Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Sakit


__ADS_3

Aminah mengerjap beberapa kali saat merasakan sinar matahari seakan menusuk mata. Tangannya terus berusaha mencari benda apa pun untuk menghalangi sinar itu, tetapi detik berikutnya ia segera tersadar dan terduduk cepat.


Aminah mengedarkan pandangan dan ternyata sudah ada di kamarnya sendiri. Aminah melirik jam di dinding yang menunjukkan angka sembilan. Aminah mulai mencoba menerawang kejadian beberapa saat lalu, berpikir keras kenapa tiba-tiba dirinya sudah ada di kamar dan berganti pakaian bersih.


Dengan memijit pelipis pelan, Aminah perlahan ingat. Entah bagaimana ceritanya, karena terakhir yang dia ingat bahwa dia sedang berada di mobil Dani lalu matanya terasa berat dan perlahan terpejam.


'Apa Dani yang mengangkat ku?' tanya Aminah dalam hati.


Perlahan Aminah mulai beranjak dari ranjang, lalu menuju kamar mandi dan segera salat subuh.


'Maafkan, ya Allah.' ucap Aminah dalam hati.


Seusai salat, Aminah baru menyadari ada catatan kecil dari Bu Wati di meja samping ranjang.


[Tadi kamu udah Ibu bangunin buat salat subuh dan sarapan, eh kamu malah ngeluarin suara kambing. Itu nanti dimakan bubur sama obatnya, semalam badanmu agak panas. Hari ini nggak usah masuk kerja dulu. Ibu udah bilangin ke Naya untuk izinin ke Bu Soraya. Ibu mau ke pasar dan mau bantuin Ibunya Naya buat kue. Dari: Ibu mu, emak-emak paling cantik se-kompleks kita ini.]


Aminah tersenyum membaca tulisan Ibu nya itu. Dia lalu melepas mukenah nya dan menyimpannya ke tempat semula.


Perutnya yang sudah keroncongan membuat Aminah membuka bubur ayam buatan Ibu nya dan melahapnya cepat, sembari melihat beberapa pesan WA yang masuk, salah satunya dari Naya.


[Maaf Nay, semalam ketiduran.] Balas Aminah.


Detik berikutnya Naya langsung menelepon.


"Dah sehat, Min?" Tanya Naya dari seberang telepon.


"Alhamdulillah, Nay." Jawab Aminah.

__ADS_1


"Jangan capek-capek, Min. Semalam Bu Wati kasih tahu aku kalau kamu kurang enak badan." Ucap Naya.


"Iya." Balas Aminah singkat.


"Sudah sarapan? Tadi aku udah izinin kamu sama Bu Aya." Ucap Naya lagi.


"Ini lagi sarapan. Makasih ya." Balas Aminah.


"Ya sudah kalau gitu kamu istirahat yang banyak ya.. Minum obat jangan lupa." Pesan Naya.


"Asshiap." Balas Aminah yang membuat Naya terbahak.


Lantas panggilan keduanya berakhir.


Aminah kembali menikmati bubur buatan sang ibu sembari melihat pesan yang lain. Kali ini dari nomor Dani yang sengaja tidak ia simpan.


Aminah menghela napas panjang, entah salah atau tidak tindakannya kemarin. Yang jelas, Aminah merasa lega karena sudah mengungkapkan semua ganjalan di hatinya, tepat di depan orangnya langsung.


Aminah kembali meletakkan ponselnya, karena memang tak berniat membalas pesan dari Dani. Setelah makan, Aminah lantas mandi dan mencari baju kotornya untuk dicuci, tetapi tidak ada. Setelah menengok ke halaman belakang, ternyata sudah dicuci dan dijemur. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Ibunda Aminah yang tercinta, Bu Wati.


Akhirnya Aminah keluar rumah untuk mencari udara segar. Saat membuka pintu, betapa terkejutnya Aminah melihat sosok Dani tengah duduk dengan bersandar di kursi teras dengan mata terpejam.


'Sejak kapan ia di sini?' tanya Aminah dalam hati.


Bahunya terlihat naik turun secara teratur, sementara tangannya terlipat di dada. Dani tampaknya tertidur sangat lelap. Sejenak Aminah memperhatikan wajahnya yang bersih dari bulu halus itu.


'Takdir apa sebenarnya yang akan datang pada kita?' Tanya Aminah salam hati.

__ADS_1


"Ehem...." Ucap Aminah berusaha membangunkan Dani.


Mendengar suara Aminah, Dani lantas langsung terbangun.


"Maaf, aku ketiduran." Ucap Dani dengan matanya yang tampak memerah.


Aminah tampak menghela napas panjang.


"Ngapain tidur disini? Apa kamu diusir dari rumah?" Tanya Aminah ketus.


Wajah Aminah yang tampak kesal membuat Dani merasa gemas.


"Kamu cantik, Aminah." Ucap Dani.


Aminah berusaha menahan dirinya agar tak terlihat malu. Dia tak ingin Dani melihat bahwa dia merona akan pujian yang diucapkan Dani untuknya itu.


"Kalau kamu datang kemari cuma buat numpang tidur, rumahku ini bukan penginapan. Kalau kamu datang kemari cuma untuk mengucapkan kata-kata manis, aku tidak tertarik untuk mendengarnya. Jadi lebih baik kau pergi saja, karena aku tidak punya waktu untuk hal sepele seperti itu. Pulanglah..." Ucap Aminah hendak berbalik kembali masuk ke dalam rumahnya.


"Aku pernah mendengar pendapat seseorang yang pernah mengalami patah hati." Ucap Dani.


Mendengar ucapan Dani, langkah Aminah terhenti.


"Kelak ia akan mengubah pandangannya terhadap cinta di seumur hidupnya. Mungkin saat ini, kau sedang merasakan hal itu. Maaf, Aminah. Bukan maksudku tak memperdulikan semua ucapan mu kemarin. Tetapi setelah mendengar semuanya langsung darimu. Aku semakin bertekad untuk meminta maaf dan membuatmu jatuh cinta lagi padaku." Ucap Dani dengan wajah yang tampak begitu serius.


Aminah memijat pangkal hidungnya berkali-kali. Kepala kembali pusing jika mengingat ucapan Dani tadi sebelum akhirnya pergi. Dani memang langsung pergi setelah mengucapkan isi hatinya pada Aminah.


Dia meninggalkan dua plastik besar berisi buah-buahan dan beberapa makanan, serta suplemen kesehatan untuk Aminah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2