
Malam harinya, Rizal berkunjung ke rumah Aminah, untuk sekedar mengobrol dengan Pak Haris dan memberitahukan kepada Pak Haris tentang apa saja yang dia lakukan bersama dengan Aminah kemarin di acara pertemuan dengan rekan bisnisnya itu.
Pak Haris tengah duduk dengan sang istri.
"Saya sudah berjanji untuk tidak menyentuh Aminah sebelum halal Pak, jadi percayalah sama saya. Emmm, tapi sejujurnya saya sudah pegang tangan Aminah, gak lebih dari itu." Lanjut Rizal.
"Hahahahaha..." seketika tawa Pak Haris pecah membuat Rizal menjadi bingung.
Tadinya Pak Haris memang menggoda Rizal dengan mengatakan tidak boleh menyentuh Aminah sembarangan saat mereka berduaan.
Bu Wati menyenggol lengan suaminya yang tengah tertawa terbahak-bahak.
"Eehh maaf, maaf. Saya percaya sama kamu. Cuma Bapak jadi keinget kejadian lucu saat jaman waktu saya pacaran sama ibunya Aminah dulu." Ucap Pak Haris.
Aminah yang baru turun dari lantai atas ikut duduk melingkar di ruang tamu.
"Kejadian lucu apa Pak?" Tanya Aminah penasaran.
Setelah siang tadi perasaan Aminah sedikit lebih baik setelah beristirahat di kamar. Kini dia ikut berkumpul bersama kedua orang tuanya dan juga Rizal.
"Dulu saat Bapak pertama kali pacaran sama ibumu, ibumu ini orangnya kolot." Ucap Pak Haris.
"Iihh Bapak ngomong apaan sih. Eh ibu lupa, ibu mau buat minum dulu ya." Ucap Bu Wati beranjak menuju dapur.
"Maksud Bapak nyebut ibu itu kolot kenapa?" Tanya Aminah.
"Dulu ibu kamu itu ketakutan saat pertama kali Bapak pegang tangannya." Jawab Pak Haris.
"Takut? Kok bisa Pak?" Tanya Rizal yang ikut antusias mendengarkan cerita Pak Haris.
"Ibu itu ngira kalau pegangan tangan itu bisa buat dia jadi hamil. Hahaha." Ucap Pak Haris terbahak.
Aminah menatap Rizal dengan tatapan penuh tanda tanya. Rizal mengangkat kedua bahunya.
"Apanya yang lucu Pak?" Tanya Aminah lagi.
"Ya ibu kamu. Masa gara-gara Bapak pegang tangannya dia malah nangis. Minta Bapak tanggung Jawab, katanya takut bakalan hamil." Ujar Pak Haris.
"Hahahahaha..." Seketika tawa Aminah dan Rizal ikut pecah.
"Ibu....ibu...." Ucap Aminah.
"Itu dulu karena nenek kamu wanti-wanti kalau ibu pacaran itu gak boleh sampai kontak fisik. Nenek kamu bilang jangan sampai ada lelaki yang pegang tangan ibu, nanti bisa hamil." Ucap Bu Wati sambil meletakkan minuman diatas meja.
Rizal mengangguk-angguk sembari cengengesan.
"Makanya ibu sama Bapak mau kamu itu jangan kelewatan kalau kontak fisik. Ucapan nenek kamu dulu itu ada benarnya juga, dari awalnya pegang tangan, lanjut ke peluk, lanjut ke cium, ujung-ujungnya main kuda-kudaan." Sambung Bu Wati cekikikan.
"Untuk itu, Bapak saranin, kalau sudah siap, lebih baik secepatnya menikah. Takutnya iman bisa goyah. Tapi insyaallah, Bapak yakin kalian berdua bisa menahan diri. Iyakan bro..." Ucap Pak Haris menepuk pundak Rizal yang menunduk.
"Eeehh iya-iya Pak Bro. Saya janji gak akan nganu sebelum sah." Balas Rizal disambut tawa Pak Haris dan Bu Wati.
Sementara Aminah tampak malu, kedua pipinya merona merah.
'Bisa-bisanya mereka bicara masalah nganu...' ucap Aminah dalam hati.
__ADS_1
...----------------...
Aminah dan Rizal duduk berdua di teras rumah, setelah mengobrol ringan bersama kedua orang tua Aminah.
"Gimana? Kamu mau gak nikah sama aku?" Tanya Rizal ceplas ceplos.
"Kamu yakin mau nikah sama aku? Kamu itu belum kenal aku dengan baik." Ucap Aminah.
"Gak kenal gimana maksud kamu? Kamu Aminah, putri semata wayang dari Pak Haris dan Bu Megawati Bukan Soekarno Putri. Makanan favorit kamu coklat. Hobi kamu traveling. Ukuran sepatu kamu 38. Pakaian mu ukurannya S, bra kamu...."
"Hei...." Ucap Aminah memotong ucapan Rizal.
Rizal cekikikan. Dia lalu memegang tangan Aminah dan menciumnya.
"Jangan takut, kamu gak akan hamil." Gelak Rizal.
Puk..!
Aminah menepuk pundak Dani.
"Jangan sembarangan cium anak gadis orang." Protes Aminah.
Setelah itu, Rizal lalu berdiri diikuti Aminah.
"Aku pulang ya, udah malam. Gak enak sama tetangga-tetangga. Sabar ya, nanti kalau udah nikah kita bisa 24 jam bersama. Meski didepan orang sekalipun aku gak akan malu buat meluk kamu." Ucap Rizal.
"Ngomong apa sih. Udah sana pulang, hati-hati dijalan." Ucap Aminah mendorong Rizal.
"Pee-luk..." Rengek Rizal.
"Kalau gitu cium, kan kilat. Gak akan ada yang lihat." Ucap Rizal lagi seraya menunjuk pipi kanannya.
"Iiihh gak mau, malu tuh sama cicak-cicak di dinding." Balas Aminah.
"Ya udah deh. Aku pulang ya." Ucap Rizal dengan wajah muram lalu menatap langit malam yang bertabur bintang. "Wah, ada bintang jatuh..." Tunjuk Rizal ke arah atas.
"Mana?" Tanya Aminah antusias.
Cup...!!!
"Dah Aminah sayang, makasih ya. Assalamualaikum..." Ucap Rizal berlarian menuju rumahnya setelah mendaratkan sebuah ciuman di pipi kanan Aminah.
Wajah Aminah memerah menahan malu. Ingin ia berteriak namun takut membuat keributan yang akan memancing tetangga keluar.
"Waalaikumsalam..." Ucap Aminah pelan sambil menyentuh pipinya bekas bibir Rizal.
"Hmmmm..... dasar anak nakal..." Ucap Bu Wati cekikikan di pintu.
"Ii-bu..." Aminah jadi gelagapan.
'Semoga ibu gak lihat tadi.' gumam Aminah.
"I-ibu sejak kapan disitu?" Tanya Aminah. "Ba... Bapak mana?"
"Baru aja, Bapak kamu lagi nonton tv. Udah sana masuk." Ucap Bu Wati.
__ADS_1
'Pffyuuhh syukurlah ternyata Ibu gak lihat.' pikir Aminah.
Aminah mengelus dadanya yang berdebar kencang.
"Lain kali hati-hati sama tipuan bintang jatuh." Ucap Bu Wati berjalan melewati Aminah.
"I-ibu....." Ucap Aminah berdiri mematung di ruang tamu.
...----------------...
Aminah sama sekali tidak bisa tidur, pikirannya melayang tentang hubungannya dengan Rizal.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Aminah dari nomor baru.
[Kau sudah ku peringatkan untuk menjauh dari Dani. Tapi ternyata kau gadis yang keras kepala...]
Aminah menghembuskan nafas dengan kasar, kemudian mulai mengetik pesan balasan.
[Sudah aku katakan, kami tidak ada hubungan apapun. Aku tidak mencintai Dani lagi. Dia hanyalah masa lalu bagiku.] Tulis Aminah.
Setelah mengirim pesan balasan itu ada sedikit perasaan lega di hati Aminah. Namun, sebuah pesan belasan kembali masuk ke ponsel Aminah.
[Aku tidak percaya. Kau akan tanggung sendiri akibatnya karena sudah menggoda Dani.]
[Terserah...]
Aminah tersenyum getir membalas kembali pesan itu. Ia merasa begitu heran dengan si pengirim pesan padanya. Kenapa orang itu tak bisa percaya bahwa Aminah sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan Dani.
Setelah itu tak ada lagi pesan balasan. Namun Aminah dikejutkan dengan notifikasi di akun aplikasi berwarna biru. Dimana ada permintaan tentang berpacaran dengan akun bernama Rizal Anggara.
"Kok...."
Ponsel Aminah berdering, menampilkan nama 'Si Buaya' menelepon. Dengan cepat Aminah mengangkat telepon itu.
"Cepetan di konfirmasi, biar seluruh dunia tau kalau kita sudah pacaran." Ucap Rizal langsung mematikan ponselnya.
Aminah terdiam. Dia bingung apakah setuju melakukan apa yang dikatakan Rizal atau tidak. Mereka berdua tidak pernah membicarakan hal ini sebelumnya. Aminah sendiri juga belum yakin dengan perasaannya terhadap Rizal.
Namun jari-jarinya seakan bergerak sendiri tanpa diperintahkan sudah mengklik tanda setuju pada status berpacaran yang dikirim oleh Rizal.
Aminah sedikit terkejut saat menyadari apa yang dia lakukan. Tapi Aminah berpikir bahwa apa yang dia lakukan ini mungkin saja bisa membuat orang yang terus menerornya dengan pesan berantai itu percaya bahwa dia memang sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Dani.
Tak butuh waktu lama, puluhan komentar langsung menyerbu status itu.
Congratulation Bro...
Segera halalkan...
Tinggal nikah aja...
Duhh ada yang Cinta Lima Langkah nih...
Wah Aminah diam-diam....
Dan masih banyak komentar yang lainnya.
__ADS_1
Bersambung.....