
Malam harinya....
Selepas bekerja, Aminah langsung pulang ke rumah sore tadi membawa motor milik Rizal ke rumahnya.
Di ruang tamu, selepas shalat magrib, Pak Haris tampak menghitung gaji bulanan yang di dapat dari pekerjaannya ditemani oleh Bu Wati.
Sebenarnya gaji Pak Haris sudah sesuai dengan UMK. Tapi setiap kali gajian, Bu Wati akan selalu mengajak Pak Haris untuk menghitung gajinya lagi.
"Takutnya udah Bapak pake jajan sembarangan dipinggir jalan." Ujar Bu Wati kala itu saat Pak Haris menanyakan padanya kenapa harus selalu menghitung gaji bulanan yang jumlahnya selalu saja sama itu.
"Minta lima ratus ribu ya." Bu Wati menyisikan uang lima puluh ribuan, sejumlah sepuluh lembar ke sebuah amplop. "Buat Skincare," lanjut Bu Wati.
"Bukannya dua minggu lalu Ibu sudah beli Skincare?" Tanya Pak Haris.
"Itukan baru beli serum dan essence nya. Ini untuk cream dan sabun." Jawab Bu Wati.
"Cream? Kan bulan lalu sudah beli?" Ucap Pak Haris lagi.
"Ganti merk Pak, kan udah beli serum dan essence yang baru. Jadi cream nya harus sepaket juga."
"Skincare yang dulu kenapa?" Tanya Pak Haris lagi.
"Gak apa-apa Pak. Ibu cuma mau ganti aja. Pakai skincare Korea, supaya kulit Ibu seperti Onie Korea gitu." Jawab Bu Wati.
__ADS_1
Pak Haris mendengus kesal mendengar ucapan istrinya itu. tapi ia tak berani marah pada Bu Wati. Bila Pak Haris marah sedikit saja, Bu Wati akan membandingkannya dengan Oppa Korea.
"Oppa itu, pengertian,romantis dan rela berkorban apapun untuk pasangannya." Ucap Bu Wati kala itu.
Satu bulan ini Bu Wati memang berubah drastis, dikarenakan sering menonton Drakor. Sering meminta uang untuk membeli hal-hal yang identik dengan yang berbau Korea.
Pak Haris bukannya pelit, tapi gaji yang di dapat Pak Haris tidak setara dengan hobi Bu Wati sekarang. Pak Haris tak mempermasalahkan jika seorang istri merawat diri demi suami. Pak Haris suka dan mendukung keinginan positif Bu Wati, tapi sejak Bu Wati menjadi pecinta Drakor, Bu Wati jadi tak terkendali.
Pemasukan dari gaji bulanan sebenarnya cukup banyak, tapi tidak bisa mengimbangi keinginan Bu Wati akhir-akhir ini. Untuk Skincare saja, satu paket itu hampir satu setengah juta, belum kosmetiknya.
"Ini demi Bapak juga, supaya Bapak bangga punya istri semulus bintang Korea diusia seperti Ibu sekarang." Ujar Bu Wati.
L
"Lihat wajah ini Pak,t, sudah lama pakai yang itu. Tetap aja item, Ibu mau kaya Onie gitu."
Bu Wati juga memoles lipstik di bibirnya, itu juga lipstik ala Korea yang belum lama dibeli.
"Ibu gak cocok pakai warna itu. Bibir Ibu kelihatan pucat seperti orang sakit Tipus. Padahal model yang makai di iklannya bagus banget pakai lipstik itu." cibir Aminah kala itu saat pertama kali melihat Bu Wati memakai lipstik terbarunya.
Di usianya yang empat puluh lima tahun, bentuk tubuh Bu Wati terbilang masih awet muda. Namun kulitnya berwarna sawo matang, khas Indonesia.
"Bu, Bapak pernah mendengar penjelasan dokter kulit dan kecantikan, pakai cream sebagus apapun tak akan merubah warna kulit." jelas Pak Haris pada Bu Wati kala itu, tapi malah berakhir dengan pertengkaran.
__ADS_1
"Suami pengertian cuma ada di Drama Korea!" teriak Bu Wati.
Tidak hanya skincare, cara berbusana Bu Wati pun berubah. Tiba-tiba dia hadir ke acara kondangan dengan pakaian yang jauh berbeda dengan yang ia kenakan biasanya. Padahal biasanya cuma pakai kebaya atau batik pasangan dengan Pak Haris.
"Kapan Ibu beli ini?" Tanya Pak Haris.
"Ini punya Aminah." jawab Bu Wati.
Dress panjang, berwarna merah muda dengan jilbab yang berwarna senada. Pak Haris harus menahan malu, setiap harus bertemu kenalan dan tamu yang lain. Penampilan Bu Wati sungguh tak serasi, kulit coklat, gaun merah muda, lipstik pink muda.
Tapi itu belum apa- apa. Suatu hari Pak Haris dan Bu Wati di undang acara syukuran di rumah Bu Aya, Boss dari Aminah. Pak Haris dan Aminah lebih dulu pergi karena Bu Wati terlalu lama dandan.
Pak Haris dan Aminah tercengang dengan penampilan Bu Wati. Bu Wati menggunakan mantel tebal panjang, meski di dalamnya mengenakan gamis. Namun di kerah mantel itu ada bulunya, Bu Wati juga menggunakan sarung tangan.
"Di luar anginnya kenceng Min, dingin," jawab Bu Wati saat Aminah protes.
Ingin sekali Pak Haris membawa Bu Wati pulang, ketika para tamu memandanginya.
Aminah terlihat menepuk jidatnya, sementara Naya dan Bu Aya yang ikut hadir terlihat menahan tawa.
"Ibu pikir, ini negara Korea yang sedang musim salju, malu-maluin aja." bisik Pak Haris pada Bu Wati dengan perasaan dongkol.
Bersambung....
__ADS_1