
Pagi menjelang....
Aminah cukup terkejut melihat Dani sepagi ini sudah berada di rumahnya. Hari ini Dani memang ingin jalan-jalan bersama Aminah. Karena hari ini merupakan jadwal Aminah untuk libur kerja.
'Mau ngapain dia kesini?' pikir Aminah.
Ternyata Dani sudah lebih dulu izin pada Pak Haris dan Bu Wati untuk mengajak Aminah pergi. Aminah sebenarnya enggan untuk pergi dengan Dani mengingat bagaimana status hubungan keduanya saat ini. Tapi Dani terus memaksa, terlebih juga Bu Wati seolah membantu Dani berusaha untuk membujuk agar Aminah agar mau pergi dengan Dani. Terlebih memang alasan Dani mengajak Aminah keluar rumah adalah untuk pergi ke sebuah panti asuhan untuk melakukan kegiatan amal. Aminah sebenarnya merasa risih jika harus ikut dengan mantan kekasihnya itu, mengingat mimpi buruk yang ia alami semalam.
Aminah hanya bisa memandang Dani yang tampil kasual itu dengan lekat.
"Ayo jalan..." Ajak Dani.
Setelah berpamitan pada orang tua Aminah. Keduanya pun meluncur menggunakan mobil mewah berlogo kuda itu ke jalanan yang mulai ramai.
"Masih jauh ya,?" Tanya Aminah.
"Tunggu aja.." Jawab lelaki yang mengenakan kacamata hitam itu.
Aminah lalu menatap lurus ke depan, melihat jalanan yang mulai ramai dipenuhi kendaraan.
Setelah sekitar tiga puluh menit perjalanan, tiba-tiba mobil Dani berbelok ke arah yang ditebak Aminah merupakan jalan menuju rumah Dani.
"Loh katanya mau ke panti asuhan, kok malah kesini. Bukannya ini jalan ke rumah kamu?" Ucap Aminah.
"Emang iya, kita kan mau kencan di rumah." Balas Dani.
"A-apa!" seru Aminah gugup.
'Yaa Allah, apa mimpi semalam.... Gak... Gak.. gak mungkin... Aminah menggeleng-geleng.
"Kamu kenapa?" Tanya Dani.
"Antar aku pulang." Ucap Aminah semakin panik.
"Kenapa sih emangnya kalau di rumah? Orang tua ku gak ada di rumah kok. Tenang aja." Ucap Dani.
'Justru itu yang membuatku khawatir Bambang, duuhh gimana dong...' pikir Aminah lagi.
Raut wajah Aminah semakin terlihat gusar saat mobil Dani tiba di rumahnya.
"Ayo turun..." ajak Dani saat membuka pintu mobilnya untuk Aminah yang tak kunjung turun juga.
Keduanya pun berjalan masuk ke dalam rumah Dani. Aminah begitu kaget, saat tiba di dalam rumah Dani. Keluarga Dani sudah menunggu kedatangan Aminah.
--
Sejak pagi, Pak Haris dan Bu Wati hanya duduk di rumah. Pak Haris tak pergi pergi bekerja hari ini karena merasa kurang enak badan.
Pak Haris tengah duduk di teras rumah sembari menyeruput kopi buatan isteri tercinta.
"Sapu mana, Pak?" Tanya Bu Wati yang terlihat celingukan.
"Sapu?" Ulang Pak Haris.
"Iyaaa! Bisa nggak, sih, kalo barang-barang rumah tangga itu naruh nya di tempat biasa? Ini Ibu jadi pusing dan kesel nyariinnya." Ucap Bu Wati semakin kesal.
"Ya ampun, Bu! Bapak mana tahu sapu Ibu di mana!" Ujar Pak Haris.
__ADS_1
"Halaaah, semalam Ibu ngeliat Bapak nyapu, kok, di teras." Balas Bu Wati.
"Aisssh, Ibu ceklah di teras." Ucap Pak Haris.
"Udaaah, suamikuuu Sayaaang. Tapi nggak ada! Bapak umpetin di mana itu sapuuuu???" Ucap Bu Wati lagi dengan raut wajah gemas.
Pak Haris jadi bingung sendiri.
'Kemana, sih, itu sapu?' pikir Pak Haris.
Mereka berdua pun mulai melakukan investigasi dan pencarian ke seluruh penjuru rumah.Tentunya dengan repetan panjang yang keluar dari mulut Bu Wati.
"Bisa, nggak, sih, kalo apa-apa yang Ibu butuhkan itu langsung tersedia tanpa harus ngider nyari ke sana -sini?" Ucap Bu Wati berkacak pinggang.
"Diem dulu, dong, Bu, akh! Kalo Ibu ngomel terus ini mata kagak mau bekerja! Bapak pusing Bu, lagi gak enak badan, malah ngomel-ngomel terus." Balas Pak Haris.
"Huh, nyebelin!" Seru Bu Wati kemudian berlalu meninggalkan Pak Haris yang kembali duduk di teras.
Tiba-tiba...
"Pak, ternyata sapunya ada di kamar mandi." Teriak Bu Wati. "Ya ampun, untung tadi Ibu kesini." Lanjut Bu Wati.
"Tuh kan ....!" Jawab Pak Haris.
"Eits, nggak usah protes kalo nggak bisa bantu! Huh! Dasar lelaki!" Ucap Bu Wati ketus.
'Dasar wanita, gak pernah mau salah.' gumam Pak Haris.
Bu Wati kembali keluar rumah dengan menenteng sapu. Ia kemudian mulai menyapu halaman yang terlihat kotor karena guguran daun pohon mangga yang berserakan.
Setelah selesai menyapu, Bu Wati duduk di dekat Pak Haris.
"Kira-kira Aminah lagi ngapain ya Pak?" Ucap Bu Wati.
"Mana Bapak tau, kenapa gak Ibu telepon saja kalau penasaran." Jawab Pak Haris yang sibuk membaca koran.
Meski zaman sudah canggih, Pak Haris tetap setia membaca berita melalui media cetak berupa koran.
Bagi Pak Haris, membaca berita lewat koran itu lebih nyaman rasanya ketimbang melalui ponsel seperti kebanyakan orang lain lakukan.
"Isshh, masak iya Ibu telepon Aminah yang lagi pergi sama Dani. Nanti ganggu acara mereka lagi." Balas Bu Wati.
"Ganggu apanya? Paling juga sekarang setelah selesai acara di panti asuhan, mereka pergi main aja. Paling juga main ke mall, nonton bioskop atau ke taman bermain mungkin, kayak kita dulu pas pacaran." Ujar Pak Haris.
"Kayak kita gimana maksud Bapak?" Tanya Bu Wati.
"Ya kayak jaman kita pacaran dulu Bu. Bapak kan ngajak Ibu nonton bioskop, terus naik wahana apa tuh namanya, komedi putar kalau gak salah." Jawab Pak Haris.
"Huuuhhh, boro-boro nonton bioskop. Orang dulu Bapak itu ngajak ibu ke pasar malam, terus nonton layar tancep." Balas Bu Wati.
"Ya kan sama aja Bu, layar tancap sama bioskop." Ucap Pak Haris terbahak.
Bu Wati mendengus kesal.
"Eh Pak, masa Bu Set curhat sama Ibu, katanya lagi sebel sama suaminya gara-gara nggak dibeliin skin care yang harganya sampai 700 ribu itu loh." Ujar Bu Wati.
"Hmmmm," Pak Haris menyahut tanpa lepas matanya dari koran.
__ADS_1
"Untung, Ibu nggak pakai skin care mahal kayak gitu ya, Pak?” Ucap Bu Wati lagi.
Bu Rika, yang biasa di panggil oleh Aminah dengan sebutan Bu Rik merupakan pemilik warung sembako yang berada di sekitar rumah Aminah adalah teman dekat Bu Wati selain Bu Mila, Ibunya Naya. Bu Rik yang apa-apa biasa curhat dan Bu Wati jadi pendengar dan penasehat.
Pak Haris terlihat mengalihkan perhatiannya pada layar ponselnya yang sedari tadi berada di atas meja kecil.
"Gooool!” Teriak Pak Haris secara tiba-tiba.
Bu Wati sekilas melirik ke arah layar ponsel Pak Haris.
'Ah, ngobrolnya nanti aja, nunggu dia selesai main game. Maksud hati curhat biar dibilang istrinya nggak nyusahin kaya yang lain, malah zonk ' gumam Bu Wati dengan perasaan dongkol.
Saat Pak Haris masuk ke dalam rumah dan menonton televisi, Bu Wati mulai curhat lagi.
"Pak, tadi kan ibu posting dagangan, masa ada yang nawar separuh harga, kan ibu jadi sebel ya, pengen nggak dijawab gondok, dijawab nanti ada aja yang kasih pertanyaan dan permintaan yang nggak bermutu." Curhat Bu Wati panjang lebar.
"Nak kan, ujung-ujungnya Pak GP juga yang dicalonkan jadi presiden sama si merah. Aduuuhh, udah ketebak sih." Pak Haris malah mengomentari berita yang dia tonton.
"Pak, Ibu ngomong kok malah nggak didengerin sih." Protes Bu Wati.
"Denger kok, si itu kan, ya udah nggak usah diladenin, nggak usah ngomongin orang." Ucap Pak Haris dengan mata tak beralih dari layar ponselnya.
'Orang lagi cerita malah dibilang ngomongin orang.' batin Bu Aminah.
"Et dah, orang lagi cerita doang, kalau nawar sampai separuh harga, udah gitu nggak mau pakai ongkir, dia pikir ngirimnya pakai doa." Bu Wati jawab panjang lebar.
"Lah tuh orang gimana sih, masa anak orang di bunuh, mana anak masih kecil lagi," lagi- lagi Pak Haris hanya mengomentari berita yang terlihat di layar televisi.
"Ya udah ibu mau masak dulu, sambil curhat sama pantat panci." Ucap Bu Wati.
"Lho mau kemana, Bu, ibu mau cerita apa tadi?" Tanya Pak Haris.
"Gak cerita apa-apa kok." Balas Bu Wati kesal.
Bu Wati berjalan ke dapur sambil bernyanyi.
"Ku hidup dengan siapa...
Ku tak tau kau siapa...
Kau suamiku tapi orang lain bagiku...
Kau dengan dirimu saja...
Kau dengan duniamu saja...
Teruskan lah, teruskan lah...
Kau... be..gitu..."
Bu Wati bersenandung dengan suara yang cempreng.
Dari ruang keluarga, Pak Haris terlihat menahan tawa. Kemudian mengeraskan volume ponselnya agar tak mendengar nyanyian Bu Wati.
'Emang bener ya, curhat paling aman itu sama suami dijamin nggak bakalan bocor. Ya iyalah? gimana mau bocor, didengerin aja nggak.' ucap Bu Wati dalam hati.
Bersambung....
__ADS_1