanya.


"Rizal....!" Seru Aminah.


"Aku tahu, aku sering membuatmu kesal. Ketahuilah Aminah, jika kau menderita, aku sama menderitanya denganmu. Jika kau terluka, aku sama terlukanya denganmu. Aku ingin membuatmu bahagia. Aku ingin selalu berada didekat mu. Tertawa, menangis, dan bahagia bersama. Aku akan selalu mencintaimu sepanjang hidupku. I love you Aminah." Ucap Rizal panjang lebar.


Rizal mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung celananya. Kemudian ia membuka kotak kecil berbentuk hati yang dilapisi beludru warna merah menyala. Terdapat sebuah cincin yang tampak cantik.


"Di saksikan seluruh keluarga dan sahabat terdekat, Aminah putri dari Pak Abdul Haris, maukah kau menghabiskan seluruh sisa hidupmu menjadi isteri dari Rizal yang kau sebut buaya ini? Maukah kau menikah denganku?" Ucap Rizal.


Air mata Aminah mengucur deras, begitu juga dengan Bu Wati. Ia sangat terharu melihat putrinya dilamar seorang lelaki yang selalu membuat semua orang tertawa itu.


"Gimana? Apa aku harus berlutut lebih lama untuk mendapat jawaban 'iya' darimu?" Tanya Rizal.


Aminah tersenyum seraya mengusap air matanya, lalu mengangguk.


"Iya." Ucap Aminah.


Sorak sorai terdengar riuh setelah Aminah menjawab 'iya'.


Raut bahagia nampak dari seluruh keluarga, terkecuali sosok Dani yang ternyata juga hadir disana, namun bersembunyi dibalik banyaknya pengunjung yang lain. Ia terlihat menahan kecewa, senyumnya terkesan sangat dipaksakan.


Rizal hampir saja memeluk Aminah jika saja Pak Haris tidak menghalanginya.


"Sabar, sabar. Tunggulah sampai kalian halal." Ucap Pak Haris.


Semua orang tertawa, kemudian Rizal menyematkan cincin ke jemari Aminah lalu mencium tangan itu lembut.


"Upps maaf Pak Haris, saya kebablasan." Ucap Rizal.


Pak Haris lalu memeluk Rizal bergantian dengan Aminah.


"Bapak...." Ucap Aminah.


"Jangan tanya. Bapak hanya berharap semoga kau bahagia." Ucap Pak Haris.


"Terima kasih Bapak." Balas Aminah tersenyum.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2