
Hujan lebat menemani suasana pagi ini. Aminah sebenarnya enggan untuk bangun dari atas tempat tidur. Tapi dia harus tetap bekerja. Setelah selesai sarapan, Aminah segera bersiap berangkat ke toko.
"Nggak nunggu agak terang dikit, Nak?" Tanya Bu Wati.
Aminah menoleh ke arah Bu Wati yang tengah menikmati nasi goreng di meja makan bersama Pak Haris.
"Sudah telat, Bu. Nggak enak sama Naya, dia udah jalan duluan tadi." Balas Aminah.
"Calonnya Naya itu sepupunya Dani, ya?" Tanya Bu Wati lagi.
Aminah mengangguk sambil memasukkan sepatu yang dia kenakan untuk bekerja ke dalam sebuah plastik hitam, agar tidak basah. Aminah berangkat memakai sandal jepit.
"Ganteng ya, si Irfan itu. Sepertinya juga sudah dewasa sekali. Mungkin usianya sudah 30an, baru nemu jodoh sekarang." Ucap Bu Wati lagi.
Bibir Aminah tersenyum tipis.
"Masih 30an, laki-laki umur segitu masih santai Bu, nggak terlalu beban bagi dia kalaupun belum juga nikah." Balas Aminah.
"Loh, Bapakmu ini, dulu umur 23 tahun udah nikah. Nggak pakai pacaran sama ibumu. Jadi inget, pertama ketemu ibumu pas lagi mancing." Pria yang sudah mulai beruban itu terkekeh saat mengingat masa lalunya.
Sembari memakai jaket Aminah memandang Pak Haris.
"Mancing ikan?" Tanya Aminah penasaran.
"Mancing emosi." Celetuk Bu Wati.
"Ha?" Aminah melongo heran.
Pak Haris terkekeh.
"Dulu, ceritanya Bapak lagi debat sama teman gara-gara masalah duluan telur apa ayam. Ya, Bapak jawab duluan ayam. Eh, temen Bapak jawab duluan telur. Gitu terus sampai lulus kuliah." Ujar Pak Haris.
Aminah memutar bola mata malas mendengar ucapan Pak Haris.
"Terus suatu saat ibumu ini lewat. Rasanya langsung merinding pas ibumu ngomong, berusaha melerai. Ya Allah, mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan kesepuluh." Ucap Pak Haris.
"Banyak banget pandangannya." Balas Aminah cekikikan.
"Ya, soalnya temen-temen ibumu juga pada cantik. Bapak, kan, milih enaknya lihat siapa dulu. Tapi ibumu paling cantik, jadi ya udah, Bapak milih ibumu. Semoga ibumu nggak nyesel." Ucap Pak Haris seraya mencubit pipi isterinya.
Pak Haris kembali menyuapkan nasi goreng ke mulutnya, setelah bercerita panjang lebar.
"Saingan Bapak dulu banyak, bahkan sampai dosen aja naksir sama ibumu. Tapi, ya semua kalah sama seperangkat alat shalat yang Bapak bawa." Ujar Pak Haris tampak bangga.
"Wuuuidiiiih, Bapak langsung ngelamar ibu?" Tanya Aminah penasaran.
Aminah berapi-api mendengar cerita Pak Haris.
"Ya enggaklah, Bapakmu ini jualan alat-alat shalat dulu. Terus titip ke ibu sewaktu Bapakmu mau tawuran." Celetuk Bu Wati.
"Eh, pas Bapak balik, hilang barang-barang dagangan Bapak. Ya, ibumu kudu tanggung jawab ganti pakai hatinya." Sambung Pak Haris.
'Hadeh, cerita macam apa ini?'
"Awalnya coba-coba, akhirnya jadi ketagihan, nyaman, terus nikah, terus ... jadi kamu." Pak Haris terbahak setelahnya.
"Ya itu yang dinamakan jodoh. Bakal mendekat sendiri kalau memang sudah takdirnya, dan bakal terlepas kalau bukan jatahnya," sambung Bu Wati yang gemar memakai daster motif bunga itu.
"Doakan aku supaya cepat dapet imam juga." Ucap Aminah.
"Ya, ke masjid saja kalau pengen dapet imam. Ada Pak Ali, Pak Mahmud, atau Pak Soleh. Tinggal pilih." Ucap Pak Haris.
Bu Wati ikut tergelak sambil membawa piring bekas sarapannya ke wastafel.
"Aku berangkat dulu, Pak, Bu." Aminah bergegas keluar setelah mengucap salam.
...----------------...
Sesampai di toko Aminah langsung masuk lewat pintu belakang karena bajunya basah semua. Meski Aminah sudah memakai payung, karena hujan yang lumayan deras disertai angin, Aminah tetap saja jadi basah kuyup.
Basah semua rambut dan juga bajunya. Aminah bergegas masuk, melepas jaket, dan menyimpan tas di tempat biasa. Aminah mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia berpikir bahwa Naya sepertinya sedang keluar, karena terlihat ada tasnya, tetapi orangnya tidak ada.
Aminah mengambil baju ganti, yang sengaja ia tinggalkan di loker, lalu dia segera ke kamar mandi. Dia langsung membuka pintu kamar mandi dan ....
"Huaaa ...!" Teriak Aminah histeris saat melihat Rendi tengah melepas baju di dalam kamar mandi.
Aminah menutup pintu itu lagi dan segera membalikkan badan.
'Mataku ternoda.
Kepalaku mendadak pusing....
Hatiku cenat-cenut.
Aduuhh apa itu tadi...?'
Roti sobek di perut Rendi menari-nari di kepala Aminah.
'Ya Tuhan, aku benci pikiran ini!'
"Kenapa tidak dikunci pintunya!" Teriak Aminah dari luar. "Terus kenapa kamu bisa disini?" Teriak Aminah lagi.
Terdengar pintu kamar mandi terbuka, Aminah masih belum berani berbalik arah atau pun menatap Rendi.
"Maaf, aku lupa. Tadi buru-buru." Disusul suara langkah Rendi yang menjauh.
Aminah segera masuk ke kamar mandi dan menutup pintu rapat-rapat.
Setelah berganti pakaian, Aminah segera menjemur pakaian basah di tempat biasa menjemur kain lap. Lalu, beranjak ke arah tempat membuat minuman.
'Sepertinya secangkir cokelat panas cocok untuk saat ini.' pikir Aminah.
Aminah lalu mengambil 3 cangkir. Dia ingin membuat cokelat panas, satu untuk Rendi dan satu untuk Naya nantinya saat dia sudah kembali.
__ADS_1
Saat tengah asik mengaduk bubuk cokelat yang sudah bercampur dengan air panas, tiba-tiba Aminah merasa ada yang menutupi kepalanya dengan kain hangat lalu mengusapnya lembut dan pelan. Dari aroma parfumnya Aminah sudah tahu itu siapa.
'Rendi...!'
"Kamu bisa kena flu kalau ngebiarin rambut basah terlalu lama," Ucap Rendi sambil terus mengusap rambut Aminah lembut.
"A-pa kamu sudah pakai baju?" Tanya Aminah gugup.
"Bajuku masih basah, dan aku nggak bawa ganti. Bajuku masih aku jemur." Balas Rendi.
'Ya ampun, itu artinya dia ....'
"Ka... mu tahu, kan, biasanya ... kalau ada dua orang berbeda jenis di ruangan sepi, yang ketiganya itu se-tan," Ucap Aminah tergagap, ditambah suasana yang syahdu membuat pikirannya ke mana-mana.
Rendi terkekeh.
"Lebih baik aku keluar dulu, Ren. Takut terjadi hal yang iya-iya nanti. Soalnya aku paling lemah kalau udah lihat roti sobek." Ucap Aminah.
Aminah bersiap melangkah, tetapi ditahan.
"Jangan, Ren. Nanti ada setan di antara kita!" Ucap Aminah.
Aminah berusaha melepaskan cengkeraman itu tanpa menoleh ke arahnya. Tiba-tiba Aminah merasa panas di bagian belakang.
'Tuh, kan, berasa panas sekarang. Pasti setannya udah stand by di belakangku.' pikir Aminah.
"Ren, udah kerasa panas ini. Setannya udah dateng!" Ucap Aminah cemas.
"Maksudmu, ibu ini setan?"
'Suara itu?'
Aminah segera berbalik dan seketika terperanjat. Terlihat wanita berkerudung yang tak lain adalah Bu Aya, bos Aminah, tengah berada di depannya sekarang dengan membawa panci yang mengeluarkan asap.
'Mampus! Jadi, sejak tadi aku mengatai beliau setan.' batin Aminah.
"Ibu, anu ... itu, saya setannya." Ucap Aminah tiba-tiba gagap.
Sementara Rendi yang ternyata sudah memakai pakaian lengkap, terlihat menahan tawa.
Mereka bertiga lalu duduk di dapur. Rendi duduk di depan Aminah, sedangkan Bu Aya duduk di sisi kanannya.
Aminah kembali bersua hari ini dengan Bu Aya, terakhir bertemu saat acara peresmian warung makan ala korea Mbak Nana isteri dari sepupunya Dani. Wanita dengan wajah teduh dan berjilbab itu datang ke toko kue hari ini karena Aminah dan Naya akan gajian.
Apesnya, dihari gajian, Aminah malah mengatai bosnya setan.
'Yaa Allah... mukaku cuma satu, mau ditaruh di mana ini? Semoga gaji ku gak dipotong.' ucap Aminah dalam hati.
"Kenapa?" Suara Rendi membuyarkan lamunan Aminah.
Aminah menatapnya sekilas, lalu berpaling ke arah Bu Aya yang juga tengah menatapnya dan seketika menggeleng sambil tersenyum canggung.
"Maaf soal tadi, Bu," Ucap Aminah lirih.
"Yang mana?" Tanya Bu Aya tampak bingung. "Yang kamu ngaku kalau ternyata setan?"
'Duh, kenapa malah aku yang dikatain setan?'
"Untung tidak dibacakan doa mau makan tadi," Ucap Rendi bernada mengejek, refleks Aminah menginjak kakinya. Namun Rendi justru terkekeh.
"Kenapa memangnya?" Bu Aya menatap keduanya bergantian, dengan dahi mengernyit.
"Aminah itu..."
"Kemarin, ada teman aku yang ketakutan melihat setan. Mungkin, karena saking takutnya yang dia baca doa mau makan." Aminah memotong ucapan Rendi yang sepertinya akan membuka aib-nya.
"Ada-ada saja teman kamu itu."
Bu Aya kembali menikmati bubur kacang hijau yang ia bawa dari rumah tadi.
Aminah menatap Rendi dengan wajah mengancam. Rendi hanya tersenyum sambil menyendok kan bubur itu ke mulutnya.
"Ngomong-ngomong, gimana hubungan kamu sama Dani. Apa kalian balikan ya? Kapan kamu mau nikah?" Tanya Bu Aya.
Aminah menggeleng pelan dengan senyum terpaksa.
"Dia cuma masa lalu, Bu." Balas Aminah. "Saya juga belum mau menikah, karena memang belum menemukan yang tepat." Lanjut Aminah.
Bu Aya tersenyum, tangannya terulur mengelus rambut Aminah lembut.
"Nggak apa-apa, dinikmati dulu masa-masa muda kalian, terutama kamu Ren. Ingat jangan sampai kebablasan. Nikah itu bukan perlombaan, bukan siapa cepat dia dapat, tapi akan datang di saat yang tepat. Dan ingat, restu orang tua juga sangat diperlukan." Ucap Bu Aya melirik Rendi.
"I-iya, mohon doanya, Bu." Balas Aminah.
"Aamiin," Balas Bu Aya dengan senyum yang terlihat sangat tulus.
Bu Aya memang sejak dulu tampak tidak menyukai hubungan Rendi putranya dengan kekasihnya, Maya. Tapi Bu Aya tetap terlihat ramah saat Rendi membawa Maya kekasihnya menemui dirinya.
"Kamu tahu gak Min, sejak pertemuan kalian di warung miliknya Nana, si Dani itu tidak henti-hentinya buat kepoin kamu. Sampai-sampai dia bela-belain tiap hari ngintai kamu dari luar toko." Ujar Bu Aya.
"Uhuk! Uhuk!"
Tiba-tiba saja Rendi terbatuk-batuk tak karuan.
Aminah langsung berdiri, mengambil segelas air dan mengarahkan ke mulut Rendi
"Makannya pelan-pelan, nggak ada yang mau minta. Buat kamu semua itu, sekalian sepanci-pancinya." Ucap Aminah seraya menepuk dan memijat punggung Rendi pelan.
"Makasih." Ucap Rendi.
"Waduuh, so sweet sekali kalian ini. Kayaknya kalian berdua lebih cocok deh." Ucap Bu Aya.
Aminah menautkan alis saat mendengar ucapan Bu Aya, yang entah sejak kapan mulai mengarahkan ponselnya ke mereka berdua. Sedangkan tangan Aminah masih berada di punggung Dani.
__ADS_1
"Ibu foto, ya. Buat masukin ke facebook." Ujar Bu Aya.
"Uhuk! Uhuk!"
Lagi-lagi Dani terbatuk, ia segera beranjak ke arah kamar mandi dan langsung menutup pintunya.
'Kenapa dia?' pikir Aminah.
Naya dan Anto akhirnya datang, dan bergabung bersama Bu Aya berbincang-bincang.
Setelah berganti pakaian dengan pakaian baru yang dibawa Bu Aya untuknya, Rendi pun pergi. Sementara Anto akhirnya berpamitan pulang setelah mengantar Naya.
Setelah dua jam, Bu Aya sang pemilik toko kue itu pun pulang setelah memberikan bukti transfer gaji pada Aminah dan Naya. Kemudian Aminah dan Naya mulai sibuk dengan aktivitas seperti biasa.
...----------------...
Tepat pukul 06.00 sore, toko sudah bersih. Aminah bersiap pulang bersama Naya.
Saat keduanya berjalan keluar toko, getar ponsel membuat Aminah menghentikan langkahnya.
'Bapak?'
[Ra, titip belikan martabak manis ya, Bapak kedatangan temen nongkrong.] Tulis Pak Haris.
Dahi Aminah mengernyit membaca pesan WA dari Pak Haris.
'Sejak kapan Bapak punya temen nongkrong?' pikir Aminah.
[Siap....] Balas Aminah.
Aminah kembali menyimpan ponsel dan mulai berjalan. Di tengah perjalanan Aminah ingat kalau isi di dompet hanya tinggal nota-nota belanjaan. Terpaksa harus mencari atm terdekat.
"Nay, kamu pulang duluan aja. Aku mau beliin Bapak martabak, mau ke atm juga sekarang."
"Ya udah, kamu hati-hati ya." Pesan Naya dibalas anggukan oleh Aminah.
Sesampai di ATM, Aminah masih harus mengantri, ditambah gerimis membuatnya melipat tangan di dada. Menahan hawa dingin.
Masih ada 2 orang lagi. Namun, tiba-tiba ada yang menyelinap masuk ke antrian depannya tanpa izin.
"Maaf, Dik. Saya duluan, ya, keburu hujan," Ucap emak-emak itu seperti tanpa rasa bersalah pada Aminah.
"Antri saja dari belakang, Bu. Kalau nikung gini namanya pelakor," Balas Aminah kesal.
"Saya cuma mau ambil uang sedikit, kok, Dik. Cepet!" Ucap ibu itu lagi.
"Menurut Ibu, saya dari tadi antri di sini mau audisi Indonesian Idol? Saya juga mau ambil uang buat beli jajan bapak saya. Silakan antri dari belakang, Bu. Mau saya mundurin apa mundur sendiri?" Ucap Aminah sehalus dan selembut mungkin.
Si Ibu terlihat kesal, lalu melangkah pergi. Nggak jadi antri. Aminah mengembuskan napas panjang.
'Ujian hidup udah berat banget, ditambah ujian lisan kayak gini. Sabar ... sabar ...' ucap Aminah dalam hati.
Aminah berusaha menenangkan diri.
Setelah mengambil uang, Aminah segera menuju ke penjual martabak manis pinggir jalan.
"Bang, martabak kayak biasanya 2, ya." Ucap Aminah.
"Siap, Mbak." Balas Tukang martabak itu.
2123 detik kemudian, pesanan pun selesai. Saking nggak ada kerjaan, Aminah pun sampai hitung detiknya.
Sesampai di rumah, Aminah kaget saat melihat sosok Rizal yang tengah asik bermain kartu dengan Pak Haris. Wajah mereka penuh coretan bedak.
"Eh, calon istriku sudah pulang." Rizal tersenyum ke arah Aminah.
Aminah meletakkan plastik putih berisi martabak manis di dekat Pak Haris. Lalu mencium tangan Pak Haris. Saat mendongak, ada tangan lain yang terulur ke arahnya.
"Mau latihan cium tanganku, nggak?" Tanya Rizal sambil memainkan kedua alisnya.
"Belum sah." Aminah menampik tangan Rizal, lalu duduk di samping Pak Haris. "Ngapain! Kok udah kesini aja jam segini?"
"Niatnya mau ngajakin kamu kawin lari, tapi belum pulang. Sambil nunggu kamu pulang, kita main kartu dulu. Iya, kan, Bro?" Rizal mengarahkan tangannya ke arah Pak Haris, seperti gaya tos khas anak muda.
"Yo'i, Bro!" Balas Pak Haris sembari menyambut tangan Rizal.
Mulut Aminah menganga melihat drama itu.
'Kenapa Bapakku jadi seperti ini, ya Allah!'
"Udah shalat belum Pak! Jam segini udah main kartu aja!" Ucap Aminah.
"Udah dong Nak, tadi Rizal juga yang jadi imamnya. Sekalian belajar biar bisa imamin kamu." Ucap Bu Wati yang membawa nampan berisi teh hangat, diikuti oleh gelak tawa Pak Haris.
Aminah menyandarkan punggung di kursi, lalu memandang sekitar, tetapi tidak menemukan mobil atau lainnya di sana.
'Dia naik apa ke sini?' pikir Aminah yang tak melihat kendaraan apapun yang terparkir dihalaman rumahnya.
"Aku nggak butuh mobil atau motor buat ke rumahmu. Cukup pakai baling-baling bambu," Ucap Rizal yang seakan tahu apa yang Aminah cari.
"Kayak lagu India itu. Aku ingin terbang bebas di angkasa." Bu Wati bersenandung.
"Hey baling-baling bambu." Pak Haris menimpali nyanyian Bu Wati. Lalu mereka terbahak bersama.
Aminah menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Untuk kamu, boleh panggil aku sayang kok, atau Bebeb? Honey? Daddy? Bapak? Papa?" Ucap Rendi sambil memainkan alisnya naik turun.
Aminah cekikikan seraya berdiri menatap Rendi.
"Awas jangan lama-lama lihatnya, ntar nyosor." Goda Bu Wati yang berjalan masuk ke dalam rumah. "Sudah sana masuk, ganti baju, shalat dulu terus bantuin ibu siapin makan malam." sambung Bu Wati.
Aminah mengekor di belakang Bu Wati, saat melewati Rizal, Rizal memegang tangan Aminah.
__ADS_1
"Kheeemmm...." Pak Haris berdehem, sontak Rizal melepas tangan Aminah.
Bersambung...