
Pagi menjelang....
Aminah tengah memakai sepatu di kursi teras rumahnya.
Aminah mengambil tas, lantas berpamitan pada orang tuanya. Aminah bersiap keluar halaman sebelum akhirnya terhenti saat sebuah motor matic besar berwarna hitam berhenti di gerbang rumahnya.
Sang pengemudi motor turun dan terlihat rapi dengan kemeja putih, celana jins, dan jaket yang ia sampirkan di pundak. Aminah mengerutkan dahi melihat penampilan dari lelaki yang disebutnya buaya itu.
Segera Aminah berjalan mendekat.
Rizal menatap Aminah dengan ekspresi yang terlihat kaget.
"Perasaan semalam aku mimpi kedatangan hantu, tapi kenapa pagi ini aku malah kedatangan Bidadari? Masya Allah, sungguh indah ciptaan-Mu." Ucap Rizal.
Tak menggubris ucapannya, tangan Aminah terulur menyerahkan kantung kresek bertuliskan indoapril dan juga buket mawar itu ke arahnya.
"Nih!"
"Duh, pasti semalaman dicium-cium ya bunganya?" Ucap Rizal.
Aminah mengerutkan dahi, menatap pria yang tengah tersenyum simpul dihadapannya itu.
'Dasar aneh!' ucap Aminah dalam hati.
"Di cium apanya, yang ada juga bersin-bersin." Jawab Aminah yang terlihat kesal.
"Mau aku antar?" Tanya Rizal
"Enggak!" Jawab Aminah singkat.
"Mau sarapan bareng?" Tanya Rizal lagi.
__ADS_1
"Enggak!" Jawab Aminah lagi.
"Mau nolak lamaran ku?" Lagi-lagi Rizal bertanya.
"Enggak!" Balas Aminah lagi.
"Yes!" teriak Rizal yang seketika membuat Aminah menoleh ke arahnya dan mendengus kesal.
"Kamu kenapa sih? Marah ya gara-gara bunga itu?" tanya Rizal lagi.
Aminah masih menatap Rizal dalam diam.
"Sayang..." Ucap Rizal lagi.
"Tolong ya, aku mau berangkat kerja dulu. Apa kamu gak ke kerja?" tanya Aminah balik.
"Aku kerja kok. Tapi aku kangen sama kamu, makanya mampir ke sini dulu. Kamu kangen juga kan sama aku?" Ucap Rizal.
"Iya-in aja deh. Huft... Aku mau ke rumah Naya dulu." Ucap Aminah hendak berjalan menuju rumah Naya.
Dalam hitungan detik ia berlari ke arah Aminah membawa paper bag cokelat.
"Berikan ini pada teman-teman kerjamu yang lainnya selain Naya. Aku tidak tahu mereka ada berapa, tapi semoga aja cukup." Ucap Rizal.
Tanpa menunggu jawaban Aminah, Rizal memberikan paper bag itu pada tangan Aminah. Rambutnya yang sedikit berantakan dan setengah basah membuat Aminah salah tingkah. Ditambah aroma mentol yang menguar membuat Aminah menelan ludah.
'Ya ampun, ada apa denganku? Imanku mendadak lemah!' batin Aminah.
"Semoga mereka suka." Ucap Rizal lagi dengan jarak yang cukup dekat dengan Aminah.
"Mundur! Mundur! Mundur!" teriak Aminah spontan, yang seketika membuat Rizal menatap Aminah.
__ADS_1
Mata keduanya beradu. Aminah segera memalingkan wajah.
"Kenapa?" tanya Rizal yang terdengar bingung. "Eh, kamu pakai bedak apa ini? Kenapa wajahmu sangat merah?" Lanjut Rizal.
'Bisa-bisanya wajahku memanas di saat seperti ini. Bahaya, dia bisa menuduhku tentang hal yang aneh-aneh.' pikir Aminah.
"Minggir, aku mau berangkat!" Ucap Aminah sedikit ketus.
Rizal mengulurkan tangan ke arah Aminah. Tangan Aminah hampir saja menyambut uluran tangan itu, sebelum akhirnya tersadar dan menampiknya keras. Rizal justru terkekeh.
"Ciee ciee ...."
Aminah menoleh ke sumber suara, terlihat Pak Haris dan Bu Wati tengah berdiri di ambang pintu rumah dengan wajah yang tampak mengejek.
"Udah, langsung halalin aja. Kalau mau berantem bisa di kamar, nggak di luar kayak gini. Malu sama kucing di depan sana, tuh!" Ucap Pak Haris sambil menunjuk kucing yang memang ada di depan sana sedang menjilati tubuhnya.
"Saya sih mau-nya gitu, Pak Bray, tapi anak Bapak ini masih malu-malu," Ucap Rizal terdengar bersemangat, seakan mendapat dukungan.
"Diem ah!" Cebik Aminah.
Bibir Rizal selalu saja menampakkan gurat bahagia jika berada di dekat Aminah. Hal itu membuat dada Aminah semakin berdebar.
'Aduuuhh senyumnya itu buatku meleleh.' ucap Aminah dalam hati.
"Aku diamnya kalau tidur," Balas pria berlesung pipi itu. "Tapi itu kalau tidur sendiri, sih, nggak tau kalau nanti tidurnya sama kamu. Mungkin nggak tidur semaleman." Lanjutnya.
"Iiiihhh kamu kok makin aneh aja. Dasar Bambang." Ucap Aminah ketus.
"Lho, namanya Rizal, bukan Bambang, Min. Bambang itu kan nama kucingnya Pak Budi. Apa kamu pindah haluan jadi suka sama kucing? Aduh Nak, nyebut Nak, nyebut!" Ucap Bu Wati diiringi tawa dari Pak Haris.
Mulut Aminah menganga mendengar ucapan Bu Wati, sedangkan Rizal terbahak sambil memegangi tangan Aminah. Entah bagaimana ceritanya, tangan Rizal menggenggam tangan Aminah. Sepertinya Rizal tidak sadar, karena masih saja tertawa keras. Sementara Aminah...
__ADS_1
'Aku kesetrum....!' batin Aminah.
Bersambung....