
Pagi harinya, setelah Aminah berangkat kerja. Bu Wati pulang dari pasar membawa satu plastik hitam besar, yang isinya terlihat jelas tiga tumpuk kotak.
Setelah dibuka, Pak Haris mengerutkan dahi melihat barang yang dibawa Bu Wati.
"Banyak sekali Ibu beli mangkok dan piring kecil,"
Pak Haris memandang barang-barang yang baru dibeli Bu Wati. Ada beberapa mangkuk kecil berbahan keramik putih dan beberapa piring kecil dengan bahan serupa.
"Koleksi aja Pak, buat nanti arisan sama Ibu-Ibu se-RT misalnya." Ucap Bu Wati.
Pak Haris hanya menghela nafas lalu meninggalkan Bu Wati menuju tempat kerjanya.
Ternyata Bu Wati berbohong. Malam hari saat makan malam, Bu Wati menyediakan tempe, tahu, terong goreng, terpisah di tiga piring kecil, lalu ada kuah bayam di dua mangkok kecil, ayam juga di piring kecil.
Bu Wati menyediakan nasi di dalam mangkok.
'Bagaimana cara makannya ini?' pikir Pak Haris.
Aminah yang turun dari kamarnya menuju ruang makan, tampak terkejut dengan apa yang tampak terhidang di meja makan. Nasi di letakkan di mangkok kecil, nasi pun terlihat penuh, begitupula lauk dan lain - lainnya.
'Alamat akan berantakan bila sayur di masukan di sana,' gumam Pak Haris dalam hati.
"Waaahh waahh waaahh, berasa makan di Korea nih." Ucap Aminah cekikikan.
Sementara Pak Haris masih terlihat bingung.
"Ini gimana cara makannya toh Bu?" Tanya Pak Haris dengan raut wajah kesal.
"Makannya harus pelan-pelan, kalau mau kuah, ambil nasi pakai sendok, lalu ambil kuahnya dengan memasukan nasi tadi." Jawab Bu Wati tampak begitu antusias.
Aminah terbahak, namun dia yang sudah terbiasa makan menggunakan sumpit ala-ala Korea, jadi dia tak mengalami kesusahan sedikitpun.
"Wuiihh sering-sering gini deh Bu, berasa jadi orang Korea sungguhan. Hihihihi." Ucap Aminah yang terlihat telaten mulai menyuapi mulutnya dengan makanan yang tersedia.
"Oh ya, cara makan ini boleh Ibu pertahanin. Tapi gaya berbusana Ibu rubah seperti biasa aja ya. Aminah sama Bapak malu Bu. Ingat umur udah mau lima puluhan." Ucap Aminah dengan mulut yang sibuk mengunyah.
"Sudah-sudah, gak usah bahas itu dulu. Gak baik bicara kalau lagi makan. Pamali. Lagipula terserah Ibu dong mau bergaya gimana aja. Gak lihat tuh, nenek-nenek di Drakor aja terlihat fesyenebel. Masa Ibu mau kalah sama mereka." Protes Bu Wati.
"Fashionable Bu." Ucap Aminah.
"Iya-iya... itu dah maksud Ibu pokoknya." Balas Bu Wati.
Aminah terlihat asyik menikmati makan malamnya. Sementara si penyedia makanan, Bu Wati terlihat kepayahan menggunakan sumpit. Aminah terkekeh melihat Ibunya yang kesusahan mengambil nasi dengan sumpit.
Pak Haris yang sedari tadi hanya diam, terlihat pusing. Akhirnya Pak Haris berdiri, mengambil piring dan memasukan nasi di mangkok tadi ke piring. Bu Wati langsung cemberut.
"Urap kok bentuknya begini." Pak Haris menunjuk sayuran dengan sambal merah yang banyak.
"Ini Kimchi namanya Chagiya." Balas Bu Wati.
__ADS_1
"Chagiya? Apa pula itu?" Tanya Pak Haris dengan dahi yang mengerut.
"Itu artinya Sayang, Pak." Jawab Aminah terbahak dengan nasi yang hampir menyembur keluar dari mulutnya.
Pak Haris menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kemudian menatap Bu Wati yang masih saja kepayahan menggunakan sumpit.
Pak Haris lalu bangun kembali menuju dapur. Ia kembali lagi dengan membawa piring. Lalu menuang nasi yang sedari tadi berusaha dimakan Bu Wati menggunakan sumpit kedalamnya.
"Udah deh Bu, gak usah berlagak jadi orang Korea, kalau makan pakai sumpit saja Ibu gak bisa. Udah makan pakai tangan aja seperti biasanya. Nih diuwek-uwek juga sekalian. Gini kan cara Ibu makan biasanya." Ucap Pak Haris sambil mencampurkan nasi dengan lauk pauk yang tersedia.
Aminah kembali terbahak, lalu Pak Haris kembali ke posisi duduknya dan mulai lahap memakan hidangan yang tersedia.
Sementara Bu Wati masih sungkan memakan nasi yang sudah tercampur dengan lauk di dalam piring dihadapannya.
"Sudah, tidak usah malu-malu. Makan aja Bu, nanti kelaparan loh." Ucap Pak Haris.
Akhirnya Bu Wati mengalah, ia pun mulai makan dengan raut wajah yang terlihat terpaksa. Hal itu kembali membuat Aminah terkekeh.
Setelah drama makan malam ala Korea itu, Aminah pun beranjak menuju ruang keluarga untuk sekedar menonton televisi.
...----------------...
Mata itu terus menatap Aminah dengan tajam seperti seekor harimau yang siap menerkam mangsanya. Wajahnya terlihat beringas dengan napasnya yang memburu dan bau alkohol. Aminah menduga sosok lelaki yang pernah dicintainya itu tengah mabuk.
"Kamu kok bisa masuk ke kamarku? Kamu mau apa, Dani?" Tanya Aminah ketakutan sambil melangkah mundur.
"Diam!" Bentak Dani sambil membanting pintu lalu menguncinya.
Dani terus mendekati wanita yang telah mencuri hatinya itu tanpa peduli dia ketakutan.
Aminah yang ketakutan terus melangkah mundur hingga mentok ke tembok. Sementara Dani meluncurkan senyum mengerikan pada Aminah, lalu sebelah tangannya menopang tubuhnya ke tembok dekat dengan wajah Aminah, menghalangi gadis itu supaya tidak bisa meloloskan diri.
"Aku tidak butuh apa-apa! Aminah... kenapa kamu sangat cantik? Aku hanya butuh ini dari kamu."
Dengan kurang ajar Dani mulai meraih kancing piyama yang dikenakan Aminah, lalu dengan beringas ia membuka kancing itu satu persatu dengan paksa.
"Dan! Apa yang kamu lakukan!? Lepasin aku!" Aminah berusaha melepaskan diri dari cengkraman kuat tangan kekar Dani.
"Diam!" Teriak Dani.
Plaaakkk.....
Tangan Dani melibas pipi mulus Aminah tanpa ampun sampai berdenging-denging.
Dengungan hebat pada telinga serta sakit luar biasa di pipi membuat Aminah limbung dan ambruk. Dani jongkok lalu membuat Aminah berdiri dan mendorong tubuh lemah Aminah hingga terjungkal ke tempat tidurnya.
"Toloooong!" Aminah sekuat tenaga mengeluarkan suara baritonnya.
"Jangan teriak! Enggak bakal ada yang denger! Pasrah aja, oke?" tutur Dani dengan senyum mengerikan serta tangannya terus berusaha melepaskan pakaian Aminah.
__ADS_1
"Enggak, kamu orang baik Dan! Aku mohon jangan lakukan ini! Kamu dari dulu selalu menjaga aku. Gak pernah sedikitpun kamu melewati batas kamu." Tangis Aminah pecah.
Dani yang dipengaruhi alkohol mulai bernafsu ketika bagian dada Aminah sudah terbuka.
Akhirnya perlakuan bejad itu pun terjadi, dan Aminah harus merelakan kesuciannya terenggut paksa oleh lelaki yang mengaku mencintainya itu. Setelah nafsu bejadnya tersalurkan, Dani menjatuhkan diri di samping Aminah yang masih menangis dan terkapar tak berdaya.
"Puas? Sekarang kamu puas kan Dan sudah menghancurkan masa depanku? Sekarang pergi dari sini!" Teriak Aminah.
Dengan sisa tenaganya Aminah bangun meraih piyama lusuhnya yang sudah tak berkancing dan meraih celana panjangnya yang koyak.
"Kamu sangat menggodaku Aminah. Aku sangat mencintai kamu, dan sekarang aku puas sudah mendapatkan mu." Ucap Dani
Cuih! Aminah meludah ke tubuh polos Dani.
"Brengsek! Kamu laki-laki bejat! Aku benci sama kamu. Aku menyesal sudah mengenal kamu."
Dani bangun lalu mencengkram dagu Aminah dengan keras, namun ia malah tertawa dan menatap Aminah dengan kerlingan nakal.
"Sayang... Apa sih yang kamu sesali. Toh nanti aku akan tetap menikahi kamu."
Mata sembab Aminah menatap tajam pria itu penuh kebencian.
"Ingat! Kamu gak boleh bilang sama siapa pun tentang ini. Mengerti?! Karena nanti kamu juga yang malu." Dani menghempaskan dagu Aminah dengan keras hingga gadis itu kembali terjungkal.
'Tunggu saja, aku akan melaporkanmu pada polisi,' batin Aminah.
"Aminaaaah bangun! Kok tumben kamu tidur disini. Sana masuk kamar." Teriakan bar-bar seorang wanita yang sangat dikenalnya membangunkan Aminah.
Aminah terperanjat kaget, lalu langsung terduduk tegak. Ia melihat dirinya sendiri sambil meraba-raba tubuhnya.
Ia merasa baik-baik saja, kancing bajunya pun masih utuh, celananya tidak koyak, dan ia tidak merasa kesakitan sama sekali.
"Aneh, bukankah tadi Dani ...?" Ucapan Aminah terhenti kala dia kembali pada kesadarannya.
'Astaga! Jadi cuma mimpi? Gila, serem banget mimpiku!'
"Ibu? Bukannya Ibu keluar sama Bapak?"
"Hah, keluar sama Bapak?!" Bu Wati bertanya kebingungan.
"Dari tadi ibu bersih-bersih di dapur. Kamu ngelantur, ya? Makanya kalau habis makan itu tidak boleh tidur." Ucap Bu Wati.
Aminah nyengir sambil garuk-garuk kepala walau tidak gatal.
'Ah, lega, ternyata kejadian mengerikan tadi itu cuma mimpi.' batin Aminah.
"Iya, Bu, maaf. Tadi ngantuk berat soalnya." Balas Aminah.
Setelah itu Aminah beranjak menuju kamarnya setelah sebelumnya membasuh wajahnya lebih dulu mengingat mimpinya yang cukup menyeramkan baginya.
__ADS_1
Bersambung....