
Keesokan harinya setelah toko kue tutup. Aminah dan Naya bergegas menuju sebuah toko sepatu yang terletak tak jauh dari tempat mereka bekerja.
Keduanya berencana mencari sepatu berwarna putih untuk menyesuaikan dengan tema outfit acara reuni yang akan mereka hadiri.
"Min, kamu mau pakai baju apa?" Tanya Naya yang tengah memilih sepatu.
"Rencananya sih, mau pake dress simpel warna putih sama jaket levis abu-abu." Jawab Aminah sambil mencoba sepatu warna putih yang ia pilih. "Kamu sendiri gimana?" Tanya Aminah balik.
"Kayaknya sih mau pakai blouse putih, sama celana jeans abu-abu. Menutut kamu gimana Min?" Tanya Naya.
"Bagus. Ngomong-ngomong tumben banget kamu mikirin penampilan. Biasanya juga pakai kaus oblong sama celana jeans udah jadi." Balas Aminah cekikikan.
"Ya elah Min, sekali-kali dong tampil cantik. Siapa tau dapat jodoh disana." Balas Naya tak kalah cekikikan.
"Ooohh ada udang dibalik bakwan toh." Ucap Aminah.
Keduanya terbahak, lalu berjalan ke kasir membayar sepatu yang telah mereka pilih untuk dikenakan di acara reunian malam nanti.
Aminah memilih sepatu berjenis sneaker warna putih. Sementara Naya memilih sepatu selop berwarna abu-abu.
...----------------...
Selepas shalat isya, setelah meminta izin kepada orang tua masing-masing. Keduanya pun sudah berada di dalam taksi online yang mereka tumpangi menuju acara reunian.
Aminah tampil cantik dengan outfit yang ia kenakan dengan rambut yang dibiarkan tergerai. Sementara Naya tampil modis dengan rambutnya yang diikat tinggi.
Tak butuh waktu lama, keduanya pun tiba di lokasi acara reunian.
Sudah banyak orang yang mengenakan outfit serba putih abu-abu.
Aminah dan Naya berjalan bergandengan masuk ke dalam cafe.
"Wuuiiihh cewek paling narsis di sekolah dulu datang juga." Teriak salah seorang laki-laki saat Aminah masuk ke dalam cafe.
Beberapa orang mendekati Aminah.
"Kamu Minces kan?" Tanya Nita teman sekelas Aminah dan Naya dulu.
"Aminah, A-M-I-N-A-H. Dibaca Aminah, bukan Minces." Ucap Aminah mencebik kesal.
Dua orang wanita yang lainnya ikut tertawa bersama dengan Nita termasuk Naya.
"Habis kita-kita pangling loh liat kamu sekarang. Makin cantik aja, udah badan kamu kayak tiang listrik lagi. Pas banget kayak model-model di cetwok itu." Ucap Wulandari teman sekelas Aminah yang lainnya.
"Catwalk kali Lan, bukan cetwok." Balas Naya.
__ADS_1
"Iye-iye, maksud aku itu dah pokoknya." Timpal Wulan.
Semuanya terbahak, kemudian membahas kehidupan mereka masing-masing.
Diantara mereka berlima, hanya Naya dan Aminah yang belum menikah. Keduanya pun menjadi bulan-bulanan yang lain.
"Kalau Naya sih wajar belum kawin-kawin. Abis dia anak rumahan. Nah kamu Min, terlalu pemilih. Kenapa bisa gak jodoh ya sama Dani. Dan denger-denger kamu pernah dilamar sama si Andika waktu itu." Ucap Nita.
"Kalau gak salah namanya Dani kan?" Ucap Linda.
"Iya." Balas Wulan.
Seketika raut wajah Aminah berubah kala nama Dani disebut. Naya yang menyadari hal itu langsung mengalihkan pembicaraan.
Acara reunian berlanjut dengan agenda bermain game, makan-makan dan menari.
Tepat saat suara musik dimainkan, dua sosok lelaki datang dan menjadi pusat perhatian semua orang.
Jantung Aminah berdebar kencang saat lelaki tersebut berjalan mendekat ke arahnya yang duduk berdampingan dengan Andika.
"Mas Anto!" Seru Naya melihat sosok lelaki yang berjalan disamping Dani.
Dani tampil sempurna dengan setelan jas berwarna abu-abu dengan kemeja berwarna putih. Sementara Anto mengenakan pakaian serba hitam.
"Uuhh coba aja laki gue cakep kayak gitu."
"Moga dia jodohku."
"Mudahan aja dapat suami kayak dia."
Dan masih banyak lagi Ucapan-Ucapan yang lainnya. Sementara para pria ikut mengeluh-eluhkan nya. Lebih banyak dari mereka yang bahkan iri dengan sempurnanya Dani.
"Udah cakep, kaya lagi. Aduuuhh kurang apalagi sih dia." Celetuk Linda.
"Tapi duda." Bisik Wulan.
"Biarin aja. Toh duren kan." Balas Nita.
Dani mendekat ke arah Aminah yang duduk terdiam bersama lima orang lainnya termasuk Andika.
"Ladies, boleh aku duduk disini?" Ucap Dani pada Nita dan kawan-kawannya.
"Boleh-boleh, duduk aja. Biar kita yang pindah." jawab Nita sambil memberi kode pada Linda dan Wulan agar berpindah.
Anto yang berdiri disamping Dani, memberi kode pada Naya agar berpindah posisi agar Dani bisa duduk berdampingan dengan Aminah.
__ADS_1
Naya langsung bergeser posisi duduk, agar Dani duduk disamping Aminah.
"Malam Aminah." sapa Dani.
"Hmmmm...." Jawab Aminah memutar bola mata malas.
"Mau dansa?" Ajak Dani.
"Gak." Balas Aminah ketus.
Suasana menjadi hening, hingga Anto mengajak Naya berdansa.
"Naya dansa yuk?" Ajak Anto.
"Serius Mas ajak aku?" Tanya Naya menunjuk dirinya sendiri.
"Iya kamu. Emang selain kamu ada orang lain disini yang namanya Naya?" Balas Anto.
Naya cekikikan lalu bangun mengikuti Anto ke lantai dansa.
Anto adalah sepupu dekat Dani yang dikenalkan pada Aminah dan Naya sejak dulu saat Dani dan Aminah masih berpacaran. Anto lebih tua dua tahun dibandingkan mereka.
Sementara Aminah, Dani dan Andika duduk dalam diam.
"Mas Anto kok bisa ikut kesini? Ini kan khusus acara buat reunian anak IPS angkatan aku." Ucap Naya sambil berdansa santai dengan Anto.
"Dani minta ditemani, ya jadi aku ikut saja." Balas Anto.
"Eeh ngomong-ngomong pacar Mas Anto gak marah nih kalau kita dansa?" Tanya Naya.
"Aku gak mau pacaran. aku mau langsung nikah saja." Jawab Anto.
"Lah terus calonnya mana? Maaf nih ya usia Mas Anto sekarang kan udah tiga puluhan. Apa gak kepikiran gitu buat nikah." Ucap Naya.
"Calon isteri aku!" Seru Anto dan dibalas anggukan Naya. "Kalau kamu mau tau, calon isteri aku itu ada di depan aku. Nih lagi dansa sama aku, itupun kalau dia mau." Bisik Anto.
Naya jadi celingukan, mencari sosok yang disebut Anto. Padahal tanpa ia sadari, orang yang dimaksud Anto adalah dirinya sendiri.
"Mana orangnya Mas?" Tanya Naya sambil melihat kanan kiri. "Tadi Mas bilang orangnya didepan Mas, dan lagi dansa kan sama Mas?" Lanjut Naya lagi.
Anto mengangguk sambil tersenyum.
"Lagi dan-sa sama Mas......" Ucap Naya seraya berhenti berdansa lalu menatap Anto dengan raut wajah gugup.
Bersambung....
__ADS_1