Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Bertemu Lagi


__ADS_3

Semua orang terdiam mendengar Dani memanggil nama Aminah. Mereka menoleh ke arah Aminah yang berdiri di pintu.


...----------------...


Taksi online yang Aminah dan Naya tumpangi untuk pulang ke rumah melaju pelan di tengah kemacetan sore, yang notabene para pekerja mulai pulang dari tempat kerja mereka.


Dengan kepala bersandar, pandangan Aminah lurus menatap ke luar mobil. Bayangan Dani saat memanggil namanya tadi terus saja terngiang, tetapi Aminah tak memperdulikannya dan memilih pergi meninggalkan warung itu tanpa menoleh sedikit pun.


Aminah mendesah panjang dengan perasaan tak karuan.


Jika mengingat bagaimana ia berjuang melewati lima tahun terakhir, rasanya Aminah tak ingin lagi bertemu dengan Dani. Akan tetapi, seperti yang dikatakan Pak Parman, ojol yang memberikannya saran itu, agar dia sebisa mungkin untuk berdamai dengan masa lalu dan mulai menyambut masa depan.


Aminah memejamkan matanya. Dia merasa begitu berat jika terus menerus berada di dekat Dani, karena hal itu pasti akan mengubah perasaan dirinya pada Dani.


"Dunia ini kadang terasa sempit, Min." Suara Naya membuat Aminah membuka mata. "Saat kita berusaha menjauh dari seseorang, tapi orang itu malah selalu hadir di sekitar kita." Lanjut Naya.


Aminah hanya terdiam dan terus mendengar ucapan Naya.


"Awalnya Dani juga nggak tahu kalau kamu kerja di toko kue langganannya Mba Nana, tiba-tiba saja hatinya tergerak untuk pergi ke sana. Padahal kamu pasti tau sendiri kan, Dani itu orang yang super sibuk. Saat bertemu denganmu kemarin, Dani seakan diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memperbaiki kesalahannya dulu. Saran ku, kamu temui dia sekaliiii saja dan biarkan dia menjelaskan apa yang memang perlu dijelaskan. Setelahnya terserah kamu mengambil keputusan gimana." Lanjut Naya.

__ADS_1


Aminah menghela napas panjang.


"Aku belum siap, Nay. Kadang rasa kecewaku langsung muncul saat melihat wajahnya, bahkan mendengar namanya pun langsung teringat betapa sakitnya dulu." Balas Aminah.


"Hmm, oke, oke, jangan dipaksa. Mungkin seiring berjalanya waktu nanti, semua akan kembali normal seperti dulu." Ucap Naya.


"Aku rasa tidak." Aminah kembali menatap ke arah luar jendela. "Karena paku yang dicabut, pasti meninggalkan bekas di sana." Lanjutnya.


"Kecuali kalau ada yang baru, untuk menutup bekas paku itu." Balas Naya.


"Aku akan merawat lukaku sendiri. Aku tak ingin mencari sosok baru hanya untuk menjadi pelampiasan, Nay. Dan aku ingin jatuh cinta lagi di saat yang tepat, bukan karena cepat-cepat." Ucap Aminah serius.


...----------------...


Pagi ini semua berjalan sebagaimana mestinya. Naya tak lagi membahas masalah Dani, tetapi bukan berarti hidup Aminah akan tenang, karena menjelang sore ada telepon masuk yang membuatnya tak bisa berbuat banyak.


"Semua makanan yang ada di toko bungkus aja dan antar ke alamat yang aku kirim di WA." Ucap sosok pria yang tak lain adalah Dani.


"Ya, nanti aku suruh Naya ke sana." Balas Aminah.

__ADS_1


"Aku nggak bisa, Min!" Tiba-tiba saja Naya berseru, seakan paham dengan siapa Aminah berbicara.


"Tuh, denger kan, dia nggak bisa. Pokoknya, aku tunggu sampai kamu datang. Dah!" Ucap Dani.


Belum sempat Aminah membalas, tetapi sambungan sudah diputus dari sana.


'Benar kata orang, mantan sama setan itu beda tipis, sama-sama suka gentayangan!' batin Aminah.


Tak bisa mengelak lagi, Aminah pun segera meminta Naya membantunya untuk membungkus semua makanan pesanan Dani sebelum tutup.


"Buat apa Dani beli makanan sebanyak ini?" Tanya Naya yang entah dari mana tahu kalau si penelepon tadi Dani, padahal Aminah tidak cerita sama sekali padanya.


'Pasti mereka sudah sekongkol....' pikir Aminah kesal.


Aminah mengangkat bahu bersamaan.


"Nggak tahu." Ucapnya.


Karena stok jajanan sudah habis, akhirnya toko pun ditutup lebih awal. Naya memutuskan untuk pulang terlebih dulu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2