Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Makin Buaya


__ADS_3

[Hari ini, pulang kerja jam berapa?]


Esoknya, saat tengah istirahat makan siang di dapur ada pesan WA dari nomor Rizal.


[Belum tau juga. Ada apa?] Balas Aminah.


[Ada steak, spaghetti, nasi goreng, nasi kuning, nasi setengah matang, nasi yang sudah menjadi bubur juga ada. Kamu pilih yang mana untuk menu di pesta pernikahan kita nanti?] Tulis Rizal sebagai balasan.


Aminah langsung tersedak dan terbatuk-batuk membaca pesan balasan dari Rizal.


"Hati-hati." Dari belakang, sebuah tangan menepuk punggung Aminah pelan, lalu segelas air putih tersodor di depannya.


Aminah segera meneguk air putih itu dan mencoba menenangkan isi hatinya. Rendi sepertinya tahu penyebab tragedi barusan, ia meraih ponsel Aminah dan membaca apa yang tertera di sana.


"Wow," Ucap Naya dengan mimik wajah yang terlihat mengejek. "Kuy ah nikah bareng..." Lanjut Naya yang ikut membaca pesan itu bersama dengan Rendi.


"Kamu tuh ya, nikah, nikah, nikah aja." Balas Aminah.


Naya terbahak.


"Gak usah nolak Min, udah waktunya loh jodohmu datang." Ucap Naya.


"Gak taulah Nay! Aku cuma takut untuk berharap sama siapapun. Lihat aja sekarang, kata-katanya tuh nunjukin kalau dia itu Buaya! Ntar ujung-ujungnya disakitin lagi, nangis lagi, galau lagi. Aku gak mau itu Nay." Ucap Aminah.


"Pacar baru ya?" Tanya Rendi ikutan mengobrol.


"Bukan, dia tetangga depan rumah. Apa kamu ingat cowok yang waktu itu tiba-tiba muncul saat kamu dan Dani ada di rumah. Dia itu buaya, pintar ngomong. Kata-katanya manis banget. Tapi ya bisa jadi dalamnya beda." Ujar Aminah.


"Jangan nilai dia seperti itu Min, siapa tahu dia memang benar-benar serius mau nikah sama kamu." Ucap Naya.


"Entahlah, intinya aku masih mau berhati-hati aja dalam memilih untuk berhubungan dengan laki-laki." Ucap Aminah.


"Terserah kamu aja deh Min." Naya beranjak keluar mengantar pesanan kue pada kurir.


Aminah kembali memandang pesan dari Rendi.


'Apa memang sudah saatnya aku memberikan kepercayaan sepenuhnya pada pria baru dengan memberikannya kesempatan untuk dekat denganku? Tapi... Bagaimana jika dia sama saja dengan Dani?' pikir Aminah.


"Arggh!"


Aminah mengacak rambutnya sambil menghentakkan kaki berulang kali dan hampir saja terjungkal, jika saja Rendi tak berdiri di belakang dan menahan tubuhnya.


"Kamu kenapa? Apa butuh tambahan libur? Biar aku bilang sama ibu.," Ujar Rendi.


Aminah menggeleng cepat.


"Aku ... hanya sedikit pusing Ndi." Balas Aminah.


Tiba-tiba Rendi memegang kepala Aminah dan memijitnya pelan.


"Sudah mendingan?" Tanya Rendi.


Aminah mengangguk pelan.

__ADS_1


"Terima kasih banyak, ya Ndi."


Gerakan tangan Rendi terhenti, berpindah ke pundak Aminah dan menepuk pelan lalu mengucap, "Nggak perlu berterima kasih untuk sebuah persahabatan." Balas Rendi.


"Kalau kamu masih pusing, lebih baik istirahat aja dulu," Ucap Rendi lagi sambil membalikkan badan, membelakangi Aminah. "Biar aku yang handle semuanya." lanjut Rendi seraya mengemas kembali kue-kue pesanan dalam box yang jumlahnya lumayan banyak.


"Aku udah gak apa-apa kok. Tadi cuma pusing dikit aja." Balas Aminah kemudian berdiri dari duduknya lalu membantu Rendi. "Lagian ini bukan kerjaan kamu."


"Udah gak apa-apa." Balas Rendi.


Beberapa saat kemudian, Naya kbali masuk. Mereka semua pun sibuk melanjutkan pekerjaan mereka.


Hingga sore hari, pesanan kue yang berjumlah lima puluh box itu tak kunjung diambil sang pemesan. Aminah sudah berusaha menghubungi si pemesan, namun tak ada jawaban.


Sebuah pesan masuk ke ponsel Aminah yang membuatnya dan Naya membelalakkan mata.


"Gimana dong Min, kok bisa-bisanya ibu itu cancel pesanannya sekarang, kenapa gak dari tadi aja. Terus kuenya gimana dong?" Ucap Naya ngedumel.


"Kita bagi-bagi saja makanan ini, siapa tahu rezeki toko ini datang dari doa orang lain." Ucap Rendi.


"Kamu serius? Bahkan kita sudah rugi banyak hari ini, ditambah harus membagi-baginya, makin banyak pengeluaran. Apa yang akan dikatakan Bu Aya." Ucap Naya.


"Kita punya Tuhan, Nay. Kamu percayakan hukum tabur tuai? Apa yang kita berikan ke orang lain, itu akan berbalik ke kita." Balas Rendi.


Naya hanya terdiam mendengar ucapan Rendi. Sementara Aminah ikut mengangguk dan salut akan keputusan yang diambil Rendi.


"Soal Ibu, kamu tenang aja. Beliau pasti akan menyuruh kita membagikan makanan ini. Dari pada mubazir kan." lanjut Rendi.


Naya dan Aminah hanya mengangguk.


...----------------...


Sore hari menjelang maghrib, Aminah tiba di rumah. Baru saja membuka pintu gerbang, tiba-tiba terdengar buaya mengaum.


"Hai, Calon Istri! Sudah pulang, ya?" Ucap Rizal.


Tangan Aminah yang bersiap menutup pagar rumah seketika terhenti.


'Sepertinya aku harus mulai terbiasa dengan sikap pria baru ini.' ucap Aminah dalam hati.


"Hmm." Balas Aminah.


"Kamu sudah makan? Apa capek? Perlu sesuatu?" Tanya Rizal memberondong saat sudah berdiri di hadapan Aminah setelah turun dari atas motor matic besarnya itu.


Aminah mengembuskan napas panjang.


'Sabar ....'


"Aku nggak butuh apa-apa, Rizal yang bukan vokalis Armada." Ucap Aminah protes.


Sementara Rizal hanya terbahak mendengar ocehan Aminah.


"Gak usah panggil Rizal. Panggil sayang aja deh kalau kesulitan panggil namaku," Balas Rizal.

__ADS_1


"Idih!"


"Sekarang aja kamu malu-malu, ntar juga mau-mau." Rizal terbahak setelahnya.


"Boleh aku bertanya?" Ucap Aminah.


"Jangankan bertanya, berikrar janji pernikahan pun boleh." Balas Rizal.


"Kenapa kamu kelihatannya ngebet banget nikah sama aku? Bukannya kamu itu baru ketemu aku? Kita belum kenal terlalu lama. Atau kamu hanya main-main saja." Ucap Aminah.


Seketika tawa Rizal lenyap. Ia memasukkan tangan ke saku celananya dan memandang Aminah dengan senyum yang dikulum.


"Kenapa nanya gitu? Bukannya sudah ku katakan aku menyukai kamu. Dan ingin menikah denganmu secepat mungkin." Balas Rizal.


"Kamu aneh aja, kamu baru aja datang ke kehidupan aku. Kamu baru ketemu dan mengenal aku. Tiba-tiba kamu datang mengajakku untuk menikah dengan segera. Seolah-olah sebelumnya kamu sudah mengenal aku begitu lama.


"Kamu percaya takdir?" Ucap Rizal.


Bergeming sejenak, lantas Aminah mengangguk.


"Ya sudah, jangan banyak bertanya dan nikmati saja makhluk ganteng di depanmu ini." Balas Rizal.


Alis Aminah menaut seketika, tak mengerti.


"Terserahlah!"


Aminah yang sebal karena tak mendapat jawaban yang ingin ia dengar menutup pagar dan beranjak masuk ke rumah.


"Aminah...!"


Aminah membalikkan badan dan menatap pria yang memakai kaos berwarna hitam itu tengah mengarahkan kedua tangannya pada Aminah, khas ala drama korea yang sering terlihat di layar kaca.


"Saranghaeyo, I Love you, Aku cinta kamu. Menikahlah denganku!" teriak Rizal seakan tak tahu malu.


Aminah menepuk dahi keras, lalu segera menutup pintu.


'Mungkin dia udah nggak punya ********! Maksudku, dia nggak punya rasa malu!' batin Aminah.


"Ada orang kesurupan, Min?" Aminah terperanjat saat suara Bu Wati yang tiba-tiba ada di belakang.


"Bu-kan, Bu. Itu kelakuan temen nongkrong Bapak." Balas Aminah.


"Si ganteng Rizal?" Ucap Pak Haris yang mengekor dibelakang Bu Wati.


Perlahan Aminah mengangguk.


"Nggak ada akhlak emang teriak-teriak maghrib gini, dasar Buaya!" Ucap Aminah.


"Lho, ada buaya di depan?" tanya Bu Wati.


"Ya, itu si si Rizal Bu." Balas Aminah.


"Jadi ternyata si Rizal itu jelmaan buaya? Tapi, kok, doyan susu coklat buatan Ibu ya? Buaya 2023 memang beda! Ibu suka itu!" Ucap Bu Wati.

__ADS_1


"Iya, Bapak juga suka." sambung Pak Haris.


Bersambung....


__ADS_2