
Aminah kemudian keluar, dia lalu mengambil pesanan dari Mbak Nana yang ada di rak belakang meja kasir dan memindahkannya ke rak dekat pintu agar nanti bisa diambil dengan cepat saat kurir datang untuk mengambil pesanan Mbak Nana.
Benar saja, getar ponsel terasa beberapa menit kemudian dengan nomor yang sama, Aminah langsung mengangkatnya.
"Gimana, Pak?" Tanya Aminah.
"Mbak, ini sama toko bunga Folia Florist mananya, ya?" Ucap kurir itu balik bertanya.
"Sebentar Pak, saya keluar," Balas Aminah sambil berjalan keluar dari dalam toko.
Aminah lalu melambaikan tangan ke arah pria yang mengenakan jaket ojek online berwarna hijau dan memakai masker itu.
Pria tersebut segera melajukan motornya ke arah toko, yang memang sedikit tertutup oleh pohon rindang yang berdiri kokoh di depan halaman toko.
"Aminah!" Seru pria berjaket hijau tersebut.
Aminah mengangguk, namun ia merasa begitu mengenali suara pria itu.
"Sa-saya mau ambil pesanan atas nama Mbak Nana."
"Iya, Pak. Emm Mas, Sebentar, saya ambilkan dulu pesanannya." Jawab Aminah bingung.
Aminah tadinya memanggil pria itu Pak. Namun dilihat dari fisik dan suaranya, Aminah tahu bahwa kurir ojol itu tampak masih muda dan bahkan seusia dengannya.
Aminah mengambil satu plastik besar berisi 20 snack box, lalu menyerahkan ke ojol itu. Setelah memastikan aman, kurir ojek online tersebut lantas berpamitan pada Aminah.
__ADS_1
Sepoi angin membuat beberapa daun kering rontok dan terbang ke teras toko. Aminah berniat membersikan halaman tersebut, baru saja mau masuk ke toko untuk mengambil sapu, tiba-tiba ponsel kembali bergetar.
'Apa ada yang ketinggalan, ya?' batin Aminah sambil mengambil ponsel yang tadi disimpannya di saku apron.
"Tapi, kok beda nomor? Mungkin temennya Naya." Ucap Aminah.
Lantas Aminah bergegas masuk dan mendekati Naya.
"Ada telepon," Ucap Aminah pelan.
"Siapa?" Tanya Naya yang tampak sibuk menata jajanan yang tersisa.
Aminah mengangkat bahu bersamaan.
"Angkat aja, bilang nanti telepon balik, sekarang aku lagi repot," Balas Naya dengan tangan masih sibuk menata makanan itu.
"Siniin, biar aku aja yang nata." Ucap Aminah.
"Udah gak apa-apa, biar aku aja. Kamu angkat aja dulu, kalau penting banget baru bilang," Tolak Naya.
"Oke deh," Balas Aminah mengalah, lalu berjalan ke ruang belakang dan menggeser tombol hijau di layar.
"Ya, halo?" Sapa Aminah.
"Halo, Naya. Ini Dani. Aku denger kamu kerja di blok X, ya? Kebetulan aku–"
__ADS_1
Tut!!!!
Aminah langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak dengan napas yang sedikit tertahan. Tubuhnya terpaku beberapa saat, lalu memandang ponsel yang bergetar ... lagi.
Sudah menjadi kebiasaan, kalau tangan Aminah mendadak dingin ketika tengah salah tingkah atau cemas. Seperti sekarang, saat mendengar suara yang sangat dihafalnya itu.
Bagaimana tidak, lima tahun lalu hampir setiap hari mereka bertemu dan juga berbagi cerita lewat telepon. Suaranya bagaikan candu bagi Aminah, tapi itu dulu ....
"Aminah...."
Aminah terperanjat saat mendengar suara Naya dari ambang pintu. Tanpa pikir panjang, Aminah langsung menonaktifkan ponsel Naya dan segera mengisi dayanya lagi dengan tergesa-gesa.
"Kenapa, sih? Dari tadi dipanggil nggak nyaut, ngelamun?" Ucap Naya.
Kepala Aminah menggeleng dengan tersenyum tipis, lalu berjalan cepat ke arah Naya.
"Biasalah, lagi pusing aja," Jawab Aminah bohong.
"Oh, eh itu ada ojol nanyain kamu di depan." Ucap Naya.
"Perasaan aku nggak ada janjian apa-apa," Jawab Aminah bingung.
Naya mengangkat bahu bersamaan, lalu beranjak pergi dan Aminah mengikutinya dari belakang. Setelah sampai di luar, ternyata itu adalah kurir yang tadi.
Bersambung....
__ADS_1