Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Amit-amit


__ADS_3

Malam harinya...


Setelah makan malam bersama kedua orang tuanya. Aminah lalu duduk bersama Bu Wati di depan tv. Sementara Pak Haris memilih masuk ke kamarnya untuk beristirahat.


"Nak, belikan lilin ke warung." Ucap Bu Wati.


"Lilin, tumben banget. Buat apa Bu?" Tanya Aminah.


Bu Wati meletakkan toples berisi kacang asin yang sudah digorengnya tadi.


"Lilin itu mau Ibu pakai untuk membungkus kacang asin ini. Ibu mau sekalian jualan besok. Jadi, kacang asin iini di masukin ke plastik dulu, terus buat nutup ujung plastiknya direkatkan pakai api dari lilin. Sudahlah, kalau nggak paham, gak usah banyak tanya. Beliin aja sana cepetan." Titah Bu Wati.


"Kalau ganti obor aja gimana, Bu?" Tanya Aminah dengan wajah serius.


"Mau takbiran kamu?" Tanya wanita berdaster bunga-bunga itu.


"Kan lebih gede, Bu. Biar cepet selesai." Balas Aminah terkekeh.


"Kamu tuh, ya dilihat seberapa ini plastik kacang asinnya? Kecil kayak badanmu." Ucap Bu Wati.


"Kan, kan, kan, jangan body shaming, Bu." Ucap Aminah.


"Siapa seming? Temenmu?" Tanya Bu Wati tampak penasaran.


"Body shaming, menghina fisik Bu." Balas Aminah dengan menepuk jidatnya.


"Siapa yang menghina? Ibu itu jujur, badanmu kecil, kurus, kering, kerontang kayak ikan teri." Ejek Bu Wati.


"Dari hati banget ngomongnya, Bu." Balas Aminah manyun.


"Dari mulut kalau ngomong, bukan dari hati." Celetuk Bu Wati lagi.


'Sudahlah aku mengalah saja, nggak ada menangnya ngelawan emak-emak.' ucap Aminah dalam hati.


"Cepet sana belikan lilin. Ya Allah, sinetron favorite Ibu sudah tayang itu..." Pandangan wanita yang rambutnya mulai di tumbuhi uban itu langsung tertuju di layar TV.


Dengan pasrah, Aminah akhirnya keluar rumah. Menatap warung Bu Set yang masih buka.

__ADS_1


Baru beberapa kali melangkah, Aminah mendadak ragu melanjutkan jalannya karena di depan warung itu ada trio rempong.


'Itu trio rempong kok masih disitu aja. Pada ngutang kali ya? Duh, alamat dijulidin nih sama mereka.' pikir Aminah.


"Jalan, balik aja? Jalan, balik aja? Jalan, balik aja?" Ucap Aminah bingung.


Di tengah kebingungannya tiba-tiba ada yang berjalan dihadapannya tepat menuju warung itu. Aminah memperhatikan sosok itu dari belakang.


'Kalau nggak salah itu kan Mbak Rina rumahnya di gang sebelah. Kebetulan banget, ke warung bareng dia aja ah.' ucap Aminah dalam hati.


Aminah pun langsung mensejajarinya dan menyapa, "Mau beli apa Mbak Rin?"


Wanita itu hanya menoleh sekilas ke arah Aminah tanpa ekspresi, sambil terus saja berdiri di warung.


'Ya Allah, dicuekin.' ucap Aminah dalam hati.


Tak ambil pusing, Aminah lalu bergegas berjalan bersamanya.


"Mbak Rin sehat?" Tanya Aminah lagi.


Tapi wanita bertubuh gempal itu tetap tak menjawab. Dia malah berjalan meninggalkan warung tanpa sepatah katapun.


"Kasihan sekali..." Ucap ketiganya bersamaan.


Tak ingin lama-lama mendengar ucapan trio rempong, Aminah bergegas pulang ke rumahnya berjalan bersama Mbak Rin yang juga kebetulan berbalik saat Aminah selesai membeli lilin.


Aminah hanya bisa menarik napas panjang, lalu menutup dan mengunci gerbang. Saat masuk ke rumah dan bersiap menutup pintu, Aminah melihat Mbak Rin lewat lagi di depan rumahnya menuju warung.


'Loh, tadi beneran Mbak Rin apa bukan, ya? Duh, mana nggak ngecek tadi kakinya injek tanah apa enggak!' ucap Aminah dalam hati.


"Aminah...."


"Eh ayam.... Ayam....!" Aminah mendadak latah saat merasakan tepukan di pundak.


"Mau ngajakin Ibu makan ayam geprek ya ?" Tanya Bu Wati tampak semangat.


"Nggak, Bu. Itu loh, tadi aku ketemu Mbak Rin, di warungnya Bu Set. Eh ini kok lewat rumah lagi pergi ke warung, aku jadi mikir itu beneran Mbak Rin apa Mbak Kunti?" Ucap Aminah.

__ADS_1


"Rin? Maksud kamu si Rina yang rambutnya keriting kayak mi rebus itu, yang tinggalnya di gang sebelah?" Tanya Bu Wati dengan wajah serius.


Aminah mengangguk pelan.


'Bau-baunya nggak enak nih.' ucap Aminah dalam hati.


"Kamu sapa?" Tanya Bu Wati.


Aminah mengangguk agak keras.


"Di ajak ngomong?" Tanya Bu Wati lagi.


Aminah mengangguk semakin keras.


"Luar biasa!" Bu Wati malah bertepuk tangan.


Dahi Aminah langsung mengernyit.


"Kenapa, Bu?" Tanya Aminah.


"Kamu tahu tidak?" Ucap Bu Wati balik bertanya.


Aminah menggeleng keras.


"Rina itu kan gangguan jiwa, udah dari satu tahun lalu," jawab Bu Wati dengan wajah tampak begitu serius.


Glek! Aminah langsung menelan ludah.


"Ii.... Ibu serius?" Tanya Aminah gugup.


"Dua rius. Sudah, cepat sana cuci muka, cuci kaki. Sekalian ganti baju. Takutnya kamu ketularan sakit jiwa." Ucap Bu Wati.


"Ibu apa-apaan sih. Emangnya sakit jiwa itu bisa menular apa?" Balas Aminah.


"Iya siapa tahu. Lagian si Rina itu juga seperti itu karena ditinggal nikah sama pacarnya, persis kayak kamu." Ucap Bu Wati lalu berjalan masuk ke dalam rumah setelah mengambil lilin dari tangan Aminah.


Aminah hanya mengelus dada.

__ADS_1


"Amit... Amit Ya Allah..." Ucap Aminah lalu masuk ke dalam rumah.


Bersambung....


__ADS_2