
Keduanya kini duduk bersisian dengan tas yang sengaja diletakkan di tengah oleh Aminah sehingga membuat jarak di antara mereka. Keheningan menyelimuti keduanya beberapa saat, seakan membiarkan hujan membawa kembali kenangan mereka dulu. Bedanya, dulu keduanya begitu hangat dan tak ada jarak yang memisahkan.
"Lima tahun yang lalu, aku pernah duduk sendirian di sini seharian." Dani membuka obrolan setelah menyesap minumannya.
Sementara Aminah masih menunduk, menatap gelas yang belum dicicipi isinya.
"Hari itu, aku sengaja mengikuti seseorang yang duduk dipinggiran pantai. Ia pergi ke pantai seorang diri, padahal biasanya ia tak bisa pergi seorang diri ke mana pun. Tapi, aku tahu kenapa alasannya, karena di saat sendiri ia bebas menangis tanpa harus memikirkan hati orang di sekitarnya." Lanjut Dani.
Aminah menggigit bibir bawah pelan. Dia tahu siapa yang tengah Dani bicarakan.
"Aku hanya bisa melihatnya dari jauh, karena aku tahu dia sangat terluka. Aku tak ingin membuatnya semakin terluka, jika tiba-tiba muncul di depannya. Aku melihat berkali-kali tangannya terangkat ke wajah, entah untuk mengusap air mata yang akan tumpah atau untuk menutup wajah, lalu pundaknya terlihat bergetar pelan. Tapi berkali-kali juga ia mengangkat wajahnya seakan menunjukkan kalau hatinya kuat." Ucap Sani lagi.
Dari ujung mata, Aminah melirik Dani kembali menyesap minuman.
"Aku tahu ia sangat hancur. Dan yang paling membuat sesak, aku tak lagi bisa menghiburnya seperti dulu, mengelus kepalanya dan mengatakan 'tenang ada aku di sini, aku selalu ada untukmu' atau sekadar membelikan cokelat yang katanya sangat manjur mengobati sedihnya itu." Helaan napas berat terdengar dari Dani. "Di tempat aku berdiri memandangnya, hatiku tak kalah remuk."
Aminah terus saja terdiam mendengar setiap ucapan yang keluar dari bibir Dani.
__ADS_1
"Logika tengah berperang dengan hatiku saat itu. Dan aku memilih melepasnya, meski itu sangat menyesakkan. seperti kehilangan separuh harapan hidup. Tapi masalah akan semakin besar jika aku tetap mempertahankannya." Dani menjeda ucapannya lagi. "Di sisi lain, konsekuensi yang aku terima adalah, ia sama sekali tak mau bertemu denganku dan tak mau mendengarkan semua penjelasan ku. Katanya, lebih baik tidak tahu sekalian, daripada tahu dan akan menambah luka. Ia juga memutuskan semua akses denganku." Lanjut Dani.
"Cukup ...." Bibir Aminah bergetar pelan. "Aku tidak ingin lagi membahas apa pun tentang semua masa lalu. Semua sudah selesai dan tak perlu diungkit," Ucap Aminah lirih.
'Biarkan cerita itu menguap bersama rasa sakit dan segala kenangannya.' lanjut Aminah dalam hati.
"Masa lalu kita memang sudah selesai, tapi tidak dengan masa depan kita, Aminah." Balas Dani yang terlihat mengubah posisi duduknya untuk menghadap Aminah.
"Aku tidak mau berharap apa pun lagi sekarang." Ucap Aminah.
"Aku datang bukan tanpa sebab, aku mati-matian mencari info tentangmu selama ini. Di saat mendengar kamu masih sendiri, jujur ... yang kurasakan senang bercampur sedih. Senang karena ada kesempatan untukku memperbaiki semua dan sedih jika semua itu terjadi karena kesalahanku dulu." Balas Dani.
"Saat melihatmu di warung Mbak Nana, aku seakan tak percaya. Padahal baru beberapa menit yang lalu aku berdoa agar segera bertemu denganmu. Bukankah ini takdir?" Ucap Dani.
'Dan takdir ini kadang membuatku dilema.' batin Aminah.
"Aku tahu kau sangat membenciku. Aku sadar diri, tapi aku juga nggak mau kehilangan kamu lagi untuk yang kedua kalinya. Izinkan aku memperbaiki semua, Aminah. Jika memang nanti hatimu masih belum terbuka untukku, paling tidak aku sudah berusaha keras untuk mendapatkan hatimu lagi. Walau aku tahu itu nggak akan mudah, karena aku tersadar kalau Aminah yang dulu sudah berubah." Ucap Dani lagi.
__ADS_1
'Kau yang membuatku berubah!' teriak Aminah dalam hati.
"Pertama kali aku melihat sorot matamu kemarin, aku sadar kau bukan lagi Aminah yang dulu. Sikap dingin mu, tak acuh mu, dan tegas mu, berbanding jauh dengan yang dulu," lanjut Dani.
Aminah menyadari itu. Dia bahkan semakin tertutup dan enggan membuka hati untuk siapa pun sejak lima tahun lalu. Karena masih ada luka, sehingga membuatnya takut patah hati lagi.
"Semua baik-baik saja, tapi sejak mendengar kabar kamu bercerai itu dan ditambah kemunculan mu, hidupku tak lagi tenang." Ucap Aminah akhirnya sambil memainkan gelas yang isinya mulai dingin.
Lagi-lagi helaan napas berat terdengar dari Dani.
"Maaf." Ucap Dani.
"Bisa aku minta tolong?" Pinta Aminah.
"Katakan. Apa pun itu pasti–"
"Menjauhlah." Ucap Aminah sebelum Dani menyelesaikan ucapannya.
__ADS_1
Bersambung.....