Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Hanya Teman


__ADS_3

Aminah tiba di rumah dan dia segera membersihkan badan dan harga dirinya yang malu karena drama kucing tadi. Aminah berharap agar semua orang bisa amnesia dan tidak akan mengingat kejadian itu.


Ritual Aminah sebelum tidur setelah memakai skincare adalah membuka sosial media, wadah untuk ajang curhat dan pamer.


Ada yang pamer tas baru, tetapi membubuhkan caption 'abaikan mukaku' justru itu membuat orang penasaran. Ada juga yang tengah pamer sesuatu dengan caption 'perhatikan lingkaran merah'. Dengan serius Aminah memperhatikan lingkaran itu, tetapi tidak ada sesuatu yang menarik, dan baru sadar ada tulisan susulan di bawah foto 'terima kasih atas perhatiannya'.


Ada juga yang mem-posting foto sang suami dengan segala kebaikannya.


'Mana ganteng lagi.' ucap Aminah dalam hati.


Lalu, ada juga yang posting mi instan plus nasi dengan caption 'makan tanpa nasi, bagaikan ambulan tanpa wiuw wiuw'.


'Alhamdulillah ... artinya aku masih tinggal di negara +62.' ucap Aminah dalam hati seraya cekikikan.


Tak lama kemudian Aminah meletakkan ponsel di meja dan keluar kamar mencari sesuatu untuk menenangkan hati.


'Sepertinya mi instan rebus, dicampur telur plus potongan cabai rawit cocok. Tambah nasi goreng kayaknya juga enak.' pikir Aminah.


Bakso yang dibelikan Rendi tadi sedikitpun tak kebagian untuk Aminah. Meski bakso itu ada 3 porsi, tapi semuanya amblas dihabiskan oleh Bu Wati dan Pak Haris yang sama-sama doyan bakso.


...----------------...


Pagi menjelang...


Saat Aminah tengah menyiapkan sarapan, suara ketukan pintu membuat Aminah menoleh ke arah luar. Baru saja bersiap melangkah, terdengar suara Bu Wati lebih dulu menyapa si tamu. Obrolan ringan juga samar terdengar sebentar.


"Siapa, Bu?" Tanya Aminah saat melihat Bu Wati masuk ke dapur dan duduk di salah kursi di dekat meja makan.


"Si Udin, anter undangan nikah."


"Om Udin mau nikah lagi?" Tanya Aminah sedikit terkejut, karena setahunya Om Udin–sepupu dari Pak Haris–istrinya sudah empat dan sedang hamil besar semua.


"Bukan. Ini undangan si Tomi mau nikah bulan depan. Katanya nggak rame-rame, ngundang sodara aja." Ucap Bu Wati.


Tomi itu anak Om Udin dari istri yang entah ke berapa. Aminah terdiam sebentar, lalu membalas singkat ucapan Bu Wati, "Oh."


Detik berikutnya, mata Aminah mulai memanas dan keluarlah air terjun. Perih sekali. Isak pun tak bisa ditahan.


"Kamu nangis?" Tanya Bu Wati terdengar khawatir.


"Enggak, Bu. Aku lagi latihan nyanyi." Ucap Aminah.


"Ya sudah, toh Nak. Nanti kalau sudah waktunya, kamu juga bakal nyusul si Tomi. Sabar aja." Ucap Bu Wati.


"I-iya, Bu." Balas Aminah yang masih membelakangi Bu Wati.


"Sudah, jangan nangis lagi. Malu sama kucing yang semalem, kakinya patah aja dia nggak nangis, kok." Ucap Pak Haris yang ikut duduk di meja makan.


'Yah, bahas kucing lagi.' batin Aminah.


"Memang, belajar sabar itu sulit, karena ujiannya bisa datang kapan saja. Tapi, ada pahala besar dari kesabaran itu sendiri, Nak. Rugi rasanya kalau tidak dimanfaatkan," lanjut Bu Wati.


Aminah masih saja terisak.


"Udah jangan nangis terus." Ucap Bu Wati.


"Aku nggak nangis, Bu." Balas Aminah.

__ADS_1


"Nggak nangis, kok, suaranya kayak gitu?" Tanya Bu Wati lagi.


"Aku lagi ngiris bawang merah. Makanya, air mata ngucur terus kayak air terjun." Balas Aminah.


Aminah membalikkan badan, menampakkan wajahnya yang mungkin sudah tak karuan. Bahkan, untuk membuka mata saja rasanya sangat perih.


"Astagfirullah. Kok mukamu jadi mirip kucing yang semalem, Nak? Jangan-jangan ...." Ucap Pak Haris.


"Bapaaak ...!"


Bu Wati dan Pak Haris tertawa. Semalam Pak Haris menceritakan tragedi kucing itu pada Bu Wati. Hingga pagi ini Bu Wati tak henti-hentinya tertawa membayangkan kejadian itu jika terjadi dihadapannya.


...----------------...


Sudah lima belas menit yang lalu Aminah dan Naya sampai di toko. Pagi-pagi sekali Rendi sudah berada di toko itu.


"Sudah sarapan?" Tanya Rendi sambil meletakkan sebuah wadah makanan di meja.


Masih seperti dulu, Rendi memang tak sembarangan makan.


"Sudah," jawab Aminah singkat.


Rendi pun mulai menikmati makanannya dan Aminah selalu lemah kalau dihadapkan dengan makanan. Mau minta tapi gengsi. Entah Rendi sadar atau tidak, Aminah berkali-kali menelan air liur. Sembari bercerita tentang kejadian semalam.


"Harga diriku beneran jatuh semalam. Kamu tahu nggak, kalau–"


Omongan Aminah terpotong oleh suapan sesendok penuh kenikmatan si bubur ayam yang dimakan Rendi.


"Kenapa nyuapin nggak bilang-bilang?" Aminah meracau dengan mulut penuh.


"Buka mulut," pinta Rendi.


Aminah menggeleng.


"Baru juga sesuap." Ucap Rendi.


"Bukan gitu," jawab Aminah sambil terus melakukan aktivitas mengelap sendok dan melirik sedikit ke sendok yang penuh bubur. "Itu nggak ada ayamnya, aku mau pakai ayam." Lanjut Aminah.


Rendi terkekeh, lalu kembali mengulang menyendok bubur, namun kali ini dengan menambahkan suiran ayam. Aminah pun membuka mulut dengan senang hati.


"Duh romantisnya yang baru ketemu setelah lama terpisah, serasa dunia milik berdua. Yang lain mah ngontrak." Ucap Naya yang tengah sibuk mengelap kaca pintu.


"Sirik aja, iri bilang boss." timpal Rendi.


Rendi dan Aminah memang sudah tak sungkan saling memberikan perhatian seperti itu. Semua orang yang melihat mereka pasti berpikir kalau mereka tengah berpacaran, tapi kenyataannya keduanya hanya bersahabat saja.


...----------------...


Sore harinya setelah toko kue tutup, Rendi kembali datang menjemput Aminah untuk mengajaknya makan malam. Bukan di sebuah restoran mewah. Keduanya lebih suka duduk di warung pinggir jalan atau sekedar warteg yang menjual aneka lauk pauk yang beraneka ragam.


"Bu, hari ini aku pulangnya agak telat ya. Mau makan malam sama Rendi." Ucap Aminah saat menelepon Bu Wati.


"Iya, tapi jangan pulang terlalu malam ya! Ingat jaga diri baik-baik, gak boleh colak colek, belum muhrim. Kalau udah gak kuat, segera nikah." Balas Bu Wati cekikikan.


"Ishh Ibu apa sih. Aku sama Rendi cuma...."


"Teman..." Sambung Bu Wati. "Ibu tahu itu. Tapi siapa yang tahu, yang namanya temen itu, lama-lama bisa jadi demen." Goda Bu Wati.

__ADS_1


Aminah hanya tertawa kecil. Setelah menutup telepon, Aminah dan Rendi bergegas pergi ke sebuah warung makan yang menjual menu kampung. Sementara Naya sudah pulang terlebih dahulu.


Setelah memesan menu komplit, keduanya pun makan malam bersama.


...----------------...


Motor Rendi meluncur meninggalkan warung makan itu. Setelah makan malam, keduanya lebih dulu memutuskan untuk menonton film di bioskop. Setelah semua kegiatan mereka selesai jam, Aminah sudah sampai di rumah. Tidak seperti biasanya, gang di rumah Aminah terlihat ramai malam ini. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Setelah berpamitan dengan Aminah, Rendi pun berjalan menuju rumahnya.


Aminah lalu membuka gerbang besi yang hanya setinggi pinggang orang dewasa itu.


"Dah pulang, Nak?"


"Eh, kucing, kucing, kucing!"


Aminah spontan latah karena kaget, ketika tiba-tiba mendengar suara dari arah depan.


"Ya Allah, Bapak ...."


Aminah mengelus dada sambil memandang Pak Haris yang mengenakan pakaian serba putih, ditambah lampu yang hanya remang-remang.


"Bapak belum tidur? Tumben? Biasanya lihat bantal aja langsung ngantuk," ucap Aminah sembari meraih tangan Pak Haris dan menempelkan punggung tangannya ke arah hidungnya.


"Baru aja pulang dari rumah Pak Rudi depan jalan sana," jawab Pak Haris.


"Pak Rudi, pemilik asli rumah tua itu?" Tanya Aminah.


"Iya, pemilik palsunya dah habis masa kontrak dan kebetulan Pak Budi pindah tugas lagi. Jadi ya, penghuni palsunya nggak boleh tinggal di sana lagi." Jawab Pak Haris.


"Apalah Bapak ini, ngebingungin gitu ngomongnya. Penghuni palsu, penghuni asli. Coba sekali-kali ngomongin penghuni hati anakmu ini," ucap Aminah sambil berjalan ke arah ruang makan, mengambil segelas air dan meneguknya hingga tandas.


"Ngapain diomongin lagi, toh kamu nya juga baru ketemu kan? Duuhh bahagianya sampai diantar pulang segala." Goda Pak Haris.


Aminah hampir saja tersedak.


"Kenapa? Malu ya ketahuan." Ucap Pak Haris.


Aminah hanya terdiam dengan wajahnya yang bersemu merah.


"Kalau sudah cocok disegerakan saja Nak, takut kebablasan." Ucap Pak Haris.


"Dia hanya temen Pak. Lagian aku masih takut memulai sebuah hubungan." Balas Aminah.


"Kenapa musti takut? Takut itu sama Allah. Kalau sudah jodoh, pasti bersatu. Jodoh, rezeki, maut itu udah tertulis sejak kamu masih dalam kandungan, Nak. Sekuat apa pun kamu bertahan dan berjuang, kalau memang belum waktunya berjodoh ya nggak bakal dapet."


Aminah tercengang.


"Kalau sudah jodoh, Allah pasti akan menyatukan dengan cara-Nya, yang bahkan kamu tidak akan menyangka bagaimana caranya." Ucap Pak Haris.


Aminah tersenyum mendengar ucapan Pak Haris.


"Siapa tahu, calon mertuamu nanti tiba-tiba datang melamar ke rumah." Ucap Pak Haris, sambil berjalan pergi masuk kamar.


"Aamiin." Ucap Aminah tersenyum.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2