
"Apa ada yang ketinggalan, Mas?" Tanya Aminah saat mendekati kurir tersebut.
"Gak Mbak, tadi pas di tengah jalan saya dihubungin Mbak Nana lagi kalau ada tambahan pesanan. Katanya beliau mau hubungin ke toko ini." Ucap ojol itu yang terlihat selalu menunduk dihadapan Aminah.
"Oh gitu. Bentar, ya, Mas. Saya tanya ke dalam dulu." Balas Aminah.
Pria yang berdiri di samping motornya itu mengangguk. Tadinya Aminah menyuruhnya masuk, tetapi ditolak, akhirnya Aminah mengambilkan kursi untuk kurir itu menunggu di luar.
'Sepertinya aku kenal deh dengan kurir itu.' batin Aminah.
Aminah lalu menghampiri Naya.
"Apa Mbak Nana hubungin kamu kalau mau nambah pesenan?" Tanya Aminah pada Naya yang terlihat tengah menulis sesuatu di buku penjualan.
Naya menggeleng. "HP-ku kan kamu bawa dari tadi, coba aku cek dulu."
"Eh, nggak usah. Pake HP-ku aja," Cegah Aminah saat melihat Naya bersiap berdiri.
'Bisa gawat kalau nomor tadi telepon lagi dan diangkat sama Naya.' ucap Aminah dalam hati.
"Cus hubungin Mbak Nana, takutnya penting." Ucap Naya.
Aminah segera mengambil ponsel miliknya dari dalam tasnya dan segera menelepon Mbak Nana. Ia adalah pelanggan tetap di toko mereka dan kini ia tengah grand opening warung makan sejenis 'all you can eat' ala-ala Korea.
Mbak Nana menyuruh mereka berdua untuk mampir ke warung makannya, tetapi jarak yang lumayan jauh dari toko membuat Aminah dan Naya berpikir ulang. Karena mereka berdua hanya punya waktu luang setelah toko tutup dan seandainya mereka pergi ke sana, maka mereka pasti pulangnya malam.
Sementara mereka berdua tipe anak rumahan yang jarang keluar malam, lebih tepatnya takut keluar malam dengan jarak jauh.
Aminah lalu menghubungi Mbak Nana, ternyata ia sudah mengirim pesan ke Naya.
"Panjang umur, Min. Barusan aku baru mau hubungin kamu. HP Naya nggak aktif, ya?" Tanya Mbak Nana.
"Hehe iya Mbak, maaf, baterainya habis." Balas Aminah.
"Oh gitu, tapi bisa, kan, Min?" Tanya Mbak Nana lagi.
"Nanti kami cek dulu, ya, Mbak. Kayaknya stok pastel goreng tinggal dikit karena ada yang borong tadi. Coba nanti aku cek juga ke dapur pusat, siapa tahu di sana masih ada." Jawab Aminah.
"Oke deh Min." Balas Mbak Nana.
__ADS_1
"Baik, Mbak." Ucap Aminah.
Panggilan pun lantas berakhir.
"Mau tambah 30 kotak, tapi minta menu kayak tadi," Ucap Aminah pada Naya setelah meletakkan ponselnya di meja.
"Kayaknya pastel sama bakwan jagungnya kurang sih kalau 30, langsung hubungin Bu Aya aja coba," Balas Naya sambil berjalan ke arah rak-rak yang mendisplay makanan dan tampak mengecek stok di sana. "Kalau kacang mede sama kue putu nya masih cukup." Ucap Naya lagi.
Aminah pun langsung menghubungi Bu Aya.
Beberapa saat Aminah mengobrol dengan Bu Aya.
"Alhamdulillah ada." Ucap Aminah pada Naya.
Tadinya Bu Aya yang akan mengirim langsung ke toko, tetapi ternyata Bu Aya ada tamu dadakan. Daripada menunggu lama, akhirnya Aminah memutuskan untuk mengambil sendiri dan mengajak kurir tadi.
Setelah memastikan semua siap, Aminah dan Naya segera menyiapkan pesanan dengan cepat. Sebotol air mineral dan beberapa snack diberikan Aminah kepada kurir tadi, untuk sekadar mengganjal perut.
Namun, kurir tersebut tak juga mau melepas masker dan helm yang dikenakannya.
Masalah lainpun muncul, kurir itu terlihat kebingungan membawa empat plastik besar pesanan sendirian. Tadinya Aminah mau menghubungi Mbak Nana untuk memesan mobil online saja, tetapi tampak dari wajah kurir tersebut kalau ia sedikit keberatan.
Jarak yang lumayan jauh yang menempuh hampir tiga puluh menit perjalanan. Sepanjang perjalanan, tampak kurir itu selalu mencuri-curi pandang melihat Aminah melalui kaca spion motornya.
Setelah sampai, Aminah langsung membawa makanan itu ke dalam warung lewat pintu samping sesuai arahan Mbak Nana.
"Duh, maaf jadi ngerepotin, Min. Kenapa nggak bilang kalau nggak bisa bawa? Kan, bisa ganti pake mobil online." Ucap Mbak Nana.
"Nggak apa-apa, Mbak. Sekalian jalan-jalan." Balas Aminah tersenyum.
"Tadinya mau aku ambil sendiri pake mobil, tapi ternyata dipake suami. Duduk dulu, Min, aku buatin minum." Ucap Mbak Nana.
Tadinya Aminah hendak menolak, tetapi Mbak Nana memaksanya.
Warung makan bernuansa putih itu membuat Aminah terus berdecak kagum.
"Nanti pulangnya aku antar, Min. Tunggu suami pulang dulu, ya. Sekarang sudah perjalanan ke sini kok," Ucap Mbak Nana sambil meletakkan segelas jus di depan Aminah.
"Lama nggak, ya, Mbak? Kasihan Naya sendirian, apa aku dianter kurir tadi lagi nggak apa kali, Mbak." Ucap Aminah.
__ADS_1
"Ih, jangan. Panas gini, kasihan kamu, ntar item lho," Balas Mbak Nana dengan nada menggoda.
Aminah hanya tertawa kecil saja.
"Diminum dulu, Min." Ucap Mbak Nana.
"Mau ada acara besar, Mbak? Pesennya banyak banget." Tanya Aminah setelah menyeruput jus jeruk yang disediakan Mbak Nana untuknya.
Mbak Nana mengangguk.
"Suamiku ngundang temen-temennya. Tadinya cuma sekitar 10-an orang, eh tadi ngabarin mendadak kalau keluarga mereka juga pada mau ikut ke sini. Auto kelabakan, untung deh toko mu selalu gercep kalau ada pesenan mendadak kayak gini." Ucap Mbak Nana.
Aminah mengangguk-anggukkan kepalanya. Saat akan mengobrol lagi, tampak beberapa mobil masuk ke pelataran parkir.
"Bentar, ya, Min." Ucap Mbak Nana.
Mbak Nana segera beranjak dan mempersilakan mereka masuk ke ruang utama. Sementara Aminah masih duduk di bagian samping yang didesain outdoor.
Beberapa menit berlalu, tetapi Mbak Nana masih belum kembali. Sementara Aminah mulai merasa bosan dan ingin cepat kembali ke toko. Aminah mencoba menelepon Naya, tetapi tidak tersambung.
Karena pikiran terus melayang ke toko, akhirnya Aminah segera menghabiskan jusnya dan beranjak mencari Mbak Nana untuk meminta izin pulang.
"Mbak Nana, maaf," Ucap Aminah pelan saat melihatnya tengah mengobrol dengan seseorang.
"Eh, ya Allah. Maaf, maaf, Min, keasikan ngobrol aku," Balasnya yang langsung berdiri dan mendekati Aminah.
"Aku mau pamit, Mbak. Nggak apa sama kurir yang tadi juga Mbak. Seriusan, aku nggak enak sama Naya sendirian di toko." Ucap Aminah benar-benar ingin segera pergi.
"Mmm ...." Mbak Nana tampak berpikir.
Lalu ia menawari Aminah naik mobil online saja, tetapi tiba-tiba ia berubah pikiran saat melihat sebuah mobil berwarna hitam masuk ke pelataran parkir.
"Nah, kebetulan. Minta tolong dia aja," Ucap Mbak Nana.
Dia langsung menggandeng Aminah ke arah mobil tersebut.
Tadinya langkah Aminah terasa begitu ringan mengikuti ajakan Mbak Nana. Namun, tiba-tiba sangat berat, bahkan perlahan terhenti ketika ia melihat siapa yang keluar dari dalam mobil itu.
Tatapan mereka beradu, dan lagi-lagi napas Aminah sedikit tertahan, persis saat mendengar suara seseorang di ponsel Naya tadi. Bedanya, kali ini mereka saling bertatap muka.
__ADS_1
Bersambung....