Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Kenangan


__ADS_3

Kenangan tentang Dani kembali berlari-lari dipikiran Aminah.


Matanya memanas saat mengenang masa itu, dengan jemari yang masih terpaku di atas layar HP yang masih menampilkan nama Dani di sana.


Lima tahun berlalu, tetapi momen itu masih saja terngiang dan terkenang. Bahkan, luka yang pernah tercipta tak mampu membuat Aminah sepenuhnya membenci.


Aminah merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari ujung mata, berbarengan dengan suara Naya yang keluar dari ruang belakang. Secepat kilat Aminah memalingkan wajah dan menghapus air matanya.


"Aku ke kamar mandi dulu." Ucap Aminah tanpa melihat Naya dan langsung berjalan cepat meninggalkan meja kasir.


Di kamar mandi, Aminah kembali melihat layar ponselnya, kemudian jemarinya bergerak pelan menekan tulisan hapus.


'Aku memang tidak lagi membenci, tetapi aku juga belum siap jika harus berdekatan lagi denganmu. Aku pernah mencintai begitu dalam, sebelum akhirnya aku terluka hingga remuk redam.' ucap Aminah dalam hati.

__ADS_1


...----------------...


Toko hari ini lumayan ramai, pesanan snack box dari salah satu pelanggan tetap untuk acara dadakan membuat Aminah dan Naya kewalahan. Tenaga yang hanya dua orang itu tak mampu meng-handle semuanya. Akhirnya, mereka terpaksa menutup toko sampai pesanan selesai.


Sekitar pukul 2 siang, toko kembali buka. Aminah membalik tulisan close ke open di pintu depan, tak lupa mengelap kaca pintu dan jendela agar terlihat lebih bersih.


Tiba-tiba Aminah teringat dulu saat liburan bersama Dani.


Saat itu Aminah dan Dani masih duduk di bangku kelas dua belas SMA, keduanya memang berada dalam satu kelas. Hari itu keduanya tengah mendapat jadwal piket kelas. Aminah dari dalam kelas tengah membersihkan kaca jendela. Sementara Dani berada di depan kelas tengah memunguti sampah.


Aminah tersenyum simpul jika mengingat kenangan itu.


"Awas, nanti pecah kacanya! Dari tadi dielus-elus mulu." Suara Naya dari dalam membuyarkan lamunan Aminah.

__ADS_1


Aminah tertawa kecil, lalu segera masuk.


"Pasti mikirin Dani. Ini tuh persis kayak kamu dulu pas pertama kali ada kabar Dani nikah sama si Maya itu. Banyak ngelamun. Kenapa sih, nggak coba aja buat ngebuka hati buat cowok lain aja. Toh sejak dulu banyak yang datang ngelamar kamu, bahkan sampai si Akbar putra juragan empang di kampung kita juga udah pernah ngelamar, malah kamu tolak." Ucap Naya.


"Siapa juga yang mikirin dia, sok tahu kamu." Ucap Aminah.


"Idih, ngeles mulu. Aku nunda nikah, jelas karena pengen cari duit buat bantuin Ibu. Kalau kamu? Gara-gara belum move on, kan?" Ucap Naya lagi.


Aminah menghela napas panjang.


"Nggaklah, aku masih pengen nikmatin masa-masa sendiri dulu." Balas Aminah.


"Bukan karena takut kalau dapet cowok terus kamu ngebandingin dia sama Dani, kan?" Ucap Naya.

__ADS_1


Aminah menatap Naya sekilas. Dia lalu menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis. Padahal dalam hati, berkata iya. Dia selama ini memang takut memulai semuanya dengan lelaki lain karena bayang-bayang Dani. Dia takut jika pria lain yang akan memasuki kehidupannya tidak bisa sesempurna Dani.


Bersambung....


__ADS_2