
Dani dengan cepat menuju klinik yang dikatakan Maya, tempat dimana Anto tengah dirawat, dan lebih tepatnya dikurung oleh orang-orang suruhan Maya.
Tiba di klinik, Dani langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam klinik lalu menuju meja resepsionis untuk bertanya dimana ruangan tempat Anto dirawat.
Dani lantas bergegas menuju ruangan dimana Anto dirawat setelah mendapatkan informasi dari seorang perawat. Dia langsung menerobos masuk ke dalam ruangan itu meski pintu dihalangi dua orang penjaga.
Dani melihat Anto dalam posisi tidur dengan perban di keningnya dan juga beberapa luka lecet di tangan dan kakinya. Anto masih belum juga bangun karena pengaruh obat tidur yang diberikan.
Sementara itu di luar ruangan itu, salah seorang pria yang berjaga di depan pintu ruangan itu menelepon Maya.
"Halo Bos, bagaimana ini? Suami anda....."
"Lepaskan saja mereka." Balas Maya memotong ucapan lelaki itu.
"A-apa? Tapi apa kau jamin kan kami tidak akan ditangkap polisi? Kalau kami sampai ditangkap polisi, lihat saja kau sendiri yang akan menanggung akibatnya." Ancam pria bertubuh besar itu.
"Kurang ajar kau, beraninya kau mengancam ku. Sudah ku katakan lepaskan mereka berdua. Kalau sampai Dani kenapa-kenapa kau tanggung sendiri akibatnya." Ucap Maya balik mengancam.
"Baik, akan kami lepaskan. Tapi ingat, jika sampai polisi menangkap kami. Kau sendiri juga akan ikut dipenjara. Karena kau lah dalang dari semua ini." Balas pria itu pada Maya.
"Itu tidak akan pernah terjadi." Balas Maya seraya menutup telepon.
Dani yang berada di ruangan Anto, mendekat ke arah Anto dan berusaha membangunkannya.
"Bang, bangun Bang." Ucap Dani seraya menepuk-nepuk pipi Anto.
Beberapa saat kemudian, Anto akhirnya sadarkan diri.
"Abang gak apa-apa?" Tanya Dani.
"Aku baik-baik saja." Balas Anto lemah.
Dani lalu berjalan ke arah laki-laki yang berjaga di pintu tadi.
"Lihat saja, kalian akan aku laporkan ke polisi. Kalian akan membusuk dipenjara." Ancam Dani.
"Hahahaha, silahkan kami tidak takut. Lagipula jika kau melaporkan kami ke polisi. Maka istrimu sendiri akan ikut terseret. Ayo kita cabut. Tugas kita sudah selesai disini." Balas pria itu sambil melangkah pergi meninggalkan Dani dan Anto yang hanya mematung menatap kepergian mereka.
Dua orang penjaga itu sudah pergi, menyisakan Dani dan Anto yang terduduk di dalam ruangan itu.
Setelah itu, Dani mulai bertanya pada Anto tentang apa yang terjadi. Anto pun menjelaskan semuanya secara detail.
”Maafkan aku Bang." Ucap Dani.
"Kenapa kamu yang minta maaf. Ini semua bukan salah kamu." Jawab Anto.
"Tapi sungguh Bang, aku malu akan ulah mantan istri aku. Aku kasihan padamu dan Naya." Ucap Dani.
Anto menghela nafas panjang.
"Aku yakin Naya akan mengerti jika ia mengetahui yang sebenarnya. Aku akan berusaha meyakinkannya." Ucap Anto yang melihat layar ponselnya.
Ponsel Anto ditinggalkan begitu saja diatas meja ruang ruangan itu oleh para penjaga. Lalu Anto mendapati sebuah pesan yang telah dikirimkan ke akun Naya.
"Hah, Maya benar-benar kelewatan. Aku akan melaporkan semua preman itu pada polisi." Ucap Dani berapi-api.
"Sudahlah, jangan dipermasalahkan lagi. Toh aku tidak apa-apa. Mereka sama sekali tidak menyakitiku. Lagi pula jika kau melaporkan mereka. Maya akan ikut terseret. Beri dia kesempatan untuk berubah." Balas Anto.
"Tidak bisa seperti itu, dia sudah keterlaluan. Dia...."
"Dani, dengarkan aku." Ucap Anto memotong ucapan Dani. "Lupakan semua ini. Jika kau melaporkan hal ini, semuanya malah semakin memperpanjang masalah." Ucap Anto.
"Hemm baiklah." Ucap Dani seraya menghembuskan nafas dengan kasar. "Kalau begitu sekarang juga kita harus ke rumah Naya, untuk menjelaskan semuanya. Bila perlu, malam ini juga Bang Anto nikahi Naya." Lanjut Dani.
"Baiklah, tapi aku perlu mandi dan mengganti pakaian dulu. Gak mungkinkan ketemu pujaan hati dengan penampilan seperti ini." Kelakar Anto.
"Hahahaha, tenang saja Bang. Kau tinggal mandi saja sekarang, urusan pakaian serahkan padaku. Aku bisa memesan online daripada kau harus pulang dulu ke rumahmu." Jawab Dani.
"Terima kasih, kau memang yang terbaik." Ucap Anto menepuk pundak Dani.
...----------------...
Aminah dan Naya tengah duduk di halaman rumah Naya. Dibawah rindangnya pohon mangga, keduanya menggelar tikar dan duduk lesehan.
Keduanya terlihat tengah sibuk memandang layar ponsel masing-masing.
"Gimana? Udah dapet belum?" Tanya Aminah.
__ADS_1
"Belum, dari tadi aku scroll belum nemu yang pas." Jawab Naya.
"Hemm susah banget kalau gitu." Balas Aminah.
"Lagian kamu, kenapa harus pakai nyari yang model begitu sih. Gak mau yang biasa aja apa." Omel Naya.
"Ya elah Nay, namanya juga sukanya yang model itu. Mau gimana lagi." Ucap Aminah.
"Kan banyak tuh model yang lain. Ada Doraemon, Pokemon, Hello Kitty, Dora, Spongebob, dan lain-lain. Kenapa musti Winnie The Pooh sih. Itu udah gak jaman Min." lagi-lagi Naya ngedumel.
"Aku maunya itu Nay. Kemaren malam aku lihat di IG, ada cewek lagi meluk tuh boneka. Imut banget Nay, udah gede, lucu, pluffy lagi. Duuuh..." Ucap Aminah dengan mata berbinar membayangkan jika dia sudah memeluk boneka winnie the pooh itu.
"Kamu tuh bukan anak kecil lagi yang masih butuh boneka buat nemenin kamu tidur. Makanya kawin, biar ada yang meluk kamu." Ucap Naya tertawa.
"Mulai lagi, padahal omongin boneka, ujung-ujungnya malah nikaaah lagi." Balas Aminah kesal.
Naya hanya cekikikan, kesedihan akan pernikahannya yang gagal perlahan memudar. Aminah selalu berusaha membuat Naya agar tetap tersenyum dengan tingkah konyolnya.
Saat tengah berselancar di sosial media, sebuah pesan suara di WA masuk ke akun Aminah.
[Kamu dimana? Dengan siapa? Sekarang lagi apa?]
Aminah cekikikan mendengar suara Rizal yang dibuat-buat agar terdengar cempreng.
[Aku lagi nen*nin Naya nih duduk di rumahnya.]
Tak lama pesan balasan datang.
[Waahh, kamu kok jorok banget. Kalau boleh mau dong di nen*nin juga. Hahaha...] Tak lupa Rizal menyertakan emoticon ketawa ngakak.
'Kok jorok sih, lah kok malah..... Apa jangan-jangan aku typo.' pikir Aminah.
Mata Aminah seketika membelalak saat melihat pesan balasan yang ditulisnya tadi.
"Ya Allah, astaghfirullah. Amit-amiitt..." Teriak Aminah seraya menepuk-nepuk tanah.
"Woy, kamu kenapa sih?" Tanya Naya heran.
"Nay, malu aku. Mau taruh dimana muka aku ini." Ucap Aminah seraya melempar ponselnya perlahan ke arah rumput.
Dengan cepat Aminah merangkak mengambil ponselnya yang tergeletak di rumput.
Naya tertawa melihat tingkah Aminah.
"Ada apa sih Min?" Tanya Naya cekikikan.
"Aku lagi chat-an sama Rizal, gak taunya typo Rik. Aku gak tau mau naruh muka aku dimana. Malu Nay." Ucap Aminah dengan wajah memerah.
"Emang kamu typo nya apa?" Tanya Naya penasaran.
"Aku bilang lagi nen*nin kamu." Jawab Aminah.
"What? Kamu udah belok ya?" Ucap Naya tak bisa menahan tawanya.
"Maksud aku lagi nemenin kamu duduk di disini. Gak taunya typo. Eeehh dia malah minta di nen*nin juga. Aduuuuhhh bakal malu aku kalau ketemu Rizal, Nay." Ucap Aminah mengusap wajahnya.
"Malu kenapa?" Tanya Rizal tiba-tiba sudah berdiri dibelakang keduanya.
"Ri.... Rizal..." Tiba-tiba Aminah jadi gagap.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Rizal.
"Gak tau tuh dia, dari tadi grasak grusuk." Timpal Naya yang cekikikan.
Tiba-tiba tawa Naya langsung hilang, sesaat setelah kemunculan Anto bersama dengan Dani.
"M-mas Anto....!" Seru Naya.
Suasananya menjadi canggung, terutama bagi Aminah karena ada dua orang pria yang dekat dengannya itu.
Dengan kedipan mata dan gerakan kepala, Aminah memberikan isyarat pada Rizal untuk meninggalkan Anto dan Naya agar dapat berbicara berdua. Sementara terhadap Dani, ia sedikitpun tak meliriknya.
"Naya, biarkan Bang Anto menjelaskan semuanya sendiri, agar gak ada lagi kesalahpahaman yang terjadi." Ucap Dani.
Sementara Aminah sudah pergi lebih dulu dengan menarik tangan Rizal untuk ikut bersamanya. Keduanya lalu duduk di bangku teras rumah Naya.
Aminah terlihat sangat grogi dan malu, dia sama sekali tak berani menatap wajah Rizal.
__ADS_1
"Aminah....." Panggil Rizal.
"Hemmm...." Jawab Aminah dengan tertunduk.
"Mmmm aku mau dong di nene....."
"Iiihhhn kamu tuh yaa, aku tuh tadi typo tau." Teriak Aminah dengan wajah memerah seraya memukul-mukul lengan Rizal.
"Hahaha iya-iya maaf, aku cuma bercanda. Kamu tuh ya kalau marah makin cantik aja." Goda Rizal yang membuat pipi Aminah semakin memerah bak udang rebus.
Dani yang melihat interaksi diantara Aminah dan Rizal merasa cemburu. Dia pun memutuskan untuk pergi menunggu Anto di dalam mobilnya. Dia tahu jika dia mendekati Aminah sekarang, sudah pasti Aminah akan cuek terhadapnya. Terlebih karena Aminah tengah bersama Rizal sekarang, pria yang tengah dikabarkan dekat dan bahkan menjalin hubungan kekasih sesuai dengan status yang mereka perlihatkan di akun media sosial mereka.
Sementara itu di bawah pohon mangga, dua insan yang harusnya sudah terikat dalam ikatan suci pernikahan itu, duduk secara berjauhan dalam diam.
Keduanya masing-masing tak ada yang terlihat hendak memulai pembicaraan. Mereka terlihat sibuk dengan pikiran masing-masing.
Terdengar helaan nafas dari Anto.
"Naya maafkan aku...." Ucap Anto akhirnya.
Naya masih terdiam tak menjawab, kepalanya semakin tertunduk.
"Aku tahu, aku tidak layak untuk dimaafkan karena telah membuatmu malu dihadapan orang banyak. Jujur, awalnya aku tidak punya keberanian untuk datang kemari. Apalagi jika harus sampai bertemu dengan ibumu. Tapi, sebagai lelaki yang mencintai kamu, aku harus meluruskan semuanya. Bila perlu jika kau memaafkan aku, hari ini juga aku akan menikahi mu." Ucap Anto.
Helaan nafas Anto kembali terdengar, namun Naya tak bergeming. Naya tetap menunduk seraya memilin ujung pakaiannya.
"Hari itu aku tengah menaiki motor pulang ke rumah, tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan cepat ke arahku yang membuatku langsung mengerem mendadak dan terjatuh ke jalanan. Ini kau bisa melihat masih ada bekas luka di tubuhku dan keningku." Ucap Anto seraya menunjukkan beberapa luka di tubuhnya pada Naya.
Naya hanya melirik sekilas.
"Aku pikir itu hanya kecelakaan biasa. Tapi ternyata, tanpa basa basi mereka langsung membawaku dengan paksa. Malah terkesan seperti penculikan. Jumlah mereka yang terlalu banyak, membuatku tak bisa melawan. Aku tak ingat apa yang terjadi setelah itu, karena saat aku terbangun, aku sudah mendapati diriku berada di dalam sebuah klinik. Aku terkesan di sekap di klinik itu karena tak diizinkan pulang dan malah terus tertidur. Sepertinya mereka memberikanku obat tidur. Namun pada akhirnya aku menyadari, semua itu berhubungan dengan Dani dan Aminah. Dan ternyata dugaan ku benar, karena dua orang pria yang terus berjaga di pintu ruangan itu mengakui bahwa mereka diminta oleh Maya, mantan istri Dani untuk melakukan semua itu." Ujar Anto panjang lebar.
"Ta-tapi ke--kenapa Mas Anto malah mengirimiku pesan itu?" Tanya Naya terbata-bata.
"Demi Allah Naya, itu bukan aku. Ponselku disita. Aku benar-benar tidak bisa membebaskan diri. Aku bahkan merengek agar mereka membebaskan aku tepat dihari pernikahan kita. Tapi seperti yang ku katakan sebelumnya, aku tidak bisa berbuat banyak karena terus tertidur. Aku yakin mereka memberikan obat tidur padaku. Aku benar-benar minta maaf Naya." Ucap Anto.
"Aku ngerti Mas." Balas Naya.
"Kalau begitu, kau masih mau kan menikah denganku?" Tanya Anto blak-blakan.
"Loh... Loh... Ngapain dia kemari?" Ucap Bu Mila di teras rumah dengan sapu ditangannya.
Sontak semua orang kaget dan menoleh ke arah suara.
"Bu Mil, aku bisa jelasin semuanya." Ucap Aminah berusaha menenangkan.
Bu Mila terlihat emosi, dia berjalan mendekat ke arah Anto dan Naya yang sudah berdiri menatap Bu Mila.
"Berani... beraninya kau kemari lagi setelah kau mempermalukan aku dan anakku." Teriak Bu Mila seraya melayangkan sapu ke arah Anto.
Anto sama sekali tak berusaha mengelak dari pukulan itu. Membuat Aminah menutup mata dengan telapak tangannya. Sementara Naya refleks berdiri di depan Anto, bermaksud menghalau pukulan Bu Mila lagi.
"Jangan Bu, Mas Anto sudah menjelaskan semuanya. Dia gak bersalah, dia sudah menjelaskan semuanya." Ucap Naya.
"Terus kamu percaya gitu aja setelah dipermalukan?" Ucap Bu Mila kembali berteriak.
Setelah dibujuk Aminah dan Naya, akhirnya Bu Mila luluh. Kemudian ia memberi kesempatan pada Anto untuk menjelaskan semuanya.
Setelah mengerti akan keadaan yang terjadi, Bu Aya akhirnya kembali memberikan restu pada Anto untuk menikahi Naya.
"Terima kasih Bu, sudah memberikan kesempatan kepada saya. Jika Ibu berkenan, bisakah hari ini juga saya menikahi Naya?" Tanya Anto.
"Hari ini! Tapi bagaimana dengan persiapannya?" Tanya Bu Mila.
"Bu Aya tenang saja, saya dan Aminah yang akan mempersiapkan semuanya." Ucap Dani yang tiba-tiba sudah ada bersama mereka lagi.
"Kalau Ibu tergantung Naya saja. Kalau dia mau, ya sudah." Balas Bu Mila.
Tanpa disangka Naya mengangguk, membuat Anto melompat kegirangan lalu memeluk Dani.
"Selamat ya Nay." Ucap Aminah memeluk Naya.
Air mata Naya kembali luruh, ia begitu bahagia.
'Ya Allah, untuk kali ini aku mohon jangan lagi ada halangan.' gumam Naya.
Bersambung...
__ADS_1