Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Hari Pertama


__ADS_3

“B.25” Aminah membaca sebuah nomor yang tertempel tepat di depan pintu kamar yang akan mereka gunakan.


Setelah tiba di penginapan, kali ini Rizal dan Aminah diantarkan oleh seorang bell boy yang membantu mereka untuk membawa koper dan juga membukakan kamar mereka.


“Thank you.” Ujar Rizal kepada seorang pria yang tingginya beberapa senti di bawahnya itu.


“You are welcome sir. Hope you enjoy. Call our staf if you have a problem” Ujarnya kemudian tersenyum ramah ke arah Rizal.


Rizal membalasnya dengan anggukan singkat kemudian membuka pintu kamar dan segera masuk ke dalamnya.


“Waaah, luas sekali” Ujar Aminah yang sedang terpesona dengan keadaan kamar mereka.


Ruangannya berukuran sekitar 7 x 5 meter. Terdapat sebuah ranjang besar dengan 4 bantal dibalut dengan sprei berwarna putih dan juga selimut dengan warna senada. Di kedua sisi sampingnya terdapat meja kecil dan juga lampu meja dengan motif etnik yang terlihat sangat menarik.


Di ruangan itu juga terdapat sofa berwarna putih tepat di depan LCD berukuran lumayan besar. Rizal berjalan menuju kamar mandi yang juga sangat luas, disana terdapat bath tub yang berukuran lumayan besar.


“Ah aku lelah.” Rizal mengayunkan langkahnya menuju ke ranjang dan menjatuhkan tubuh ke atasnya.


Rizal melirik kearah Aminah yang masih berdiri didepan pintu. Dia terlihat agak kaku dan benar-benar gugup.


'Ada apa dengannya?' pikir Rizal.


“Kenapa?” Tanya Rizal kemudian bangkit dari posisinya sembari membuka 2 kancing kemejanya.


Tiba-tiba Aminah menjadi salah tingkah ketika menyadari tangan kanan Rizal yang sedang bergerak untuk membuka kancing kemejanya.


“Anuu.... Aku hanya bingung apa yang harus aku lakukan sekarang.” Jawab Aminah dengan suara pelan.


Sesekali Aminah menghentakkan tumitnya dan menyentuh ujung rambutnya.


'Aduuh, kau terlihat sangat menggemaskan sayang.' ucap Rizal dalam hati.


“Mandilah.” Ujar Rizal kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah Aminah, membuatnya jadi salah tingkah karena Rizal mengulurkan tangan kanannya untuk membelai rambut panjangnya.


“Ah? A-aa.... Aapa...?” Balasnya dengan suara yang terbata-bata.


'Haha, istriku ini benar-benar polos.'


“Hei, kau ini kenapa? Aku hanya menyuruhmu mandi, setelah itu kita turun untuk makan siang. Apa kau tidak lapar?” Ujar Rizal dengan nada suara seperti biasa, yang membuat Aminah menghembuskan nafas lega.


Terlihat sekali kalau Aminah memang sedang gugup.


“Ehm. Ya, kita em… makan siang. Ya benar, hanya makan siang.” Aminah mengernyitkan dahinya dan memainkan tali dari tas selempang yang dipakainya.


Rizal tersenyum singkat, kemudian kembali duduk di pinggir ranjang saat Aminah mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi..


Jam 14.30, keduanya baru saja selesai makan siang. Karena kelelahan, Aminah memilih untuk tidur, begitu juga dengan Rizal. Hingga keduanya tertidur dengan pulas dan terbangun sore hari dan bersiap untuk makan malam.


Selesai makan malam keduanya kembali ke dalam kamar. Malam ini keduanya akan tidur dengan nyenyak, karena sejak beberapa hari terakhir disibukkan dengan belajar untuk ujian akhir.


Setelah kembali kedalam kamar, Aminah segera merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Masih dengan pakaian rapi yang ia kenakan untuk makan malam, Aminah melihat Rizal membuka kopernya untuk mengambil baju tidur dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


'Bagus, jika dia mengganti baju didalam kamar mandi maka aku bisa degan leluasa berganti baju disini.' gumam Aminah.

__ADS_1


Setelah berganti pakaian, keduanya naik ke atas ranjang. Kali ini kami berdua duduk sejajar dan menyandarkan punggung mereka ke kepala ranjang.


“Semingguan ini semuanya sangat melelahkan.” Gumam Aminah sembari memukul-mukul bahunya sendiri yang terasa pegal.


“Seluruh otot ku terasa kaku sekarang.” Balas Rizal kemudian memundurkan dudukannya hingga menjadi posisi berbaring.


Aminah masih duduk tegak sembari memeluk bantal dan menahan dagunya disana.


“Apa besok kita akan ke pantai?” Tanya Aminah dengan semangat kemudian melirik Rizal yang ternyata sudah memejamkan mata.


'Aish, kenapa cepat sekali sudah tertidur.'


“Em, pantai disini pasti sangat indah. Kita juga akan menikmati sunset besok.” Gumam Rizal dengan mata terpejam, dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya kemudian terlelap.


Keduanya memang sangat tergila-gila dengan pantai. Aminah sudah sangat tidak sabar menunggu pagi datang.


'Baiklah aku rasa hari ini sudah sangat melelahkan dan harus segera tidur sekarang juga.'


Aminah merebahkan tubuhnya dan menarik selimut hingga ke dadanya. Sesaat Aminah melirik Rizal yang sepertinya sudah terlelap.


'Aih, wajahnya imut sekali jika sedang tertidur seperti itu.'


Aminah membalikan badannya memunggungi Rizal. Sebenarnya Aminah sangat ingin memeluknya. Tapi sepertinya Rizal sudah sangat lelah. Aminah takut, jika dia memeluknya, maka Rizal tidak bisa bergerak dengan bebas ketika tidur.


Aminah memejamkan matanya yang sudah terasa sangat perih karena menahan kantuk. Tapi baru saja ia menutup mata, tiba-tiba ia merasakan tangan besar Rizal melingkar di pinggangnya. Aminah tersenyum sesaat kemudian mengelus punggung tangan Rizal yang tepat berada di perutnya.


...----------------...


Hari ini jadwal Rizal dan Aminah adalah pergi tour keliling di salah satu kota yang ada di pulau M dan sunset dinner cruise.


Udaranya memang benar-benar sejuk, walaupun panas matahari terik tapi tetap dingin.


Setelah berjalan-jalan selama beberapa saat kali ini waktunya mereka menikmati makan siang. Walaupun mereka berdua agak sedikit tidak menyukai makanannya, tapi semua rasa itu memang unik di lidah mereka. Aminah bahkan hanya menghabiskan setengah dari makanan yang disajikan.


"Lebih enak makan mie buatan kamu." Kata Aminah pada Rizal.


Rizal hanya terkekeh.


Selesai makan siang, mereka kembali berkeliling untuk untuk melihat-lihat berbagai macam kerajinan khas daerah B. Setelah puas menikmatinya, mereka berdua diantar menuju pelabuhan, siap mengarungi selat B dengan kapal pesiar dengan suasana senja yg romantis, sambil menikmati dinner di atas kapal pesiar.


"Benar-benar hari yang sangat menyenangkan. Sangat-sangat menyenangkan karena aku ditemani oleh mu istriku tercinta." Ucap Rizal pada Aminah.


Setelah selesai makan malam, akhirnya mereka berdua kembali ke hotel.


"Ah hari yang cukup melelahkan tetapi sangat berkesan. Sungguh suatu wisata yang sangat memuaskan." Ucap Aminah.


Keduanya kini sudah berada di dalam kamar. Setelah seharian mengeksplorasi daerah B, dan berakhir dengan makan malam romantis di atas kapal pesiar dengan pemandangan sunset yang luar biasa indah.


Aminah keluar dari kamar mandi setelah berganti baju. Kali ini ia mengenakan baju tidur yang diberikan oleh Naya. Dress tidur berwarna putih tanpa lengan dengan 3 kancing di atasnya. Aminah melihat Rizal yang sedang sibuk dengan ponsel di tangannya, dia duduk di atas ranjang dan meluruskan kakinya, seluruh perhatiannya tertuju pada layar ponsel, sampai dia tidak sadar kalau Aminah sudah duduk di sampingnya.


“Kau sedang apa?” Tanya Aminah kemudian memajukan kepalanya untuk melihat layar ponselnya.


“Menghubungi Romi untuk menanyakan keadaan cafe hari ini” Ujar Rizal tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun pada Aminah.

__ADS_1


Rizal memang tengah menjalankan usaha di bidang kuliner dengan membuka sebuah cafe selain bekerja di sebuah perusahaan tempat dia bekerja selama ini.


'Aish, menyebalkan. Ini malam kedua kami honeymoon, dan dia masih sibuk dengan pekerjaannya.'


Aminah yang tidak tahu harus berbuat apa akhirnya mengambil ponselnya yang terletak begitu saja diatas meja. Mengirim pesan pada Naya untuk menanyakan bagaimana kabarnya. Sudah 1 minggu ini Aminah tidak bertemu dengannya. Mereka berdua hanya mengirim pesan atau sekedar bertelepon karena Naya sendiri sedang sibuk dengan kehamilannya yang sudah membesar.


[Apa yang kau lakukan hari ini?]


Aminah menggenggam ponsel berlogo buah itu di tangannya, tak sabar menunggu Balasan dari Naya. Beberapa saat kemudian ponsel di tangannya bergetar.


[Hari ini pergi piknik bareng Mas Anto. Aku bosan di rumah, jadi pergi untuk refreshing.]


“Kau sedang apa?" Kali ini Rizal yang penasaran akhirnya mendekatkan wajahnya untuk melihat layar ponsel Aminah.


Tapi Aminah segera menutup layar ponselnya dengan telapak tangannya agar Rizal tidak bisa melihatnya. Aminah melirik ke meja kecil di sampingnya dan ternyata Rizal sudah meletakan ponsel berwarna hitam miliknya itu disana.


“Ini, sudah malam. Letakkan ponselmu." Rizal mencoba meraih ponsel yang masih dalam genggaman Aminah, tapi Aminah menghindarinya.


“Apaan sih, aku lagi chatting bareng Naya.” Jawab Aminah dengan tidak peduli.


“Istriku sayang, sudah pukul 9 malam berarti Naya harusnya istirahat. Kasihan dia itu sedang hamil tua." Rizal mengelus rambut Aminah dengan lembut.


'Mencoba merayu rupanya, huh?' gumam Aminah.


“Aku tahu. Tapi aku bosan karena kau sendiri juga sibuk dengan ponselmu. Kau bahkan tidak memperhatikanku sama sekali." Aminah menggembungkan pipinya dengan kesal kemudian menarik sudut bibirnya mencibir Rizal.


“Maafkan aku sayang. Aku hanya menanyakan kabar cafe pada Romi. Bagaimanapun juga aku tidak boleh melepaskan tanggung jawab begitu saja.” Rizal meraih tangan kanan Aminah yang masih menggenggam ponsel.


“Hem, terserah kau.” Ujar Aminah masih dengan nada tidak peduli.


Aminah sama sekali tidak menatap wajah Rizal yang kini sangat dekat dengan wajahnya.


“Ayolah, jangan seperti ini. Kita kan sedang honeymoon. Jadi kumohon kurangi kebiasaan mengomel mu itu, sayang." Rizal merapikan rambut Aminah yang sedikit berantakan, kemudian mengusap punggungnya dengan lembut.


Aminah tidak dapat membalas perkataannya karena tiba-tiba Rizal menarik ponsel dalam genggaman Aminah kemudian menaruhnya diatas meja kecil di samping tepat tidur mereka. Rizal menunjukan cengiran lebar setelah itu dia menatap tajam ke arah Aminah, membuat Aminah menjadi salah tingkah ketika melihat tatapan matanya yang terasa aneh.


Rizal mendekatkan wajahnya ke wajah Aminah. Kali ini Aminah mulai menutup kedua matanya ketika bibir Rizal hampir menyentuh bibirnya. Rizal dapat merasakan hangat napas Aminah tepat di wajahnya. Napas yang membuat Rizal bertahan hidup hingga saat ini.


Rizal tidak tahu sihir apa yang Aminah punya hingga bisa membuatnya begitu tergila-gila seperti ini.


'Istriku, tidak kah kau tahu. Kau itu terlalu mempengaruhi hidupku. Kau selalu saja terlibat dalam setiap hari-hariku, bahkan ketika kau sedang tidak ada disamping ku. Bayanganmu terus saja berkeliaran di dalam pikiranku. Ikatan mu terlalu kuat hingga aku tidak bisa terlepas sama sekali.' ucap Rizal dalam hati.


“Rizal…” Aminah kembali membuka matanya beberapa saat kemudian.


Mungkin Aminah heran karena Rizal belum juga menyentuh bibirnya. Rizal memang sedang ingin memandangi wajah cantik istrinya itu.


Rizal mengelus pipi Aminah dan masih melingkarkan tangannya di pinggang Aminah. Aminah tersenyum kemudian kembali memejamkan matanya. Rizal menggerakkan kepalanya mendekat ke arah Aminah. Fokus matanya kali ini adalah bibir Aminah.


'Sungguh ini adalah hal yang paling aku tunggu, aku berharap bisa menghabiskan malam ini denganmu. Berdua meluapkan semua cinta yang sudah tidak terbendung. Merasakan hal yang selama ini hanya ada dalam bayanganku.' ucap Rizal dalam hati.


“Sayang....” Aminah membuka mata saat menyadari Rizal melepaskan bibirnya.


Dan saat bibir Aminah terbuka untuk kembali berucap, Rizal kembali menciumnya lebih dalam dari sebelumnya. Aminah sedikit kaget karena Rizal melakukannya secara tiba-tiba. Rizal melakukannya dengan lembut dan sangat hati-hati, dia tidak ingin Aminah merasa tidak nyaman.

__ADS_1


Rizal hanya ingin mereka berdua menikmati semuanya, dan merasakan sensasi luar biasa saat melakukannya.


Bersambung....


__ADS_2