
Sebuah motor tiba-tiba berhenti di halaman toko. Aminah yang mengetahui itu adalah motor Andika dengan cepat berlarian ke halaman toko.
"Aminah, aku mau traktir kamu makan, sesuai janji aku. Aku keterima kerja di perusahaan itu." Ucap Andika antusias tanpa mengetahui bahwa dari depan toko ada sosok Dani yang berdiri menatap mereka dengan tajam.
Dani dan Naya mendekat ke arah Aminah dan Andika. Sontak Andika kaget melihat Dani.
"Eh lu Dan, mau jemput Aminah ya. Hmm kalau gitu traktir makannya lain kali aja ya Min." Ucap Andika tak enak hati, dia kemudian menyalakan motornya lagi.
Andika tahu benar bagaimana hubungan Aminah dan Dani selama mereka masih bersama dulu. Namun setelah mendengar kabar Sani yang menikah, Andika memberanikan diri mendekati Aminah bahkan melamarnya. Namun, sekarang saat dia mengetahui bajwa Dani sudah cerai, dia merasa ada kemungkinan bahwa Dani dan Aminah bisa bersatu kembali.
Tiba-tiba Aminah langsung naik di jok belakang motor Andika, kemudian memeluk Andika dengan erat.
Andika kaget, dan merasa tidak enak hati melihat tatapan Dani.
"Yuk Ndi, kita jalan." Ucap Aminah manja.
Raut wajah Dani semakin menunjukkan kecemburuan. Ia kemudian berjalan menghampiri Aminah dan menariknya agar turun dari motor Andika.
"Ayo turun, biar aku yang antar pulang." Ucap Dani.
"Lepasin, aku gak mau pulang sama kamu. Noh pulang aja berdua sama Naya." Teriak Aminah.
"Min, masa iya kamu nyuruh aku pulang berdua sama Dani. Kan gak enak Min, takut ada yang salah paham." Ucap Naya.
"Terserah, aku gak perduli." Pekik Aminah.
"Ayo turun." Paksa Dani.
__ADS_1
"Nggak." Ucap Aminah berteriak. "Dengerin Pratama, kau jangan lagi memaksa aku untuk kembali mencintai kamu, karena aku sama sekali tidak mau laki-laki yang sudah berkhianat. Memangnya apa yang membuat kamu berpikir bahwa aku mau kembali sama kamu setelah kamu sendiri yang meninggalkan aku? Jangan terlalu banyak bermimpi." Ucap Aminah penuh penekanan.
Deg! Jantung Dani seolah berhenti berdetak. Remuk sudah hatinya mendengar semua ucapan Aminah.
"Ka-kamu bohong kan!" Seru Dani.
"Serius lah, ngapain aku bohong. Dengerin baik-baik ya. Mulai sekarang stop ganggu-ganggu aku lagi. Aku risih sama keberadaan kamu. Aku gak suka sama kamu." Teriak Aminah penuh kemarahan.
Dani berusaha menahan sesak di dadanya. Ia menghembuskan napas dengan perlahan.
"Baiklah Aminah, kalau itu mau kamu. Aku janji gak akan pernah lagi terlihat di mata kamu. Satu hal yang aku mau, semoga kamu selalu bahagia." Ucap Dani seraya memegang pucuk kepala Aminah.
Sekuat mungkin Dani berusaha menahan air matanya agar tak jatuh dihadapan Aminah.
"Ayo Naya masuk, aku antar pulang." Ucap Dani.
Sementara Aminah hanya diam terpaku menatap kepergian mobil Dani.
Malam harinya, Aminah memutuskan pergi ke rumah Naya. Dia merasa bersalah karena sudah meninggalkan Naya untuk pulang berdua bersama Dani.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum..." Ucap Aminah memberi salam.
"Eehh Nak Aminah. Waalaikumsalam." Balas Bu Mil.
"Bu Mil, Naya nya ada?" Tanya Aminah.
__ADS_1
"Kamu tuh ya, dari dulu dikasih tau. Jangan panggil ibu dengan sebutan itu. Nanti orang-orang pada kaget dikiranya ibu ini hamil beneran. Panggil nama lengkap, Bu Mila." Ucap ibunya Naya.
"Yaah, gak keren dong Bu. Bu Mil kan bagus tuh." Ucap Aminah.
"Bagus apanya, kamu itu dulu ngagetin orang satu kompleks pas manggil-manggil saya. Sudah sana, Naya ada di kamarnya. Mungkin lagi mempersiapkan diri buat acara besok malam. Ibu mau ke rumah kamu dulu, mau ngasih tau orang tua kamu sama tetangga-tetangga yang lain sebagai tamu undangan." Balas Bu Mil.
"Ashiiapp Bu Mil." Balas Aminah cekikikan.
"Hushh, Bu Mila " Ucapnya seraya berjalan keluar rumah.
Aminah kembali cekikikan. Belum sempat ia berjalan masuk ke kamar Naya. Bu Mil kembali masuk rumah.
"Aminah..." Ucap Bu Mil.
Aminah berbalik, "Iya..." Balasnya.
"Sing berubah to jadi cewek, jangan sering-sering ngerjain orang tua. Kamu itu kualat sama ibu, sering teriak-teriak manggil ibu, Bu Mil. Nah sekarang jodoh kamu berat toh, seberat berat badan ibu." Ucap Bu Mil cekikikan lalu kembali menutup pintu.
"Bu Milaaa..." Teriak Aminah.
Terdengar suara tawa Bu Mil dari depan rumah. Aminah hanya tersenyum. Ia mengingat dulu pernah suatu hari ia diminta Bu Mila untuk membeli kue pada Bu Mil.
Dari depan rumahnya, Aminah berteriak memanggil Bu Mil.
"Bu Mil.... Bu Milaa...." Teriak Aminah kala itu.
Bersambung...
__ADS_1