
'Aku takut jika masih menggenggam sisa masa lalu dan tidak bisa menerima masa depan dengan seutuhnya.' ucap Aminah dalam hati.
"Coba ikuti kata hatimu, Min," Ucap Naya lagi.
'Hati?'
"Hati itu ciptaan Allah Nak, bisa dibolak-balik sesuai kehendak-Nya. Sebisa mungkin kalau mencintai sesuatu jangan simpan dalam hati, tapi simpan dalam doa. Jika baik untukmu dia akan menetap, jika tak baik dia akan pergi." Ucap Pak Haris saat Aminah menangis dalam pelukannya dulu, ketika Dani meninggalkannya tanpa alasan.
'Dan hatiku ... tidak lagi baik-baik saja setelah kejadian itu.' ucap Aminah lagi dalam hati.
Setelah itu Aminah berjuang mati-matian untuk melupakan Dani. Aminah sama sekali tak menyangka harus terpaksa melepaskan dengan sesuatu yang selama ini membuatnya nyaman. Aminah terpaksa menata serpihan hati yang remuk dan berusaha untuk menyatukannya. Meski ia tahu itu semua itu tak akan sama lagi.
Namun kejadian itu masih saja terasa sesak jika Aminah mengingatnya. Memang kini tak sesakit dulu, tetapi juga tak mudah untuk melupakan. Dan akhirnya, Aminah memutuskan menonaktifkan akun media sosial nya lagi untuk sementara waktu.
Pada akhirnya Aminah menyadari, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Bukan karena tak ingin mempertahankan, tetapi inilah takdir yang tengah menyapa dirinya.
Aminah kemudian meninggalkan Naya menuju kamar mandi. Dia berdiri sejenak di depan cermin yang ada di dalam kamar mandi, memastikan kalau dirinya tidak terlihat seperti habis menangis.
__ADS_1
"Hei, Aminah! Kamu kuat, kamu hebat, kamu pasti bisa menyembuhkan luka masa lalu. Semangat!" Ucap Aminah pada dirinya sendiri
Aminah menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. Setelah merasa lebih tenang, akhirnya Aminah kembali ke meja kasir.
Ternyata sudah ada beberapa pembeli yang berkunjung, dan tampak Naya tengah sibuk melayani pembayaran di sana.
Aminah kemudian berdiri di sisi Naya, membantunya merapikan box kosong yang terjatuh, mungkin tak sengaja tersenggol Naya.
"Duh, aku lupa mau ngabarin Mbak Nana kalau pesanan nya udah siap. Tolong hubungin dong, cari aja di kontak WA, telepon aja langsung karena dia jarang buka chat di jam-jam segini," Ucap Naya sambil melirik jam di dinding, dengan tangan yang sibuk menata makanan di dus.
"Oh, oke." Aminah celingukan mencari ponsel Naya yang biasanya di letakkan di laci meja. "HP-mu mana?"
Aminah beranjak ke tempat yang dimaksud oleh Naya. Ternyata ponselnya itu sedang diisi daya. Aminah dengan segera mencari nama Mbak Nana.
"Oke, Min. Nanti aku suruh kurir ojol ke sana. Makasih, ya," Ucap Mbak Nana setelah Aminah memberi tahu jika pesanannya siap diambil.
"Oke, Mbak." Jawab Aminah.
__ADS_1
Panggilan berakhir. Saat hendak meletakkan ponsel ke tempat semula, mata Aminah tertuju pada salah satu pesan WA atas nama Dani. Rasa ingin tahu tentang kabar terbaru dari mantannya itu membuat Aminah masih menggenggam benda pipih ditangannya itu.
'Buka, enggak. Buka, enggak. Buka, enggak.' pikir Aminah.
'Kalau nggak mau sakit hati, jangan kepo.' batin Aminah berperang.
"Huffft...."
Aminah menghembuskan napas panjang dan memilih meletakkan ponsel itu kembali ke tempatnya.
Saat akan beranjak, terlihat layar ponsel milik Naya itu kembali menyala. Ada panggilan WA masuk. Aminah pikir, mungkin kurir suruhan Mbak Nana.
Aminah langsung mengangkatnya, dan benar saja itu adalah kurir yang meminta sherlock toko.
Setelah memutuskan sambungan telepon, Aminah segera mengirim pesan pada kurir tersebut. Lalu sedikit menimbang-nimbang, kalau nanti kurirnya telepon lagi.
"Ah, lebih baik aku bawa saja ponsel ini, kasihan kurirnya nanti bingung. Lumayanlah, sudah terisi 15% baterainya." Ucap Aminah.
__ADS_1
Bersambung....