Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Duduk Berdampingan


__ADS_3

Tak berapa lama, ban motor Pak Parman pun selesai di ganti dengan ban baru karena ban lamanya sudah terlalu rusak dan tak bisa ditambal lagi.


"Antar saya ke warung di jalan ini, bisa tidak Pak?" Tanya Aminah menunjukkan google map di ponselnya pada Pak Parman.


"Lho, gak jadi beli martabak Neng?" Balas Pak Parman balik bertanya.


Aminah menggeleng. Tiba-tiba saja ia punya kekuatan dan rasa percaya dirinya kembali pulih setelah mendengar ucapan Pak Parman tadi.


"Karena masalah itu akan selalu datang silih berganti, tidak ada yang bisa dilakukan selain menyiapkan hati untuk menghadapi dan menyelesaikannya satu per satu." Ucap Pak Parman yang berbekas di hati Aminah.


Motor melaju ke arah warung makan Mbak Nana yang dari kejauhan sudah terlihat keramaian di sana. Setelah mengucapkan terima kasih dan akan membayar, tetapi ditolak oleh Pak Parman.


"Anggap saja ini hadiah dari Bapak, biar kamu tidak sedih lagi. Kalau mau ke mana-mana bisa langsung hubungi Bapak saja. Insya Allah, siap Neng." Ucap Pak Parman begitu ceria.


Aminah mengangguk, dibalas senyuman oleh Pak Parman.


"Alhamdulillah." Ucap Pak Parman lalu pergi.


Aminah hanya bisa tersenyum.


Aminah tampak menarik napas dalam, mencoba untuk mempersiapkan mental dan hatinya jika nantinya akan bertemu dengan Dani di dalam sana. Saat Aminah berjalan masuk ke dalam warung, suara Naya langsung terdengar cempreng memanggil nama Aminah.

__ADS_1


"Aminaaaahhh...." Teriak Naya.


Terlihat ia melambaikan tangan dari tempatnya duduk bersama dengan anak-anak yang lainnya juga.


"Aku tiba-tiba berubah pikiran, lumayan kan bisa makan gratis di akhir bulan," jawab Aminah saat beberapa dari mereka bertanya kepadanya, termasuk Naya.


Aminah masih saja berdiri.


"Sini aja, Min."


Terdengar suara Bu Aya memanggil saat Aminah mencari tempat duduk di antara mereka, tetapi semuanya sudah penuh. Sementara di meja Bu Aya baru terisi tiga orang.


Ada Mbak Nana di sana, yang juga melambaikan tangan ke arah Aminah.


Aminah segera mendekat, lalu mengambil posisi duduk di samping Bu Aya dan di depan Mbak Nana serta anaknya.


"Bentar ya, Min, belum siap semua ini makanannya. Lama banget Mas Dito ambil dagingnya." Ucap Mbak Nana.


Setelah beberapa saat...


"Nah, panjang umur, baru aja diomongin." Mbak Nana berucap seraya merapikan meja, sementara itu terlihat dua pria datang membawa beberapa nampan berisi daging.

__ADS_1


'Mas Dito dan ... Dani.' ucap Aminah dalam hati.


Jantung Aminah mulai berdegup kencang setiap kali dia bertemu dengan Dani.


Aminah dan Dani sempat bertatapan sejenak, sebelum akhirnya Aminah memalingkan muka saat mendengar ucapan Mas Dito.


"Wah, ada tamu, to? Eh, kok kayaknya pernah lihat, tapi di mana, ya?" Ucap Mas Dito.


Aminah dan Dani menjadi tegang.


"Becanda kali! Kenapa pada tegang gitu mukanya?" Lanjut Mas Dito, diikuti helaan napas panjang dari Dani yang masih berdiri di sisi meja.


Dani hendak duduk, namun hanya satu kursi yang masih kosong, dan itu tepat di sebelah Aminah.


"Udah duduk situ aja, siapa tahu besoknya duduk di pelaminan," Goda Mbak Nana yang langsung membuat Aminah salah tingkah.


Sementara Mas Dito dan Bu Aya tertawa. Dani yang juga tertawa lantas duduk di sisi Aminah.


Setelah sekian tahun berlalu, akhirnya mereka duduk bersebelahan lagi untuk pertama kalinya. Demi menutupi rasa grogi, Aminah menyibukkan diri dengan membolak-balikkan daging dan seafood yang sudah dipanggang Mbak Nana tadi. Kemudian Aminah mengambilkan beberapa untuk Bu Aya.


"Makasih, Min" Ucap Bu Aya.

__ADS_1


Aminah membalas dengan senyuman, seraya mendekatkan saus dan sayuran kepada Bu Aya.


Bersambung....


__ADS_2