
Aminah tampak lebih bersemangat pagi ini. Bibirnya tak melepaskan senyuman sejak semalam. Bahkan ia sampai bermimpi indah. Entah kenapa, saat ia mengingat tentang dirinya yang menemani Rizal ke pertemuan kemarin, perasaannya menjadi begitu ceria. Dia bahkan lupa akan kejadian tak mengenakkan yang terjadi di rumah Dani.
Pagi ini ia kembali ke rutinitas seperti biasa, pergi bekerja ke toko kue. Naya sudah menunggunya di teras rumah.
"Duuhhh yang lagi bahagia, senyumnya mengembang terus. Kayak bolu kukus yang mengembang sempurna." Ucap Naya saat Aminah keluar rumah.
Semalam, Aminah memang sempat chatting dengan Naya, sekedar curhat tentang dirinya yang jalan bareng Rizal. Tak lupa Aminah juga menceritakan tentang yang terjadi di rumah Dani.
"Hah bisa aja kamu. Betewe gimana persiapan pernikahan kamu? Udah berapa persen?" Tanya Aminah.
"Hmmm sejujurnya aku gak tau Min. Mas Anto bilang pokoknya aku tinggal duduk santai aja. Yang jelas acaranya tinggal dua minggu lagi." Jawab Naya.
"Uuuhhh sebentar lagi sahabatku ini bakal jadi isteri orang, bakal jadi emak-emak, bakalan pakai daster tiap hari, bakal bau minyak dan ikan asin." Ucap Aminah seraya mengacak rambut Naya.
"Iiihh apaan sih, aku udah sisiran sekarang jadi berantakan nih." Balas Naya sambil memperbaiki rambutnya yang terlihat berantakan.
"Hahaha, udah ah. Ayo berangkat, nanti telat lagi." Ucap Aminah.
"Bapak, ibu, aku berangkat." Teriak Aminah. "Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." Teriak kedua orang tuanya yang masih duduk di meja makan.
Aminah dan Naya pun berjalan menuju toko kue. Keduanya berbincang-bincang di sepanjang jalan. Ponsel Aminah berdering, tanda sebuah pesan masuk. Dengan cepat Aminah membuka pesan tersebut.
[Aku sudah meminta kamu untuk menjauhi Dani, tapi kamu tidak mengindahkan peringatan ku. Bersiaplah...]
Seketika raut wajah Aminah berubah, dahinya mengkerut. Naya yang menyadari hal itu menepuk pundak Aminah.
"Hei... kamu kenapa?" Tanya Naya.
"Emmm gak ada apa-apa kok. Ayo jalan lagi." Balas Aminah.
Tiba di toko, Aminah dan Naya terdiam membisu. Keduanya berdiri mematung menatap toko yang terlihat berantakan. Keduanya tampak kaget melihat kaca-kaca jendela yang dipenuhi coretan bekas Pilok, serta tanaman-tanaman yang ada di pot berserakan di halaman.
"Yaa Allah, ada apa ini? Kenapa bisa jadi begini?" Ucap Naya berjalan mendekat ke pintu toko.
Sementara Aminah tetap berdiri mematung dengan mengelus dadanya. Naya membuka pintu toko yang kacanya dipenuhi kata-kata kotor itu. Aminah berjalan perlahan, perasaannya menjadi tak karuan.
'Apa ini ada hubungannya dengan pesan berantai tadi?' pikir Aminah.
Aminah mulai memunguti pot-pot yang berserakan, sementara Naya mencoba membersihkan kaca yang dipenuhi coretan itu.
"Siapa ya yang tega lakuin semua ini Min. Apa ada orang iseng ya? Hmmm kita coba cek CCTV aja nanti." Ucap Naya.
"Ini semua pasti karena aku Nay." Ucap Aminah.
"Maksud kamu?" Tanya Naya heran.
"Ini semua pasti ada hubungannya dengan aku yang masih berhubungan sama Dani." Ucap Aminah lesu.
"Kok bisa gitu?" Tanya Naya lagi.
__ADS_1
"Tadi ada pesan masuk ke hp aku Nay, kayaknya sih itu dari mantan istri nya Dani." Jawab Aminah.
"Emang apa isi pesannya?" Tanya Naya penasaran.
"Pokoknya pesan ancaman." Jawab Aminah.
"Gak bisa dibiarin ini. Kita harus ngasih tau Dani." Ucap Naya mengambil ponsel di saku celananya hendak menelepon Dani.
"Gak usah Nay, aku gak mau libatkan Dani dalam hal ini. Aku udah jelasin sama mantan istrinya itu, bahkan dihadapan semua keluarganya kalau aku gak ada hubungan apapun sama Dani sekarang. Aku juga udah kasih tahu kamu kan semalam, kalau aku bahkan sengaja ngaku-ngaku didepan mereka kalau Rizal itu calon suami aku biar mereka gak mikir yang macam-macam lagi." Ujar Aminah panjang lebar.
"Terus kamu maunya gimana? Emang siapa coba yang harus bertanggung jawab sama kekacauan ini? Terus kita harus ngomong apa sama Bu Soraya? Terus kamu mau gitu di teror terus?" Tanya Naya beruntun.
Aminah hanya menghela nafas panjang tanpa menjawab ucapan Naya.
"Udah kamu diem aja. Aku mau nelpon Dani." Ucap Naya.
Setengah jam kemudian mobil Dani sudah terparkir di depan toko kue tempat Aminah bekerja.
"Maafin aku...." Ucap Dani mendekat ke arah Aminah yang tengah sibuk mencoba menghapus noda Pilok yang menempel di kaca itu.
Aminah terdengar menghela nafas panjang. Dia lalu menatap Dani dalam.
"Kenapa sih kamu itu selalu aja nyusahin buat aku?" Ucap Aminah yang membuat Dani terdiam. "Udah bagus banget kamu pergi dari hidup aku. Tapi kenapa kamu malah balik lagi?" Lanjut Aminah.
"Aminah aku...."
"Please stop Dan..." Ucap Aminah memotong ucapan Dani. "Aku udah capek. Tolong tinggalkan aku sendirian. Biarkan aku melanjutkan hidup aku. Biarkan aku mencari kebahagiaanku sendiri. Tolong urus mantan istri kamu itu dan juga ibu kamu. Beri mereka pengertian kalau aku sama sekali nggak ngejar-ngejar kamu. Aku sama sekali nggak tergila-gila sama kamu. Aku sama sekali nggak pengen balik sama kamu." Ujar Aminah panjang lebar.
Kali ini Aminah tidak bisa menahan air matanya lagi mengingat semua luka yang sudah diberikan Dani padanya saat Dani memutuskan untuk meninggalkan dirinya dengan menikahi Maya, demi sebuah kata patuh kepada orang tuanya.
Dani terdiam. Sementara di balik meja kasir, ada Naya yang sejak tadi berdiri mendengarkan semuanya. Sebenarnya Naya memiliki keinginan agar Aminah bisa kembali dengan Dani mengingat Dani memang pria yang baik dan Naya juga tahu benar jika Aminah sahabatnya itu masih menyayangi Dani. Tapi setelah mendengar ucapan Aminah tadi dan juga penuturan dari Aminah semalam tentang Ibu Dani yang menghina Aminah, membuat Naya berpikir bahwa Aminah memang lebih baik tidak kembali lagi dengan Dani.
Sebuah motor berhenti di depan toko. Sosok itu adalah Rendi yang tampak terkejut melihat toko milik Ibu nya itu tampak berantakan.
"Ada apa ini?" Tanya Rendi saat masuk ke dalam toko.
Suasana di dalam toko mendadak canggung setelah kedatangan Rendi. Dani yang ingin membalas ucapan Aminah memilih diam. Begitu juga dengan Aminah dan Naya.
"Naya, Aminah. Ada yang bisa jelasin kenapa semuanya kacau seperti ini?" Tanya Rendi lagi.
"Aku akan tanggung semua kerugian toko ini. Untuk hari ini toko ditutup aja dulu. Aku yang akan jelasin semuanya pada Bu Soraya." Ucap Dani lagi.
Aminah hanya terdiam lalu berjalan ke arah belakang. Sementara Rendi yang bingung, memutuskan mendekat ke arah Naya dan bertanya padanya.
Setelah itu, Dani langsung meninggalkan toko itu tanpa mengatakan apapun pada semua orang.
Naya lantas menjelaskan semuanya pada Rendi.
Beberapa saat kemudian, beberapa orang tampak mendekat ke arah toko dengan membawa ember dan kain lap juga ada cairan pembersih lainnya. Semua orang itu mulai membersihkan jendela dari noda-noda Pilok yang ada.
...*****************************...
__ADS_1
Siang harinya, Aminah dan Naya memutuskan untuk pulang. Karena toko masih dibersihkan oleh beberapa orang pekerja suruhan Dani.
Tiba di rumah, Aminah dikejutkan oleh kedua orang tuanya yang duduk menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Aminah.
'Apa mereka tengah marah padaku?' gumam Aminah.
"Ibu sama Bapak masih berantem ya?" Ucap Aminah berusaha mencairkan suasana.
"Duduk..." Ucap Pak Haris penuh penekanan.
Nyali Aminah seketika menciut, tak pernah sekalipun Aminah melihat Bapaknya semarah itu.
'Aku salah apa?' pikir Aminah.
"Ibu kecewa sama kamu." Ucap Bu Wati.
"Ma-maksud Ibu?" Tanya Aminah bingung.
"Selama ini Bapak percaya sama kamu. Percaya kalau kamu bisa menjaga marwah kamu sebagai perempuan. Tapi kamu sudah buat Bapak kecewa." Balas Pak Haris.
"Ibu sama Bapak ngomongin apa sih? Aku sama sekali gak ngerti." Ucap Aminah semakin bingung.
"Nih liat." Ucap Bu Wati menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat kehadapan Aminah.
Mata Aminah terbelalak melihat lembaran-lembaran foto dari dalam amplop itu. Foto-foto tersebut menampilkan sosok perempuan dengan wajah Aminah tengah tidur di atas sebuah tempat tidur berukuran besar tanpa busana dengan seorang laki-laki yang tak tampak wajahnya.
"Apa maksud semua foto itu nak?" Tanya Bu Wati mulai menangis.
"Bapak kira kamu anak yang penurut. Bapak kira kamu gadis baik-baik." Sambung Pak Haris.
"Aku bisa jelasin semuanya Yah." Ucap Aminah.
"Apalagi yang mau kamu jelasin." Balas Bu Wati murka.
"Mana ada perempuan baik-baik tidur tanpa busana dengan laki-laki seperti itu. Yaa Allah, dosa apa aku ini sampai anak gadis satu-satunya mempermalukan aku sebagai Bapaknya." Ucap Pak Haris yang matanya tampak berair itu.
"Demi Allah Pak, Bu, aku gak pernah ngelakuin semua ini. Coba Ibu sama Bapak pikir, kapan aku keluar sampai larut malam terus Ibu sama Bapak gak tahu kemana aku pergi. Aku selalu nelpon Ibu sama Bapak kemanapun aku pergi dan sama siapa aku pergi. Lagian coba lihat baik-baik, rambut aku gak gitu model dan warnanya Pak, Bu. Masa iya kalau foto itu beneran aku, ekspresinya gak cocok banget buat orang yang lagi posisi tidur kayak gitu." Ucap Aminah berusaha menjelaskan semuanya.
"Terus wajah kamu..." Ucap Bu Wati.
"Bu.... Coba lihat baik-baik. Wajah sama lehernya itu gak nyambung Bu, gak cocok. Ini tuh foto editan. Wajahnya emang wajah aku, tapi badannya bukan. Ini pasti kerjaan orang iseng atau orang yang gak suka sama aku. Tolong percaya sama aku. Aku gak mungkin ngelakuin semua itu. Kalau gak percaya, ayo kita bwa sekalian foto ini ke pakarnya yang bisa bedain mana foto asli dan palsu alias hoax." Ucap Aminah yang berusaha menahan tangisnya itu.
Pak Haris dan Bu Wati saling menatap, kemudian kembali melihat foto itu dengan baik. Mereka pun akhirnya menyadari bahwa foto itu memang terlihat direkayasa. Dimana bagian wajahnya terlihat ditempel dengan wajah Aminah.
Sekilas, semua orang yang melihat foto itu pertama kali akan mengira bahwa foto itu memang asli. Namun jika dilihat lebih teliti, maka terlihat jelas bahwa foto itu hasil rekayasa.
"Maafkan Bapak, nak. Bapak gak lihat-lihat dulu dengan baik fotonya. Bapak langsung marahin kamu." Ucap Pak Haris.
"Ibu juga minta maaf Nak. Kamu tahu sendiri, Ibu sama Bapak ini kurang paham masalah begituan. Foto palsu saja, kami berdua pikir foto asli. Maafin Ibu ya Nak." Ucap Bu Wati.
Bu Wati mengelus kepala Aminah lembut, sementara Pak Haris merangkul tubuh puteri kesayangannya yang mulai terisak itu.
__ADS_1
Aminah akhirnya menangis, setelah sejak tadi terus menahan dirinya. Dia hanya tak habis pikir, kenapa ada orang yang berusaha memfitnahnya seperti saat ini.
Bersambung.....